Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 30-Giliran Celine yang Cemburu


__ADS_3

Celine merebahkan tubuhnya di atas sofa berukuran panjang di dalam apartemen suaminya. Sementara, kepalanya terasa semakin pening, setelah menyadari bahwa dirinya-lah yang telah membuat kesalahan. Pertanyaan dari Sanny soal harapan untuk mencintai, masih menjadi pertimbangan Celine hingga saat ini.


Perihal cinta, rasanya Celine tidak pernah memilikinya. Sejak dulu, ia hanya menerima siapa pun yang ingin menjadi kekasihnya, tanpa memikirkan sebuah perasaan. Ia berlaku layaknya seorang kekasih; berjalan-jalan bersama, makan siang, dan kencan. Akan tetapi, Celine tidak pernah membahas soal perasaan. Bahkan, ia tidak tahu apakah cinta pernah singgah di dalam hatinya.


“Kenapa murung begitu? Masih pusing?” tanya Reksa yang mendadak dibuat heran oleh sikap istrinya. ”Atau ada omelan dari ibuku?”


Celine berangsur menatap suaminya itu, lalu menjawab, “Enggak kok. Ibu kamu baik. Aku cuma ... entah, ada satu hal yang baru aku sadari.”


“Soal?” Reksa mengambil sikap duduk di sesaat setelah menyingkirkan kaki Celine.


“Ih, menganggu saja sih!” tegas Celine tidak senang, lalu terpaksa mengubah posisinya dari yang sebelumnya tiduran, kini duduk tepat di samping Reksa. “Kan ada sofa lain!”


“Ini rumahku, ini barang-barangku, semuanya milikku. Jadi, aku yang lebih berkuasa, kalau enggak suka, kamu yang pindah saja sana!”


Celine berdecap. “Memang benar ya, karaktermu itu buruk sekali. Pantas saja, enggak ada yang mau berteman denganmu.”


“Siapa yang bilang begitu? Jangan sok tahu!”


”Ibu Mertua!”


Sesaat setelah menghela napas, Reksa menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa. Detik berikutnya, ia melirik waktu di sebuah jam dinding digital yang terpasang di ruangan itu. Sudah cukup malam rupanya, tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Seperti perjalanan pernikahan terpaksa yang tiba-tiba sudah berumur satu bulan lebih.


Sebuah pernikahan yang awalnya sangat Reksa benci, bahkan ia sempat berencana ingin menceraikan sang istri. Namun, Reksa justru masuk ke dalam keadaan yang seharusnya tidak pernah ia jamah sejak awal. Hidup memang kadang kala mengejutkan. Takdir pun tak pernah bisa diprediksi oleh orang super jenius sekalipun.


“Reksa?” ucap Celine. “Kudengar kita pernah bertemu waktu kecil, memangnya kapan dan bagaimana?”


Reksa berangsur menatap Celine. “Aku sudah pernah bilang, ya? Dan Ibu bilang lagi padamu?” balasnya bertanya.


Sembari mengangguk, Celine menjawab, “Iya. Tapi, aku lupa kapan dan bagaimana.”


“Kamu masih sangat kecil, Cel. Kamu masih empat tahun kalau enggak salah. Gadis nyentrik yang rambutnya dikuncir dua, tas bergambar barbie warna pink. Mana ingusan lagi hahaha.”


“Iiih!” Celine menepuk pundak Reksa. “Enggak usah meledek, aku hanya tanya bagaimana situasinya!”


“Iya, iya. Enggak usah pakai kekerasan! Tanganmu kecil-kecil, tapi tenagamu yang kayak badak!” Reksa mendengkus, lalu menghela napas untuk mengatasi emosinya. “Kamu masih kecil, ayah kamu sakit. Kamu sama adikmu dititip di rumahku. Pada saat itu, kami belum kaya-kaya banget. Dan sialnya, aku yang disuruh bantu menjagamu!”

__ADS_1


“Mm ... pantas saja, kamu langsung mengenaliku waktu kamu menungguku di depan kantorku. Kok kamu enggak bilang sama aku? Terus pas pertama ketemu aku, kenapa omonganmu kejam sekali?”


Reksa menghela napas, agak kesal. “Kamu masih ingat semua ucapan kejamku? Ah, sudah kuduga.”


“Ck, ya sudah enggak perlu dibahas. Lagian, mau bagaimanapun aku ini seorang wanita, Sa. Wanita mudah memaafkan, tapi enggak mungkin lupa sama semua kesalahan laki-laki.”


“Racun memang! Oke ... cuma dua hari sih dulu kalau nggak salah. Dan aku kesal sekali melihat dua bayi yang bikin rusuh. Rasanya pengen aku buang ke kali, terutama kamu, Cel! Ampun deh! Kalau diingat-ingat, kamu memang biang onar sejak kecil!”


“Tapi, berkat aku kamu enggak kesepian, 'kan? Kamu senyum gara-gara aku, 'kan?!” selidik Celine.


Reksa menelan saliva. “Enggak. Kata siapa?”


“Ibu Mertua.”


“I-itu aku senyum, karena enggak sadar. Kamu nyanyi-nyanyi enggak jelas, jadi kupikir lucu saja.”


“Ciiieee! Ternyata sudah suka sama aku sejak kecil ya?” Celine menyikut tubuh Reksa sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Sementara Celine yang bak kegirangan sendiri, Reksa justru merasa harga dirinya jatuh. Mau tak mau ia harus mengakui kenangan singkat di masa kecil dengan istri yang pernah sangat ia benci. Tampaknya hidup tidak hanya mengejutkan, tetapi kadang-kadang juga sangat menyebalkan. Kalau saja tahu masa depannya harus seperti ini, mungkin Reksa tidak akan pernah tersenyum dengan apa yang pernah Celine kecil lakukan.


Kalau dipikir-pikir, perhatian Reksa dan cinta pertama Reksa dalam lingkup asmara memang bukan pada gadis licik yang pernah melukainya. Namun, pada Celine kecil yang sukses membuatnya tersenyum, bahkan tertawa. Padahal, pada saat itu Reksa mulai mengalami masa dijauhi oleh teman-temannya karena karakternya yang sangat buruk. Reksa remaja sangat kesepian, karena setiap kali berkumpul ia memiliki segala macam perkataan menusuk. Ia benar-benar tidak pandai bergaul.


Reksa terbatuk-batuk dan mendadak salah tingkah. ”Cinta pertama?”


“Iya. Gadis yang pernah bikin kamu sangat kecewa.”


“Oh ... dia?” Reksa menghela napas lega, karena ternyata Celine sedang membicarakan gadis lain. “Apa Ibu juga bercerita sama kamu? Waaah ... sepertinya semua rahasiaku dibongkar di hadapanmu, Cel.”


”Entah. Tapi, sepertinya iya.” Celine menatap Reksa, lalu bertanya, “Apa dia cantik?"


“Cantik.”


Celine menghela napas dan menggigit bibirnya dalam sesaat. “Secantik Deodoran?”


“Deodoran? Ailen Deolina, Cel!”

__ADS_1


“Ya itulah pokoknya. Aku ingatnya Alien Deodoran. Jadi?”


“Alien? Hahaha, ada-ada saja! Ya, tetap lebih cantik gadis itu.”


”Oh ... kalau sama aku? Tetap masih cantikan dia?”


Reksa terdiam, dan tak lama kemudian ia tersenyum. Tampaknya Celine sedang cemburu. Lihat saja, matanya melebar, parasnya menunjukkan ekspresi tegang, dan matanya tampak menginginkan sebuah jawaban yang sesuai keinginan. Cantik. Celine memang cantik, meskipun memiliki segudang perilaku unik. Kalau dilatih mengenai tata krama, mungkin Celine bisa menjadi tuan putri yang berkharisma.


Seperti itu saja, Celine sudah menarik. Walaupun kerap terjatuh ketika sedang antusias pada sesuatu lalu berlari-larian tidak jelas. Kalau semakin sempurna, Reksa takut pria lain terutama Danu akan kian tergila-gila pada istrinya tersebut. Jadi, biarlah Celine menjadi dirinya sendiri, Reksa sudah tak lagi keberatan. Lagi pula, Celine tak seperti Mawar yang licik dan materialistis.


“Cantikan dia, Cel,” ucap Reksa berencana untuk membuat Celine semakin cemburu.


“O-oh ... o-oke.” Celine memberikan jawaban singkat, tetapi terbata-bata. Namun, ... lambat laun ekspresinya berubah menjadi sangar. Ia menatap Reksa kembali. “Jadi, memang sebegitu cantiknya si dia?!”


“Mm.”


“Benar-benar cantik? Sampai aku pun kalah?"


”Iya. Lagian, kamu enggak cantik.”


“Tadi sebelum berangkat, kamu bilang aku cantik lho, Sa! Cih ... labil banget!” Celine yang kesal segera meraih tisu di atas meja. Dengan kasar, ia membersihkan bibir dan seluruh wajahnya dari make-up yang masih menempel. “Buat apa cantik, kalau licik dan bikin orang sakit hati! Cih, enggak guna sama sekali. Cewek kayak gitu bagusnya dibuat mampus, dimasukkan ke dalam tong kotoran manusia, biar makin buruk!”


“Hahaha.” Reksa tergelak, lalu bangkit dari duduknya.


Celine tidak peduli pada kepergian Reksa dan terus membersihkan sisa make-upnya menggunakan tisu-tisu tersebut. Sementara, Reksa tampak memasuki kamar Celine dan entah hendak berbuat apa.


Sekian detik kemudian, Reksa kembali keluar. Ia mendudukkan diri di tempatnya semula. Dan Celine masih tampak kesal. Sepertinya, sosok Mawar memang sukses membuat Celine merasa tidak senang. Benar, memangnya wanita mana yang menyukai pembahasan soal mantan, terlebih sang suami justru lebih mengatakan mantannya itu jauh lebih cantik? Wanita juga kerap marah-marah, meski dirinya sendiri yang membuat keadaan menjadi semakin parah.


“Sudah cemburunya, hadap sini,” ucap Reksa sembari menarik kedua pundak Celine, agar istrinya itu menatapnya.


”Aku enggak cemburu, yeee! Buat apa coba, cemburu sama kotoran macam dia?!" tukas Celine, meskipun menentang, tetap saja intonasi suara dan ekspresinya tak sejalan dengan kata-katanya.


Reksa tersenyum, memilih tak menjawab. Dengan menggunakan kapas yang sudah ia beri cairan milk cleanser, ia membersihkan wajah Celine dengan lembut. Dengan penuh hati-hati, bak penata rias, Reksa melakukannya tanpa banyak bicara. Mendapatkan perlakuan se-demikian manis, tentu saja jantung Celine langsung berpacu keras dan semua emosinya langsung mereda.


“Aku memang seorang pria. Tapi, aku tetap pimpinan dari perusahaan kosmetik. Jadi, aku paham apa saja kegunaan jenis-jenis kosmetik. Dan biasakan kalau habis memakai riasan, kamu bersihkan dengan benar. Nanti malah jerawatan kalau asal-asalan,” ucap Reksa

__ADS_1


“I-iya,” jawab Celine.


***


__ADS_2