
Keira tidak sengaja melihat salah satu rekannya yang bernama Katty sedang berbincang dengan brand ambassador Golden Rose sekaligus selebgram ternama, Ailen Deolinda Davira. Sekilas tidak ada yang salah pada perbincangan mereka. Namun, ucapan Katty sukses menarik perhatian Keira yang langsung menghentikan langkah di lobi perusahaan itu.
“Kamu tahu siapa istri Tuan Reksa, mm, Kakak ...?” tanya Ailen yang tengah menyelidiki.
”Ah.” Katty mengusap tengkuknya malu-malu. “Saya Katty, Nona Ailen.”
”Baik, Kakak Katty. Lalu, bagaimana dengan pertanyaan saya tadi?”
“Oh, soal istrinya Tuan Reksa, ya? Memang, saya enggak tahu persisnya bagaimana. Tapi, menurut kabar yang beredar, wanita itu dari kalangan biasa. Bahkan, mungkin sangat miskin. Kalau menurut saya sih begini, Nona, rumor mengenai Tuan Reksa kan memang sudah bukan rahasia pribadi lagi. Mungkin dengan menggunakan wanita itu, Tuan Reksa ingin menutup rumor mengenai dirinya. Dan lagi, kalau si wanita memang sangat miskin, saya yakin dia setuju menikah hanya demi uang. Mana ada sih yang mau sama Tuan Reksa, yang walaupun tampan, tapi seangkuh dan sekejam itu?” jelas Katty sesuai spekulasinya sendiri.
Ailen menghela napas cukup lega. “Jadi, dengan kata lain mereka enggak pernah berpacaran ya, Kak?”
”Benar, Nona. Enggak pernah. Si wanita ini sepertinya memang sangat mata duitan atau tipe-tipe cewek yang bisa melakukan segala cara demi uang, menjual diri sepertinya tidak masalah buat dia. Makanya dia langsung mau menikah sama orang seangkuh Tuan Reksa, Nona.”
“Woe!” Keira berteriak sembari berjalan cepat menuju keberadaan Katty dan Ailen. “Kalau ngomong tuh dijaga, Kat! Boleh saja kamu mengatai Tuan Reksa, tapi kamu enggak boleh mengatai istrinya Tuan Reksa. Tahu apa dirimu sampai menuduh Celine sebagai wanita mata duitan?! Dan lagi, dia enggak miskin kali, Kat! Justru kamu yang miskin akhlak, bisanya cuma menyebarkan berita tanpa dasar yang benar!”
“Apaan sih, Ra? Datang-datang kok sudah nyolot begitu? Orang aku enggak mengata-ngatai kamu, kenapa kamu yang marah-marah, hah?!” balas Katty.
“Celine ...?” gumam Ailen yang mendapatkan satu nama dari perkataan Keira.
Keira yang sudah terlanjur kesal, kembali menimpali ucapan Katty. “Tapi, kamu mengatakan hal enggak benar tentang Celine, Kat! Asal kamu tahu ya, Celine itu sahabat aku. Dan kamu lupa siapa aku? Aku adalah orang yang langsung dipilih buat jadi staf penting oleh Tuan Reksa. Yang artinya, aku termasuk karyawan kesayangan Tuan Reksa. Aku bisa bikin kamu yang sudah menjelek-jelekkan nama Celine dipecat sama beliau! Dasar cewek udik, lambe nyinyir. Cantik saja enggak, berani-beraninya mengatakan hal enggak benar mengenai istri atasan!”
__ADS_1
Katty tersentak. Bukan karena perkataan Keira, tetapi pada sosok tampan yang berangsur menghampiri keberadaannya bersama dua wanita itu. Demi cari aman, Katty langsung menarik Ailen untuk pergi, meskipun ia sangat ingin membalas ucapan Keira barusan.
Sementara Keira yang tidak tahu-menahu atas kedatangan Reksa, tampak begitu puas. Ia pikir Katty merasa gentar atas ancaman darinya. Orang seperti Katty memang mesti diberi pelajaran. Apalagi, Keira yang sudah bersahabat dengan Celine selama bertahun-tahun, sudah sedikit tahu bagaimana caranya menghardik orang yang menyebalkan. Meski belum terlalu berani dan blak-blakkan seperti Celine, Keira tetap merasa puas pada usahanya untuk mengalahkan Katty yang cukup berhasil.
“Keira?” ucap Reksa yang sudah berada tepat di belakang Keira.
Deg! Jantung Keira serasa dihantam sebuah batu besar. Tidak, dugaannya salah. Katty tidak sedang takut pada ancamannya, tetapi ... kedatangan Reksa-lah yang membuat Katty pergi serta membawa Ailen sekaligus.
Detik itu juga, keringat dingin langsung bercucuran di dahi dan leher Keira. Bagaimana kalau Reksa mendengar semua ucapannya pada Katty? Dan bagaimana jika Reksa langsung memecatnya saat ini? Astaga, apa yang harus Keira lakukan? Sungguh, ia tidak pernah menyangka, Reksa akan ada di sana. Biasanya Reksa berangkat lebih awal dan di jam-jam sekarang, Reksa sudah berada di dalam ruangan pribadi.
“I-iya, Tuan?” Sesaat setelah memutar badannya dengan gerakan kaku, Keira memberikan jawaban. Kepalanya tertunduk dan matanya terpejam. Pun pada jantungnya yang semakin berdegup tidak karuan.
”Keira?” ucap Reksa lagi. “Boleh aku tanya padamu?”
Keira menelan saliva. “Si-silakan, Tuan.”
“Ini tentang ....” Reksa menggigit bibir bawahnya.
Enggak, harga diriku bagaimana nanti? Hanya karena seorang wanita, aku dibuat segalau ini? Hahaha, enggak boleh. Reksa berubah pikiran. Selain malu, ia juga tidak mau jika reputasinya hancur. Apalagi ia sudah terkenal dengan kesombongannya, mana mungkin secara tiba-tiba ia menunjukkan sikap lunak dan kelimpungan hanya karena seorang wanita.
“Ah ... i-itu, ke-kenapa kamu merelakan jika namaku dijelek-jelekkan sama mereka, hah?!” ucap Reksa berusaha mengomel dengan suara terbata-bata. “Sebagai seorang karyawan rendahan, sudah sepatutnya kamu menjaga nama baik atasan, 'kan?!”
__ADS_1
Tubuh Keira gemetar. Sialnya, dugaannya sangat benar. Ternyata Reksa sudah mendengar semua ucapannya pada Katty beberapa menit yang lalu. Mungkin sebentar lagi, ia akan kehilangan pekerjaan atau minimal menerima surat peringatan.
“Ma-maafkan saya, Tuan, sa-saya terlalu emosi tadi saat nama Celine dijelek-jelekkan oleh Katty,” ucap Keira.
Reksa menghela napas. “Tapi, enggak harus mengizinkan dia menjelek-jelekkan namaku juga, Keira! Kalau saja kamu bukan teman kesayangan Celine, mungkin aku sudah memecatmu detik ini juga!”
”Eh?” Keira menatap Reksa dengan pancaran mata yang menunjukkan tanda tanya besar.
Reksa menghardik Keira menggunakan hentakan kakinya. Detik berikutnya, ia memutar badan dan berencana untuk menuju elevator demi mencapai ruang kerjanya sendiri. Namun, ... baru tiga kali melangkah, kaki Reksa berhenti lagi.
Pria itu memutar badannya kembali dan menatap Keira yang juga tengah memandangnya. “Dan lagi, perlu kamu garis bawahi bahwa kamu itu bukan karyawan kesayanganku, Keira! Jangan pernah berharap lebih, hanya karena aku yang memilihmu menjadi staf penting secara langsung!”
“Ma-maaf, Tuan, maafkan saya. Sungguh, maafkan saya.” Keira merundukkan badannya berkali-kali. Karena selain takut, jujur saja ia juga merasa sangat malu setelah membuat pengakuan bahwa dirinya adalah karyawan kesayangan Reksa, padahal bukan sama sekali.
“Cih! Otak mereka saja yang beda, tapi kalau soal tindakan, mereka sama-sama kampungan,” gumam Reksa, kemudian melanjutkan rencananya lagi.
Napas Keira terengah-engah, tetapi sudah lebih lega pasca Reksa benar-benar pergi meninggalkannya. Takut dan malu memang sangat mendominasi keadaan hatinya saat ini. Namun, tidak dipecat saja ia sudah sangat bersyukur. Setidaknya posisinya sebagai sahabat Celine sudah memberikan satu keuntungan. Meski tetap saja, Keira juga dibuat bingung tentang bagaimana bisa Reksa tak memberhentikannya karena Celine.
“Hmm ... lagaknya seperti sangat memedulikan Celine, padahal kan enggak sama sekali. Dia juga pintar membuat pencitraan ternyata,” gumam Keira lalu memutuskan untuk segera menuju ke tempat kerjanya yang berada di lantai lebih atas.
***
__ADS_1