Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 25-Kekejaman Reksa


__ADS_3

Celine tidak menyangka di hari pertamanya bekerja, ia mendapatkan sambutan super meriah dari rekan-rekan, bahkan bosnya yang menyebalkan. Suara terompet dan hujan bunga kertas menyambut kedatangannya, ketika baru saja membuka pintu ruangan itu.


”Hahaha, terima kasih, ya! Lebay banget sih kalian, padahal kan aku pergi liburan, bukan habis menang medali emas,” ucap Celine pada mereka semua.


Sofia—salah satu rekan Celine—berkata, ”Aku tadi melihat kamu diantar sama suami kamu, Cel. Hebat! Keren banget dia, kupikir kabar bohong. Tapi, ternyata suami kami benar-benar si CEO tampan itu ya?”


“Sudah jadi ibu negara nih, Cel! Waaah hebat, Celine. Gila sih, kalau dulu naik taksi online atau ojek online, tapi sekarang naiknya lamborghini. Habis ritual apa kamu, Cel?” timpal Romeo, rekan Celine yang lain.


Danu merasakan dadanya nyeri dan hatinya terenyak sakit. Semua orang tengah membicarakan identitas suami Celine. Padahal, ia masih menyimpan harapan besar untuk bisa bersama Celine. Namun, apa boleh buat. Mungkin ia harus tetap bersabar, sampai tiba saatnya ia bisa membujuk Celine berpisah saja dengan Reksa yang angkuh.


“Apaan sih, Meo! Ibu negara apanya? Aku enggak menikah sama presiden. Jangan lebay deh kamu,” tukas Celine pada ucapan Romeo.


“Tetap saja, Celine, suami kamu itu juga seorang presdir dari perusahaan terkenal,” sela Dini. “Kapan-kapan boleh kali kenalin kita sama dia, Cel! Buat ber-swafoto. Setuju enggak sih kalian?”


”Setuju!” seru rekan-rekan Celine lainnya yang pada saat itu berjumlah sembilan orang.


Sementara si Bos yang memiliki nama Safrudin hanya diam dan tak berani menatap Celine dengan tajam seperti biasanya. Ia harus hormat dan tidak boleh membuat kesalahan, kalau perlu ia harus lebih menyayangi Celine, sebab Celine bisa saja membuatnya berada dalam masalah besar, mengingat identitas suami Celine saat ini benar-benar tidak sembarangan.


”Enggak, enggak mau!” tolak Celine. “Sudahlah, bersikap biasa dan sewajarnya saja deh kalian. Jangan terlalu caper juga sama aku. Aku enggak bakalan kenalin kalian ke Reksa. Ingat itu! Lagian ya, Guys, yang ternama itu Reksa, bukan aku tahu!”


“Huuu!” Kompak, semua rekan Celine berseru, kecuali Danu yang sangat kecewa.


“Pelit amat kamu, Cel!” ucap Sofia.


Celine tertawa. “Pelit itu penting, Sof. Biar cepat kaya terus keliling dunia! Hahaha.”


“Ngapain harus sampai pelit dan bekerja keras? Padahal kan suami kamu sudah sangat kaya, keliling dunia langsung bisa dalam sekali kedip kali, Cel! Masa kamu masih bekerja di sini? Jangan-jangan, meskipun kaya-raya, suami kamu pelit juga ya, Cel? Sama saja bohong dong kalau begitu?” sindir Iyus.


Danu tidak senang mendengar kalimat pria itu, lantas menimpali, “Yus, jangan begitu!”


”Dih, si Iyus kepo banget sudah macam emak-emak kompleks yang kalau beli sayur langsung gosip dan nyinyirin orang!” Namun, Celine tetap menjawab ucapan Rudi. “Lemes amat mulut kamu itu, Iyus. Cowok kayak cewek rumpi. Aku kembali ke kantor ini kan demi kalian. Coba kalau enggak ada aku, dijamin kantor sepi kayak kuburan. Dan mulut si Iyus makin mengerikan kalau nyinyirin orang hahaha.”

__ADS_1


”Benar tuh, Cel!” sahut Yulia. “Iyus tuh memang kayak cabe mulutnya. Sama sih kayak mulutmu, Cel. Hahaha.”


“Oh iya ya, aku sendiri juga begitu hahaha.” Alih-alih tersinggung, Celine justru tergelak atas ucapan Yulia. “Kan biar seru, Yul, kalau aku berantem sama Iyus jadi rame, tahu! Hahaha.”


Danu tersenyum sembari menatap Celine yang begitu ceria. Memang benar, kantor terasa lebih senyap jika tidak ada Celine. Hanya wanita itu yang mampu membuat suasana lebih hangat dan asyik. Apalagi setelah diberikan tugas menumpuk oleh Safrudin, biasanya Celine akan mengeluh dengan kata-kata lucu dan mengundang tawa orang lain.


Ini sebabnya aku menyukai kamu, Cel. Selalu ada keceriaan di sekitar dirimu. Dan enggak mungkin aku membiarkan ku hidup menderita bersama pria yang enggak kamu cinta, pikir Danu. Kehadiran Celine juga sukses menumbuhkan semangat dan motivasi agar ia bisa menyelamatkan hidup wanita pujaannya itu.


***


Pukul delapan waktu setempat, yang sekaligus menjadi saat di mana jam operasional telah dimulai. Reksa sengaja mengadakan meeting secara dadakan dengan tim perencanaan, yang ada Keira serta Katty sebagai anggota staf di dalamnya. Kali ini ia hendak membahas mengenai formula untuk produk skincare yang sudah direncanakan


sejak lama.


Pertemuan itu berlangsung seperti biasanya. Sangat kondusif, tetapi sebenarnya ada ketegangan yang menyelimuti mereka. Tanpa terkecuali Keira yang sebelumnya sudah membuat masalah besar. Tak seperti hari sebelumnya, saat ini Keira memilih diam, alih-alih memberikan pendapatnya terhadap presentasi yang dilakukan oleh beberapa rekannya.


”Panas sekali.” Tiba-tiba Reksa berucap sembari mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya. “Ada yang bisa membelikan es kopi vanilla untuk saya? Di Beryll's caffe itu?”


“Tidak ada yang mau?” ucap Reksa lagi.


Kali ini, Keira berpikiran berbeda. Mungkin dengan menyetujui permintaan Reksa, ia benar-benar akan dimaafkan, setelah itu ia tidak perlu khawatir lagi perihal teror lanjutan dari atasannya tersebut.


Namun, ... saat Keira hendak mengangkat tangan, Reksa justru berkata, “Katty! Kamu bisa, 'kan, mengurus permintaan saya?”


“Sa-saya, Tuan?” Wajah Katty langsung kebas. Ia yang kerap mencari aman, mengapa justru ditunjuk secara langsung seperti itu?


“Memangnya ada orang lain yang memiliki nama Katty? Kenapa bodoh sekali dirimu? Sampai harus bertanya balik seperti itu, hah?!”


Tubuh Katty langsung gemetaran. Suara Reksa yang keras dan tegas bagaikan ledakan bom atom, sukses membuat jantungnya bergedup tak karuan. Merasa tidak punya pilihan lain, Katty terpaksa bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju keberadaan Reksa, diikuti tatapan ngeri dari rekan-rekannya yang lain.


Katty berhenti tepat di samping Reksa, kemudian berkata, “Ba-baik, Tuan.”

__ADS_1


“Kenapa malah kemari bukannya lekas pergi?!” Reksa bertanya lagi.


“I-itu, Tuan. A-anu uang ... u-uang?”


Reksa menghela napas. “Apa gaji yang aku berikan padamu sangat sedikit, sampai membeli kopi saja kamu tidak mampu?”


“Oh ... ah, baiklah, Tuan.”


Lagi-lagi, Katty dibuat tidak punya pilihan lain. Ia segera berangkat, daripada terus-terusan diomeli oleh Reksa. Lagi pula, hanya segelas es kopi vanilla tidak akan terlalu menguras dompetnya. Memang sedang apes tampaknya, sehingga ia dijadikan sasaran oleh Reksa. Sementara Katty yang bergegas untuk melaksanakan tugas dari Reksa, meeting tersebut pun dilanjutkan.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Katty kembali dengan satu gelas kopi vanilla dingin yang terbungkus box aesthetic. Sebuah minuman mahal yang kerap membuat Katty mengeluh di sepanjang perjalanan, karena budget yang ia keluarkan untuk membeli minuman tersebut bisa digunakan untuk membeli beras seberat lima liter. Namun, alih-alih mendapatkan ucapan terima kasih, lagi-lagi Reksa memberikan perkataan menohok padanya.


”Kenapa tidak ada es-nya?!” tanya Reksa sesaat setelah membuka tutup gelas kopi tersebut.


“Sepertinya sudah mencair, Tuan,” jawab Katty. “Tadi macet.”


“Kenapa bisa mencair?! Kalau kamu bergerak lebih cepat, enggak mungkin bisa mencair, Katty! Dan lagi, kenapa cuma satu?! Memangnya satu gelas bisa diminum delapan orang? Apa yang ada di otakmu itu, sampai berpikir hal semacam ini saja kamu enggak mampu?!” omel Reksa. “Kalau menyebar gosip saja paling jago!”


Glup! Katty menelan saliva. Ternyata itulah alasan Reksa mengapa tiba-tiba menjadikannya sebagai pesuruh. Entah sejak ucapan mana, Reksa mendengar perkataannya pada Ailen, tetapi tuannya itu sudah terlanjur mendengar dan marah besar.


“Ma-maafkan saya, Tuan,” ucap Katty dengan bibir gemetar dan matanya yang mulai berair.


”Jangan cengeng! Macam anak TK saja, yang dimarahi sedikit langsung mewek!” tegas Reksa. “Lakukan hal yang sama! Belikan rekan-rekanmu sekalian! Dan es-nya jangan sampai mencair! Lihat saja, kalau tidak berhasil, saya akan memecat kamu!”


Dalam keadaan masih terluka dan sudah berderai air mata, Katty kembali menyanggupi permintaan Reksa. Sementara, semua rekannya benar-benar diam dan mencari aman. Tidak ada satu pun dari mereka yang memberikan pembelaan, termasuk Keira yang jujur sangat senang, tetapi juga takut.


Reksa memang benar-benar bukan main. Beneran kejam. Demi nama baiknya, dia bisa melakukan apa pun untuk menyiksa orang yang membicarakannya, batin Keira.


Keira menganggap bahwa Reksa menghukum Katty, karena Katty berani menggosipkan tentang nama baik Reksa sendiri. Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Sebab, sebenarnya, Reksa merasa marah pada semua ucapan buruk Katty terhadap istrinya alias Celine.


***

__ADS_1


__ADS_2