
Celine dan Kenny sudah berada di dalam apartemen Keira yang begitu rapi dan elegan. Meski bukan pertama kalinya bagi Celine berada di tempat itu, tetap saja ada aroma kecanggungan yang sejak tadi menguar di sekitarnya. Pun yang terjadi pada Kenny, yang seolah tiba-tiba berada di dalam kediaman wanita pujaan. Bedanya, ini pertama kalinya untuk Kenny mampir di rumah Keira. Sungguh! Dan itu cukup membuatnya tidak nyaman.
Keira sendiri di single sofa bagian lain. Ia telah menyajikan tiga cangkir kopi instan di atas meja. Belum ada satu patah kata pun yang dapat ia ucapkan. Terlebih, Celine masih sama, terdiam. Sejujurnya, ia sangat senang saat Celine memberikan kabar ingin singgah sebentar ke apartemennya. Namun, ia tidak sanggup untuk mengemukakan kegembiraannya itu.
Kenny menghela napas, lalu mengusap-usap tengkuknya seperti lagak para pemuda bosan pada umumnya. Meski masih merasa canggung, lambat laun ia berpikir bahwa suasana saat ini benar-benar menyebalkan dan tidak boleh dibiarkan berlangsung terlalu lama. Antara dua wanita di hadapannya itu harus segera akur daripada saling terdiam dan terlihat sangat aneh.
“Celine, Keira? Apa kalian pada sakit gigi?” ucap Kenny—si pria manis yang pandai menyembunyikan isi hati. “Selesaikan masalah kalian daripada sama-sama diam seperti itu! Bikin bosen!”
“Lagian, kamu kenapa ikut sih, Ken?! Kan enggak ada yang ngajak kamu ikut! Kalau bosen ya itu kan resiko yang harus kamu tanggung!” sahut Celine sembari menatap adiknya dengan nanar.
Mendengar jawaban menohok dari Celine, mata Kenny langsung menatap ke atas seolah sedang mencari jawaban yang pas. Namun, sayang, tak ada jawaban yang masuk akal. Jujur, ia hanya ingin bertemu dengan Keira dan memastikan apakah Keira sedang bersama Danu sore ini.
“Mm ... maaf.” Akhirnya, Keira ambil suara. “Aku benar-benar minta maaf, Cel. Buat semuanya.”
Celine beralih menatap Keira, kemudian menghela napas. “Kamu kan sudah minta maaf, kenapa minta maaf lagi? Aku yang seharusnya bicara soal itu, Ra. Aku lagi enggak sehat waktu itu, jadi moodnya juga kacau. Dan jujur, sebenarnya aku malu banget sama kamu, Ra. Makanya tadi aku enggak bisa ngomong apa-apa. Cuma kamu yang selama ini mendengar keluh kesahku, bukan adik biadabku yang tiap diminta saran, malah minta duit!”
“Sialan!” gumam Kenny lirih, menyadari bahwa Celine sedang menyindirnya dan fatalnya, di hadapan Keira.
“Tapi, dengan kenyataan seperti itu, aku justru bikin kamu menjadi orang paling jahat, Ra. Maaf ya, aku sudah enggak tahu terima kasih,” lanjut Celine sambil menundukkan kepalanya. “Aku harap kita bisa kayak dulu lagi.”
Keira tersenyum lega. Inilah yang ia harapkan sejak beberapa hari terakhir. Mendingan kehilangan pacar, daripada kehilangan Celine. Mungkin Celine memang sudah menikah, tetapi tak ada masalah, bukan, jika Keira masih tetap ingin akrab? Ia juga berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahannya lagi.
Tidak ingin berlarut-larut dalam keadaan canggung, akhirnya Keira memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri sofa berukuran tinggi yang sedang ditempat oleh Celine dan Kenny. Lantas, di antara mereka berdua, Keira mengambil sikap duduk dan ... tentu saja posisinya benar-benar dekat dengan Kenny.
“Uh ... Celine-ku!” ucap Keira sembari merangkul tubuh istri dari atasannya tersebut.
Mendadak rona merah jambu menghiasi wajah Kenny yang manis. Ia sampai menelan saliva beberapa kali, setiap lengan Keira tak sengaja bergesek dengan lengannya. Bukan ingin berpikiran jorok, tetapi posisi Keira memang sangat dekat sekali, bahkan aroma sampo di rambut wanita itu sampai terendus oleh hidung Kenny.
Gila, aku bisa meledak kalau begini terus! Pikir Kenny. Kemudian, tiba-tiba saja ia bangkit dari duduk.
“Kenapa, Ken? Sempit ya? Maaf ...,” ucap Keira.
“Lagian kalau sudah tahu sempit kenapa tiba-tiba nyempil sih, Ra? Iya sih ini rumahmu.” Panas-dingin, Kenny menjawab. “Ini rumah enggak ada AC-nya apa? Kenapa panas sekali?” lanjutnya sembari berjalan dan mengibaskan kedua telapak tangannya pada tubuhnya sendiri.
__ADS_1
“Ruuumah? Norak kamu, Ken, apartemen kali!” timpal Celine. “Lagian, AC sedingin ini masih tanya nyala apa enggak! Kulitmu itu yang macam kulit badak!”
“Nyela mulu lo!” tukas Kenny kesal. Dan karena merasa tidak aman, ia bergegas untuk keluar. Namun, ekor matanya masih melirik keberadaan Keira yang juga sedang menatapnya.
Keira. Wanita ini selain pintar, juga cukup peka. Menganalisa sikap Kenny barusan rasanya cukup mudah baginya. Kenny aneh, sangat aneh. Pria yang tidak pernah mampir ke apartemennya itu, tiba-tiba saja ikut singgah. Apakah karena takut jika ada pertengkaran antara Celine dan Keira? Ah, rasanya tak mungkin, pikir Keira. Kemudian berlanjut pada pertanyaan konyol seputar AC, biasanya seseorang yang merasa kepanasan di ruangan yang dingin, berarti orang tersebut sedang merasa malu dan gugup. Lalu diikuti lirikan aneh sebelum keluar dari sana, mungkinkah Kenny ...?
“Ahahaha! Enggak mungkin, Keira!” Keira keceplosan menyanggah dugaannya tersebut. “Gila, enggak mungkinlah!”
Celine mengernyitkan dahinya. “Kenapa, Ra? Apanya yang enggak mungkin?” tanyanya.
“Mm ... Cel? Suka nonton drama?”
“Lumayan, apalagi pas nganggur ini kerjaanku nonton drakor, sambil riset tempat-tempat wisata di Korea, tentunya. Kenapa memangnya?”
“Biasanya orang yang mendadak merasa gerah di drama-drama itu kenapa?”
“Lagi salting.”
“Kenapa, Ra?”
Keira menggeleng kaku. “En-enggak apa-apa kok.”
Salting? Salah tingkah? Dugaan Keira nyaris benar. Kenny sedang salah tingkah oleh dirinya yang tiba-tiba nyempil di antara Celine dan pria itu. Namun, biasanya Kenny akan bersikap acuh tak acuh, tetapi kali ini mengapa mendadak kegerahan begitu? Tidak, tidak, Keira tidak boleh memikirkannya lagi. Sudah ia katakan itu tidak mungkin terjadi!
Keira menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menatap Celine, ingin membahas apa pun tentang perjalanan lagi. Impian itu harus kembali dibangun, sebelum Celine memiliki tanda-tanda sedang hamil. Bahkan, wanita itu sepertinya belum melakukan apa pun dengan Reksa. Namun, entah, Keira tidak ingin sok tahu lagi seperti sebelumnya.
“Aku ingin liburan, Cel, maksudku sama kamu. Seenggaknya ke salah satu negara yang masuk list kita. Aku bakal ambil cuti deh. Negara terdekat saja yang enggak perlu waktu berbulan-bulan,” ucap Keira. “Itupun kalau kamu dikasih izin sama Reksa.”
“Reksa kasih izin kok, bahkan dia mau kasih kamu cuti biar kamu jadi teman perjalananku. Tapi, masalahnya, aku belum punya uang, Ra. Tabungan terakhir cuma cukup buat piknik ke Bali atau Yogyaakarta. Apalagi kalau ke Yogyakarta bisa naik bus, enggak mahal budgetnya. Sebenarnya, Reksa siap kasih aku uang, bahkan uang bulanan dari dia gede banget sampai aku bingung dipakai buat apa yang akhirnya belum tersentuh sama sekali. Lagian, aku maunya mencapai cita-citaku pakai uang aku sendiri, Ra.”
“Astaga, Celine!” Keira mendadak gemas sendiri. “Kamu benar-benar sudah akur, ‘kan, sama Reksa?”
Celine mengangguk. “Iya, sudah kok. Dia juga semakin baik.”
__ADS_1
“Tapi kok kamu kayak gitu?”
“Kayak gitu bagaimana maksud kamu, Ra?”
“Cel!” Keira mencengkeram kedua jemari sahabatnya tersebut. “Pertama kamu enggak pakai uang dari Reksa sama sekali, kedua kamu maunya pergi ke luar negeri pakai uang kamu sendiri. Jangan-jangan buat hal-hal yang lain kamu maunya pakai uang sendiri?”
“Soal itu ....” Celine mengusap tengkuk. “Entah, tapi sepertinya begitu.”
“Aduh, Cel! Itu buruk dan salah besar! Belakangan ini aku melihat kamu datang ke kantor dan disambut semringah oleh Reksa, sampai kabar kemesraan kalian mulai meluas. Terus, mm ... maaf, aku membahas ini lagi. Tapi, aku mendengar dari Danu kalau Reksa bela-belain kamu sampai datang ke bekas kantor kamu dan menggertak mantan bosmu. Semua itu sudah membuktikan kalau Reksa mulai suka sama kamu, Cel.
“Tapi, dia ....” Celine menundukkan kepala. “Dia belum bilang cinta sama sekali.”
“Reksa sudah berusia di atas kepala tiga, Cel, tentunya dia sudah menjadi pria dewasa yang enggak harus membuktikan perasaan pakai kata-kata, tapi tindakan, Cel! Dia mau jadi suami yang baik! Tapi, kenapa kamu justru cenderung enggak menghargainya? Kamu maunya pakai uang sendiri-lah, mau ini itu sendiri-lah! Ini salah lho, Cel. Padahal jarang lho Reksa berbuat kayak gitu demi orang lain. Mungkin kamu memang sudah menjadi istrinya, tapi coba deh pikir ke belakang lagi saat Reksa masih memperlakukanmu dengan enggak baik. Itu artinya Reksa mulai suka sama kamu, Cel, makanya dia berusaha membuang ego di masa lalu demi kamu.”
Celine terdiam. Keira benar. Sepertinya halnya dirinya yang setiap kali memasak, tetapi Kenny tak mau makan. Dan pada saat itu perasaannya kecewa sekali. Pasti Reksa juga merasa kecewa padanya yang selalu menolak uang sekaligus penawaran, baik tentang membangun usaha, atau berkunjung ke luar negeri. Justru saat ini, Celine-lah yang memiliki ego sangat besar. Demi menjaga harga diri, ia sampai tak menghargai usaha dari suaminya sendiri.
“Baiklah, Ra, aku akan meminta maaf sama dia dan mulai belajar menghargainya,” ucap Celine membuat keputusan.
Keira tersenyum. “Bagus! Kalau kalian memang sudah klop satu sama lain, jaga baik-baik keadaan itu, Cel. Soalnya pelakor zaman sekarang jauh lebih kejam daripada pembunuh bayaran.”
“Jangan menakut-nakutiku, Keira! Apalagi ada si Uler Alien di kantormu! Hih!”
“Hahaha, cemburu nih ye!” goda Keira. “Ngomong-ngomong soal Alien, boleh nih kita jalan ke Bali saja. Ya, sambil mengawasi Alien kalau-kalau dia menggoda Reksa. Aku akan mengusahakan hari cutiku tepat pada keberangkatan Reksa serta tim terkait ke Bali.”
“Ide bagus!” sahut Celine, tetapi ia tiba-tiba menjadi lesu. “Kalau aku nanti ketemu Reksa, aku pasti enggak bisa sama kamu di sana. Yang artinya kamu sendirian dong?”
“Masih beberapa minggu lagi, ‘kan? Sekitar enam mingguan yang artinya masih satu bulan penuh. Siapa tahu Kenny sudah sidang skripsi dan ada jeda sampai hari wisuda. Biar dia saja jadi teman jalan ... ah.” Keira terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya, saat mengingat tingkah aneh Kenny beberapa saat lalu.
Namun, sayang Celine sudah terlanjur mengerti. “Benar, semoga saja Kenny mau. Nanti biar aku iming-imingi sesuatu. Ken! Kenny!”
Celine bangkit untuk memberikan penawaran itu pada adiknya. Sementara Keira hanya terdiam sembari berharap-harap cemas. Ya, semoga saja Kenny menolak atau firasatnya tentang Kenny sama sekali tidak benar.
***
__ADS_1