Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 22-Ketidakjelasan Celine


__ADS_3

Celine sedang kesal. Ia memutuskan untuk pulang, saat Reksa baru saja datang ke rumah orang tuanya, demi menjemputnya. Bukan karena Reksa, Celine bisa mengidap perasaan itu. Namun, karena ibunya sendiri yang langsung mempertanyakan tentang 'pertempuran' dan juga bayi. Bahkan, Deswita tidak peduli pada keberadaan Reksa sama sekali. Dan bagi Celine, tindakan ibunya tersebut benar-benar memalukan.


“Kenapa manyun begitu, Cel?” tanya Reksa pada Celine sembari sibuk mengemudikan mobilnya.


Celine menghela napas. “Ibuku bikin malu. Sumpah, aku malu banget sama kamu tahu, Sa!” jawabnya begitu jujur.


“Hahaha. Enggak ada bedanya sama kamu, kayaknya kamu memang mewarisi sifat ibu kamu, Cel.”


Dahi Celine mengernyit. “Apa maksud kamu? Ya enggaklah, Sa! Beda kali. Aku enggak pernah seerotis itu juga kalau tanya sama orang!”


“Tapi, tetap saja, kalian berdua sangat blak-blakan. Bedanya kamu belum terlalu berani. Coba lihat saja nanti, beberapa tahun ke depan dan setelah punya anak, aku jamin kepedasan mulutmu bisa meningkat 80%.”


“Enggaklah! Enggak bakalan! Lagian, soal anak, memangnya kamu mau punya anak dari aku?”


”Apa? Ah, y-ya tentu saja maulah, Cel. Bi-bisa saja, sudah ada hasil dari Rusia.”


“Enggak tuh,” jawab Celine dengan wajah polos. “Aku sedang datang bulan tepat hari ini.”


“Oh ... bagus kalau begitu.”


“Cih!”


Celine semakin kesal. Ya, sampai saat ini Reksa tetap tidak mengatakan apa pun perihal pernyataan cinta. Benar-benar pria angkuh sekaligus tidak peka. Bodohnya lagi, Celine tetap tidak berani bertanya seperti saran dari Kenny. Terlalu memalukan baginya. Apalagi Reksa masih tidak jelas seperti itu. Alih-alih bersikap manis, sikap Reksa tetap sama saja.


Reksa sendiri bahkan tidak pernah memikirkan perkataan yang seharusnya ia katakan. Ia pikir apa yang ia katakan di malam terakhir ketika di Rusia sudah cukup untuk membuktikan kesungguhannya. Dan lagi, sikap Celine terhadapnya tidak berubah, sehingga ia menganggap bahwa Celine memang lebih nyaman berbicara kasual tanpa ada embel-embel nama kesayangan. Tak apa, asal tidak lagi banyak pertengkaran rasanya sudah sangat cukup.


“Mm ... kamu besok jadi bekerja di kantor itu lagi?” tanya Reksa.


Celine mengangguk. “Iya. Aku enggak enak kalau tiba-tiba membatalkan janjiku sama si Bos,” jawabnya.


“Aku bisa merekrutmu ke perusahaanku, Cel, kalau memang mau. Lagi pula, kamu kan istri aku, masa kerja di tempat kecil seperti itu?”


“Memangnya kenapa? Toh, yang penting enggak mencuri, 'kan? Lagian ya, Sa, aku enggak mau jadi pusat perhatian ketika di perusahaanmu. Aku juga hanya lulus SMA, memangnya bisa apa? Kalau Keira kan memang pada dasarnya pintar, terus dia pernah kuliah. Dengar-dengar, kamu sendiri yang mengangkat dia jadi staf umum, alih-alih seorang admin, 'kan?”


“Entah. Aku lupa, Cel.”


“Hmm ... memang sih, namanya juga orang sibuk. Di kepala kamu pasti banyak banget deretan rencana yang sangat penting. Waaah ... orang-orang pintar memang selalu banyak kesibukan, ya? Keira pun begitu. Kalau aku? Hahaha, jadi pesuruh si Bos doang. Enggak mungkin banget tiba-tiba nongol di perusahaan kamu, Sa. Enggak bakalan ada pekerjaan yang pantas buat aku di sana.”

__ADS_1


”Ada, Cel!” tukas Reksa.


Dahi Celine mengernyit. “Masa?”


”Iya. Jadi, office girl. Hahaha.”


“Iiih! Sudah berharap penuh lho, Sa. Lebih baik aku tetap bertahan di kantor kecil itu saja kalau begitu!”


“Maaf, maaf, bercanda kok. Tapi, pastinya aku bakal kasih posisi lumayan buat kamu, Cel.”


“Enggak butuh tuh!” Sayangnya, Celine terlanjur kesal.


Gelak tawa Reksa langsung memenuhi kabin mobil tersebut. Senang? Benar! Celine bisa ia permainkan dengan seloroh ringan, padahal selama ini istrinya itu yang kerap memberikan hinaan terhadap ukuran lubang hidungnya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya Reksa dan Celine sudah berada di apartemen mereka. Keduanya lantas masuk dan berencana untuk langsung tidur, karena hari memang sudah sangat malam. Apalagi sisa jetlag masih sangat terasa. Celine tidak ingin merasa pusing di hari pertama ia bekerja, setelah satu bulan foya-foya di Rusia.


“Celine?" ucap Reksa memanggil nama istrinya.


Celine menghentikan langkah. ”Apa lagi?” tanyanya sembari menatap Reksa.


”Mau ke mana?”


”Tidur di mana?”


“Di kamarku.”


Reksa mendengkus kesal. “Ikut aku.”


”Ke mana?”


“Ke kamarku.” Reksa berdeham, menghalau pergi rasa malunya sendiri. “Kamu boleh pindah ke kamarku.”


Celine mengernyitkan dahi. “Boleh? Memangnya aku pernah minta?”


”Celine? Kok begitu?”


“Kamunya juga begitu!”

__ADS_1


Rasa bingung membuat Reksa harus berpikir keras. “Memangnya aku begitu bagaimana? Karena candaan office girl tadi?”


“Bukan.” Celine menggelengkan kepalanya. “Pokoknya kamu masih begitu!”


“Iya, tapi, aku kenapa?! Bisa nggak sih, dijelaskan sejelas-jelasnya!”


”Nggak bisa!”


Lagi-lagi, Reksa mendengkus kesal karena Celine sudah membuatnya seperti didakwa tanpa memiliki kesalahan. “Oke, maafkan aku, Cel!”


Sesaat setelah menghela napas, Celine menjawab, “Nggak kok. Nggak perlu. Aku yang salah, aku yang minta maaf. Seharusnya aku cukup memahami usia kamu dan hal-hal semacam itu sama sekali enggak penting.”


Reksa semakin tidak mengerti. Apa yang sebenarnya Celine maksud? Tidak ada satu pun dugaan yang tersemat di dalam benaknya. Mungkin karena pengaruh daei datang bulan, sehingga mood Celine sedang tidak karuan. Ya sudah, lebih baik diam dan mengalah. Kalau kembali salah langkah, Celine bisa menangis lagi seperti di malam terakhir itu. Reksa tidak mau, selain tidak tega, Celine juga bisa membuat dirinya kerepotan.


”Ya sudah, terserah saja. Kalau kamu masih enggak mau pindah kamar. Nggak masalah sama sekali,” ucap Reksa.


“Reksa?” kata Celine. ”Apa tetap enggak ada yang ingin kamu katakan padaku?”


“Ada.”


Mata Celine langsung berbinar. “Oh ya? Apa itu?”


“Selamat malam, Cel.”


“Itu doang?!”


”Mm ... semoga mimpi indah.”


“Aaaarrg! Menyebalkan!”


“Hah?! Apa aku mengatakan hal yang salah?”


“Tahu!”


“Astaga ... apa lagi salahku? Aku yang seorang dewa bisnis ini sudah rela meminta maaf, bahkan mengalah, tapi kenapa dia begitu lagi?”


Oh sungguh, Reksa benar-benar tidak habis pikir. Sekeras apa pun ia berpikir, rasanya tak ada satu pun kesalahan yang ia lakukan, selain masalah candaan office girl. Namun, mengapa respon Celine bisa separah itu? Bahkan, sampai meninggalkan Reksa menuju kamarnya sendiri tanpa mau memberikan penjelasan apa pun sama sekali.

__ADS_1


Apa wanita memang segarang macan dan semakin enggak jelas kalau sedang datang bulan? Dia kan biasanya jarang tersinggung, kenapa sekarang justru tersinggung tanpa aku berbuat kesalahan padanya? Oh astaga, ucap Reksa dalam hatinya. Detik berikutnya, ia bergegas untuk menuju kamarnya sendiri sembari berusaha memaklumi sikap Celine. Mungkin belum waktunya ia dan istrinya itu bisa berada di dalam kamar yang sama. Lagi pula, kecanggungan pasti akan tetap ada. Reksa juga masih membutuhkan banyak waktu untuk melatih dirinya.


***


__ADS_2