Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 21-Dia Cinta atau Tidak?


__ADS_3

“Cinta, enggak, cinta, enggak, cinta, eh? Kok enggak?!” Suara itu terdengar seiring hilangnya satu per satu kelopak sekuntum bunga mawar, karena seorang wanita sedang memperhitungkan prediksinya menggunakan jumlah kelopak dari bunga tersebut. “Masa enggak sih?!”


“Celine! Berisik, tahu!” ucap Kenny memperingatkan. “Lagian, kenapa kamu mampir ke sini sih? Bukankah seharusnya kamu sudah hidup enak di rumah mewah suami kamu itu? Malah bikin mata orang jadi sepet saja!”


Celine alias wanita perusak keindahan bunga mawar tersebut memutar bola matanya sembari menghela napas dalam. Seperti perkataan Kenny barusan, Celine memang berada di rumah keluarganya malam ini, setelah tadi siang baru sampai di tanah air.


Tentu saja bukan tanpa sebab, kedatangan Celine ke rumah orang tuanya dikarenakan ada perasaan rindu yang sudah membumbung tinggi. Selain itu, ia memiliki rencana untuk memberikan oleh-oleh yang dibelikan oleh Reksa ketika masih berada di Rusia.


Sayangnya, saat ini kedua orang tua Celine tersebut sudah sibuk di kedai yang tetap buka seperti hari biasanya. Sementara Celine dan Kenny tampak bersantai di teras rumah keluarga mereka.


“Kamu kenapa sih? Bukannya senang habis dari Rusia, malah lesu dan bikin orang terganggu saja!” ucap Kenny lagi, meskipun ucapannya terdengar pedas, sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan keadaan kakaknya. Terlebih, kakaknya itu menikah dengan seorang pria yang jauh lebih tua dan masih terbilang cukup asing. “Apa Reksa memperlakukanmu secara enggak baik, kayak di sinetron-sinetron itu, Cel?”


Celine berdecap sembari menggeleng-gelengkan kepala. “Cih, anak laki tontonannya sinetron? Yang benar saja kamu, Ken! Kamu benar-benar laki, 'kan, atau jangan double gender?! Hahaha!” sahutnya yang justru memberikan ejekan, daripada menjawab pertanyaan dari adiknya tersebut.


“Perumpaan, Cel! Ya ampun, memang ya, kalau sudah bodoh ya tetap akan bodoh! Double gender mbahmu itu! Aku masih normal seratus persen!” Kenny merasa tidak terima. “Semua orang kan pasti tahu, bahkan bayi umur satu tahun pun tahu, kalau sinetron itu selalu menyajikan cerita yang membosankan. Kalau enggak suami selingkuh, ya suami enggak cinta sama cewek pilihan bapaknya!”


“Enggak bayi juga kali, Ken! Kiasanmu terlalu berlebihan, macam majas hiperbola yang suka dilebih-lebihkan. Hmm ... iya sih, tebakanmu memang benar.”


Kenny mengerjapkan matanya, lalu menyingkirkan laptopnya terlebih dahulu. “Tebakanku benar bagaimana? Apa Reksa benar-benar enggak suka sama kamu?”


“Awalnya iya, tapi sekarang aku enggak tahu. Aku ingin cari solusi dari Keira, tapi dia sangat membenci Reksa. Makanya aku diam, daripada malah pusing dan dituntut buat cerai. Kamu jangan ngomong sama Ayah dan Ibu, ya!”


Kenny tampak berpikir. “Selama ada uang tutup mulut. Bahkan, aku bisa memberimu solusi, kalau harganya cocok!”


“Cih! Perhitungan banget sih sama kakak sendiri?!”

__ADS_1


“Ayolah, Cel, aku hanya enggak munafik. Lagi pula, mana ada yang gratis di dunia ini? Aku juga tahu kalau kamu paling enggak bisa memendam beban pikiran sendiri, dan kalau Keira serta kedua orang tua kita enggak boleh tahu, pilihanmu untuk berbagi cerita cuma sama aku, Cel. Hahaha!”


Celine mendengkus kesal. Ia yang selalu blak-blakan memang tidak mampu menyembunyikan suatu beban sendirian. Biasanya ia akan mencurahkan isi hatinya pada Keira, tetapi kali ini ia tidak bisa. Reksa yang angkuh dan kejam kerap membuat Keira uring-uringan, sehingga tak mungkin Celine menceritakan kerisauannya pada sahabatnya tersebut. Sementara Rodian dan Deswita tentu tidak perlu dipertanyakan lagi, mereka bisa histeris dan mengkhawatirkan Celine secara berlebihan atau mungkin langsung melabrak Reksa demi anak perempuan kesayangan mereka.


Sesaat setelah merasa tak punya pilihan lain, akhirnya Celine mengeluarkan dompet yang berada di dalam tas jinjingnya. Tiga lembar uang ratusan ribu, lantas ia serahkan pada Kenny sebagai uang tutup mulut sekaligus sebuah solusi.


“Segini dulu, aku kan belum tahu seberapa bagus solusi darimu,” ucap Celine.


Kenny langsung menyambar uang tersebut dan tertawa girang penuh kemenangan. “Okeee!” ucapnya.


“Hubunganku dengan Reksa memang enggak pernah bagus sejak rencana perjodohan kami diumumkan, Ken. Dia benar-benar benci sama aku. Bahkan, nih ya, dia pernah meminta aku menolak rencana itu, karena dia merasa aku ini terlalu rendahan dan materialistis.” Celine sengaja menyembunyikan fakta bahwa Reksa juga pernah menghina kedua orang tuanya. Entah, rasanya tidak pantas saja jika Kenny sampai tahu sikap suaminya itu.


“Waaah!” Kenny membelalakkan matanya. “Tepat sekali dugaan Reksa, Cel! Yang namanya seorang pesohor memang jenius, ya? Hahaha.”


“Sialaaan!” Celine menoyor kepala Kenny yang justru membela Reksa, alih-alih dirinya. “Memangnya aku benar-benar serendah itu, apa?!”


“Kennyyyy!” Tanpa mau memberikan ampun, Celine menambahkan beberapa pukulan di bahu Kenny. “Balikin uangku sini!”


“Oke, oke, oke, aku hanya bercanda, Kak Celine yang cantik!”


Setelah dianggap cantik, Celine baru bersedia menyudahi kekerasan yang ia lakukan pada Kenny. Sepertinya, sebuah pujian memang selalu berhasil untuk membuat hati wanita langsung luluh. Buktinya, emosi dan dendam Celine terhadap Kenny berangsur mereda.


Celine menghela napas, kemudian berkata lagi, “Begini, Ken, memang benar Reksa selalu bersikap enggak wajar sama aku. Nyaris setiap hari kami bertengkar, dan dia selalu menghinaku dengan perkataan pedas, bahkan kami sampai pisah kamar selama di sana. Aku sih biasa saja ya, tapi lambat-laun ya ada rasa sakit hati juga. Dan fatalnya, di malam terakhir, dia bikin aku benar-benar marah. Aku enggak tahu, rasanya kesal saja, sampai aku menangis. Reksa tiba-tiba minta maaf dan mengaku kalau dia yang salah. Dia bahkan ngajak aku ciuman, lalu kami melakukan—“


“Stop!” sahut Kenny. “Enggak perlu segamblang itu juga kali, Cel! Inti masalahnya saja, bukan keintiman kalian, Bodoh!”

__ADS_1


“Yee, kan biar ceritanya runtut, Kenny!”


“Iya, tapi ya pilih-pilih dong bagian mana yang perlu diungkap. Kalau perlu pakai diksi yang puitis sekalian!”


Celine menghela napas. “Oke! Pokoknya, Reksa minta maaf dan dia bilang aku istrinya. Kita sudah tidur bareng. Dia yang duluan ngajak aku main kuda-kudaan, dia tarik leherku terus kami ber—“


“Astaga, cewek satu ini. Pantas saja kalau Reksa kerap uring-uringan. Mulutnya saja macam comberan begitu,” keluh Kenny dengan suara lirih.


Celine mengernyitkan dahi. “Kamu bilang apa barusan?”


“Nggak!” sahut Kenny ketus.


“Ya, pokoknya kita sudah tidur bareng sebanyak tiga kali, meskipun dia meminta maaf dan mengatakan bahwa aku memang istrinya serta dia adalah suamiku, tapi sampai saat ini dia enggak pernah bilang cinta sama sekali. Aku kan jadi bingung, Ken! Bisa saja kan si Reksa cuma cari aman, biar aku enggak marah dan bikin masalah ketika kami sudah pulang? Bisa saja waktu itu dia juga memang lagi pengen, terus berusaha biar aku nggak pergi. Lagian mana ada sih, Ken, orang yang segitu bencinya sama aku tiba-tiba suka sama aku?”


Kenny menepuk jidatnya sendiri. “Pengen apa maksudmu? Kok kamu bisa berspekulasi se-ekstrim itu sih, Cel? Ampun dah! Lagian ya, Cel, kalau sudah tidur bareng dan Reksa yang biasanya marah-marah sudah bersedia meminta maaf, berarti dia juga sudah mulai tertarik sama kamu. Selain itu, kalau sudah menikah, pasangan suami-istri memang jarang ada yang bicara soal cinta. Yang penting sudah sah, dan selalu bersama. Apalagi Reksa sudah 35 tahun, ucapan cinta itu sudah enggak penting baginya.”


“Tetap saja pengakuan itu penting, Ken! Wanita itu butuh kepastian. Makanya nanti kalau kamu punya pacar, kamu harus sering-sering bilang sayang sama cewek kamu!”


“Halah lebay!”


“Kenny, ini serius, tahu! Kalau enggak ada kepastian, sakitnya tuh di sini!” Celine menunjuk dadanya sendiri. “Belum lagi, pikiran kami nanti bakal kebingungan sendiri.”


“Oke, oke, terserah kamu. Intinya ya, Cel, yang namanya pernikahan itu harus ada kepercayaan. Kalau cuma masalah kayak gitu saja, kamu sudah galau, bagaimana mungkin ke depannya nanti kapal kalian tetap kokoh dan berjalan sesuai keinginan? Bakalan banyak ujian yang lebih parah dari sebuah ungkapan cinta, Cel. Dan kalau memang hatimu tetap enggak lega, kenapa enggak tanya sama Reksa secara langsung saja? Bukan malah kabur ke sini, dan bikin mata orang jadi sepet gegara melihat mukamu yang kuyu begitu.”


Tanya Reksa? Enggak mungkin! Harga diriku, oh harga diriku, pikir Celine yang tidak setuju atas saran dari Kenny. Kendati ucapan Kenny kerap menyebalkan dan tidak sesuai keinginan, tetap saja berkat Kenny, hati Celine sudah mulai merasa lega. Ya, setidaknya untuk sekarang, sembari menunggu pengakuan cinta dari Reksa pada dirinya. Karena mau bagaimanapun, pernyataan itu sangat penting. Bahkan, Celine pernah bermimpi, mau setua apa pun dirinya dan sang suaminya, pernyataan cinta tidak boleh terlupa.

__ADS_1


***


__ADS_2