Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 9-Reksa Merenggut Kesucianku


__ADS_3

Celine mendadak linglung ketika mendapati dirinya berada di atas ranjang mewah di kamar hotel milik Reksa. Mata Celine langsung terbelalak lebar, saat ia teringat akan kejadian tadi malam. Dengan gerakan secepat lesatan kilat, ia membuka penutup tubuhnya yang hanya berupa selimut tebal.


Deg! Jantungnya langsung dibuat terperanjat hebat. Bagaimana tidak! Pasalnya, tak ada satu helai pun benang kecuali selimut yang menutup tubuhnya pada saat ini.


Detik itu juga, dunia Celine bagai diruntuhkan oleh kenyataan yang memang sudah terjadi. Tenggorokannya turut tercekat, sehingga mengeluarkan suara pun sungguh sulit untuk ia lakukan. Sementara, seorang pria gagah masih tertidur di sisinya.


“Re-reksa ...? A-aku ...?" Sulit, tak hanya bernapas, tetapi berbicara pun rasanya sangat susah.


Celine mulai membayangkan kejadian tadi malam. Saat dirinya berencana untuk mengajak Reksa alias suaminya sendiri untuk makan malam di restoran hotel. Kebersamaannya dengan Reksa dalam menjelajahi Kremlin Moskwa membuatnya berpikir bahwa hubungannya dengan suaminya itu sudah jauh lebih baik.


Namun, dugaan Celine berubah pada saat ia mendapati Reksa terkulai lemas di atas ranjang, sementara beberapa botol wiski berada di atas nakas. Aroma menyengat minuman itupun langsung membuat Celine tahu bahwa Reksa sedang mabuk-mabukan.


Pada saat itu, Celine hendak memilih untuk pergi, tetapi hatinya mendadak berubah ketika mendapati posisi tidur Reksa tidak beraturan. Apalagi seseorang yang habis menyantap minuman keras, biasanya dilarang tidur secara sembarangan, sebab khawatir jika tersedak muntahannya sendiri dan menyebabkan kesulitan bernapas.


Mengingat akan hal itu, Celine berinisiatif untuk menata posisi tidur Reksa. Dengan susah payah dikarenakan tubuh Reksa yang gagah, atletis, serta kekar, sangat berat, Celine tidak menyerah. Hingga sekitar satu menit, Celine berhasil membuat suaminya tidur dengan nyaman.


Namun ... suasana kesal yang merundung diri Celine langsung berubah, ketika tiba-tiba saja Reksa menarik lengannya. Tubuh Celine limbung ke depan dan tepat di atas badan suaminya. Tangannya memang masih menyangga tubuhnya, tetapi wajahnya sudah terlanjur jatuh serta menyentuh wajah Reksa.


Mata Reksa terbuka dengan sayu, menatap Celine lebih lembut daripada biasanya. Bibir pria itupun melengkungkan sebuah senyum tipis, ramah, dan halus. Malam ini, Reksa sangat berbeda jika dibandingkan dengan Reksa yang Celine hadapi setiap hari. Reksa begitu tampan dan sangat memikat. Aroma wiski dari bibirnya sukses menambah kesan syahdu suasana itu.


Sebelah tangan Reksa menarik leher Celine yang masih kaku. Hingga ... keduanya terlibat di dalam keromantisan yang selalu mereka hindari pasca pernikahan terjadi. Kejadian jauh lebih mendebarkan menjadi momen lanjutan yang sukar untuk Celine abaikan. Wanita muda itu pada akhirnya tetap tergiur untuk masuk ke dalam jurang kenikmatan.


“Aku sudah gila!” Selepas membayangkan kejadian semalam, Celine baru mampu memekikkan suaranya. Ia terus menutupi tubuhnya, sementara matanya tak lagi dapat menahan buliran bening kefrustrasian. “Enggak harus begini juga, Cel!”

__ADS_1


“Berisik ....” Reksa mulai terjaga. Suara Celine rupanya mampu membangunkan alam bawah sadarnya. “Eh?!” Menyadari ada yang aneh, mata Reksa langsung melebar.


“Ce-celine?!” Reksa terkejut bukan kepalang. Kenapa dia ada di sini, begitu pikirnya.


Pria yang baru saja tidur dari mimpi indah tersebut melihat tubuh istrinya yang hanya terbalut selimut tebal. Cepat, ia menyingkap penutup badannya. Dan ... hal yang sama terjadi! Tak ada sehelai pun benang di sana.


Mata Reksa langsung melotot. Pikirannya kosong. Dalam sekejap, dunianya berhenti berputar. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia menyerahkan keperkasaannya untuk wanita rendahan seperti Celine? Bagaimana mungkin ia bisa menikmati malam yang hangat bersama istri super tengil yang sangat ia benci itu?


“Kenapa kamu merenggut kesucianku, Reksa?!” Tegas, Celine menghaturkan sebuah pertanyaan.


“A-aku? A-aku enggak melakukannya! Ba-bagaimana mungkin aku mau sama kamu?!” Tidak ingin dituduh sebagai pelaku, Reksa memberikan perkataan yang menohok.


“Ini buktinya. Kita berdua bersama di sini dan dalam keadaan sama-sama ... aaa!" Celine menangis lagi dan kali ini ia sampai histeris. “Aku benci sama kamu, Sa! Kenapa harus sampai seperti ini sih?!”


Celine terdiam detik itu juga. Ucapan Reksa ada benarnya. Ia dan pria itu sudah menikah. Meskipun kenyataannya tak sejalan dengan keinginan hati, hal semacam ini bisa saja terjadi. Dan tadi malam, ia turut menikmati. Ia tidak melawan ataupun menampar pipi Reksa yang tiba-tiba saja merampas ciuman pertama sekaligus kesuciannya. Fakta mengatakan bahwa Reksa adalah suaminya. Selain itu, Reksa adalah pria yang hendak ia taklukkan hatinya.


Tidak ada yang namanya pelecehan di dalam rumah tangga, kecuali pelecehan dalam bentuk verbal berupa hinaan. Sekalipun marah dan tidak terima, Celine tetap tidak akan bisa berbuat apa-apa. Ia dan Reksa sudah menikah. Ia tidak bisa menuntut Reksa atas dakwaan sebagai seorang penjahat.


Namun ... bagaimana bisa Celine yang selalu menjaga kehormatan diri dari beberapa pria yang ia kencani, justru harus kehilangan kesucian oleh seorang pria yang tak ia cintai? Apalagi pria itu terus-terusan menganggapnya sebagai wanita rendahan yang tidak pantas untuk dianggap sebagai seorang istri.


“Aku ... ingin mengajakmu makan malam. Tapi, aku justru menemukanmu dalam keadaan mabuk dan enggak sadar. Karena khawatir kamu tersedak, aku membantumu mengubah posisi tidur. Dan ... kamu, kamu tiba-tiba saja menarik tubuhku, Reksa. Aku enggak bisa melawan, tenagamu terlalu besar. Selain itu, aku merasa aku perlu memberikanmu pelayan sebagai seorang istri. A-aku gelap mata tadi malam,” ungkap Celine yang pada akhirnya tetap memilih untuk jujur.


Reksa menghela napas, lalu mendesis kecewa. Ia tidak habis pikir tentang mengapa dirinya tergiur untuk menikmati malam bersama Celine. Dan lagi, ia adalah pihak pertama yang memulai. Oh! Bagaimana Reksa akan menyembunyikan wajahnya sekarang? Ia adalah pembenci Celine yang selalu memberikan penghinaan. Namun ... mengapa ia sendiri yang menjebak Celine di dalam sebuah keromantisan? Dan lebih fatalnya, Reksa sedikit teringat bagaimana ia beraksi.

__ADS_1


“Aku minta maaf, Cel. Ini salahku, meskipun kamu juga bersalah karena sudah masuk ke dalam kamarku secara sembarangan. Aku rela mengakui bahwa kesalahan ini adalah salahku, asal kamu bisa melupakan segalanya. Anggap saja kejadian tadi malam enggak pernah terjadi, Cel,” ucap Reksa yang sudah membuat keputusan.


“Apa? Melupakan? Segampang itu kamu ngomong, Sa?!” Celine tidak terima. Baginya, kehormatannya tidak semurah itu untuk dilupakan begitu saja.


“Lalu, bagaimana lagi memangnya? Kamu ingin aku berbuat apa? Enggak ada cinta di antara kita, Cel. Kamu juga enggak mungkin bisa menuntutku karena aku ini suami kamu sendiri.”


“Kamu bisa melakukan hal yang lain, Reksa!”


“Aku enggak suka disuruh-suruh. Aku yang jauh lebih kaya dan berkuasa ini sudah rela meminta maaf, dan aku rasa hal itu sudah cukup, Cel!”


“Lihat, Sa!" Celine menggeser tubuhnya dan menunjukkan noda merah di ranjang, tanda daranya yang sudah pecah. “Selama ini aku selalu menjaga diriku dengan baik sebagai seorang wanita. Kamu yang kaya dan penguasa mungkin sudah sering berganti pasangan. Tapi, aku enggak, Sa! Kehormatan ini sangat berharga dan aku menjaganya seumur hidupku! Lalu, bisa-bisanya kamu bilang aku harus melupakannya! Kamu benar, kita memang sudah menikah. Aku enggak mungkin bisa menuntutmu. Tapi, ... aku masih berhak meminta sesuatu darimu, Reksa!”


Reksa tercenung. Celine masih dalam keadaan suci rupanya. Ia pikir Celine yang memang sangat tengil dan sering berbicara asal-asalan merupakan wanita biasa yang menyukai kehidupan bebas ala barat. Apalagi, Celine notabene adalah seorang petualang, di mana kebebasan menjadi gaya yang tidak mungkin Celine abaikan. Namun, dengan segala hobi nyentrik serta karakter cukup bar-bar, ternyata Celine masih bisa menjaga harga diri dan martabatnya sebagai seorang wanita.


Hal tersebut jelas membuat Reksa merasa bersalah. Ia sendiri sangat menyukai kesempurnaan dan baginya wanita bermartabat adalah wanita yang pantas untuk dijadikan sebagai pasangan hidup. Mereka harus dijaga sebaik mungkin, agar tetap berharga sampai saatnya nanti tiba.


“Oke. Jadi, apa maumu? Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Cel?” tanya Reksa. Suatu keanehan, ia bisa langsung mengalah begitu saja.


Celine terdiam dalam beberapa detik. Namun, sorot matanya yang masih basah mendadak tajam. Ia menelan saliva, kemudian berkata, “Aku ingin kamu belajar mencintai aku, Tuan Muda Reksa Wirya Pandega.”


“Apa?!”


Reksa tercekat. Permintaan sepele dari Celine seperti sebuah cobaan atau bahkan mungkin bencana. Mana mungkin Reksa yang sangat hebat bisa mencintai wanita semacam Celine? Sudah pasti hal itu sangat mustahil!

__ADS_1


***


__ADS_2