Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 63-Pembatalan


__ADS_3

Bel pintu berbunyi dan lagi-lagi sampai mengejutkan Reksa yang hampir mengemasi semua barang-barangnya, tentunya setelah memutuskan untuk pulang saja demi menemui sang istri. Pria itu lantas berjalan menuju keberadaan pintu kamar.


Ali tampak di balik pintu, dirinya hendak kembali memberi tahu beberapa hal pada tuannya itu. Ali merundukkan badan, kemudian menyapa, ”Selamat pagi, Tuan Reksa.”


“Ada apa?” tanya Reksa tanpa basa-basi, bahkan meski dirinya belum mempersilakan sekretaris pribadinya itu untuk masuk ke dalam kamar. “Belum ada dua jam dirimu datang kemari, Ali. Apa ada masalah?”


Ali mengangguk. “Maaf, Tuan, sepertinya Tuan Reksa tidak bisa kembali ke Jakarta untuk sekarang. Nyonya Ibra justru ingin mengajukan pertemuan lebih awal, tepatnya pukul sebelas nanti. Beliau tidak keberatan berjumpa dengan Tuan di restoran sekitar hotel ini.”


“Kenapa dia ingin mengajukan janji temu?”


“Beliau memiliki sedikit masalah di salah satu outlite Golden Rose miliknya, Tuan. Karena tidak ingin mengecewakan Anda, beliau memilih menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Anda terlebih dahulu. Lagi pula, beliau adalah salah satu klien terbesar bagi Gold Pandega Innovation, Tuan Reksa, kita tidak bisa mengabaikan beliau begitu saja.”


Reksa menghela napas. Ucapan Ali memang benar. Nyonya Ibra adalah salah satu orang berpengaruh pada penjualan produk Golden Rose. Wanita paruh baya itu merupakan distributor terbesar bagi Gold Pandega Innovation, selain itu Ibra memiliki outlite-outline pribadi dan salah satu investor bisnis paling menjanjikan.


Mengingat seberapa penting pengaruh Ibra untuk perusahaan, akhirnya Reksa mengambil keputusan tetap tinggal dan membatalkan kepulangannya ke Jakarta. Celine memang penting, bahkan sangat penting. Namun, perusahaan juga tak kalah penting. Entah. Dua hal itu sama-sama penting, tetapi merupakan dua hal yang berbeda.


“Baiklah,” ucap Reksa lemah. “Sambil menunggu waktu kita bisa ke tempat syuting dulu.”


“Baik, Tuan.” Ali mengangguk dan merundukkan badannya, kemudian berbalik dan berlalu.


Reksa menghela napas satu kali, dua kali, hingga berkali-kali. Lelah dan kesal. Namun, apa boleh buat. Inilah pekerjaan. Bisnis itu tidak main-main. Salah langkah sedikit, bisa fatal akibatnya. Perusahaan besar memang lebih lihai dalam mengatasi kerugian.

__ADS_1


Akan tetapi, bukan tidak mungkin, perusahaan besar bisa jatuh hanya karena hal sepele. Dan Reksa tidak mau mengambil resiko itu. Ia ingat tentang bagaimana kerasnya Wirya Utama membangun Gold Pandega Innovation, hingga menciptakan brand bernama 'Golden Rose' yang sangat terkenal.


“Celine ...? Kamu ke mana sih?” gumam Reksa sembari sibuk mengeluarkan beberapa pakaian yang sudah ia masukkan ke dalam koper.


Benak pria itu benar-benar kacau. Segala macam prediksi mengenai keberadaan dan kegiatan Celine masih terus bermunculan. Sayangnya, tak sekalipun Reksa menemukan dugaan yang menurutnya sangat meyakinkan. Entah. Rindu itu sangat menyiksa dan ketakutannya terhadap kekecewaan Celine rasanya semakin besar.


“Semoga kamu baik-baik saja, Cel. Enggak sakit, enggak nakal, dan enggak kecewa padaku. Aku usahakan secepatnya pulang pokoknya, dan aku akan melamarmu dengan sebenar-benarnya,” gumam Reksa terkait dengan rencana yang belakangan ini tersemat di benaknya.


Tentang cincin yang pernah Reksa lihat di dalam ruangan kerja beberapa minggu yang lalu pun berkaitan dengan lamaran ulang. Tentu tidak akan ada pernikahan lagi, tetapi ia ingin membuat Celine semakin yakin bahwa hatinya sudah sepenuhnya milik wanita itu. Semoga saja, tidak ada masalah besar yang singgah di pernikahannya dengan wanita super unik tersebut.


***


Setelah mengarungi perjalanan kurang lebih satu jam lebih tiga puluh menit karena terjebak kemacetan di beberapa titik jalan, Celine, Keira, dan Kenny akhirnya telah sampai di hotel tempat mereka menginap. Tanpa pikir panjang, Celine dan Keira segera bergegas, selain Kenny yang tentunya cenderung sangat santai. Lagi pula, pria manis pemilik gigi gingsul dan lesung pipit itu memang tidak berselera untuk menjadi detektif gadungan.


“Ken, yakin mau ke pantai sendirian?” tanya Celine pada Kenny, sementara salah satu jemarinya tampak sibuk membuka pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar adik manisnya tersebut.


Kenny mengangguk. “Iyalah,” jawabnya singkat.


“Enggak bakal tersesat, 'kan, kamu?”


“Yaelah, nggaklah, Cel! Kamu pikir aku anak TK yang enggak becus baca maps?”

__ADS_1


Keira menghela napas. “Kenapa enggak di pantai yang sama dengan kami?”


“Ya boleh sih.” Kenny mengusap tengkuknya. “Tapi, pastinya aku enggak bisa ikut kalian berdua.”


“Makanya punya cewek, biar liburan bareng cewek, Ken, Ken!” celetuk Celine.


Kenny semakin salah tingkah dibuatnya, lalu berangsur melirik Keira yang belakangan ini cenderung banyak diam ketika bersamanya. Namun, sejak dulu Kenny memang tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan Keira. Lebih tepatnya, ia berusaha menghindar setelah menyadari perasaannya terhadap wanita itu.


“Ya sudah yuk, langsung siap-siap terus berangkat. Keburu syuting dimulai. Kalau lagi syuting si Alien enggak bakal bisa goda-goda Reksa, kita jadi enggak bisa mendapatkan bukti!” ucap Keira memberikan saran.


Celine mengangguk setuju. “Benar. Kita enggak punya banyak waktu,” jawabnya.


Celine langsung melesak ke dalam kamar hotel yang sudah terbuka pintunya. Namun, saat Keira hendak melakukan hal yang sama, ponselnya justru berdering sangat keras. Terpaksa, Keira membatalkan rencananya terlebih dahulu ditemani Kenny yang juga terbius untuk tetap tinggal di ambang pintu kamarnya sendiri.


“Danu ...?” Keira bergumam lirih membaca nama Danu yang tertera sebagai orang yang tengah meneleponnya.


“Danu?” Karena suasana tempat begitu, Kenny dapat mendengar suara lirih milik Keira. Saat nama itu terucap, pikirannya langsung membayangkan paras Danurdara yang pernah membuat kakaknya kecewa. Namun, untuk apa Danu menelepon Keira, sementara Keira justru tampak bimbang antara menerima atau mengabaikan panggilan dari pria tersebut?


Kenny ingin bertanya, tetapi ia harus ingat bahwa dirinya tidak memiliki kapasitas apa pun untuk merasa penasaran tentang hidup Keira. Setelah memikirkan hal itu, ia memutuskan untuk benar-benar masuk ke dalam kamar, meski sangat sukar baginya untuk menepis segala kegusaran. Sungguh sebuah ironi yang menyebalkan. Kenny tidak ingin semakin menyukai Keira, tetapi perasaan itu kian meradang setelah melewati beberapa hal bersama wanita itu. Seharusnya, Kenny menolak perjalanan yang Celine tawarkan agar ia tetap tahu posisi akan dirinya.


Tuhan, tolong sudahi perasaan enggak wajar ini, pinta Kenny sembari menjatuhkan dirinya di atas ranjang kamar hotel tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2