Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 36-Reksa Tak Mau Lepas


__ADS_3

Reksa sudah disuguhi dengan pemandangan super indah, yang cukup membuatnya sangat ingin menelan ludah. Penampilan sexy Celine-lah yang sukses mengalihkan dunianya. Bukan gaun indah atau pakaian mahal yang tengah Celine gunakan, melainkan hanya selembar handuk berwarna jingga, ditambah dengan rambut yang masih basah.


Tak mampu menahan gejolak di dalam dadanya, Reksa akhirnya benar-benar menelan saliva, setelah selesai menyesap kopi hitamnya. Sementara matanya terus terpaku pada tubuh sang istri yang begitu memesona.


“Reksa, aku enggak masak dulu, ya. Enggak sempat mencari bahan kemarin,” ucap Celine yang sebenarnya hendak menemui Reksa demi mengatakan hal itu. Ia sudah tidak peduli dengan penampilan diri, sebab menganggap bahwa tak perlu lagi ia merasa malu pada sosok pria yang sudah melihat seluruh dirinya.


“Ah, iya, enggak apa-apa. Kita bisa cari makan di luar. Na-nanti, aku ambil salah satu pelayan Ibu lagi, biar kamu enggak perlu memasak,” jawab Reksa masih tidak mengalihkan arah pandangnya yang saat ini tertuju pada bagian tertentu milik sang istri.


Celine mengernyitkan dahi. “Kok begitu? Memangnya masakan buatanku enggak enak? Atau kamu kesal saat hari ini aku enggak bikin makanan?”


“Enak, sangat enak.”


“Enak? Tapi, kenapa malah mau panggil salah satu pelayan ibu kamu?”


“Enggak apa-apa.”


“Enggak apa-apa bagaimana? Kalau enggak enak jujur saja, biar aku enggak masak lagi buat kamu.”


“Tidak, Celine!” tukas Reksa. “Aku justru ingin mencicipimu ... eh, a-anu, mencicipi masakanmu lagi.”


“Benarkah?”


“I-iya ....” Reksa berangsur menundukkan kepalanya. “Siaal, bisa bahaya kalau dia enggak cepat-cepat berpakaian.”


Reksa yang merasa marabahaya kian mendekatinya, segera memutuskan untuk bangkit saja. Ia tidak mau termakan hasratnya sendiri pada saat ini, mengingat waktu sudah semakin sempit. Apalagi belum menyantap sarapan dan juga mengantarkan Celine, yang tentunya membutuhkan waktu lebih lama untuk menempuh perjalanannya. Dan Reksa tidak mau jika dirinya sampai tergiur untuk berbuat hal-hal seperti tadi malam pada istrinya yang juga harus berangkat bekerja.


Celine menghela napas sembari menatap punggung Reksa yang menjauhi dirinya, lalu lambat laun benar-benar menghilang dari pandangan matanya. Untuk pagi ini, Celine masih harus mempersiapkan dirinya di kamar yang sebelumnya ia tempati, sebab sampai saat ini ia belum memindahkan barang-barangnya. Dan untuk pertama kalinya, ia menginap di kamar Reksa sembari memberikan pelayanan yang sudah seharusnya.


“Kerja lagi, buat keliling dunia! Semangat, Cel, karena meski dirimu sudah menjadi seorang istri, kamu tetap terus mandiri.” Celine berucap demi menyemangati dirinya. Begitu lebih baik, daripada harus memikirkan hal menyedihkan seperti saat ia terpaku di depan pintu masuk sebuah hotel.


Lagi pula, antara dirinya dan Reksa masih belum memiliki komitmen apa pun di dalam pernikahan itu. Memang benar hal yang seharusnya terjadi, sudah terjadi sampai berkali-kali. Namun, hingga saat ini tidak ada konfirmasi apa pun mengenai ‘cinta’, yang bahkan pihak Celine pun belum terlalu memahami. Dan demi mempersiapkan masa depannya sendiri, Celine harus tetap bekerja sampai ia bisa mewujudkan cita-citanya.


“Cel!” Reksa tiba-tiba datang, sembari membuka pintu kamar di mana sang istri berada.

__ADS_1


Tepat pada saat itu, Celine sedang melepas jeratan handuk dari tubuhnya. “Re-reksa?!” pekiknya dan reflek menutup tubuhnya lagi.


Reksa tercekat, diam, dan melongo. Apa yang ia hindari justru sempat terpampang begitu nyata. Cobaan apa ini? Kenapa harus pada saat ini? Saat di mana ia harus berangkat bekerja.


“Aku tahu kamu sudah melihatnya, tapi kalau mendadak muncul seperti itu, ya aku tetap kaget!” keluh Celine.


Reksa mencoba mengendalikan dirinya dan bersikap seolah baik-baik saja. Ia berjalan memasuki kamar itu, sembari berusaha mengabaikan situasi Celine saat ini. “Biasa saja kali, Cel. Enggak perlu sok-sokan malu,” katanya.


“Kan aku sudah bilang kaget!” tukas Celine. “Makanya salam dulu!”


“Ini rumahku, yang artinya tempat ini merupakan kamarku. Kenapa aku harus mengucap salam di rumahku sendiri?”


“Iiih! Selalu saja begitu. Aku juga tahu kali, Sa! Enggak perlu diulang-ulang!”


Reksa menghela napas, lalu menatap Celine yang mencoba berpakaian tanpa melepas selembar handuk di tubuhnya. “Cel?”


“Cal, cel, cal, cel melulu deh!”


“Ya enggak harus begitu juga, Reksa!”


“Salah mulu perasaan.”


“Iyalah, Sa, cowok kan memang tempatnya salah.”


“Dan cewek adalah racunnya!”


Celine mendengkus kesal dan memilih diam. Lelah berdebat, ia memutuskan untuk kembali pada persiapannya sebelum berangkat ke kantor. Ia berharap lagi agar hari ini berjalan dengan baik. Kalau bisa, ia meminta supaya bosnya bersikap seperti sebelumnya, supaya ia tidak kesulitan dan lebih banyak lemburan.


Ketika Celine hendak mengancingkan baju kemejanya, tiba-tiba saja Reksa menahan lengan istrinya itu. Tentu saja sikap Reksa membuat Celine bingung. Celine berusaha melepaskan lengannya dari tangan Reksa, tetapi gagal. Jerat tangan Reksa terlalu kuat, ditambah jemari Reksa yang begitu kekar rasanya sudah sulit dilawan, meski baru memandang sebelum menangani.


“Kenapa sih?” tanya Celine.


“Cel?” ucap Reksa.

__ADS_1


“Iya!”


“Sepuluh menit, bagaimana?”


Dahi Celine berkerut samar. “Sepuluh menit? Apanya? Persiapanku? Oke!”


“Bukan, Cel!” tukas Reksa. “Bukan itu.”


“Terus?”


Reksa mengusap tengkuknya dan berlagak malu-malu. “I-itu lho ....”


“Apa sih?!” Geram, Celine lantas meninggikan suaranya. “Kamu kan tahu seberapa pendek daya pikirku, Reksa. Katakan yang jelas, biar aku enggak banyak tanya dan penasaran!”


“Seperti apa yang kita lakukan tadi malam! Sepuluh menit, bisa, ‘kan?” Reksa akhirnya mengutarakan maksud dari perkataannya.


Celine dibuat terbatuk-batuk. Wajahnya pun mendadak merah padam. Yang benar saja! Mana mungkin sepuluh menit cukup bagi Reksa. Kalau ia memberikan persetujuan, bisa saja Reksa akan memperpanjang waktu kesepakatan. Resiko yang harus Celine terima tentu saja keterlambatannya sampai di kantor dan paling fatalnya, ia bisa disiksa lagi oleh Safrudin.


Akan tetapi, seolah sudah benar-benar tidak mampu menahan, Reksa mulai beraksi. Celine memberontak dan mengingatkan bahwa waktu sudah semakin sempit. Ia dan Reksa sendiri harus segera pergi. Kenyataannya, sekeras apa pun Celine meronta, Reksa tetap bersikeras untuk melanjutkan keinginannya.


“Sudah siang tahu, kita belum sarapan!” ucap Celine. “Bahkan, rambutku belum benar-benar kering, masa melakukannya lagi?”


Reksa tersenyum. “Memangnya kenapa? Kita sudah sah menjadi suami dan istri. Enggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi,” jawabnya.


“Terus pekerjaanku bagaimana? Kamu sih enak karena pimpinannya, tapi, aku? Aku cuma karyawan rendahan.”


“Aku bisa memberikanmu uang lebih banyak dari gajimu. Atau aku bisa mendatangi pimpinanmu dan bernegosiasi atas keterlambatanmu hari ini, jadi, diam saja. Kamu hanya perlu menurut untuk kali ini, ingatlah bahwa suami kamu bukan orang sembarangan, Celine. Menolak keinginan suami juga dosa besar, tahu!”


Celine menghela napas. “Oke, baik, ya sudah. Sepuluh menit saja.”


Kejadian yang mereka lewati tadi malam akhirnya kembali terulang. Reksa yang sudah berusaha menahan hasrat, tetap saja kalah dan tidak mampu lagi untuk berupaya. Daripada kepikiran sampai kantor dan membuatnya tidak fokus pada pekerjaan, lebih baik ia segera mendapatkan obatnya sekalian.


***

__ADS_1


__ADS_2