
Celine tidak pernah merasa seburuk ini sebelumnya. Dihina dan difitnah secara kejam oleh seseorang yang meski menyebalkan, selalu ia anggap sebagai orang baik. Bahkan, rasanya jauh lebih sakit daripada saat dirinya dihina oleh Reksa, mungkin karena pria itu memang sudah memiliki karakter buruk dan sudah ia ketahui. Belum lagi perihal Danu yang terus saja bersikap seperti pahlawan kesiangan, semua bantuan Danu yang justru membuatnya kian menyedihkan. Ditambah dengan kenyataan bahwa Keira sudah berani menyebarkan rahasia mengenai pernikahannya.
Apa yang salah menjadi orang miskin dan tidak berpendidikan tinggi memangnya? Dan apa salahnya jika Celine tetap mempertahankan pernikahannya yang meski belum ada cinta di dalamnya? Celine memiliki alasan kuat yang berkaitan dengan orang tuanya sendiri, tetapi mengapa Keira juga Danu justru seolah-olah ingin membuatnya mengalami sebuah perceraian? Keira yang terus memintanya pisah saja sejak awal, kemudian Danu yang memiliki niat untuk menyelamatkan hidupnya.
“Hei, Cel! Jangan nangis begitu dong, enggak pantas buat kamu, tahu!” ucap Kenny yang sudah berada di hadapan Celine di salah satu meja yang berada di kafe berbeda dari biasanya, ketika sebelumnya ia dihubungi oleh kakaknya tersebut. Suara tangis Celine-lah yang membuatnya segera berangkat karena khawatir sesuatu buruk menimpa diri Celine.
Celine mengusap air matanya dan berangsur menyudahi isak tangisnya. “Aku enggak pernah merasakan sesakit ini, Ken. Semua yang terjadi hari ini benar-benar bikin aku terpuruk. Memangnya salah kalau aku miskin dan enggak kuliah? Memangnya itu sudah termasuk dosa besar?” keluhnya setelah itu.
“Enggak, Cel, tentu saja enggak. Kalau kamu dihina, pastinya aku juga turut dihina. Kita berasal dari keluarga yang sama, Cel.” Meski memberikan sedikit kalimat menenangkan, sebenarnya hati Kenny merasa cukup bersalah.
Seandainya Kenny tidak pernah mengutarakan atau bersikeras untuk menempuh pendidikan di sebuah universitas, mungkin Celine tidak akan seterpuruk ini. Demi membantu biaya pendidikannya tersebut, Celine bahkan rela ikut banting tulang sejak lulus dari SMA. Hal yang seharusnya tidak perlu Celine lakukan, karena Celine sendiri juga berhak mendapatkan apa yang Kenny terima saat ini sekaligus mewujudkan impian untuk keliling dunia.
Memang benar bahwa keseharian mereka berdua terus saja diisi oleh pertengkaran. Ada banyak perdebatan yang sudah menjadi rutinitas dan tak mungkin bisa untuk dihilangkan. Namun, antara Celine dan Kenny sebenarnya ada rasa saling menyayangi. Di beberapa kesempatan, contohnya saat ini, mereka bisa saling menguatkan.
“Aku enggak tahu cerita pastinya bagaimana, tapi yakinlah, Cel. Kamu enggak sehina itu, kamu masih punya keluarga lengkap. Berbeda dengan Keira, yang cuma ayah saja, itupun enggak terlalu dekat. Kamu punya Ayah, Ibu, aku, bahkan suamimu. Banyak orang yang sebatang kara hidupnya, ada yang enggak punya rumah, untuk makan sehari-hari pun mereka sering kesulitan. Enggak bagus kamu mengeluh seperti itu, hanya karena perbuatan satu atau beberapa orang yang enggak tahu bagaimana hidup kita,” ucap Kenny memberikan semangat baru serta motivasi untuk kakaknya tersebut.
Celine menatap Kenny, kemudian berkata, “Selama ini aku selalu berpikir seperti itu kali, Ken. Cuma hari ini memang banyak kejadian yang baru aku tahu. Mungkin saking bodoh dan lemotnya otakku, makanya aku baru paham bahwa diriku sendiri begitu menyedihkan. Sampai ada orang yang begitu benci sekaligus iba sama aku, tapi aku justru merasa direndahkan, alih-alih berterima kasih pada mereka.”
__ADS_1
“Memangnya siapa yang kamu maksud? Apa mungkin Reksa?” Seandainya memang benar orang itu adalah Reksa, Kenny tidak akan segan melabrak sekaligus memberikan ancaman pada kakak iparnya tersebut. “Katakan padaku, Cel. Buat hari ini gratis deh!”
Celine menggeleng. “Bukan Reksa kok. Memang benar, awalnya kami sering bertengkar dan kabar mengenai kesombongannya adalah benar. Tapi, belakangan ini dia kian perhatian padaku. Mungkin memang belum ada cinta di antara kami, sebab enggak mungkin perasaan itu tiba-tiba ada, sementara kami baru bertemu lagi setelah menjelang dewasa, lalu menikah tanpa pendekatan apa pun.”
“Bagus tuh. Lalu, siapa lagi yang membuat kamu tiba-tiba histeris sampai ingusan seperti itu?”
“Bukan siapa-siapa, Ken, tapi aku sendiri. Aku baru sadar kalau diriku begitu menyedihkan makanya menangis.”
“Hmm ... kamu masih berniat buat bohong sama aku? Enggak seperti kamu saja, Cel!”
"Yuk bangkit yuk. Jangan galau terlalu lama. Kalau belum mau cerita oke, baik. Aku enggak bakal paksa. Tapi, ini, bukan diri kamu banget, Cel. Nanti aku panggilan Reksa, kalau kamu masih kayak gitu." Kenny terus berusaha menenangkan hati kakaknya.
Celine berangsur mengangkat kepalanya. Meski lesu, ia tetap menjawab, "Jangan macam-macam kamu, Ken. Meski belum ada cinta di antara kami, dia paling enggak bisa kalau melihat aku kacau. Pernah tuh pas di Rusia. Aku ngambek, setelah dia bikin aku enggak gadis lagi. Terus dia melakukan banyak usaha buat bikin aku baik-baik saja."
Kenny menggeleng-gelengkan kepala. Merasa heran pada sosok kakaknya sendiri yang masih saja sembarangan dalam menceritakan tentang hal kurang pantas. Namun, setidaknya sudah ada sedikit di hati Kenny, setelah Celine memberikan tanda bahwa sebentar lagi dirinya akan kembali seperti biasanya.
"Dia sudah suka sama kamu kali, Cel. Apalagi kalau mengingat tentang cerita kamu padaku setelah pulang dari Rusia waktu itu," tebak Kenny.
__ADS_1
Celine menggeleng. "Belum tentu, Kenny. Belum ada konfirmasi apa pun sampai saat ini, meski memang hubungan kami jadi semakin dekat. Tapi ya sudahlah, aku enggak mau bahas itu dulu. Aku sendiri juga belum bisa mengerti soal arti cinta, aku belum pantas menuntut hal tersebut pada Reksa saat aku sendiri enggak jelas begini. Perkembangan hubungan kami yang makin bagus itu sudah cukup."
"Hmm ... sepertinya kalian ini sama-sama enggak pandai memahami hati sendiri sekaligus sulit mengungkapkan perasaan."
"Tahulah!"
"Ya sudah yuk, aku antar pulang. Sudah hampir gelap. Kalau Reksa mencarinya bagaimana?"
"Dia lagi ada lembur sampai malam."
"Ya sudah. Balik saja dulu. Apa mau pulang ke rumah dulu? Atau ke kedai?"
"Mm ... boleh."
Celine dan Kenny lantas bangkit dari tempat duduk mereka. Karena sistem kafe yang pesan langsung bayar, membuat keduanya tak harus susah payah memanggil sang pramusaji. Celine meraih lengan Kenny untuk ia jadikan sandaran saat berjalan. Memang bermanja pada Kenny adalah hal terbaik setiap kali ia lelah. Setelah Keira, mungkin Kenny adalah orang kedua yang bisa mendengarkan ceritanya, meski di beberapa cerita, Kenny selalu merespons acuh tak acuh. Namun, setiap kali Celine jatuh, Kenny bisa menjadi monster jika perlu.
***
__ADS_1