Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 59-Pilihan Keira


__ADS_3

“Aaaaa!” teriak Celine dan Keira secara bersamaan sembari saling mencengkeram lengan. “Baliiii!” lanjut mereka begitu bahagia.


Sementara Kenny hanya bergeleng-geleng kepala sembari melipat kedua tangannya ke depan, sembari menatap nanar. Para wanita memang kerap bikin terkejut, suka berteriak, meski yang mereka lewati tidak selalu mendebarkan. Ingat saja, kedua wanita itu sudah merencanakan perjalanan ke Bali sejak jauh-jauh hari. Namun, meski begitu, entah Celine atau Keira masih saja histeris seperti mendapatkan kejutan tak terduga. Sekali lagi, wanita memang memiliki segudang sifat aneh yang kerap bikin pria sampai bergeleng-geleng kepala.


Benar, setelah beberapa pekan, akhirnya Celine, Keira, dan Kenny sampai di Bali. Liburan kali ini akan menyajikan petualangan yang berbeda dengan liburan Celine dan Keira sebelumnya. Tentunya, Kenny pun begitu. Kenny yang cenderung enggan beterbangan ke daerah di luar Jakarta, kini mendadak terlibat liburan dengan kakaknya dan juga wanita yang diam-diam ia puja.


”Liburan kali ini rasanya akan menantang, akan ada misi luar biasa yang akan kita lewati, Cel. Tenang saja, aku sudah tahu di mana suami kamu melakukan pekerjaannya, yang melibatkan Ailen,” ucap Keira.


“Ya,” sahut Celine. “Sampai aku puas dan tahu kalau mereka enggak ada penyelewengan, baru ada kelegaan buat liburan kita sendiri, Ra.”


“Hmm ....” Mata Keira mendelik, lantas menatap Celine dengan pandangan curiga. “Secinta itukah kamu sama Reksa, Cel? Kayaknya antusias banget mau jadi detektif cintanya.”


Celine melongo. Detik berikutnya, ia lantas menatap Keira sembari menggelengkan kepala. ”Enggak kok, bukan begitu. Entah. Pokoknya aku enggak bakalan membiarkan cewek mana pun menggoda suamiku, bahkan meski bukan Reksa orangnya.”


“Ya. Itu karena sudah ada rasa cinta, Celine!" ucap Keira dan Kenny dengan kompak tanpa mereka sengaja.


Karena ketidaksengajaan tersebut, mata Kenny serta Keira reflek saling bertatapan. Kecanggungan pun merayap setelahnya, dan membuat mereka lagi-lagi membuang muka secara kompak. Rona merah muda pun tampak di wajah keduanya, sayant Celine terlalu tidak peka untuk mengetahui keadaan hati adik dan sahabatnya tersebut.


Sial, kenapa keadaan jadi secanggung ini? Pikir Kenny. Namun, meski tidak senang dengan kecanggungan yang merayap, jujur saja jantungnya langsung berdebar-debar lantaran Keira memberikan tatapan. Entah. Seharusnya, Kenny tidak boleh memiliki respons seperti itu, tetapi faktanya dirinya terlalu sulit meredam perasaannya sendiri.


Dia enggak ada perasaan sama aku, 'kan? Tolong jangan sih, bisa mampus aku kalau begini. Setelah Celine bertemu Reksa, aku cuma sama dia. Lagian, dia kan kayak adikku sendiri, batin Keira. Ia tidak berdebar, tetapi justru merasa sangat gelisah. Bahaya jika dugaannya benar. Ia tidak menyukai Kenny dan jika pria super manis itu justru memberikan perasaan spesial untuknya, keadaan akan menjadi runyam.


Pasalnya, jika suatu saat Kenny menyatakan cinta padanya dan ia memberikan penolakan, kecanggungan pun akan semakin kental. Tidak hanya pada dirinya dan Kenny, tetapi hubungannya dengan Celine akan terasa tidak asyik seperti sekarang.

__ADS_1


”Hari ini kita bobo dulu kalau kalian capek!” seru Celine, yang sudah merebahkan diri di atas ranjang hotel di mana ia menginap bersama Keira. “Kenny juga balik sono ke kamar sendiri! Ngapain sih ngintil mulu?!”


Kenny menghela napas. “Ya kali pas sudah sampai di sini, aku sendirian, Cel, Cel. Kan siapa tahu kalian sudah ada rencana buat jalan, ini juga mau tanya.”


“Nggaklah, capek. Nanti sore saja, sekalian cari makan.”


”Okelah!”


Kenny menghela napas, segera setelah itu dirinya bergegas. Baiklah, lebih baik memang cepat pergi, daripada terlibat kecanggungan dengan Keira terlalu lama.


Sama seperti Kenny yang berangsur lega karena akhirnya memutuskan untuk pergi, Keira pun merasa lebih dapat bernapas. Ia menganggap dugaannya salah, pokoknya salah!


“Kamu kenapa tiba-tiba diam begitu, Ra?” Akhirnya wanita yang penuh ketidakpekaan itu tersadar pada sikap Keira yang mendadak berubah masam. “Kenapa?”


Celine mengernyitkan dahi, lantas terbangun dari tidurnya. “Danu dan kamu? Why? Kalian berantem gara-gara aku?”


“Aku bilang, enggak tertuju buat kamu. Dengan kata lain, enggak ada hubungannya sama kamu, Cel! Ya ampun!”


“Hahaha. Oke, oke. Terus bagaimana? Apa maksudmu, Keira Santika?!”


Keira menghela napas. Lantas, ia menuju ranjang keberadaan Celine dan bergabung dengan sahabatnya tersebut. Keira tengkurap sembari membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Ada kebimbangan sebelum melanjutkan niatnya untuk menceritakan tindakannya pada Danurdara, bahkan setelah itu, dirinya selalu menghindar dan tak menggubris semua panggilan dari Danu.


Mau bagaimanapun, Danu pernah menyapa Celine dengan perasaan cinta. Atau Celine yang pernah berharap, walaupun sedikit. Bagaimana jika Celine kecewa pada Keira yang justru menyukai bekas pemujanya?

__ADS_1


“Woe!” seru Celine ketika jengah dalam menunggu Keira yang justru terdiam. “Ada apa sama kalian berdua? Mau bagaimanapun aku tetap terlibat, aku takut aku penyebab—”


“Kamu pernah suka sama Danu, Cel?” potong Keira.


Celine mengangguk tanpa sungkan. “Suka, tapi dikiiiiit banget. Karena dia baik, ganteng, ramah, penuh perhatian. Aku pikir dia pantas masuk ke dalam list calon pacar. Pikirku, tapi habis itu enggak suka, karena dia lamban. Dan aku enggak terlalu ngerti soal cinta, jadi enggak tahu-lah ya. Sekarang pun biasa saja, bahkan ketika dia pernah bikin aku marah, aku tetap biasa saja buat sekarang. Tapi, bukan berarti aku mau bertemu dengannya lagi. Reksa bisa murka!”


“Aku enggak tanya sebanyak itu kali! Terlebih soal suami kamu. Tapi, kalau lagi bucin mah, emang bahas ini bawa nama suami, bahas itu bawa nama suami lagi.”


Celine terpekik. ”Nooo! Bucin? Bucin dari Hongkong? Enggaklah, Ra! Geli ih! Sudahlah! Buruan jawab ada apa kamu sama Danu?!”


“Aku ... suka sama dia.”


“What?!” Celine terlonjak kaget, lalu berteriak histeris. “Keiraaaaa! Beneran?”


Keira menggaruk tengkuk, lalu mengangguk malu. “Aku bahkan sudah menyatakan perasaan padanya, tapi karena muak dia bicarain kamu terus, makanya aku minta dia menjauh dan enggak hubungi aku lagi.”


“Tuh, kan! Kubilang juga apa, aku pasti terlibat di dalamnya.” Celine bergerak mendekati Keira. “Ra, jangan buat sekarang. Aku enggak mau kamu terluka lagi kayak dulu, pas si Andre selengki di belakang kamu. Setidaknya sampai Danu benar-benar move on ....” Celine menghela napas, merasa tidak enak hati. “Move on dari aku. Aku enggak mau kamu terluka, atau kamu benci sama aku gara-gara Danu masih suka sama aku. Itu doang, bukannya aku mau mengatur ya. Tapi, bagaimana lagi, situasi buat sekarang lagi nggak banget. Semoga dia memang cepat-cepat lupakan aku, begitu saja sih, Ra.”


“Bahkan setelah dia pulih dari rasa sakitnya setelah kamu, belum tentu dia bisa siap setiap kali bertemu sama kamu, Cel. Ada dua kemungkinan, Cel. Pertama dia menolak aku karena aku teman kamu, pacaran sama aku berpotensi mempertemukan kalian berdua, dan pastinya luka Danu kembali terasa. Kedua, dia nerima aku, tapi aku harus bersiap dengan segala hal yang pasti terjadi. Aku bisa saja cemburu sama kamu, Cel. Makanya aku memilih mengutarakan, habis itu pergi. Karena situasi kami tetap enggak ada bagus-bagusnya.”


“Uh ... Keira?”


Celine memeluk tubuh sahabatnya, merasa terenyuh karena Keira memilih sebuah persahabatan dan menjauh dari Danu. Sebab, bagaimanapun hasil akhirnya, Keira pasti akan mendapatkan situasi yang tidak menguntungkan. Memang lebih baik menjauh, sebelum ditolak, atau diterima dengan resiko kerenggangan hubungan persahabatannya dengan Celine.

__ADS_1


***


__ADS_2