Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 28-Boleh Aku Jual Lagi?


__ADS_3

Celine berdiri sembari berkacak pinggang, sementara sepasang matanya sibuk menatap beberapa helai pakaian yang sudah ia keluarkan dari dalam lemari. Ia menghela napas, saat menyadari bahwa ucapan Reksa memanglah sebuah kebenaran. Tentang pakaian-pakaiannya yang sama sekali tidak pantas digunakan untuk mengunjungi ayah dan ibu mertuanya.


Sebagai wanita yang sangat menyukai perjalanan sekaligus petualangan, membuat Celine sangat menggemari baju-baju kasual. Seperti rompi, kaos, celana jeans yang memiliki lubang, sementara gaun ia hanya memiliki beberapa saja, itupun benar-benar norak dan tidak pantas untuk mewakilkan dirinya yang sudah menyandang sebagai istri dari seorang CEO kaya raya.


Sesaat setelah berdecap, Celine berkata, “Tahu begini aku setuju saja sama ajakan Reksa untuk berbelanja. Lagian, apaan sih, Cel? Uring-uringan sendiri dari tadi? Lagian ya, kamu kan masih punya sisa uang tabungan. Masih cukuplah buat membayar satu gaun demi menjaga harga diri!”


Penyesalan memang selalu datang belakangan, saat ego atas nama menjaga harga diri justru sedang mendominasi perasaan. Kini, Celine hanya bisa meratap dan bingung sendirian. Beruntungnya, ia belum jadi berpindah kamar, sehingga saat sedang galau seperti ini, Reksa tidak perlu tahu.


“Terus aku harus bagaimana? Pinjam sama Keira?” Celine menatap waktu di jam kecil yang berada di atas nakas. “Enggak mungkin. Setengah jam lagi, kami akan berangkat. Sementara, apartemen Keira jauh dari sini. Lagian, Reksa pasti akan melarang.”


“Cel?” Tiba-tiba suara Reksa terdengar dan sukses membuat Celine langsung panik.


Karena tidak mau kena omel untuk kedua kalinya, Celine memutuskan untuk segera menyembunyikan semua pakaian yang sudah berantakan di atas ranjangnya tersebut. Beruntung, meski memiliki sifat agak bodoh dan ceroboh, kalau masalah cekatan, Celine terbilang sangat andal. Semua pakaian tersebut sudah ia masukkan ke dalam lemari secara asal-asalan.


”Aku masuk, ya? Enggak dikunci, 'kan?” ucap Reksa lagi.


“I-iya!” balas Celine sembari berusaha menenangkan perasaan gugupnya.


Detik berikutnya, Reksa membuka pintu kamar itu. Sesaat setelah menatap Celine yang terpaku, Reksa lantas benar-benar masuk ke dalam kamar.


“Kebiasaan, di mana pun berada pintu enggak pernah dikunci ya." Reksa mulai menunjukkan gejala munculnya omelan super panjang.


“Stop!” sahut Celine sebelum Reksa berhasil memperpanjang nasihat menyebalkan itu. “Aku lagi enggak mau dengar omelan kamu, Reksa. Lagian kan ini sudah di rumah kamu, jadi pasti aman. Selain itu, aku enggak punya barang lebih berharga dari semua barang milikmu, jadi enggak mungkin kamu mencuri, 'kan?”


Reksa berjalan mendekati Celine, lalu menjawab, ”Ini.” Ia menyentuh wajah Celine. “Kamu yang berharga saat ini.”


”Ah?” Mata Celine mengerjap-ngerjap. “Ahahaha. Be-benar juga ya. Tapi ... kenapa wajahmu biasa saja?”


“Biasa saja bagaimana?”


“Kamu sedang kasih gombalan, tapi ekspresimu kenapa datar sekali?”


Reksa tergelak. ”Gombal? Siapa yang gombal? GR banget!”


“Barusan kalau enggak gombal, terus apaan memangnya? Kebiasaan ya, kalau habis bertingkah romantis, justru berkilah seperti itu.”


“Stooop!” sahut Reksa sembari membekap bibir Celine. “Apa yang aku katakan barusan itu bukan gombalan, tapi kebenaran. Wajahku enggak datar, tapi serius!”


“Ohooo! Hahaha.”


“Kenapa tertawa?”

__ADS_1


Celine tersenyum, sampai kedua matanya menyipit. “Kiyowo, Reksa kiyowo!”


“Cih! Nggak, Cel!”


Kiyowo? Mana mungkin Reksa yang selalu berusaha tampil sebagai pria sempurna sekaligus perkasa justru dianggap kiyowo? Oh, sepertinya otak Celine memang memiliki kebodohan yang sangat tebal. Namun, herannya ketika sedang tersenyum sampai matanya nyaris terpejam, wanita muda itu justru kelihatan menggemaskan. Membuat gelora di dalam hati Reksa lantas berkibar layaknya bendera merah yang sedang tertiup badai topan.


“Jangan tersenyum seperti itu, Cel!” tegas Reksa memperingatkan.


Celine kembali memperbaiki ekspresinya. “Kenapa memangnya?”


”Enggak ada alasan. Pokoknya jangan, terutama di depan cowok itu.”


“Ih, aneh!”


“By the way, kamu belum siap? Kita berangkat sebentar lagi. Kenapa pakaian dan wajahmu masih selusuh itu? Meskipun memiliki kulit wajah sehat, kamu juga harus tetap memperhatikan riasan dan perawatan, Celine.”


Celine menelan saliva. Tibalah saatnya Reksa membahas tentang keberangkatan. Lantas, apa yang hendak ia lakukan? Sungguh, ia tidak memiliki pakaian yang pantas. Beberapa gaun pun sudah kuno, dan bukan berasal dari merek terkenal. Selain sangat malu, sebenarnya Celine juga memikirkan tentang posisi Reksa. Kalau kedua orang tua Reksa yang paham tentang fashion, justru melihat Celine tampak kumal, Reksa-lah yang akan mereka salahkan.


Melihat Celine yang justru diam dan tampak cemas, insting Reksa langsung tahu apa yang tengah terjadi pada istrinya itu. Celine yang tidak pernah terlihat memakai riasan, selain lipstik dan bedak untuk berangkat ke kantor, dan hobi Celine yang terbilang menantang, sudah membuktikan bahwa wanita muda itu kurang memahami tentang fashion. Tidak, lebih tepatnya, Celine tidak memiliki barang-barang bermerek terkenal. Sebab, kalau diingat-ingat, Celine masih mampu dalam memasangkan antara pakaian satu dengan pakaian lain.


“Ikut aku,” ucap Reksa sembari meraih jemari istrinya, kemudian bergegas keluar dari kamar tersebut.


“Waktu kamu lagi tidur, aku sudah menyiapkan beberapa barang untukmu. Dua jam cukup untuk kegiatan itu, Cel.”


Dahi Celine mengernyit. “Menyiapkan barang apa?”


“Gaun cinderella.”


“A-apa?” Celine mendapati deretan gaun mewah serta beberapa sepatu high heels yang terpajang di antara ruang tamu dan ruang televisi. ”Haaaaa?! Gila? Sebanyak ini? Buat aku? Kamu masih waras, 'kan, Sa? Badan aku cuma satu. Dan ini ... astaga!” Ia melihat barang-barang itu sembari memeriksa merek yang tertera.


“Edan! Reksa! Kamu mengeluarkan berapa banyak uang? Hah, gila! Ini sih kalau dijual lagi bisa dapat uang buat keliling dunia! Apalagi tasnya, Ya Tuhan, Sa!” tambah Celine. “Nanti habis aku pakai, boleh dijual lagi enggak? Tasnya itu bisa buat beli rumah KPR lima unit tahu!”


Mata Reksa terpejam, seiring dengan hela napas yang ia ambil. Reksa benar-benar dibuat tidak habis pikir oleh sikap Celine. Baik, Celine memang menunjukkan sikap takjub dan antusias. Namun, alih-alih menangis haru, Celine justru mengatai suaminya sendiri dengan kata 'gila'. Selain itu, Celine juga memiliki rencana untuk menjual kembali barang-barang tersebut.


“Kali ini yang pening aku, Cel, bukan kamu. Bisa-bisanya ada niat buat jual kembali. Memang ya, kalau kampungan tetap enggak ada obatnya. Herannya kenapa aku mulai menginginkannya?” lirih Reksa bergumam sendiri.


Sementara Celine sudah sibuk memilih pakaian tersebut. Yang mana, pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil salah satu gaun berwarna putih, berbahan lace yang memiliki lengan panjang dan androk tepat di lutut, sementara coraknya menggambarkan bunga kecil-kecil yang cantik. Highheels dua centimeter, berwarna senada menjadi pilihan kedua.


”Aku pilih ini! Elegan dan masih sopan, gaya wanita Korea. Lagian pas kalau dipasangin sama tas warna hitam,” ucap Celine pada Reksa sembari memperlihatkan barang-barang pilihannya.


Reksa menghela napas. “Up to you, lagian masih dapat untung kok kalau dijual ke pasar loak. Oh ya, jangan lupa, aku ada paket make-up Golden Rose, asli dari perusahaanku. Kamu bisa berias, enggak? Kalau enggak, aku bisa panggil—”

__ADS_1


“Bisa kok!” sahut Celine. ”Aku pernah belajar sama Keira. Tenang saja, meski enggak terlalu tahu soal fashion, aku masih mampu mengurus diri, Sa!”


“Enggak tahu apanya? Dugaanku yang salah, ternyata kamu cukup tahu harga merek-merek itu, Cel.”


“Hahaha. Ya sedikit tahu, dan karena Keira juga.”


Celine segera mengambil langkah untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia benar-benar lega, meski awalnya justru sok jual mahal. Kelegaan Celine tidak hanya untuk barang-barang tersebut, tetapi juga perihal kepekaan Reksa. Entah. Mungkin Reksa memang sudah mulai terpikat pada dirinya.


Butuh waktu sepuluh puluh menit saja bagi Reksa dalam menunggu kesibukan istrinya. Sejujurnya, ia sangat gelisah. Bukan karena takut terlambat datang ke rumah orang tuanya, tetapi khawatir jika penampilan Celine hancur dan ambyar. Benar, Reksa memang tidak yakin, istrinya itu bisa bermain dengan alat make-up.


“Reksa, aku sudah siap!”


Ketika suara Celine terdengar, Reksa justru menutup matanya. Reksa benar-benar tidak siap dengan hasil yang akan ia lihat. Ia khawatir jika Celine justru seperti badut, alih-alih cinderella yang sudah disihir oleh seorang peri.


“Reksa! Dengar enggak sih?!” seru Celine sembari menepuk pundak sang suami.


Reksa menghela dan mengembuskan napasnya sampai berkali-kali. Sesaat setelah mulai merasa tenang, ia lantas membuka mata. Reksa memutar badannya dan ....


“Bagaimana? Cantik, 'kan?”


Reksa dibuat tidak berkedip. Baik, riasan di wajah Celine tampak sederhana sekali. Celine memilih liptint, alih-alih lipstik yang lebih memberikan kesan secara jelas. Ia tidak menggunakan eyeshadow, tetapi hanya maskara dan eyeliner saja. Sementara, tulang pipinya sedikit berwarna merah jambu.


“Cantik.” Reksa berdeham-deham. “Amatir, tapi, lumayanlah.”


“Memang amatir! Tapi, aku sengaja meminimalisir pemakaian make-up. Aku enggak mau menor dan berlebihan.”


“Keira juga yang mengajari kamu?”


Celine mengangguk. “Dia masternya. Memang anak gunung, tapi selain pintar, dia juga sangat modis! Lagian, gajinya dari perusahaan kamu juga gede banget. Enggak heran kalau Keira bisa membeli beberapa barang mahal. Dan aku cuma geleng-geleng saja hahaha.”


“Okeee! Aku izinkan kamu berteman dengannya.” Reksa bergerak ke sisi belakang Celine, lalu .... “Enggak lengkap kalau nggak ada perhiasan, Cel.”


“Reksa?” Lagi-lagi, Celine dibuat terkejut dan haru.


“Well, mari kita berangkat. Mm, soal Keira, oke! Aku akan mengantarkan kamu ke tempat dia, besok. Anggap saja sebagai tanda terima kasihku padanya, karena dia seorang Celine yang kampungan masih memiliki sedikit kemampuan.”


“Cih! Kampungan ...?”


Reksa tersenyum, begitu pun dengan Celine yang sama sekali tidak tersinggung. Mereka berjalan keluar dari apartemen untuk menuju basemen dan mencari mobil yang hendak mengantar ke rumah mewah milik Wirya Utama.


***

__ADS_1


__ADS_2