
Celine sudah berias secantik mungkin. Dari baju, androk, sepatu, accesories, serta make-up yang ia kenakan berasal dari brand mahal. Penampilannya benar-benar berubah, dari Celine yang biasanya bergaya kasual mendadak terlihat layaknya wanita sosialita kelas atas. Ia memang sengaja mengubah diri, dengan bantuan Keira yang ia hubungi melalui video call beberapa saat sebelum berangkat ke sebuah hotel.
“Pokoknya tenang, Cel. Jangan terpancing emosi, apalagi sampai berbuat kasar. Tenagamu enggak main-main soalnya. Kalau kamu kehilangan akal dan menghajarnya kamu bisa jadi tersangka penganiayaan.” Demikianlah wejangan terakhir dari Keira sebelum video call itu berakhir.
Kini, dengan didampingi Ali Arsyid, Celine menempuh perjalanan cukup singkat. Hotel tempat penginapan Reksa sebelumnya menjadi persinggahannya kali ini. Perihal pesan manipulasi yang ia kirimkan ke target sasaran pun tampaknya berhasil mengelabui. Ailen menjawab dengan kata-kata girang, diiringi beberapa emoticon menjijikkan. Oh, seandainya yang mengirim pesan adalah Reksa asli, mungkin Celine sudah benar-benar mengamuk. Ia jamin seluruh Kuta akan berantakan.
“Nona, kita sudah sampai di kamar beliau,” ucap Ali dengan suara bergetar, dan memang benar perasaannya sedang dirundung kekhawatiran.
Celine menghela napas, lalu menatap pintu kamar yang ditempati oleh Ailen ketika berada di Bali. Detik berikutnya, Celine mengangkat tangan, meminta sesuatu yang dari sekretaris pribadi suaminya. “Pinjam ponsel Pak Ali dulu,” ucapnya setelah itu.
Dahi Ali langsung mengernyit. “Hah? Ponsel? Untuk apa, Nona?”
“Untuk mencegah perilaku enggak sopannya Pak Ali yang sudah melaporkan seluruh kegiatan saya pada Reksa!” sahut Celine ketus, seraya menatap Ali yang sejak tadi berada di belakangnya. Layaknya, sebenar-benarnya seorang nyonya, Celine melipat kedua lengan ke depan dan berdiri dengan elegan seperti yang sering Keira lakukan. Ya, kenyataannya Keira adalah contoh terbaik sebagai wanita karier yang berkelas.
“Hih! Memangnya saya ini penjahat apa? Sampai semua kegiatan saya harus dilaporkan pada Reksa? Bapak pikir saya enggak tahu? Hei, hei! Kalau sudah di mode cerdas, kepintaran dan kepekaan saya bisa mengalahkan kejeniusan Reksa lho! Hati-hati lho sama saya, nanti bisa saya jitak tuh kening Pak Ali yang kayak lapangan bola itu! Sini mana ponselnya!” Meski begitu, cara bicara Celine masih saja seenak jidatnya sendiri.
Ali menelan saliva, sembari memegangi kening mengkilapnya. Duh, Celine ini benar-benar kurang waras, begitu pikirnya. Sudah asal bicara, pakai body shamming lagi. Benar-benar wanita yang memiliki tutur kata jauh berbeda dari kalangan sosialita. Namun, pada kenyataannya Ali harus tetap bersikap patuh serta tahu diri.
Tak berselang lama, Ali benar-benar menyerahkan ponselnya pada istri dari atasannya tersebut. Sebab memang tidak ada cara lain, selain menurut. Jika membangkang, Celine bisa membuatnya kesulitan. Apalagi tujuan Celine hendak menemui Ailen pun sudah memberikan ancaman tersendiri bagi Ali, akan fatal jadinya jika dirinya membuat masalah lain.
__ADS_1
Celine pun menyeringai. “Bagus! Toh cuma hari ini doang kok Pak Ali harus menurut pada saya. Dijamin besok-besok enggak lagi, jadi tenang saja, kening lapangan bola-nya Pak Ali pun akan terjamin aman! Hehehe. Dan satu lagi, jangan pedulikan yang terjadi di dalam nanti. Mau segaduh apa pun, Pak Ali hanya perlu diam!”
“Ba-baik, Nona Celine,” jawab Ali getir sembari menundukkan kepalanya.
“Oho! Salah dong! Nyonya Pandega! Bukan Nona Celine. Pokoknya selama hari ini saya adalah Nyonya Pandega, titik! Maksud saya panggilan buat saya seperti itu. Kalau masalah identitas, selamanya saya akan tetap jadi Nyonya Pandega! Hahaha.”
Ali menelan saliva, dan diam-diam menghela napas. “Baik, No— umm, Nyonya Pandega.”
”Bagus!”
Wanita yang aneh, kenapa kalau maunya begitu, enggak dari awal bertemu denganku? Batin Ali bertanya-tanya dan keheranannya terhadap sosok Celine rasanya semakin membesar. Wanita itu memang aneh bin unik. Reksa pun sama, atasan sombong yang tetap narsis. Perpaduan yang entah cocok atau semakin berantakan.
Bel pintu dibunyikan. Hanya sebanyak tiga kali saja, pintu itu langsung dibuka dari dalam kamar. Muncul Ailen dengan keadaan wajah berekspresi terkejut, jantung tersentak, dan rahang yang menganga. Penampilannya kelewat sexy, sepertinya selebgram dengan image panas itu memang sengaja hendak menggoda Reksa dengan tubuhnya. Sayangnya, pria yang ia tunggu-tunggu justru tidak datang, tetapi justru istri dari pria itu yang mendadak muncul.
“Ka-kamu?” Masih dalam keadaan tercekat, Ailen mengucapkan satu patah kata itu.
Celine menyeringai. “Hai, Pe-la-kor gagal!” sapanya kurang ajar.
“A-apa?!”
__ADS_1
Celine tidak menjawab, lantas mendorong paksa tubuh Ailen sampai selebgram itu mundur secara otomatis. Ali pun sampai tercengang, hendak meredam, tetapi Celine sudah memintanya diam. Tak berselang lama, Celine melesak ke dalam kamar Ailen dan menutup pintu tempat itu dengan keras. Alhasil, ia dan Ailen terjebak di dalam, sementara Ali tidak bisa berkutik dan kebingungan di luar kamar.
”Hei! Apa-apaan kamu, hah?! Nyelonong masuk tanpa permisi! Gila ya kamu?!” ucap Ailen dengan marah.
Celine masih tenang, santai, dan tetap elegan seperti yang Keira ajarkan beberapa saat lalu. “Anda marah ya ada orang yang masuk ke dalam kamar secara sembarangan? Tapi, kenapa Anda begitu berani dan enggak tahu malu saat berusaha masuk ke dalam rumah tangga saya dan Reksa?”
“Apa? Oh, sepertinya kamu sudah tahu ya kalau aku menyukai suamimu? Dan pesan itu? Astaga, bisa-bisanya aku tertipu sama trik konyol itu. Baiklah, aku akui sekarang. Aku menyukai Reksa dan aku ingin jadi istrinya. Dan seharusnya kamu yang tahu diri, Nona. Kamu itu hanya berasal dari keluarga miskin! Kamu tuh enggak pantas bersanding dengan Tuan Reksa. Sudah kayak pembantu dan majikan saja! Ooh, aku tahu kayaknya kamu dan keluarga miskinmu itu memang hanya memanfaatkan kekayaan Reksa saja, 'kan? Iya, 'kan?! Hina sekali!” sahut Ailen.
Mata Celine memicing, ekpresinya langsung berubah masam. Ia benar-benar tidak senang jika keluarganya mulai dibawa-bawa, apalagi sampai dikatai miskin dan hanya memanfaatkan kekayaan Reksa saja.
Geram, Celine terus maju. Ia mendorong pundak Ailen dengan sangat keras, sampai Ailen nyaris tersudut. ”Aku pemegang sabuk hitam karate, kamu tahu seberapa besar ilmu bela diriku?”
Glup! Ailen menelan saliva. Ia yang pernah mengikuti syuting salah satu film lantas teringat bahwa sabuk atau ban hitam di karate adalah tingkatan tertinggi. Jika pengakuan Celine adalah benar, maka ....
“Kamu mau ngapain, hah?! A-aku panggil polisi! Jangan macam-macam!” ucap Ailen dengan bibir gemetar. “Menjauh dariku, Orang Miskin!” pekiknya sembari berusaha mendorong tubuh Celine yang terus menyudutkannya.
“Sialan!” umpat Celine. Detik berikutnya, ia menghentikan langkahm Ia terdiam dalam beberapa saat, dan kemudian berbalik arah. Ia melihat ada sebuah vas bunga di atas, lalu meraih benda itu dari meja.
“Berhenti bawa-bawa kata miskin, Sialan!” Geram, Celine lantas melempar vas bunga tersebut.
__ADS_1
***