Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 93-Sebuah Kekecewaan


__ADS_3

Keira tidak menyangka ayah yang selama ini mengabaikannya, kini mendadak ada di hadapannya. Tidak ada yang bisa Keira katakan, ia hanya diam sembari menatap cangkir berisi kopi hangat. Tadinya, ia sempat berencana untuk tidak menyantap sedikit pun kafein, bahkan ia telah menolak ajakan Danu mengenai ngopi bareng. Namun, saat ini ia tidak tahu lagi harus mengajak ayahnya ke mana. Ke apartemennya? Tentu tidak, Keira tidak akan merasa nyaman jika hanya berduaan dengan ayahnya sendiri, lalu ia juga tidak mungkin membawa Danu ke dalam kediamannya hanya demi menemaninya. Dan saat ini, ia terpaksa meminta Danu bertahan di sisinya.


“Keira? Kamu apa kabar?” tanya ayah Keira yang bernama Anwar. Ada sebuah senyum canggung yang menarik kedua sudut bibirnya.


Rahang Keira mengeras, sementara jemarinya saling mengusap satu sama lain. Pertanyaan dari Anwar telah melukainya. Bagaimana bisa seorang ayah mempertanyakan kabar putrinya sendiri? Seorang putri yang seharusnya sering dikabari atau diperhatikan. Tidak! Keira bahkan tidak mendapatkan hal itu semenjak ibunya tiada. Memang bukan tidak pernah ia berhubungan dengan ayahnya melalui telepon, tetapi setiap berkata dengan ayahnya itu hanyalah sebatas kata sapa dengan durasi yang sangat singkat.


Danu sebagai pendamping Keira saat ini yang juga menjadi sosok pemerhati, menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Ia tahu Keira selama ini hanya tinggal sendiri. Namun, sepertinya ia tidak terlalu memahami hubungan Keira dan sang ayah.


“Baik, Ayah.” Akhirnya dua patah kata yang telah membentuk kalimat singkat terdengar dari bibir pucat Keira. Lantas, ia menghela napas, lalu kembali terdiam. Menundukkan kepala masih menjadi pilihan paling tepat untuknya saat ini. Mungkin, Danu atau bahkan orang lain yang memperhatikan akan merasa miris dengan situasinya dengan sang ayah kandung.


Anwar juga menghela napas. Matanya mengerjap cepat, dan jakun di lehernya tampak turun naik, membuktikan bahwa dirinya kerap menelan saliva. Semua gesture tubuh Anwar sudah menunjukkan bahwa dirinya memang sedang dirundung perasaan tidak enak hati sekaligus gelisah.


“Selamat pagi menjelang siang, Om!” ucap Danu memberikan sapaan. Sejak berjalan menuju kafe terdekat bersama Keira dan ayah wanita itu, ia memang belum mengambil inisiatif untuk memberikan sapa atau sebuah perkenalan. “Umm ... saya Danu, Danurdara Angkasa. Tem—“


“Kamu pacar Keira?” potong Anwar dengan pertanyaan menusuk secara tiba-tiba.


Keira yang terkesiap, sampai membelalakkan mata. “Bukan! Danu bukan pacar Keira, Ayah! Kami hanya teman!” sahutnya lantang, tegas, dan mantap.


Danu menatap Keira dan tertegun dalam beberapa saat. Ia mencoba mencermati sekaligus mencerna perkataan Keira barusan. Uh! Rasanya seperti tertusuk sebuah parang, jantung Danu terasa nyeri. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, tetapi yang pasti Keira terlihat sudah lama melupakan perasaan suka terhadap dirinya. Bahkan, wanita itu seolah memberikan penolakan telak.


“Benarkah seperti, mm, Nak Danurdara?” selidik Anwar.


Danu mengalihkan pandangannya dari Keira menuju Anwar. “Iya, Om, kami hanya berteman kok. Teman biasa,” jawabnya kecut.


“Saya pikir kalian pacaran, soalnya pagi-pagi seperti ini sudah jalan berdua.” Anwar memberikan perkataan cukup sarkastik.

__ADS_1


“Bukan, Ayah.” Keira menghela napas. Dan masih dalam keadaan menunduk, ia pun bertanya, “Lantas, apa yang Ayah lakukan di sini? Tumben Ayah datang ke kawasan ini?”


Anwar memasang wajah masam dan penuh kegelisahan kembali. “Ayah ... merindukanmu, Nak.”


“Oh ya?”


“Umm ... sebenarnya, ....” Ragu, Anwar menghentikan kalimatnya dan lantas menatap Danu dengan mata berpendar penuh harapan.


Danu tahu makna tatapan dari ayah dari Keira tersebut. Sebuah isyarat yang mengatakan bahwa Anwar menginginkan kepergiannya untuk sementara. Sehingga, Danu tidak punya pilihan lain. Detik berikutnya, ia lantas bangkit dari duduknya. Mengatakan kata pamit singkat pada Keira, lalu benar-benar berlalu dari tempat itu.


Selepas Danu pergi, hati Keira semakin berkecamuk hebat. Apa yang ia hindari—berduaan dengan sang ayah—justru terjadi detik ini. Kalau boleh, ia ingin menyusul Danu dan membiarkan ayahnya sendiri. Sayangnya, ia juga tidak ingin menjadi anak yang durhaka pada orang tuanya. Alhasil, keputusan terakhir mengatakan bahwa Keira memang harus tetap tinggal di hadapan ayahnya tersebut.


“Ada apa, Ayah? Dan di mana Tante Dwi sama Rita?” tanya Keira lagi, sekaligus mempertanyakan keberadaan Dwi—istri baru ayahnya—dan Rita—anak kedua ayahnya dari pernikahan dengan wanita bernama Dwi tersebut.


“Mm.” Masih gelisah, rasanya menyingkirkan perasaan itu memang sang sulit untuk Anwar lakukan.


“Be-begini ... a-ayah datang untuk meminta bantuan padamu, Nak.” Anwar merasa getir dan takut.


“Minta tolong soal apa, Ayah? Ada masalah?” selidik Keira semakin penasaran.


“I-ini soal ibu kamu, Nak.”


Dahi Keira mengernyit. “Ibu aku? Ibu aku sudah meninggal, ‘kan?”


“Tante Dwi maksud Ayah, Keira. Sampai kapan kamu seperti itu padanya? Bukankah dia adalah ibu kamu juga?”

__ADS_1


Keira menghela napas. “Bukan. Tante Dwi adalah ibu kandung Rita. Dan ibu kandung Keira. Ibu Keira hanya satu di dunia ini.”


“Keira ... Ayah minta maaf kalau kamu merasa terabaikan setelah kedatangan Tante Dwi. Apalagi, Tante Dwi sedang sakit. Tante Dwi membutuhkan pengobatan serius dan biaya yang sangat banyak, Keira. Tolonglah.”


“Oooh! Jadi begitu? Ayah datang menemui Keira, cuma buat minta uang?” Keira tersenyum kecut. “Baiklah, tenang saja. Keira akan memberikannya kok. Enggak perlu khawatir, Ayah tinggal kirim saja nomor rekening Ayah melalui pesan.”


Tidak ada hal yang lebih mengecewakan daripada dikecewakan oleh ayahnya sendiri. Keira benar-benar terluka sekaligus tidak habis pikir. Mengapa orang tua yang ia miliki datang hanya untuk uang? Dan fatalnya demi pengobatan sang istri baru? Apakah itu pantas?


Sungguh, Keira tidak pernah melarang ayahnya menikah lagi. Namun, sikap Anwar-lah yang selama ini membuatnya muak, sampai ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Anwar terlalu mengabaikannya, apalagi ketika memiliki Rita. Kasih sayang Anwar padanya sangat berkurang, hanya karena Keira sudah beranjak besar, lantas Anwar tidak memberikan perhatian serupa dengan anak barunya.


Dan tentu saja, Keira merasa sangat kesal. Rasanya sangat wajar, bukan? Ia tidak pernah dipedulikan, tetapi ayah yang sejujurnya masih sangat ia sayangi mendadak datang dengan sebuah permintaan. Kecewa.


Soal uang tentu bukan hal sulit bagi Keira. Ia sendiri bekerja di sebuah perusahaan elite. Gajinya tidak main-main. Oleh sebab itu, ia tidak keberatan untuk memberikan sejumlah uang yang Anwar inginkan. Hanya saja ... ia tidak bisa menerima kenyataan yang tengah terjadi sekarang.


“Keira ... Ayah minta maaf,” lirih Anwar menggunakan lidahnya yang kelu, sekaligus bibirnya yang gemetar.


Keira menghela napas. “Kirimkan saja nomor rekening Ayah. Tapi, sepertinya Keira harus pergi sekarang juga.”


“Keira ...?”


Keira mengabaikan respons yang diberikan Anwar pada kata pamitan sekaligus sikap acuh tak acuhnya. Lantas, ia bangkit dari duduknya. Keira berjalan meninggalkan Anwar tanpa sekalipun menoleh ke belakang—ke arah ayahnya tersebut. Namun, bukan berarti ia benar-benar abai. Jujur saja, ia merasa bersalah telah bersikap dingin. Sayangnya kekecewaan yang telah bernaung di dalam hatinya sudah berukuran terlalu besar.


“Ra? Ada masalah?” tanya Danu yang sudah bertemu dengan Keira di halaman kafe itu.


“Bukan urusan kamu!” sahut Keira dingin.

__ADS_1


Danu menghela napas, tidak mengambil tindakan apa pun dan tetap diam di tempat, meski Keira telah berjalan dengan langkah yang cepat. Hati Danu hanya bisa bertanya-tanya, sementara dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih lagi, tampaknya Keira membutuhkan waktu untuk sendiri.


***


__ADS_2