Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 17-Reksa yang Tak Tahan


__ADS_3

Malam di kota Moskow sudah semakin larut. Sementara, Reksa masih berada di dalam kamar hotel di mana Celine berada. Dua film telah mereka putar dan salah satunya belum kunjung selesai. Namun, mata Celine sudah terlihat sangat mengantuk. Bukan karena efek lelah, tetapi film romantis pilihan Reksa sangat membosankan dan tidak ada adegan humornya sama sekali.


Reksa menghela napas. “Kalau mengantuk, lebih baik tidur di ranjang sana!” ucapnya pada istrinya tersebut.


“Siapa yang mengantuk?!” Cepat, Celine menegakkan badannya dan membuka matanya lebar-lebar. “Aku masih kuat kok. Lagi pula, malam ini pertama kalinya kamu mau datang ke sini selama berada di negara ini. Dan aku enggak boleh melewatkan kesempatan ini.”


“Kamu mau merayuku? Oh ... enggak, aku enggak bakalan mau berbuat hal-hal aneh denganmu lagi, Cel! Aku ingat betapa galaunya dirimu pada saat itu dan jujur hal itu sangat membebaniku.”


Celine menghela napas. “Enggaklah, aku enggak semurah itu, Reksa. Lagian kan pada saat itu baru pertama kalinya buat aku, jadi, aku kaget dan merasa kehormatan yang sudah aku jaga selama 24 tahun mendadak lenyap oleh seorang pria yang enggak cinta sama aku. Berbeda dengan kamu yang mungkin saja sering melakukan hal semacam itu.”


“Eh, eh, tahu dari mana memangnya? Jangan asal menuduh atau berspekulasi sendiri, Cel. Aku heran, bagaimana bisa kepala kecilmu itu memiliki daya spekulasi yang tinggi, tapi enggak berdasar sama sekali?”


“Memangnya kamu juga enggak pernah melakukannya sebelum ....” Celine menunduk, lalu menelan saliva. “Se-sebelum sama a-aku? Bukankah orang-orang kaya sering menyukai kehidupan bebas ala barat?”


“Justru aku yang ingin bertanya sama kamu, kamu kan suka sekali dengan perjalanan dan petualangan. Yang mana kebebasan pastinya menjadi prinsip utama hidup kamu. Tapi, kenapa kamu bisa menjaga harga diri sampai menikah denganku?”


“Hmm ... benar. Aku dan Keira memang sangat menyukai kebebasan, tapi, bukan berarti kami berdua sangat liar. Kami memegang prinsip untuk selalu menjaga yang seharusnya kami jaga. Terserah ya sama orang lain, kami enggak peduli. Yang penting kami enggak mau terlalu bebas tanpa aturan.”


“Kamu kenapa selalu membawa-bawa nama Keira setiap kali berbincang denganku sih, Cel? Apa kamu enggak punya teman lain? Well, aku memang cukup takjub pada wanita yang selalu memegang prinsip se-demikian baik.”


“Ada!” sahut Celine cepat dan rasa kantuknya mendadak hilang. “Danurdara. Terus rekan-rekan kerja. Kalau aku sebutkan nama mereka, pasti akan panjang dan butuh waktu lebih lama. Intinya temanku banyak sekali, Sa, aku bukan tipikal orang introvert seperti kamu. Tapi, yang paling klop ya memang Keira.”


“Danurdara? Ha-ha-ha!” balas Reksa sembari memutar bola matanya dengan sengit.


Celine tersenyum-senyum. Sepertinya tebakannya benar, Reksa memang tidak menyukai jika ia membahas tentang Danurdara atau mungkin pria lain. Entah karena merasa cemburu, atau mungkin hanya merasa tertandingi, Celine tak tahu yang mana perasaan Reksa sebenarnya. Namun, pastinya ia sangat senang jika pada akhirnya sosok Reksa yang super arogan perlahan bisa ditaklukkan.

__ADS_1


Keduanya kembali melanjutkan aktivitas menyaksikan film yang sebenarnya tidak terlalu menarik. Sementara, kecanggungan perlahan merayap setelah beberapa saat tak lagi ada perbincangan. Suasana yang sunyi dan hawa dingin, membuat Reksa dan Celine merasa tertekan. Sesaat, mereka bingung harus berbuat apa selain diam. Sebelum sesuatu akhirnya terjadi!


Reksa tak sengaja menyentuh jemari Celine yang tepat berada di sisinya. Detik itu juga, bulu kuduk Celine langsung berdiri. Wanita muda itu berupaya untuk menelan saliva dan berangsur menoleh ke arah Reksa. Tak disangka! Reksa juga melakukan hal yang sama.


“Mm ... ah, maaf,” ucap Reksa kemudian bergegas menyingkirkan tangannya dari jemari lentik milik sang istri.


“Ah, iya, enggak apa-apa,” jawab Celine sembari mengusap tengkuk dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


Reksa mengembuskan napasnya dengan tujuan agar rasa sesak di dalam dadanya berangsur hilang. Ia berdeham, setelah itu bertanya, “Soal cowok bernama Danu itu, memangnya kamu sangat dekat dengannya ya?”


“Mm ... enggak juga. Dia hanya rekan, kalau mengobrol pasti membahas soal si Bos atau pekerjaan. Dia juga teman pulang kalau aku sedang banyak lemburan dan dia pun selalu lembur setiap kali aku diminta lembur,” jelas Celine tanpa ada yang ditutupi sama-sekali. Karakternya memang seperti ini, selain blak-blakan, ia adalah tipikal orang yang jujur, bahkan meski terkadang hal yang ia sampaikan cukup menyakitkan bagi orang lain.


“Oh, berarti dia memang benar-benar sangat menyukai kamu, ya?” selidik Reksa lagi, entah mengapa ia begitu ingin mengulik hubungan antara Celine dan Danurdara.


“Enggak! Enggak cantik sama sekali!” tandas Reksa tidak setuju. “Lagian, kenapa kamu membandingkan aku dengannya? Sudah jelas-jelas aku pemilik perusahaan besar, aku CEO terhormat, Cel. Jadi, wajar saja kalau tipe wanita pujaanku jauh lebih tinggi darinya. Sementara, dia kan hanya orang biasa, ya wajar saja dia suka sama perempuan biasa sepertimu.”


“Hmm, mungkin begitu kali ya?” Celine menghela napas, lalu membuka matanya lebih lebar. “Tapi, orang tua dia pemilik restoran seafood yang cukup terkenal lho, Sa! Dia itu anak orang kaya juga, tahu!”


“Oh, berarti ada kelainan di dalam otaknya yang menyebabkan dia suka sama kamu.”


“Ais! Kamu memang enggak pernah memihakku. Ya sudahlah, enggak apa-apa. Yang penting masih ada Danu di sana.”


Reksa menggertakkan gigi, kesal. “Bisa enggak, kamu nggak usah menyebut nama dia lagi?!”


“Lho, lho? Kan yang bahas duluan itu kamu?”

__ADS_1


Mata Reksa mengerjap. Dan rasa malu langsung menyerang dirinya. Celine benar. Dirinyalah yang pertama kali mempertanyakan tentang Danu. Sungguh, mengapa Reksa bisa bertanya mengenai pria itu? Pria asing yang tidak memiliki urusan sama sekali dengan hidupnya. Namun, bisa-bisanya Reksa mencoba mengulik hubungan Celine dengan pria tersebut.


Senyap kembali menghiasi kebersamaan mereka, pasca Reksa mendadak diam lantaran sangat malu. Kecanggungan pun lagi-lagi merayap, ketika untuk kedua kalinya tangan Reksa menyentuh jemari istrinya. Mereka memang belum mengubah posisi duduk, selain hanya bergerak untuk menangani sendi-sendi yang pegal.


Sementara kali ini, sentuhan tangan mereka terasa berbeda. Reksa tak lagi punya bahan pembahasan, pun yang terjadi pada Celine yang mendadak linglung. Bahaya! Berada di dalam satu kamar dengan seorang pria memang sangat rentan akan bahaya. Celine tahu Reksa tidak akan melakukan apa pun padanya, tetapi tetap saja, kecanggungan menyebalkan itu akan terus menyiksa.


“Cel? Kenapa malam di musim panas, tetap dingin ya? Oh ... apa AC kamar ini memang bersuhu sangat rendah?” tanya Reksa dengan suara lembut dan lirih.


Celine menggeleng. “Aku sudah menaikkannya kok barusan, mau musim hujan kali,” jawabnya.


“Oh, berarti memang asli dingin.” Reksa mendekatkan dirinya pada Celine. “Malam ini ... kamu mau menumpangiku tidur, ‘kan? Aku malas naik ke atas.”


“Mm ... apa kamu enggak ada pekerjaan? Bukankah biasanya kamu bergadang untuk mengurus beberapa hal di perusahaan?” selidik Celine. “Memangnya kamu mau ada di dalam satu ruang sama aku?”


“Ayah menangani pekerjaanku, dan memangnya salah jika kita bersama di sini? Oh, ka-kalau kamu keberatan, aku enggak jadi mengi—“


“Enggak! Enggak keberatan sama sekali kok, Sa!”


“Benarkah?” Reksa memberanikan diri untuk menatap wajah istrinya.


Mata CEO dari Golden Rose tersebut langsung bertaut dengan tatapan netra Celine yang semakin jernih dan mendebarkan. Dalam jarak yang begitu dekat, terasa embus napas satu sama lain yang menyentuh tulang selangka mereka. Ada aroma aneh yang mendadak muncul di antara mereka. Lalu ... Reksa yang sudah kehilangan akal lantas merampas wajah Celine yang semakin lama semakin menggemaskan.


Keduanya terlibat sebuah keromantisan hangat, meski masih banyak percekcokan dan pertentangan. Lagi pula, insan mana yang akan tahan terhadap hawa ketika bersama dengan seorang wanita di malam-malam dingin dan sepi? Meskipun sangat angkuh serta kerap memberikan hinaan menohok, Reksa tetaplah seorang pria normal. Hanya rumor tentang dirinya saja yang tidak biasa dan sebenarnya tidak benar sama sekali.


***

__ADS_1


__ADS_2