
“Cel, bisa datang ke rumah? Ada pesanan katering nih, Ayah sama Ibu keteter,” ucap Kenny pada Celine melalui sambungan telepon yang sedang berlangsung. “Kamu kan masih nganggur, Bang Reksa juga hari ini kerja, 'kan?”
“Oke, aku pulang. Mau dibawain apa? Sekalian nih, mau ngojek,” jawab Celine dari kejauhan.
“Aku jemput saja. Ini telepon buat memastikan kalau kamu bisa datang. Motor Ayah lagi nganggur.”
“Siap, Adek! Lumayan hemat ongkos.”
“Ya. Tapi jangan lupa nanti isi bensin kamu yang bayar.”
Celine mendengkus kesal. “Sialan! Tetap saja enggak irit jadinya! Rese banget punya adik.”
Kenny hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban apa pun. Detik berikutnya, ia mematikan panggilan tersebut. Pria manis berlesung pipit dan bergigi gingsul itu lantas menghela napasnya. Benaknya menerawang mengingat kembali pertemuan singkatnya dengan Danu dan Keira yang terjadi tadi malam. Beberapa informasi pun sudah ia dapatkan, mengenai Danu yang menjadi sumber utama rasa kecewa menyerang hati Celine belakangan ini.
Namun, di sisi lain, Kenny tetap tak berhak menghakimi. Ia memang sempat marah besar karena tindakan Danu yang lancang, tetapi lambat laun ia menyadari bahwa posisi Danu juga sulit. Sama halnya seperti dirinya yang harus menahan rasa sakit ketika menyukai Keira. Kenny hanya tidak mengerti, mengapa antara dirinya, Danu, Keira, bahkan Celine dan Reksa seolah memiliki ikatan di dalam sebuah lingkaran. Secara tidak langsung, mereka saling terhubung satu sama lain.
“Ken! Bagaimana kakakmu bisa datang, 'kan?” tanya Deswita yang baru muncul di ruang tamu rumah itu. Ia menatap Kenny yang berdiri tegak dan tampak melamun.
Kenny lantas menoleh ke arah sang ibu. “Bisa, Bu. Enggak ada kerjaan dia,” jawabnya.
“Ya, sekalian Ibu mau bicara sama dia.”
Dahi Kenny lantas berkerut samar. “Bicara? Soal?”
“Bukan urusanmu. Kamu masih bocah! Sudah sana segera jemput, motornya mau dipakai buat ambil ayam di tempat Pak Darno.”
“Halah!” Kenny tampak kecewa. “Celine bahkan jauh lebih bocah dariku, Bu, Bu.”
Deswita tak menggubris, justru segera bergegas untuk kembali ke dapur. Lagi pula, ia tidak punya banyak waktu untuk mengomel panjang lebar seperti biasanya. Ada pesanan katering dari tetangga yang sedang hajat. Jadi, pastinya ia sangat sibuk, bahkan sengaja menutup kedai untuk hari ini. Sementara tiga tetangga terdekatnya, sudah berbaur di dapur untuk membantu mempersiapkan pesanan. Maklum, orang kompleks biasanya masih memiliki kegiatan untuk saling membantu satu sama lain.
Sementara, Deswita yang sudah menghilang di balik pintu dapur, Kenny pun bergegas. Ia mencari kunci sepeda motor bebek ayahnya untuk menjemput Celine di apartemen. Kenny tidak peduli pada penilaian orang di apartemen elite itu, tentang dirinya yang hanya mengendari kendaraan roda dua keluaran lama. Sebab hanya benda itulah yang ia punya, setelah motor gede yang sering ia gunakan secara bergantian dengan Celine sudah lama dijual demi membayar biaya kuliah.
***
Celine menatap Reksa yang masih belum berangkat ke kantor. Suaminya itu tampak lahap dalam menyantap sarapan pagi yang ia buat bersama seorang pelayan. Memang sangat menyenangkan jika melihat seseorang begitu menikmati masakannya. Celine selalu percaya diri kalau soal makanan.
__ADS_1
“Masakan kamu enak, Cel. Bagaimana kalau aku buatkan usaha kedai seperti orang tua kamu, mungkin yang lebih maju dan aesthetic dari itu tentunya? Yah, daripada cari kerja lagi. Anggap saja modal yang aku berikan sebagai mahar lanjutan untuk pernikahan kita,” ucap Reksa menawarkan ide usaha untuk istrinya.
Celine menghela napas. “Aku belum percaya diri kalau buat dijual ke orang banyak, Sa. Lagian, namanya kedai yang lebih maju pastinya butuh ilmu-ilmu bisnis yang tinggi juga. Dan aku enggak mengerti sama sekali. Takutnya kalau belum lama memulai, justru gulung tikar begitu saja.”
“Kan ada aku, Cel. Aku yang membangun, sementara kamu yang memimpin nantinya. Kamu juga bisa berinovasi untuk segala macam masakan. Kita ambil keuntungan buat diri masing-masing, Celine, bukan karena aku yang hanya ingin memanjakan kamu. Tapi, kalau kedainya memiliki progres bagus, aku juga dapat untung besar, 'kan? Lagian, jika suatu saat kita sudah punya anak, aset-aset itu bisa buat tabungan masa depan mereka. Kan siapa tahu anak kita lebih dari lima.”
“Heh?! Lebih dari lima? Yang benar saja, Reksa! Satu saja belum dapat! Lagian ini rahim bukan pabrik kosmetik!”
Reksa tergelak. “Sekarang memang belum punya, Cel. Tapi, sekalinya punya, pasti bakalan punya dan punya lagi. Kalau bisa ya sebelas anak, biar kayak tim sepak bola hahaha.”
“Iiih! Ngawur! Aneh-aneh saja kamu! Satu saja juga sudah cukup, yah, maksimal dua deh!”
“Sebelas, Celine. Mumpung aku masih kuat hahaha.”
“Ngaco!” tegas Celine, masih menolak keras perihal keinginan Reksa untuk memiliki anak lebih dari sepuluh orang. “Lalu, soal kedai. Boleh juga sih ... tapi, pelan-pelan saja, ya? Kasih aku waktu buat belajar. Lagian, aku ingin memantapkan hati dulu. Biar nanti enggak bikin kamu sebagai investor nomor satu merasa kecewa.”
“Iya, Cel. Aku juga masih ingin kasih waktu istirahat buat kamu, setelah bertahun-tahun bekerja. Kalau mau ke luar negeri lagi, juga boleh. Aku bisa kasih cuti buat Keira biar dia menemani kamu.”
Celine menghela napas. “Keira ya? Aku belum baikan sama dia, Sa. Tapi, nanti habis membantu Ibu, aku boleh ke apartemennya ya? Aku saja biar diantar Kenny, dan saat ini Kenny juga bakal jemput aku. Kamu sudah kesiangan, arah kantormu dan rumah orang tuaku berbeda. Mm ... orang tuaku dapat pesanan katering, jadi, mereka butuh tenaga yang banyak. Mungkin beberapa tetanggaku pun sudah ada di sana.”
“Enggak, enggak perlu. Kenny sudah berangkat. Dan soal jalan-jalan ke luar negeri tadi. Maaf, Reksa, aku—”
“Ya, ya, aku tahu apa yang mau kamu katakan, Cel.”
Celine meringis setelah Reksa memotong ucapannya. Semakin hari Reksa semakin menunjukkan kebaikan yang hanya untuk Celine. Diam-diam, Reksa memikirkan tentang masa depan Celine yang masih saja menginginkan sebuah pekerjaan.
Bahkan, barusan Reksa menawarkan sebuah perjalanan ke luar negeri untuk istrinya itu, sampai rela memberikan cuti pada Keira. Padahal sejak kejadian bertemu Ailen, Celine terus-terusan dirundung rasa was-was. Apalagi beberapa minggu lagi suaminya tersebut hendak bertandang ke Bali, dan melibatkan kehadiran Ailen di dalam agenda tersebut.
Aku enggak bisa tenang begitu saja setelah kejadian itu. Ada banyak kerisauan yang tertuju buat kehadiran Ailen. Aku berharap Reksa tetap konsisten pada kesombongannya, biar banyak wanita yang enggak suka sama dia. Cukup buat aku saja sikap-sikap super cute-nya itu, pikir Celine mengharapkan sesuatu yang aneh untuk suaminya.
Tak lama berselang, ponsel Celine berdering. Kenny sedang menelepon dan mengatakan jika dirinya sudah sampai di bagian lobi gedung apartemen tersebut. Cepat, Celine mengambil tas miliknya dan milik Reksa. Ia membubuhkan kecupan manis di punggung tangan Reksa, kemudian memutuskan untuk keluar lebih awal. Sebab, ia khawatir kedua orang tuanya sudah keteteran.
Namun ....
“Cel!” seru Reksa.
__ADS_1
Celine yang sudah memegang handel pintu lantas menghentikan gerakannya. Detik berikutnya, ia menatap Reksa yang sudah berjalan ke arahnya.
“Aku antar ya? Masa aku enggak hadir?” tawar Reksa.
Celine tetap menolak. “Enggak, Reksa. Katanya kamu mau ada meeting pagi dan lembur sampai malam, 'kan? Tenang saja aku kan sama Kenny, bukan sama Danu hehehe.”
“Pakai motor butut itu? Masa iya aku membiarkan kamu kepanasan pakai motor jelek, sementara aku naik mobil super elite?”
“Aih! Memangnya kenapa? Aku kan pengen kayak Princess Diana, yang meskipun menantu kerajaan, dia tetap sederhana.”
“Kalah jauh-lah, Cel!”
“Hahaha. Iya sih. Ya sudah sih, kasihan nih Kenny sudah menunggu.”
Reksa langsung menarik lengan Celine, sampai istrinya itu masuk ke dalam pelukannya. Detik berikutnya, ia merampas bibir Celine dengan kecupan mautnya.
“Hari ini kamu pasti sibuk banget, dan enggak bisa komunikasi sama aku atau mengantar makan siang buat aku. Sementara aku juga lembur sampai malam. Jadi, aku minta jatah lebih dulu,” ucap Reksa setelah itu.
Celine menelan saliva, matanya mengerjap begitu cepat, wajahnya memerah layaknya kepiting yang sudah direbus di dalam air panas.
“Duh!” Reksa mencubit pipi Celine. “Kenapa wajah kamu jadi merah begini? Malu ya? Berdebar ya? Hahaha.”
“La-lagian,” kata Celine. “Kenapa mendadak berbuat kayak gitu? Bikin kaget tahu! Kenapa juga akhir-akhir ini sikap kamu aneh banget coba?”
“Aneh bagaimana? Aku kan suami kamu, jadi anehnya di mana? Sekalian mau bikin kamu yakin kalau Ailen itu enggak ada apa-apanya dibandingkan sama kamu, Cel. Aku bersikap kayak gini, cuma sama kamu doang.”
Celine tertegun. “Kamu tahu ya kalau aku masih kepikiran soal dia?”
“Tahu-lah, Cel! Setelah kejadian itu, kamu terus-terusan mencari tahu tentang dia. Bikin kuping panas!”
“Ya maaf ...,” kata Celine melemah. Detik berikutnya, ia lantas kembali semringah. “Ya sudah, Reksa. Aku berangkat. Kenny bisa ngambek kalau dibikin nunggu lama. Kamu hati-hati ya kerjanya! Dan ... jangan terlalu menanggapi Ailen, kalau dia menganggu, langsung pecat saja jadi brand ambassador!”
Detik setelah mengatakan kalimat tersebut, Celine benar-benar melepaskan Reksa. Ia keluar dari apartemen itu meninggalkan Reksa sendiri, sementara sang pelayan masih sibuk memberikan beberapa ruangan. Reksa menghela napas, lalu bergegas. Sebab dirinya juga ada agenda penting. Sedih memang, hari ini ia pasti akan kesulitan menghubungi Celine. Namun, mau bagaimana lagi.
***
__ADS_1