
Sambutan semarak langsung Celine dapatkan pasca tiba di rumah orang tuanya. Namun, alih-alih senang ia justru merasa sangat kesal. Kedua ibu-ibu tetangga terdekatnya cenderung norak dan membuatnya seperti orang yang tidak pantas menjadi istri seorang pria kaya raya. Celine yang sejak kecil selalu tengil, gemar mencuri jambu da mangga, hingga hanya sebatas karyawan biasa bisa-bisanya mendapatkan Reksa yang super kaya raya. Benar, mereka membingungkan tentang hal itu, meskipun pernikahan Celine dengan Reksa sudah nyaris berusia tiga bulan.
“Sekali-kali bawa lakinya main, Cel, biar Tante bisa kenalan sama dia,” ucap salah satu tetangga Celine yang memang terkenal kepo, meski urusan bantu-membantu, ia paling terdepan.
“Dia sibuk, Tante Juri. Lagian kan dia juga pernah ke sini, Tantenya saja yang enggak nongol waktu itu,” jawab Celine cepat.
Ibu-ibu itu alias Juriah, lantas menimpali, “Halah palingan kamu yang sengaja ngumpetin dia kali, Cel. Kamu enggak mau, 'kan, kalau kami kenalan? Yaelah, Cel, kami enggak bakal minta uang kok. Tenang saja.”
Celine menghela napas, memilih tak menjawab dan kembali memfokuskan mata pada helai-helai daun bawang. Kalau sudah menjurus pada hal seperti itu, tentu saja tidak akan ada habisnya. Beberapa emak-emak memang begitu, tidak pernah mau kalah.
“Terus bagaimana, Cel? Sudah isi? Ningsih yang menikah belakangan, sudah isi lho, Cel. Masa kami belum? Ayo dong dirutinin lagi bermesraannya,” celetuk Menis, tetangga samping rumah orang tua Celine.
“Sudah dong, Tante. Barusan diisi rendang sama toge biar subuuur!” sahut Celine.
“Halah, kamu ini bagaimana sih, Cel, Cel? Maksud Mbak Menis tuh sudah hamil apa belum? Jangan mau ketinggalan sama yang baru-baru menikah.”
Celine mendengkus kesal. ”Lagian Tante ini, kenapa sih nanya kayak gitu? Hamil bukan ajang perlombaan kali, Tan. Kalau kalian tanya kapan aku hamil, kalau aku tanya kalian kapan mati, bagaimana?”
”Celine! Dijaga mulutnya!” gertak Deswita yang sejak tadi diam, memilih untuk fokus menggoreng ayam. “Jangan begitu sama orang tua. Tuh mulutmu minta Ibu cocolin sambel, apa?”
“Ya lagian, aneh-aneh saja! Kapan hamil dan kapan mati itu nyaris sama tahu nggak sih, Tante, Tante? Hanya Tuhan yang tahu. Bedanya, kalau hamil diharapkan, tapi kalau mati ditakutkan. Jadi, stop deh tanya hal-hal semacam itu. Rasanya pengen tak hih lho kalian ini!”
Menis merengut, tidak senang. “Ya ampun, Cel, Cel. Kan Tante cuma tanya begitu doang, enggak ada maksud lain. Kok kamu malah ngatain sampai mati segala sih? Enggak ada sopan-santunnya sama orang tua.”
“Iya, Cel. Jangan mentang-mentang jadi istri orang kaya, terus lupa sama tata krama,” tambah Juri sambil sibuk mengupas bawang.
“Lagian Tante berdua kenapa pertanyaannya ngadi-ngadi coba?” Kenny yang baru datang setelah mendengar kakaknya diserang, lantas menyela obrolan panas mereka. “Perkataan Celine juga benar kok. Masalah hamil itu hanya Tuhan yang tahu. Jangan bertanya atau mendesak sesama wanita yang enggak tahu rezeki itu tiba. Kalau mau dihormati, coba deh, kalian sebagai orang tua memberikan contoh yang baik dulu. Dan lagi, kalau anak kalian yang belum menikah punya nasib lebih buruk dari Celine, bagaimana? Atau anak kalian yang sudah punya anak yang berarti cucu kalian, mendadak kehilangan anak karena bacot kalian bagaimana?”
“Kenny!” Celine dan Deswita berteriak secara bersamaan tepat ketika Kenny mengatakan kata tak seharusnya. Sementara Juriah dan Menis langsung terdiam, sebab mereka tahu bagaimana Kenny mengamuk ketika sedang marah.
__ADS_1
Dan itulah sifat terburuk seorang Kenny, yang selalu sulit menahan emosi ketika hatinya benar-benar dibuat tidak senang. Apalagi, belum lama ini ia mendengar permasalahan Celine yang direndahkan oleh sang bos sampai kakaknya tersebut menangis histeris. Sebagai adik, yang meski sangat menyebalkan, Kenny tetap tidak rela jika kakak perempuan satu-satunya kembali diremehkan oleh orang lain.
Kenny memutar bola matanya, kemudian bergegas untuk pergi. Meninggalkan perasaan heran yang mendadak menempati piramida hati teratas milik Celine. Sudah sekian lama tidak memiliki tatapan sedingin itu, tetapi mengapa tiba-tiba Kenny seperti itu lagi? Ada apa dengan Kenny?
“Maaf, Tante, Kenny agak nggak enak badan,” ucap Celine pada kedua tetangga nyinyirnya.
“Sama sajalah dia kayak kamu, Cel,” jawab Menis acuh tak acuh. “Lagian kayak enggak ngerti kita saja sih? Sudah biasa kan bercanda, yo jangan baper toh.”
“Sudahlah, namanya anak muda,” sambung Juriah.
Deswita menoleh, dan lantas menatap putrinya. “Susul dia, Cel. Kayaknya ada masalah tuh anak. Dari tadi juga bengong terus. Biar Mbak Zul yang gantiin kamu.”
Zul, tetangga termuda yang memiliki karakter lebih pendiam, lantas meninggalkan penggorengan ayam sebelah kanan dari Deswita. Ia berjalan menuju keberadaan Celine yang masih sibuk mengiris daun bawang.
“Tolong ya, Mbak,” ucap Celine pada Zul.
Zul tersenyum. “Iya, Mbak Cel,” jawabnya lembut.
Celine melesak ke dalam kamar Kenny yang tidak dikunci. Adik termanisnya itu tampak mempersiapkan beberapa barang yang hendak dibawa ke kampus pagi ini. Kenny menyadari kedatangan Celine, tetapi masih memilih diam.
”Kamu kenapa sih, Ken? Kayaknya lagi sensitif banget? Lagi datang bulan?” tanya Celine.
“Yang benar saja, Cel!” tukas Kenny. ”Nggak kenapa-napa kok. Biasa saja.”
“Umm ... terima kasih lho, tadi sudah dibela.”
Kenny terdiam, lantas berbalik badan dan menatap kakaknya. “Kamu percaya sama aku, 'kan, Cel?”
“Mm ... entah.”
__ADS_1
”Halah!”
“Iya, iya percaya. Memangnya kenapa? Kok tiba-tiba ngomong kayak gitu?”
“Enggak. Cuma lagi ada rencana saja. Setelah wisuda, aku mau cari kerja yang bagus, terus bikin biro perjalanan sendiri. Lihat saja, Cel, aku pasti bisa jadi orang kaya. Punya perusahaan sendiri, dan bikin kamu bisa keliling dunia sepuasnya.”
”Pft ... hahaha. Mimpi apa semalam, Ken? Aneh banget, anak nakal macam dirimu mendadak berpikir seperti itu? Lagian, tetap enggak mau nih ambil penawaran dari Reksa?”
“Aku serius, Celine! Lihat saja! Aku juga enggak butuh Reksa. Aku mau kamu menikah dengannya untuk bahagia, jadi aku enggak mau mencari keuntungan dari pernikahan kalian.”
“Hmm ... aku memang enggak tahu apa yang bikin kamu tiba-tiba berpikir dan bicara kayak gitu, Ken. Aku hanya selalu yakin kalau masa depan kamu bakalan lebih cerah dari aku. Dan bahkan, tanpa kamu bicara pun, aku tetap percaya soal itu. Kalau aku enggak berhasil menjunjung martabat orang tua, mungkin kamu-lah yang akan berhasil. By the way, serius ya? Kalau sudah punya biro perjalanan sendiri, bikin aku keliling dunia.”
Kenny tersenyum lebar, sampai lesung pipi dan gigi gingsul manisnya kelihatan. “Tentu saja, Kakak! Sudahlah, balik dapur sono dan jangan mau kalah sama dua bangkotan tua itu.”
”Hus!” Celine mendorong wajah Kenny. “Jangan begitu! Sejak tadi aku sudah menahan semua kata-kata kotor, kok malah kamu yang nggak bisa tahan?”
Kenny menghela napas. ”Iya, iya. Lagian mereka memang sudah keterlaluan. Iya sih, sudah mau bantu-bantu, tapi tetap saja menyebalkan. Lagian, Ibu juga enggak bakalan tutup mata, Ibu pasti kasih imbalan kok.” Kenny menatap Celine yang sudah lebih baik dari sebelumnya. “Cepetan baikan sama Keira. Dia bingung gara-gara kamu ngambeknya lama.”
“Ah ... soal itu, tadinya aku mau minta kamu antar aku ke apartemennya. Reksa lagi ada lembur, aku enggak mau ganggu dia. Tapi, kayaknya kamu ada kuliah ya?”
“Enggak sampai sore-lah, Cel. Kalau motor Ayah ada, nanti aku antar.”
“Siiip! Kalau enggak bisa, aku juga bisa berangkat sendiri sih, biar Reksa yang jemput di sini, sekalian aku balikin motor.”
“Enggak usah, ribet! Biar aku saja.”
“Oke kalau begitu, Adik!”
Dengan semringah, Celine mengambil langkah meninggalkan kamar Kenny dan kembali ke dapur. Rencananya untuk bertemu Keira sore nanti pasti akan berhasil, Kenny pun tak menolak sama sekali untuk mengantarkannya. Meski tidak tahu secara pasti apa yang membuat Kenny begitu sensitif, Celine tetap memutuskan untuk diam selama Kenny tidak ingin bicara.
__ADS_1
***