Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 112-Kabar Bahagia


__ADS_3

Sebuah pesan berisi komplain dan kritik telah Reksa kirimkan beberapa saat lalu, berharap Celine segera menemui dirinya di kamar hotel terkait. Namun, sampai setengah jam, Celine belum juga datang. Reksa yang awalnya ingin mencari Celine, selaku penanggung jawab atas perjalanan honeymoon permintaannya memang sempat mengurungkan niat karena masih berencana untuk melancarkan rencana kejutan untuk istrinya itu.


Ketidakhadiran Celine setelah setengah jam pesan komplain dikirimkan kembali membuat Reksa harus memikirkan rencana awalnya untuk mencari istrinya itu. Kabar dari Rodian mengenai kemungkinan Celine tengah hamil muda cukup membuat hati Reksa khawatir. Jika terjadi apa-apa dengan Celine, maka ia akan menyesal. Reksa akhirnya memutuskan untuk pergi saja dan memilih mengabaikan rencana kejutan yang telah ia rancang.


Pria kaya itu berjalan menyusuri lorong hotel yang begitu elegan. Melesak ke dalam elevator untuk turun ke lantai dasar. Di sepanjang perjalanan itu, Reksa terus saja menggertakkan giginya. Cemas semakin pekat kala merasa elevator yang ia tumpangi bergerak lamban.


Sementara itu, Celine yang baru kembali dari membeli alat kehamilan terpaksa mengurungkan niatnya untuk memastikan kondisinya dirinya terlebih dahulu. Komplain dari sang klien membuatnya cukup risau dan sempat bingung. Teringat pujian yang diberikan oleh Catarina, membuat Celine harus tetap profesional. Lagi pula, tidak ada penanggung jawab selain dirinya sekarang. Kalau klien merasa tidak senang karena keluhannya tidak segera ditangani, pasti biro perjalanan milik Catarina akan mendapatkan nilai negatif.


Taksi yang Celine tumpangi sampai di hotel yang merupakan tempat penginapan klien tersebut. Ia bergegas turun, tetapi tidak segera melangkahkan kaki. Rasa mual dan pusing masih membuatnya agak berat untuk berjalan. Dalam beberapa menit, ia memutuskan untuk menghela napas dan mengendalikan apa pun yang terjadi pada dirinya sebelum menghadapi klien tersebut.


“Aiiis. Tahu begini aku minta ganti sama yang lain saja deh. Muka klien itu kayak apa sih? Sekaya apa dia? Dengan segeala persiapan yang kurasa sudah sangat menakjubkan, kenapa masih kasih komplain coba?” gumam Celine bertanya-tanya. “Kalau memang enggak puas sama kinerja orang, kenapa dari awal enggak kasih konsep sendiri? Lalu, pihak kan tinggal mengerjakannya. Huh! Bikin mood makin berantakan saja deh!”


Namun, apa daya, keluhan tidak bisa menyelesaikan segalanya. Celine harus datang dan memperbaiki beberapa komplain dari sang klien menyebalkan. Merasa agak mendingan, Celine memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Ia harus segera bertemu pria menyebalkan itu.


“Celine?!” Mata Reksa membulat sesaat setelah dirinya keluar dari elevator yang sempat ia tumpangi. Ia melihat kehadiran sang istri yang tampak lemah dan cukup mengkhawatirkan.


Rencana kejutan yang nyaris batal seharusnya bisa dilanjutkan. Memikirkan tentang hal itu, Reksa cepat-cepat bersembunyi di balik pilar. Meski begitu, ia tetap mengawasi keberadaan sang istri. Setelah Celine masuk ke dalam salah satu elevator, Reksa baru keluar dari persembunyiannya. Ia lantas bergerak dengan cepat menuju elevator lain.


Jantung Reksa berdegup dengan cepat. Kedua telapak tangannya gemetar. Namun, senyumnya tak pernah hilang dalam menarik kedua sudut bibirnya yang manis. Rasanya ia seperti merasakan jatuh cinta untuk kedua kali. Seseorang yang tak pandai bergaul atau lebih sering disebut sebagai sosiopat ini akhirnya memiliki wanita yang bisa ia cintai sepenuhnya.


Elevator terbuka. Reksa mengamati istrinya sudah berjalan lebih awal untuk menuju kamar hotelnya. Rencana kejutan akan ambyar jika Celine lebih dulu sampai. Hal itu membuat Reksa harus mencari cara agar dirinya bisa masuk lebih awal. Kebetulan salah satu staf hotel lewat. Dengan bantuan dari staf tersebut, Reksa menunda kedatangan Celine.

__ADS_1


***


Beberapa menit setelah dirinya dicurigai membawa benda terlarang oleh salah satu staf, akhirnya Celine dibebaskan, karena kecurigaan itu tidak terbukti. Celine merasa sangat beruntung jika kehamilan yang ia dambakan akhirnya benar. Namun, beberapa hal yang membuatnya kesal sungguh sangat buruk untuk hari ini.


Apalagi sekarang, saat sudah masuk ke dalam kamar hotel yang ia tuju, sang pemilik hotel belum juga menunjukkan diri. Herannya pintu dari kamar itu dalam keadaan tidak dikunci.


“Apa klien kali ini adalah orang yang aneh?” gumam Celine bertanya-tanya sembari berdiri di dekat pintu karena takut dicurigai sebagai orang asing yang tidak sopan. “Halo! Pak? Tuan? Kakek? Om? Ada orangkah di sini? Saya Celine penanggung jawab atas perjalanan honeymoon Anda. Haloooo?!”


“Berisik!” Reksa yang sempat baru keluar dari ruangan berisi ranjang, berjalan menghadirkan dirinya di hadapan sang istri. “Kamu ... penanggung jawab atas konsep honeymoon yang saya minta, ‘kan?” Ia bertanya dengan mata yang diatur agar memiliki sorot yang tajam.


Mata Celine terbelalak lebar, rahangnya perlahan terbuka. Syok dan bingung langsung berbaur dalam menyerang hatinya. “Re-reksa?”


“Reksa?” Reksa tersenyum sinis. “Saya adalah klien kamu, Nona.”


“Hahaha.” Reksa juga membalas pelukan istrinya. “Hmm ... aku klien kamu, Celine. Honeymoon kali ini kamu yang bikin konsepnya, dan kamu yang bakalan menikmatinya.”


Celine terkesiap dan segera melepaskan pelukannya. Dengan mata yang berkaca-kaca ia menatap Reksa. “Benarkah? Jadi, ....”


“Will you marry me?” kata Reksa sembari mengambil sebuah cincin dari dalam kantong blazernya.


“Hah?!” Celine mengernyitkan dahinya, bingung atas lamaran dari Reksa. “Yang benar saja! Kita kan sudah menikah, kenapa kamu lamar aku lagi, Sa?!”

__ADS_1


Reksa mendengkus kesal. “Merasa haru dong, Cel! Kalau enggak ya sandiwara gitu, biar lamaran ulang yang aku bikin enggak sia-sia!” omelnya.


“Lamaran ulang?” Otak Celine masih dalam proses mencerna kata-kata suaminya. “Buat apa coba?! Kalau sudah menikah ya sudah, ngapain pakai lamaran ulang lagi? Umm ... tapi, boleh juga cincinnya. Hehe.”


“Cih ... benar-benar nih cewek!”


Celine tersenyum tipis. “Kenapa sih? Kehadiran kamu di sini tuh sudah bikin aku benar-benar kaget. Lamaran ulang? Terima kasih ya atas usahanya. By the way aku juga terkejut soal itu. Aku benar-benar enggak menyangka atas semua yang kamu hadirkan buat aku sekarang, Reksa. Tapi, aku cuma enggak pandai berkata-kata itu saja. Dan ... sebelum izinkan aku memeriksa sesuatu terlebih dahulu.”


Reksa mengangguk dan lantas memeluk serta mengecup nyaris seluruh wajah istrinya. Puas melakukan hal itu, ia melepaskan Celine agar Celine memeriksa sesuatu yang kemungkinan besar soal pemeriksaan kehamilan.


Sementara Celine menuju kamar mandi, Reksa duduk di salah satu sofa dalam keadaan tegang. Jantungnya kembali berpacu lebih cepat. Ia merasa dirinya seperti menunggu kemenangan atas tender besar. Jika Celine benar-benar hamil, maka hari ini akan benar-benar sempurna.


Glup! Celine menelan saliva sesaat setelah keluar dari kamar mandi. Jemarinya menggenggam alat tes kehamilan. Ia berjalan dengan kaku menuju keberadaan sang suami. Reksa yang melihat kehadiran sang istri langsung bangkit. Ia pun berjalan menghampiri sang istri.


“Bagaimana, Cel?” tanya Reksa masih dalam balutan ketegangan.


Celine menggigit bibir bawahnya. Wajahnya tampak kebas dan membuat Reksa cukup getir juga. Sepertinya kehamilan itu belum tiba, pikir Reksa menduga.


“Aku ... um, aku ....” Celine menyodorkan alat tes kehamilan. Lalu, membuka telapak tangannya yang menutupi benda itu. “Aku hamil, Reksa! Aku hamiiiil!”


Mata Reksa membesar. Ketegangan yang ia rasakan berubah menjadi kebahagiaan yang besar. Ia akan menjadi ayah dan hari ini pun menjadi lebih sempurna oleh kehadiran sang cabang bayi di rahim Celine. Pelukan dan kecupan kembali Reksa berikan pada Celine tak hanya sekali dua kali, tetapi berkali-kali.

__ADS_1


Kemudian mereka memutuskan untuk duduk. Semua anggota keluarga pun mereka hubungi. Tentunya termasuk Keira dan Kenny. Kabar itu tentu saja menjadi kebahagian seluruh keluarga.


***


__ADS_2