
Cepat, Keira menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan telepon dari Kenny. Ia khawatir jika panggilan segera berakhir dan Kenny menyerah untuk meneleponnya lagi. Pastinya, Keira akan kembali kesepian dan gagal mencari cara untuk menaikkan mood-nya.
“Ya, Ken. Halo? Sorry nih, aku enggak buka jasa jadi tutor!” sapa Keira langsung pada intinya.
“Hahaha!” Kenny tergelak dari kejauhan sana. “Ya ampun, Ra. Aku bisa bayar jasamu kok, meskipun bakalan nyicil sampai gajian sepuluh kali!”
”Eh, eh! Memangnya ilmu dan jasaku bisa dikredit apa? Sorry ya, Ken, aku enggak mau kalau gajinya nggak full, apalagi nyicil sepuluh kali. Begini-begini, aku punya harga sendiri lho!”
“Berapa sih harga kamu, Ra? Aku jamin ....”
Dahi Keira mengernyit. “Jamin apa nih? Murah begitu?”
“Eh! Enggak begitu kali, Ra! Aku jamin, aku enggak sanggup bayar. Secara kamu kan wanita sosialita, karier, dan berkelas. Pasti bakalan mahal banget. Sampai job manggung Ariana Grande saja pasti kalah dari job tutoranmu, Ra!"
“Iya dong, jelas! Ariana Grande enggak ada apa-apanya dibandingkan sama aku, Ken! Dijamin!”
“Dijamin apa nih?”
“Dijamin dia yang menang telaklah, Ken! Mana bisa aku menang dari penyanyi kelas dunia. Ada-ada saja kamu!”
“Lho, lho bagaimana sih? Katanya tadi dia enggak ada apa-apanya sama kamu, kok berubah pikiran mendadak begitu?”
“Ah ....” Keira tersenyum. “Benar, Ken, belakangan ini aku memang sering berubah pikiran. Macam anak SMA yang lagi labil-labilnya tahu! Berasa muda lagi deh, Ken!”
“Kamu kan juga masih muda, Keira. Lebih tua sedikit dari aku, tapi, mukaku yang justru kelihatan lebih tua dari kamu hahaha. Biasalah, si Kenny enggak jago perawatan, umm ... lebih tepatnya nggak punya duit buat perawatan, Ra.”
__ADS_1
Keira berdeham. “Kan nanti habis gajian kamu bisa langsung perawatan, Ken, tenang akhir bulan sebentar lagi kok!”
”Enggak bisa, Ra. Gajinya mau ditabung sebagian, sebagian buat jajan Celine, sebagian buat tambah modal orang tuaku. Pft, hahaha, lagak Kenny begini amat ya, Ra? Gaji juga belum seberapa, sudah banyak rencana. Apalagi soal pengin punya biro sendiri, kayak cuma banyak omong, tapi nggak punya modal! Haha.”
“Enggak kok, Ken,” kata Keira. “Apa yang kamu inginkan, dari semua itu, enggak ada satu pun yang terdengar konyol. Aku yakin kamu juga enggak cuma omong doang. Lagian, kamu kan baru kerja, tinggal mantapin hati sama niat, sekaligus tindakan kamu buat menabung, Ken. Kalau konsisten, aku yakin kamu bisa melakukan semua itu dengan waktu cepat, termasuk punya biro perjalanan sendiri.”
Benar, Keira yakin akan hal itu. Kenny adalah anak baik sekarang, bukan lagi berandal yang setiap hari kerjanya tawuran, nongkrong, atau main-main tidak jelas. Pria itu sudah dewasa, telah memiliki pemikiran yang sangat mulia. Keira bahkan merasa sangat minder sekaligus tersindir. Kenny yang baru bekerja saja memiliki rencana untuk membahagiakan orang tua, sementara Keira? Ia justru uring-uringan dan kesal sendiri saat ayahnya datang untuk meminta bantuan. Terlebih lagi, ia tidak tahu seberapa buruk apa kondisi Dwi pada saat ini
“Aamiin, Ra. Aku juga berharapnya begitu sih. Jalannya masih jauh banget, enggak bisa cepat-cepat menikah nih hahaha,” jawab Kenny pada ucapan Keira barusan.
“Mm?” Keira tercengang kemudian berangsur menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya ampun! Sudah ngebet pengin menikah? Kamu masih muda kali, Ken! Buat masa depan dulu, kalau sudah mapan baru deh menikah!”
”Iya, iya, Keira. Cuma becanda kok, malah diceramahi lagi hmm.”
Kenny masih belum menjawab, melainkan hanya tertawa. Padahal soal menikah yang ia katakan barusan tertuju pada Keira. Iya sih, dirinya sudah berniat untuk tidak memiliki harapan terlalu besar pada Keira. Namun, makan malam bersama di taman waktu itu, mengubah hubungannya dengan Keira yang sebelumnya agak menjauh, kini justru semakin dekat dalam segi pertemanan. Dan bisa dipastikan, hati Kenny kembali diuji.
Soal pernikahan yang Kenny katakan pun sebenarnya untuk meminta agar Keira jangan menikah dulu, sebelum Kenny siap dengan segala kemapanan. Meskipun Kenny tahu maksud hatinya hanya akan berakhir sia-sia. Lagi pula, sejak awal ia sudah tahu perasaannya terhadap Keira tidak akan pernah berhasil.
Di sisi lain, Keira tidak merasa sekalut seperti beberapa saat yang lalu. Tak seperti Kenny yang merasa galau, Keira justru merasa jauh lebih baik. Sepertinya kehadiran Kenny melalui telepon di malam ini, sukses membuat kegusaran di hatinya pergi. Tanpa tahu keadaan hati Keira, Kenny justru bisa memberikan dukungan serta perubahaan jalan pikiran. Kalau Kenny berkata bahwa kemampuan otaknya tak jauh beda dengan otak Celine, Keira akan berkata bahwa Kenny dan Celine memang sama dalam hal kebaikan. Ya, mereka memang memiliki kelemahan, tetapi hati mereka sudah seperti berlian. Siapa pun pasti akan senang jika mengenal orang-orang seperti mereka.
“Mm, ngomong-ngomong kamu lagi ngapain, Ra? Aku beneran ganggu ya sampai kamu sejudes tadi?" celetuk Kenny bertanya.
Keira tersenyum tanpa peduli bahwa Kenny berada nun jauh di sana dan tentu saja tidak akan mengetahui betapa manis senyumnya saat ini. “Enggak kok. Aku tadi cuma becanda. Umm ... lagi enggak ngapa-ngapain, Ken,” jawabnya tanpa bertanya kembali.
“Halah bohong!” sahut Kenny. “Kamu pasti sedang kasur, sedang bernapas, sedang ngobrol sama aku. Sedang tiduran kalau enggak, ya, sedang duduk. Dengan kata lain, kamu sedang ngapa-ngapain, Keira.”
__ADS_1
“Hih! Bukan begitu maksudku, Ken! Kalau lagi ngapa-ngapain itu sibuk banget, aku kan lagi santai, selebihnya ngobrol sama kamu! Bagaimana sih?!”
“Yang kamu lakukan sekarang tuh termasuk aktivitas, jadi—”
“Aaa! Sudah, sudah, bakalan panjang nih nanti!” sahut Keira.
“Memangnya kamu enggak mau memperpanjang perbincangan sama aku, Ra!”
“Enggak!"
“Kok gitu? Hmm, judes lagi nih.”
“Lagian kamu enggak jelas. Sama sih kayak Celine, bedanya si Celine enggak jelasnya di sikap, kalau kamu justru di daya pikir, Ken! Otak kamu terlalu panjang mikirnya tahu!”
“Hahaha. Ya sudah, maaf deh. Namanya juga orang-orang dari keluarga enggak jelas. Ibuku saja lebih garang daripada ayahku, ayahku yang cowok justru cupu. Hahaha.”
“Hus! Sembarangan yah kamu sama orang tua.”
”Fakta, Ra. Hehehe.”
Keira mendengkus, tetapi langsung tertawa kecil. Kenny lebih asyik dari yang ia duga. Mungkin karena pergaulan Kenny cukup luas dan ... lumayan bar-bar. Biasa, anak tongkrongan. Benar-benar berbeda dengan Danurdara. Meski Danu sangat ramah dan penuh perhatian, jujur saja kalau berbincang dengannya, Keira sering bosan. Namun, perhatian Danu-lah yang paling berbahaya, tidak hanya Keira, mungkin wanita-wanita di luar sana yang berinteraksi dengan Danu akan terpesona dengan pria pemilik nama lengkap Danurdara Angkasa tersebut. Yah, kecuali Celine yang mulai ketahuan bahwa tipikal pria yang ia sukai justru sebuas, segarang, seangkuh, serta se-berbahaya Reksa Wirya Pandega.
Perbincangan Keira dan Kenny masih terus berlanjut, dengan pembahasan yang semakin absurd dan tidak berbobot.
***
__ADS_1