
Di atas ranjang kesayangan, Reksa dan Celine saling berpelukan. Mereka belum tertidur, masih ada perbincangan menggelitik yang terkadang membuat tawa mereka mengisi segala penjuru ruang kamar. Memang benar, belum ada konfirmasi mengenai perasaan masing-masing. Namun, progress hubungan Reksa dan Celine jauh lebih baik serta menunjukkan perubahan yang signifikan.
Semua karakter keras dan sombong yang melekat pada diri Reksa pun seolah tak jadi kendala bagi Celine untuk tetap berada di samping suaminya itu. Pun pada Reksa yang tidak lagi merasa keberatan atas segala macam sifat unik milik sang istri. Justru, ada sebuah warna baru yang setiap hari hadir di dalam hidupnya yang selama ini hanya memiliki dua warna, putih dan hitam, cenderung monoton dan membosanka. Namun, semua menjadi seperti halnya rona pelangi, saat hatinya berangsur mencintai sang istri.
“Kamu serius enggak mau ikut aku ke Bali?” tanya Reksa pada Celine yang sebenarnya sudah memejamkan mata.
Namun, karena pertanyaan dari sang suami, Celine langsung membuka mata. “Enggak, buat apa? Toh, kamu juga sibuk bekerja kok!” tandasnya, berbohong.
“Tapi, kan aku enggak bekerja selama 24 jam penuh, Cel.”
“Tetap saja, siang harinya kamu bakalan sibuk banget. Oh, malam pun pastinya begitu. Kamu kan kalau lagi banyak kerjaan, sampai bergadang sampai dini hari! Bahkan, setiap kali aku terjaga, di tengah malam, kamu justru masih sibuk sama laptopmu.”
“Hmm ... apa itu mengganggumu?” selidik Reksa, pasalnya ia membenarkan apa pun yang Celine katakan barusan.
Lagi pula, jabatan Reksa di perusahaan itu memang bukan jabatan sembarangan. Reksa adalah seorang CEO sekaligus owner dari perusahaan yang merambah di bidang manufaktur, khususnya produksi kosmetik tersebut. Ada banyak pekerjaan yang tentunya akan membuatnya kehilangan waktu luang. Bahkan, sampai selama ini, ia jarang mengajak Celine untuk berkencan.
“Aku janji kok, aku bakal ingat kamu pas di sana, Cel. Nanti kita jalan ke pantai,” ucap Reksa memberikan janji yang entah dapat ia tepati atau tidak.
Celine menghela napas. “Kalau cuma ke pantai, di sekitar sini juga ada kok, Sa! Daerah Tangerang ada. Di Anyer juga buanyak. Kenapa harus jauh-jauh ke Bali?”
“Tapi, ‘kan, di Bali beda, Cel!”
“Apa bedanya? Lebih indah? Sama saja ah!” Celine terus menolak.
Sementara rencana Celine yang sebenarnya adalah tetap berangkat ke Bali bersama Keira dan Kenny. Ia hanya ingin membuat Reksa kesal dengan cara menolak ajakan suaminya itu, kemudian memberikan kejutan manis atas kedatangannya setelah sampai di Pulau Dewata.
Reksa yang ngambek mendadak melepaskan pelukannya terhadap tubuh Celime. Lantas, ia membelakangi Celine tanpa mau berkata apa-apa lagi. Apa sulitnya tinggal ikut saja? Uang saku, tiket, hotel, restoran, dan lain-lain sudah Reksa tanggung. Sementara Celine tak perlu kesulitan lagi dalam mencari semua persiapan itu. Lagi pula, Reksa adalah seorang suami bukan pria asing yang hendak menculik, tetapi mengapa Celine justru menolak terus-terusan.
Lalu terdengar suara tawa dari belakang tubuh Reksa dan tentu saja Celine-lah pelakunya. Pasalnya, sebagai seorang pria berusia hampir 36 tahun, Reksa masih kerap ngambek seperti anak kecil. Namun, sikap tersebut yang kerap membuat Celine merasa gemas. Reksa yang sangar justru berubah menjadi imut dan menggemaskan.
__ADS_1
“Kita berjauhan dulu, biar ada rindu begitu!” ucap Celine sembari memeluk pinggang Reksa, lalu meletakkan dagunya di atas pundak Reksa yang berada di bagian atas. “Jangan ngambek, Woi! Kamu sudah terlalu tua buat bersikap seperti itu, tahu!”
“Enggak mau, sebelum kamu kasih senyum buat aku, Sa!”
“Ogah!”
“Ih! Malesin!”
“Setujui dulu tawaranku buat ngajak kamu ke Bali.” Reksa berangsur mengubah sikap, menjadi terlentang. Netranya yang berwarna hitam pekat sibuk menatap wajah sang istri.
Celine menghela napas, kemudian menjatuhkan kepalanya di atas dada Reksa yang bidang dan lebar. “Enggak mau, aku enggak mau kesepian di sana.”
“Hmm ... apa perlu aku ajak Keira buat ke sana?”
“Enggak. Dia kan lagi ambil cuti, dia punya acara sendiri.”
“Aku tetap enggak mau, aku mudah bosan.”
“Hais! Terus maunya bagaimana?! Di sana ada Ailen tahu, apa kamu enggak khawatir kalau di godain aku?”
Celine menatap Reksa dengan tajam. “Awas saja kalau kamu menanggapinya!”
“Makanya, ayo ikut, Celine!”
“Enggak, ya enggak!”
“Ya sudah!”
Reksa menghela napas panjang, berusaha meredakan kekesalannya agar tidak dikatai ngambek oleh istrinya. Sepertinya keinginannya untuk membawa Celine ke Bali tetap tidak akan terlaksana. Celine terlalu keras malam ini, menolak terus-terusan tanpa ada keinginan untuk mempertimbangkan. Mau bagaimana lagi, mungkin Reksa harus merelakan rentang waktu dan jarak yang memisahkannya dengan sang istri selama beberapa pekan ke depan. Namun, ia berjanji, setelah semua urusan selesai, ia tidak akan menunda kepulangannya hanya demi bertemu dengan istrinya tersebut.
__ADS_1
“Kamu marah lagi?” selidik Celine, sementara salah satu jari telunjuknya sibuk menekan-nekan pucuk hidung Reksa yang mancung. “Enggak, ‘kan?”
“Enggak kok. Mau bagaimana lagi, kamu pasti akan menolak terus.” Pelan, Reksa meraih jemari Celine yang memainkan pucuk hidungnya tersebut, lalu meletakkan jemari lentik itu di pipi kirinya. “Aku usahakan pulang secepatnya, karena agenda enggak cuma satu. Ada relasi yang harus aku temui di sana. Makanya aku pengin ajak kamu, karena pastinya bakal lebih lama, secepat apa pun usahaku buat menyelesaikannya. Maklum, aku bukan orang biasa, Cel.”
“Cih ... masih saja menyombongkan diri. Hmm ... memangnya kamu bakalan menginap di hotel mana? Sama Ailen juga?”
Reksa menggeleng. “Enggak. Aku selalu cari hotel sendiri dan pastinya sangat mahal, terus di kamar presidential yang enggak semua orang bisa datang.”
“Sombong lagi dah!”
Reksa hanya tertawa. Lantas, ia mengatakan nama hotel yang akan ia jadikan sebagai tempat penginapan pada Celine, tanpa terkecuali tempat-tempat yang hendak ia kunjungi. Entah, ia hanya ingin mengatakannya saja. Siapa tahu Celine akan datang ke tempat itu untuk menyusulnya. Ya, hanya siapa tahu, walaupun presentasi ketidakmungkinan tampaknya jauh lebih besar.
Sepasang suami dan istri itu tiba-tiba saja saling terdiam saat tidak ada lagi bahan perbincangan. Mata Celine yang terpana menatap netra pekat milik Reksa, berangsur menurun dan terpaku pada bibir indah suaminya tersebut.
Perlahan tapi pasti, Celine memajukan wajahnya dan merampas bibir suaminya. Ia yang biasanya cenderung pasif, kini justru bergerak untuk memulainya terlebih dahulu. Dan inisiatif Celine tersebut tentu saja sangat membuat Reksa kegirangan.
“Aku senang kamu yang memulainya,” bisik Reksa tepat di samping telinga istrinya.
“Kamu enggak perlu membahasnya!” tegas Celine, sementara wajahnya sangat memerah di sela-sela aktivitas itu.
Reksa tertawa kecil. “Kamu cantik sekali kok, Cel!”
“Kamu labil, aku enggak percaya.”
“Kali ini serius!”
“....”
***
__ADS_1