
“Keira!” ucap Reksa memanggil nama bawahannya tersebut, yang sebenarnya masih sibuk mengerjakan tugas.
Keira menelan saliva. Tak punya tempat untuk menghindar, akhirnya ia tetap menatap Kenzo. Detik berikutnya, ia beranjak berdiri sembari berkata, “Iya, Pak.”
“Bisa ke ruangan saya sekarang?”
Lagi, Keira menelan ludahnya sendiri. Dan lagi, ia tidak punya pilihan lain selain menyanggupi permintaan Reksa. Sesaat setelah menganggukkan kepala, ia lantas berjalan untuk menuju ruangan Reksa dan secara otomatis meninggalkan meja kerjanya sendiri.
Semua tatapan para rekannya yang sebelumnya begitu fokus pada layar komputer, kini mendadak membuntutinya ke mana pun dirinya bergerak. Tentu saja Keira tahu bahwa merasa sangat penasaran, sekaligus mencemaskan jika ada masalah yang berkaitab dengan pekerjaan.
Keira sudah tidak dapat melihat Reksa, saat atasannya itu lebih dulu masuk ke dalam ruang kerja. Kini tinggallah Keira, yang berdiri tegak diselimuti aura penuh kebimbangan. Ia menghela napas sampai beberapa kali, tetapi jantungnya masih saja enggan untuk berdegup lebih beraturan. Ia hanya cemas dan takut jika maksud Reksa memanggilnya adalah karena pertemuannya dengan Celine tadi malam.
"Semoga tetap baik-baik saja. Dan maksud Tuan Reksa memanggilku karena alasan pekerjaan, bukan karena Celine,” gumam Keira mencoba meyakinkan dirinya.
Selang beberapa detik kemudian, ia lantas membuka pintu serta memasuki tempat itu. Reksa sudah terlihat duduk di satu single sofa, dengan posisi bak penguasa. Keira menelan saliva dibuatnya. Langkahnya sempat terhenti, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk benar-benar menghampiri sang tuan.
“Duduklah,” titah Reksa sembari menunjuk sofa yang kosong menggunakan dagunya yang lancip.
Keira mengangguk. “Ba-baik, Tuan,” jawabnya gugup.
__ADS_1
Tatapan mata Reksa yang tajam membuat Keira tidak ingin menunda lama dalam menuruti titah dari tuannya itu. Mungkin siapa pun yang berada di posisi Keira saat ini akan bersikap sama hanya demi terhindar dari permasalahan besar.
Reksa menghela napas setelah melihat Keira duduk sembari menundukkan kepala. Jujur saja, ia tidak menyukai suasana semacam ini. Ia tidak pernah merasa nyaman membahas urusan orang lain. Namun, kali ini keadaannya berbeda. Celine bukan lagi orang lain baginya, dan ia juga tetap harus mencari tahu apa yang terjadi sampai membuat istrinya itu benar-benar kacau.
“Keira, saya tidak ingin berbasa-basi tidak penting. Dan ketahuilah bahwa saya tidak pernah ingin mencampuri urusan orang lain. Tapi, kali ini saya mau tidak mau memang harus ikut andil. Katakan pada saya, apa yang terjadi antara kalian. Maksud saya kamu dan istri saya, Celine,” ucap Reksa langsung menyelidiki.
Lagi dan lagi, Keira harus menelan ludahnya sendiri. Apa yang ia harapkan ternyata tidak menjadi kenyataan. Saat ini pria berbahaya di hadapannya itu sudah tampak siap untuk menginterogasi dirinya. Lantas apa yang akan Keira lakukan? Tak mungkin ia menceritakan setiap detail permasalahan.
Apalagi masalah itu menyangkut diri Reksa, bahkan pria tersebut menjadi sumber pertama. Kalau Reksa sampai mendengarnya, maka posisi Keira di perusahaan itu akan terancam. Keira bisa dipecat atau mungkin dihukum seperti Katty.
“Kita jangan bertemu dulu untuk beberapa waktu, Ra ....” Ucapan Celine kembali terngiang di telinga Keira, membuatnya lantas merasa semakin bimbang. Berangsur ia sadari bahwa dirinya-lah penyebab semua kekacauan di hidup Celine, dan bukan Reksa yang tidak tahu apa-apa. Dan masih pantaskah Keira berbohong hanya demi mempertahankan posisinya di perusahaan Reksa? Dengan kata lain, ia akan melarikan diri dari masalah yang sudah terjadi?
“Keira? Apa kamu tuli? Atau bisu?” celetuk Reksa yang sudah jengah menunggu kegemingan Keira.
Keira mengerjapkan mata, kemudian menghela napasnya. “Baik, Tuan. Saya ... saya akan menceritakannya sampai sedetail mungkin. Saya adalah biang keladi di balik masalah ini. Masalah saya, Danu, dan Celine, bahkan mungkin termasuk Tuan Reksa,” jawabnya setelah itu.
Reksa mengernyitkan dahinya. “Saya?”
Keira menganggukkan kepala. Lantas, ia mempersiapkan dirinya untuk mengungkapkan segalanya. Untuk kali ini saja, ia ingin kembali membongkar segalanya. Bukan untuk mengulangi kesalahannya yang lalu, tetapi ia menganggap bahwa Reksa juga perlu tahu. Reksa adalah suami Celine, hanya pria itu yang saat ini bisa menghiburkan hati Celine yang dilanda kekecewaan begitu besar. Terlebih, Celine sudah mengaku bahwa Reksa tidak seburuk kelihatannya.
__ADS_1
Keira memulai dari kejadian di mana Celine memutuskan untuk menerima perjodohan itu. Bagaimana Celine harus menahan kekesalan di hari-hari sebelum pernikahan terjadi. Berlanjut pada minggu pertama pernikahan dan keberadaan Celine bersama Reksa di Rusia, yang lantas membuat Celine terus mengeluh kesal pada semua sikap buruk suaminya itu.
“Saya ... saya yang merasa dia tidak hidup bahagia, memutuskan untuk menghubungi Danu, Tuan. Danu adalah pria yang baik, Danu juga sangat menyukai Celine beberapa tahun yang lalu. Demi menyelamatkan hidup Celine dari pernikahan yang begitu buruk, saya membujuk Danu untuk meminta Celine bercerai saja dengan Anda, Tuan Reksa,” ucap Keira pada titik terpenting dalam permasalahan tersebut.
Reksa menggertakkan giginya. ”Lancang sekali kamu, Keira! Memangnya siapa dirimu bisa mengambil keputusan sebusuk itu, hah?!” ucapnya tegas.
Keira menitikkan air mata, lalu semakin menundukkan kepalanya. Tubuhnya gemetar hebat. Suara Reksa yang keras dan tegas tampaknya sukses membuat Keira langsung ketakutan. Namun, apa daya, Keira sudah tidak dapat menghindar. Ia harus bertanggung jawab dan membenahi kesalahan yang pernah ia buat.
Reksa mengumpat, kemudian berdiri dari duduknya. Sungguh, ia benar-benar marah. Sangat marah dan jengkel. Rasanya, ia ingin menampar wajah Keira yang begitu lancang. Namun, alasan Keira membuatnya harus berpikir ulang. Belum lagi perkataan Keira tentang dirinya memanglah sebuah kenyataan, bahwa ia memiliki sikap buruk pada Celine di awal-awal pernikahan.
Reksa menghela napas sembari memejamkan matanya dalam beberapa saat. Ketika ketenangan mulai menyusup ke dalam hatinya, Reksa lantas berkata, “Lanjutkan ceritamu!”
“Ba-baik, Tuan.”
Keira memberikan jawaban, yang tak lama kemudian diiringi lanjutan kejadian. Seperti yang sudah ia dengar dari Danu, bahwasanya Celine kena omel sang atasan, dan berangsur tahu jika selama ini Danu selalu membela Celine. Namun, alih-alih merasa senang dan berterima kasih, Celine justru marah besar. Celine menganggap Danu yang merupakan orang luar begitu lancang dalam membuat keputusan sendiri. Celine tidak butuh dibantu atau dikasihani. Lantas, sikap Keira dan Danu membuat Celine merasa rendah diri serta menyedihkan sekali.
Kini Reksa tahu bagaimana kejadiannya. Dan kemarahannya tidak hanya tertuju pada Keira saja, tetapi juga Danu serta bos perusahaan kecil itu. Rasanya ia ingin segera melabrak mereka yang sudah membuat hati Celine terluka. Namun, ia tidak mau membuat keputusan sendiri yang berpotensi membuat Celine semakin merasa sangat rendah diri.
***
__ADS_1