Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 76-Pengakuan


__ADS_3

“I-itu ... masalah yang sangat konyol, tapi dijamin bikin kamu jantungan, Cel,” ungkap Kenny yang masih saja bermain tarik ulur,


Karena Kenny cenderung terus mengulur waktu, hati Celine merasa jengah juga. Namun, di sisi lain keseriusan masalah yang dihadapi oleh Kenny tampaknya sangat tinggi. Pria itu jarang terlihat kesulitan seperti saat ini. Yang akhirnya, membuat Celine memutuskan untuk mengabaikan rasa penasarannya terlebih dahulu, daripada mencecar pertanyaan pada sang adik kesayangan.


Entah mengapa merealisasikan rencana untuk mengatakan perasaan sesungguhnya terhadap Keira, sangat sulit bagi Kenny. Ya, merencanakan memang sering mudah dikatakan, tetapi untuk menjalani praktiknya kerap sulit sekali. Selain merasa malu, Kenny juga takut jika respons Celine terhadap ceritanya begitu buruk. Celine bisa memberikan tanggapan antara meremehkan, atau bahkan memberikan pertentangan. Entah mana yang lebih berpotensi terjadi pada diri kakaknya setelah mengetahui segala hal.


“Ken,” ucap Celine lalu menghela napas dan menatap lautan lepas. “Kalau memang sulit, enggak perlu diceritakan kok. Kamu boleh menyimpannya, bahkan memang sudah hakmu untuk menangani masalah kamu sendiri.”


Kenny menundukkan kepala, sembari menelan saliva. Agak getir rasanya setelah mendengar ucapan Celine yang seolah memberikan ungkapan bahwa dirinya sangat penakut. “Kamu enggak penasaran, Cel?” tanyanya setelah itu, mencoba memastikan perasaan sang kakak saat ini.


“Penasaran sih ya penasaran, tapi, aku selalu pandai mengabaikan perasaan itu. Entah. Aku paling enggak suka ikut campur dalam masalah orang lain, Ken, mungkin karena selama ini diriku sudah sangat berantakan, jadi kupikir lebih baik memikirkan diri sendiri, daripada kepo sama urusan orang. Dan sepertinya, prinsipku tersebut berlaku buat kamu juga.”


“Diri kamu enggak buruk, Kakak!” sanggah Kenny cepat. “Kamu hanya bodoh dan ceroboh, tapi hati kamu baik. Makanya banyak orang yang suka berteman sama kamu. Bahkan, suami konglomeratmu saja tampaknya sudah jatuh cinta sama kamu tuh, padahal kalian berdua hanya dijodohkan. Belum lagi mengenai Danu yang tergila-gila sama kamu.”


Dahi Celine mengernyit. “Danu? Tahu dari mana kamu? Apa aku pernah menceritakan soal itu?”


“Enggak.” Kenny mengusap tengkuknya sampai beberapa kali. “Mm, aku sempat bertemu dengannya. Nggak sengaja dan enggak lama setelah kamu menangis. Kupikir dia adalah rekan kerja terdekatmu, jadi aku cari informasi darinya, dan karena aku cecar, akhirnya dia kasih penjelasan.”


“Eum ... memalukan ya, Ken? Pasti Danu menceritakan semuanya, termasuk sikap atasanku, mungkin?”


“Enggaklah, justru aku yang memalukan. Gara-gara demi membantu sekolahku, kamu sampai bekerja di tempat yang buruk.” Kenny menundukkan kepala. “Salahku, semuanya memang salahku. Egoku terlalu besar, begitu ingin kuliah, padahal aku hanya berandalan yang enggak jauh beda bodohnya sama kamu, Cel. Gara-gara aku juga pilih kampus yang mahal. Semua kesulitan kamu, Ayah, dan Ibu adalah gara-gara aku. Sampai, pernikahan dadakan kamu pun mungkin terjadi karena aku.”


“Ais!” Celine yang tidak senang, lantas memukul keras bahu Kenny. “Aku sebal karena di sela-sela penyesalanmu, ada perkataan yang bikin aku kelihatan bodoh lagi, Ken! Dasar! Tapi, ... enggak usah merasa kayak gitu kali, Ken! Aku sendiri enggak kuliah karena memang bodoh, aku pusing dan nggak bisa belajar terlalu banyak. Jadi, selepas lulus SMA memang sudah mikir mau langsung kerja. Jadi, semua bukan salah kamu, tahu!”

__ADS_1


Oh, jadi seperti itulah perasaan Kenny. Banyak kandungan merasa bersalah dan yang pasti mengira dirinya hanyalah sebatas beban keluarga. Namun, sungguh, Celine tidak pernah keberatan. Sebagian besar uang yang ia keluarkan untuk pendidikan Kenny memang sudah ia relakan, bahkan masuk dalam anggaran setiap bulan.


Malang sekali adikku, batin Celine yang berangsur merasa iba. Pada kenyataannya, sebuah bantuan kadang kala masih bikin tidak nyaman. Bahkan, Celine sendiri pernah merasa terhina saat Danu ketahuan memberikan banyak bantuan untuknya. Entah. Namun, sepertinya manusia memanglah makhluk paling membingungkan.


“By the way, Keira mana, Ken?” tanya Celine tiba-tiba, membuat Kenny sampai terkesiap.


“Keira? Mm, nggak tahu,” jawab Kenny singkat.


Dahi Celine mengernyit. “Kok enggak tahu? Aku kan minta kamu buat jaga dia, Kenny!”


“Menjaga dia? Ah. Bikin aku gila tahu, Cel.”


“Hah?! Kok bisa? Keira kan bukan orang yang suka bikin masalah, Ken! Dia itu sempurna! Pokoknya sempurna! Mana mungkin dia bisa bikin kamu gila! Kalau aku sih mungkin banget!”


Kenny menghela napas. Sementara kedua telapak tangannya, sibuk mengusap-usap satu sama lain. Ia merasa tidak nyaman, jujur saja. Namun, usaha tarik ulurnya akhirnya tetap sampai pada pembahasan soal Keira.


***


Keira yang baru keluar dari kamarnya, tidak bertemu dengan Kenny pagi ini. Ia pikir pemuda itu masih tidur, atau enggan untuk keluar kamar. Ia sudah mencoba menghubungi ponsel Kenny, tetapi hasilnya nihil, karena pesannya tidak balas dan teleponnya tidak diangkat.


Akhirnya setelah bingung harus melakukan apa, Keira memutuskan untuk ke pantai saja. Pantai yang tak jauh dari hotel tempat penginapan Celine dan Reksa. Ia pikir ia bisa bertemu dengan Celine hari ini, tetapi demi menghormati kebersamaan Celine dan Reksa, ia memutuskan untuk menghubungi Celine agak siangan saja.


Namun, kenyataan justru jauh dari rencana yang sudah Keira pikirkan. Sesampainya, di pantai ia melihat dua sosok tak asing yang tengah duduk bersama. Awalnya, ia hendak menghampiri mereka, melainkan Celine dan Kenny. Sayangnya, langkah Keira harus terhenti saat ....

__ADS_1


“Be-begini ... aku, a-aku suka sama Keira, Cel. Lebih tepatnya ... aku jatuh cinta sama dia.” Kenny tampak menelan saliva, saat Keira mendapati jakun di leher pria itu bergerak naik turun.


“Hah?! Apa?! Kamu serius, Ken?!” Sahutan dari Celine pun dapat Keira dengar. “Se-sejak kapan?”


“Aku enggak tahu tepatnya sejak kapan, tapi yang pasti sejak kamu sering bawa dia ke rumah kita. Mungkin sudah bertahun-tahun, tapi belakangan ini perasaanku semakin nggak karuan. Dan menjaganya, menemaninya, membuatku benar-benar gila, Cel. Aku tahu ini enggak mungkin, aku tahu aku lebih muda, dan hanya pantas jadi seorang adik. Ini sebabnya aku pengin ketemu kamu pagi ini, Cel, aku bisa jadi enggak waras kalau menahan semua ini lebih lama lagi.”


Celine terlihat menghela napas, lalu meraih jemari sang adik. “Enggak ada yang salah kok sama perasaan kamu, Kenny. Lagian, adik kecilku ini kan sudah dewasa. Cuma ya, aku agak kaget saja. Enggak menyangka begitu. Lagian, selama bertahun-tahun lho! Pandai banget kamu menyimpan semuanya sendiri? Kalau tahu begini, aku enggak bakalan minta kamu buat temani Keira.”


“Itu salahku, karena aku memang punya niat buat sekali-sekali main bareng dia, Cel, jadi aku terima tawaran dari kamu. Setelah itu, aku pikir aku bisa menghapus perasaanku dan merasa lega. Tapi, nyatanya sekeras apa pun aku berusaha, perasaanku justru enggak bisa diajak bekerja sama. Maafkan aku, Cel, aku enggak berniat bikin hubungan kalian jadi canggung.”


“Nggak kok!” tukas Celine. “Aku ya aku, kamu pun begitu. Bagaimanapun perasaanmu sama Keira, hubungan persahabatanku dengan Keira enggak bakalan rusak. Bahkan, jika suatu saat kalian pacaran terus, misal nih ya kalian putus, persahabatan kami tetap akan terjalin dengan baik. Um ... tapi, jangan sekarang ya, Ken, jangan lakukan apa pun dulu, jangan nyatakan perasaan itu dulu. Keira pun sedang dalam kesulitan saat ini. Kalau kamu nekat, kamu bakalan terluka, bahkan Keira. Aku enggak bermaksud melarang kamu buat jujur padanya, tapi, sungguh jangan dulu.”


“Tenang saja, Kakak. Aku cuma bilang ini sama kamu kok, aku jamin enggak melakukan apa pun lagi setelah ini. Setelah bercerita mungkin hatiku akan lebih plong. Besok pun aku dan Keira sudah balik ke Jakarta, yang artinya aku enggak bakalan terlalu sering ketemu sama dia lagi. Tolong ... pastikan dia selalu bahagia, Cel, itu doang yang aku mau, setelah belakangan ini dia tampak enggak baik-baik saja.”


Celine tampak tersenyum. Sementara salah satu jemarinya sibuk mengusap rambut Kenny yang agak gondrong. ”Duh, duh, adikku sepertinya benar-benar suka sama dia ya. Wanita idamanmu keren banget! Dan rasanya menyenangkan kalau kamu mau jujur sama aku, Ken. Kamu pasti selalu kesulitan sendiri selama ini. Hmm, tapi, aku yakin kamu pasti bisa mengatasi segalanya, di waktu yang enggak tepat ini.”


Keira menghela napas setelah mendengar beberapa percakapan antara Celine dan Kenny. Lalu, ia memutuskan untuk pergi dan membatalkan rencananya untuk menghampiri pasangan kakak beradik tersebut. Ia tidak ingin merusak kebersamaan mereka, dan menyebabkan kecanggungan. Apalagi setelah Kenny mengatakan dengan jelas mengenai sebuah perasaan spesial yang ditujukan padanya.


Sepertinya level kepekaan Keira memang sudah melebihi ambang batas, sampai-sampai dugaannya tentang Kenny yang menyukainya benar-benar terjadi. Padahal, analisa konyol itu hanya ia dapatkan dari sikap aneh Kenny yang terbilang sangat sepele ketika pria itu mampir di apartemennya bersama Celine.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang, coba?” gumam Keira sesaat setelah mendudukkan diri di tempat yang jauh dari keberadaan Celine dan Kenny.


Lalu, tiba-tiba saja ponsel Keira berdering kencang. Di mana setelah itu, mata Keira mendapati nama Danurdara sedang menghubunginya lagi. Ah, pria itu tampaknya lebih keras kepala dari dugaannya.

__ADS_1


“Ck!”


***


__ADS_2