Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 31-Celine Bersama Danu


__ADS_3

“Ra! Keira! Tunggu dulu, tungguuu!” seru Katty yang berusaha mengejar langkah kaki Keira, sementara rekannya tersebut sudah hampir berhasil keluar dari ruang kerja.


Langkah kaki Keira seketika terhenti. Ia menghela napas terlebih dahulu, setelah akhirnya memutuskan untuk meladeni Katty yang memang sangat menyebalkan.


Keira melipat kedua tangannya, sementara matanya tengah menatap Katty dengan tatapan meremehkan. “Kenapa?”


Katty menelan saliva. Dapat dilihat dari wajahnya bahwa saat ini ia tengah merasa gelisah dan cukup bimbang. Ada sesuatu yang membuatnya mau tidak mau harus meminta bantuan secara langsung pada Keira. Tidak peduli seberapa besar ia harus mempermalukan diri sendiri demi bisa terlepas dari siksaan kejam seorang Reksa Wirya Pandega, sebab sampai saat ini ia masih dijadikan sasaran empuk oleh atasannya tersebut. Sementara mungkin hanya Keira yang dapat membantunya.


Suasana hati Keira yang sudah buruk, karena belum sempat bertemu dengan Celine yang selama satu bulan lebih berada Rusia, rasanya semakin memburuk saat Katty tidak segera mengatakan apa pun. Awalnya, ia hendak keluar dari ruang kerja dengan segera dan menikmati makan siang di kafe favorit sembari menenangkan hati, tetapi ada saja yang menghalanginya.


“Kalau enggak penting, aku bakal pergi sekarang, Kat!” ucap Keira memberikan peringatan.


“Jangan! Please, Ra. Sebentar doang kok!” sergah Katty sembari meraih sebelah lengan Keira.


“Ya sudah, cepat katakan, dan enggak usah pegang-pegang!”


“I-iya.” Katty berangsur melepas jemarinya dari lengan Keira, kemudian menunduk lemah bak anak kucing yang takut pada kegarangan singa. “Keira, kamu bisa bantu aku, ‘kan?”


“Bantu apa?”


“Ra, Soal Tuan Reksa. Kamu bisa, ‘kan, bujuk dia untuk memaafkan aku?” Mata Katty berair, hendak menangis. Sementara hatinya sangat menaruh harapan besar pada Keira.


Keira menghela napas. Sebenarnya, ia enggan untuk terlibat lagi di dalam masalah itu. Namun, kalau diingat-ingat, Reksa memang sudah keterlaluan. Pertama, Reksa meminta Katty membeli beberapa kopi dengan harga yang sangat mahal. Di hari kedua, Katty harus membersihkan semua ruang meeting, tanpa perlu ikut andil dalam rapat penting tersebut. Dan ketiga kalinya tepat di hari ini, ide Katty benar-benar ditolak, bahkan Reksa tak segan untuk mempermalukan Katty di hadapan para staf.


Benci, tetapi iba. Itulah perasaan Keira. Andaikan ada Celine, mungkin tanpa banyak berpikir, Celine akan langsung melabrak Reksa. Namun, apa daya, Keira tidak seperti Celine yang begitu berani dan kerap memutuskan sesuatu tanpa banyak pertimbangan. Terlebih lagi, Keira hanyalah seorang karyawan yang masih mengais rezeki di bawah kepemimpinan seorang Reksa Wirya Pandega.

__ADS_1


“Sorry, Kat. Aku enggak bisa bantu kamu. Lagian, yang aku ucapkan pada saat itu enggak benar. Aku sama sekali bukan karyawan kesayangan Tuan Reksa, bahkan aku juga kena omel dan dipermalukan di hadapan karyawan-karyawan yang baru datang,” jawab Keira.


“Ra, tapi, aku harus bagaimana dong? Aku sudah enggak tahan, sementara di sisi lain, aku enggak bisa keluar begitu saja. Tuan Reksa kayaknya marah sama aku gara-gara aku menghina nama istrinya dan kamu, ‘kan, temannya istri dia. Aku ingin minta tolong sama dia, Ra.”


Keira menggeleng-geleng. “Enggak, Katty. Aku enggak yakin, istrinya bisa mengatasi. Kamu tahu sendiri seberapa besar egois, angkuh, dan kejamnya Tuan Reksa. Sudahlah, Kat, bersabar saja. Nanti kalau sudah bosan, pasti dia bakalan berhenti.”


“Ra! Enggak bisa. Kalau enggak segera dihentikan, aku rasa dia tetap akan menyiksaku terus. Ka-kalau begitu, boleh nggak aku minta nomor ponsel istrinya? Keira, please ....” Katty memohon sembari merundukkan badannya di hadapan Keira.


“Enggak bisa, Kat. Aku sendiri belum bertemu dengan Celine, aku belum meminta izin buat kasih nomor dia ke orang lain,” jawab Keira, lalu menghela napasnya lagi. “Sabar saja pokoknya. Aku saja bisa lepas, kamu juga bakalan bisa dilepas kok. Yang penting, kalau punya mulut dijaga. Jangan asal-asalan kalau ngomong.”


Keira berjalan menjauh sesaat setelah memutar badannya. Sementara, Katty masih terus memanggil namanya. Karena khawatir Katty akan mengejarnya lagi, ia mempercepat laju sepasang kakinya nyaris berlari. Keira dapat bernapas lebih lega, saat ia telah berhasil memasuki salah satu elevator untuk menuju lantai dasar.


Suara dering ponsel terdengar dan lantas membuat Keira terkejut sendiri. Detik berikutnya, ia meraih benda pintar tersebut dari dalam saku blazernya. Nama Celine terpampang di layar benda itu, yang sukses memancing sebuah senyum simpul di bibir Keira.


“Halo, Cel?” sapa Keira sesaat setelah menerima panggilan masuk dari sahabatnya tersebut.


Keira tertawa kecil. “Kenapa enggak masuk saja? Ada ruang tunggu kok. Lagian, kamu kan istrinya yang punya perusahaan.”


“Enggaklah, Ra. Males, takut jadi pusat perhatian hahaha.” Celine bergurau. “Eh nggak ding, aku takut salah masuk, saking kampungannya hahaha.”


“Oke, Cel, tunggu aku ya. Aku sebentar lagi keluar, by the way kamu sama siapa, Cel?”


“Sama Danu. Di mobil dia sekarang, habis pengadaan barang barusan.”


“Waaah!”

__ADS_1


“Jangan ngomong-ngomong sama Reksa ya, dia bakalan ngomel kalau tahu aku di sini sama Danu, Ra.”


“Tenang saja, Cel. Lagian buat apa juga.”


Klik! Keira mematikan panggilan tersebut tepat saat pintu elevator yang ia tumpangi telah terbuka. Awalnya ia hendak mencari keberadaan mobilnya, tetapi karena mendengar Danu membawa kendaraan pribadi, Keira memutuskan untuk ikut mereka saja. Biar seru, pikirnya.


“Yes! Ketemu Celine! Akhirnya setelah satu bulan lebih enggak melihat wajah bocah tengil itu, sekarang dia malah datang sama Danu buat menjemput aku,” ucap Keira kegirangan sendiri. Dan semua perasaan buruknya pun sudah sirna.


Tanpa Keira ketahui, ada Reksa yang menghentikan perbicangan pada saat Keira berkata demikian. Pria itu saat ini sedang meladeni kedatangan Ailen, yang sengaja menghentikannya ketika hendak menjemput Celine untuk makan siang. Lalu, sekarang? Reksa justru mendengar kabar bahwa istrinya ada di sekitar kantornya. Fatalnya, alih-alih menghampirinya, Celine justru terdengar sedang bersama Danurdara.


“Celine? Danu?” gumam Reksa, kemudian menggertakkan gigi.


Ailen yang sempat banyak bicara langsung terdiam, ketika Reksa alias ... pria yang ia sukai menyebut nama sang istri. “Tu-tuan Reksa? Ada masalah?” selidiknya berharap agar Reksa kembali ke topik pembahasan.


“Celine? Danu?” Namun, alih-alih menjawab, Reksa justru mengulangi ucapan sebelumnya.


“Tuan Reksa?” Ailen tidak menyerah untuk mencuri perhatian Reksa. “Soal kerja sama kita—“


“Maaf, Nona, saya ada urusan. Bahas saja dengan sekretaris saya.”


Cepat, Reksa langsung mengambil langkah. Yang sekian detik kemudian, ia memutuskan untuk berlari saja tanpa sedikit pun peduli pada Ailen atau beberapa karyawan yang pura-pura ramah padanya. Reksa berusaha mengejar Keira demi menyelidiki apakah benar Celine bersama dengan Danu pada saat ini.


Reksa mengumpat dengan suara sangat keras, hingga beberapa karyawan terkejut, bahkan beberapa petugas keamanan sampai merinding. Tentu saja bukan tanpa sebab. Pasalnya, ia mendapati Keira memasuki sebuah mobil yang dikemudikan oleh seorang pria tak asing. Danu! Benar! Pria itu adalah Danu.


“Celine!” Reksa mengepalkan kedua jemarinya dengan sangat erat, sementara giginya segera menggertak ketika ucapannya selesai.

__ADS_1


Tanpa banyak pikir, Reksa menghentikan salah satu taksi untuk mengejar ketiga orang tersebut, yang salah satu di antara mereka adalah sang istri.


***


__ADS_2