
Celine merasa kelelahan setelah mengeluarkan banyak kalimat berbeda-beda. Pertama, tentu saja sumpah serapah yang ia tujukan untuk Ailen Deolinda Davira. Kedua, penyesalannya karena nyaris membuat Reksa merasa malu atas keberadaannya yang mengamuk secara tiba-tiba. Namun, untuk ketiga kalinya, lagi-lagi ia mengatakan kalimat-kalimat menohok untuk sang selebgram yang sudah berani menyentuh suaminya.
Keira yang sudah sangat mengenal Celine, baik luar maupun dalam, bahkan sampai tahu ukuran baju dan kebiasan terburuk Celine pun justru merasa kewalahan. Sudah sekian kali ia meminta Celine agar lebih tenang dan lantas diam, tetapi ucapannya tidak digubris sama sekali. Detik ini, Celine tengah dikuasai setan pecemburu yang baru bangun dari meditasi setelah sekian lama.
“Aku pokoknya enggak bakalan diam saja, Ra! Aku mau dia dipecat! Si Alien itu!” ucap Celine dengan ide gila yang tebersit di pikirannya. “Bisa lebih parah, kalau dia masih memiliki koneksi dengan Reksa, Ra!”
Keira menghela napas dan dalam sesaat, ia memejamkan matanya. “Enggak semudah itu kali, Celine! Semua hal harus ada prosedurnya. Dan Ailen enggak bikin masalah besar yang bisa merugikan kok. Dia juga bersih dari skandal. Jadi, mana bisa kami memecatnya begitu saja?”
“Harus bisa, Keira!” sahut Celine cepat, kemudian bergegas untuk menghampiri Keira yang tampak tiduran di atas ranjang, sementara dirinya sibuk berjalan ke sana kemari sambil berceracau sejak tadi. “Aku yang dirugikan, Keira! Kamu pernah bilang kalau aku ratunya, bukan? Masa iya ratu dibikin kayak gini sama salah satu dayang? No, no, no! Aku enggak mau, kalau Reksa nggak buru-buru pecat dia!”
“Hmm ... Celine? Sudah gila ya? Enggak begitu konsepnya. Masalah kalian kan masuk dalam ranah pribadi yang enggak ada kaitannya sama pekerjaan. Jadi, bakalan sulit. Belum lagi soal Ailen yang nekatan, dia bisa saja menyebar rumor tentang suami kamu dan perusahaan Golden Rose, jika dia dipecat tanpa alasan yang jelas. Lagian, ya, Cel, kenapa kamu enggak percayaan sih sama Reksa? Sudah aku katakan juga, bukan? Kalau dia itu killer banget, sudah macam monster yang bikin orang ketakutan. Jadi, aku jamin Reksa enggak bakalan menyeleweng!”
“Huh! Tetap saja aku enggak tenang, Keira Santika! Masa baru pertama kali merasakan cinta, aku justru dibikin enggak enak kayak gini? Nggak adil dong?!”
Keira bergeleng-geleng kepala. “Dasar bucin! Cepat-cepat nyatakan saja cintamu sama Reksa deh, Cel, terus bikin komitmen baru buat pernikahan kalian, agar lebih kuat. Aku yakin setelah bikin komitmen baru sekaligus memastikan perasaan Reksa buat kamu, hati kamu jadi lebih tenang dan bisa lebih percaya. Cemburu berlebihanmu sekarang ini, aku rasa karena kamu belum dapat kepastian hati Reksa. Itu saja sih.”
__ADS_1
“Iyakah? Tapi, ... haruskah aku benar-benar mengatakannya?”
“Harus! Biar enggak sembrono lagi kayak di pantai tadi. Gila apa?! Tiba-tiba nyelonong terus jambak rambut Ailen. Tahu nggak sih?! Aku bingung menutupi wajah kita, agar enggak bikin masalah besar. Aku berharap enggak ada yang mengenali kita, Cel! Terutama aku, mereka kan rekan-rekanku, mungkin kalau wajahmu mereka belum terlalu paham Kalau mereka mengenali aku, terus banyak tanya bagaimana, coba?”
“Ya, ma-maaf.”
Celine melemah dan lantas mengambil sikap duduk di tepian ranjang, di mana Keira masih asyik rebahan. Ia menghela napas sembari membayangkan aksinya di pantai tadi. Penyesalan yang sempat singgah sebentar, kini singgah lagi dan lebih pekat daripada sebelumnya. Ya, akhirnya Celine tetap menyadari bahwa dirinya sudah benar-benar sembrono. Ia nyaris membuat semua orang merasa malu karena sikapnya, atau bahkan mungkin mereka memang sudah sangat malu.
Belum lagi soal Reksa yang bisa saja mengenali sosok Celine. Padahal belum lama ini, Celine menyadari perasaan cintanya pada Reksa. Namun, alih-alih mengubah sikap menjadi lebih manis, ia justru semakin parah dan sangat memalukan. Oh, andai saja waktu dapat diputar, sumpah! Celine tidak akan menghampiri Ailen dan mejambak rambut selebgram tersebut. Sayangnya, ia yang dipenuhi api cemburu dan belum mendapatkan kepastian soal perasaan cinta dari suaminya sudah benar-benar melakukan aksi gila yang berpotensi membuat nama orang-orang terdekatnya menjadi buruk!
“Hmm ... kenapa cinta itu, ternyata serumit ini sih, Ra? Aku sampai enggak bisa mengendalikan diri sendiri. Aku memang bodoh dan kerap bikin malu sih, tapi tadi pagi aku kayak orang kehilangan akal. Bagaimana kalau Reksa dan orang-orang itu mengenali aku, Ra? Uh ... rasanya pengin nangis,” keluh Celine sembari menekuk badannya dan menenggelamkan wajahnya ke dalam sebuah bantal yang sudah berada di pangkuannya.
“Kamu sudah benar-benar jat—” Keira membelalakkan matanya. “Hah?!” pekiknya, kemudian cepat-cepat turun dari ranjang. Sementara salah satu tangannya, sibuk menoel pinggang Celine. “Cel, Cel, su-suami ka-kamu.”
“Apaan sih, Ra! Geli tahu!” tandas Celine yang malah tidak percaya.
__ADS_1
Pada kenyataannya, sang pelaku pembuka pintu bukan Kenny saja, melainkan Reksa yang sudah tiba di hotel tempat mereka berada, beberapa saat setelah mendapatkan alamat dari sang adik ipar.
“Ra, biarkan saja. Kita keluar dulu,” kata Kenny lirih, tetapi gerak bibirnya memperjelas perkataannya, sehingga langsung dipahami oleh Keira.
Keira akhirnya mengangguk. Ia lantas bangkit dan memberikan tundukan kepala penuh rasa sopan untuk Reksa. Tak berselang lama, ia memutuskan untuk keluar bersama Kenny, tak lupa ia membawa ponselnya sendiri. Sementara, Celine masih saja tertunduk tanpa mau mengangkat kepala. Ia memang sedang menyesali perbuatannya sendiri. Belum lagi soal kekhawatirannya mengenai kedekatan Reksa dengan Ailen sebagai rekan kerja, membuatnya harus menahan segala kegelisahan yang masih terus melanda.
“Oo! Ini toh si Anak Muda yang enggak berfaedah?” ucap Reksa sarkastik.
Mata Celine melebar dalam sikap tubuhnya yang belum berubah. Suara itu?! Suara berat milik pria yang belum lama ini ia cintai. Apakah saking cintanya, ia sampai terbayang-bayang suara Reksa? Apakah cinta juga dapat meningkatkan daya halusinasi? Oh, Celine sudah semakin gila jika memang benar seperti itu.
“Celine!” ucap Reksa lebih keras, saat Celine masih saja enggan menunjukkan wajah. “Celine! Beginikah caramu menyambut kedatangan suamimu sendiri?”
Tidak! Ini bukan halu, bukan juga mimpi, pikir Celine. Menyadari bahwa sosok Reksa adalah nyata, respons jantung, tubuh, hingga hatinya semakin tidak karuan. Ada debar kencang, ada gemetar, ketakutan, hingga salah tingkah. Ia takut jika Reksa datang setelah berhasil menyelidikinya sebagai pelaku penjambak rambut Ailen.
“Cel?” Reksa memajukan langkah kaki.
__ADS_1
Detik itu juga, Celine yang belum mengubah sikap dan sangat ketakutan, memutuskan untuk pura-pura tidur. Ia bersandiwara dengan mengeluarkan suara dengkurnya, hingga membuat Reksa mengernyitkan dahi.
***