
Sekitar dua jam lamanya, Reksa melakukan pertemuan penting dengan salah satu relasinya. Yang tentu saja, membuatnya harus menahan diri untuk tidak menghubungi Kenny terlebih dahulu. Selain memang sangat penasaran tentang keberadaan Kenny, Reksa juga berangsur ingin tahu siapa dua sosok wanita berpenampilan nyentrik dan salah satu di antara mereka menyerang Ailen.
Reksa mengira bahwa salah satu di antara dua wanita aneh tersebut adalah Celine. Ya, istrinya sendiri. Suara teriakan wanita itu memang begitu khas dan tak asing. Hanya saja, Reksa belum bisa merasa yakin, sebelum mendengar penjelasan dari Kenny. Selain itu, Reksa hanya tidak ingin terlalu berharap. Ia khawatir jika wanita itu bukan Celine, meskipun 80% bahwa dugaannya benar.
“Ali!” ucap Reksa untuk memanggil sekretaris pribadinya yang berdiri di belakangnya sejak tadi, sementara dirinya dan pria itu masih berada di dalam ruangan VIP sebuah restoran.
Ali yang sudah memajukan langkah, lantas menjawab, ”Ya, Tuan.”
”Aku ingin pergi dulu siang ini. Tapi, kamu enggak perlu ikut. Urus saja beberapa agenda lain, dan hubungi aku jika kita sudah harus pergi.”
“Baik, Tuan.” Ali lantas memeriksa ipadnya untuk memastikan jadwal Reksa. “Untuk jam sekarang hingga sore nanti, Tuan Reksa juga bebas agenda. Selanjutnya pukul tujuh malam, Anda harus datang ke pesta yang digelar oleh salah satu pengusaha. Itupun jika Anda masih tetap tinggal dan tidak memutuskan untuk pulang.”
”Aku tetap tinggal. Jadi, aku mau pergi ke tempat lain sekarang, sekitar sini. Kamu bisa kembali ke hotel dan beristirahat.”
“Baik, Tuan.”
Segera setelah itu, Reksa beranjak. Ia lantas keluar dari ruangan tersebut, disusul oleh Ali. Kedua pria itu berjalan untuk menuju pintu keluar, di mana setelahnya, mereka berpisah. Ali hendak kembali ke hotel, sementara Reksa masih bertahan di teras restoran itu sembari memainkan ponselnya.
Reksa harus menghubungi Kenny. Ia perlu memastikan sesuatu, terutama tentang Celine yang menurutnya adalah pelaku penjambak rambut milik Ailen. Namun, ... sebelum merealisasikan rencananya tersebut, sang ibu justru meneleponnya terlebih dahulu. Reksa menghela napas, cukup
kecewa. Kalau bukan ibunya sendiri, mungkin ia sudah mematikan panggilan masuk tersebut dan segera melanjutkan rencananya untuk menghubungi adik iparnya.
“Halo, Ibu,” sapa Reksa dengan suara selembut mungkin, sembari menepis kekesalannya.
“Halo, Sayang. Lagi di mana? Masih banyak kerjaan?” tanya Sanny dari kejauhan.
“Enggak kok, Bu. Sudah beres buat hari ini, tapi nanti malam masih ada pertemuan.”
__ADS_1
”Oh begitu. Ingat ya, jangan minum-minum lagi. Ibu paling malas kalau kamu ada pertemuan sebenarnya. Pasti nggak jauh-jauh dari minuman keras.”
“Enggaklah, Bu. Sudah lama sembuh kok, terakhir di Moskow,” ungkap Reksa. “Pas aku masih belum bisa menerima kehadiran Celine.”
“Ooouw. Jadi, sekarang kamu sudah menerimanya dan sembuh dari kebiasaan minum-minum?“
“Ah ....” Reksa tersipu karena ucapannya sendiri dan pertanyaan dari ibunya. Ia mengusap tengkuknya dan meringis. Namun, tak berselang lama, Reksa mendapatkan keberanian untuk membuat keputusan.
Memang belum ada yang tahu perihal perasaannya, bahkan Celine yang memiliki otak super lemot tersebut pasti juga masih belum tahu. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan segalanya. Dan Sanny, ... ya, ibunya itu pantas untuk menjadi pendengar pertama atas pengakuannya.
Reksa segera mengambil napas panjang, lalu menatap lurus ke depan. Ada sebuah senyum yang menarik kedua sudut bibir indahnya tersebut. Ia yakin, sangat yakin untuk keputusan ini. Jadi, ....
“Ibu ... benar, aku sudah menerima keberadaan Celine. Bahkan, sudah lebih dari itu. Aku mencintainya, Ibu. Ya, wanita yang memiliki banyak karakter aneh itu sudah benar-benar memikat hatiku,” ungkap Reksa. “Dan aku ... aku akan melamarnya lagi, memintanya menjadi istri sebenar-benarnya untukku.”
“Waaa! Bagus! Ibu sangat senang, Reksa! Sangat!” sahut Sanny terdengar histeris.
Ibu mana yang tidak bahagia saat putra semata wayang mereka akhirnya menemukan cinta. Terlebih, untuk kasus Reksa yang jarang menjalin hubungan kasih, setelah mengalami sakit hati terbesar oleh seorang gadis licik. Kini, Celine sebagai sosok yang Sanny dan Wirya pilih akhirnya berhasil menaklukkan kekejaman Reksa selama ini, bahkan Celine pun berhasil menghapur rumor tak benar mengenai Reksa yang tidak menyukai lawan jenis, dan memilih membujang hingga usia 35 tahun.
Dari kejauhan sana, Sanny tersenyum sembari menahan kegemasannya. “Ya, selain itu, dia enggak cuma mengincar warisanmu, Reksa! Makanya Ibu dan Ayah menyukainya. Dia cantik, soal tata krama, kamu kan bisa mengajarinya.”
“Tidak,” tandas Reksa. “Enggak perlu lagi, Ibu. Biarkan dia apa adanya. Karena dia sudah cantik dan baik, kalau ditambah sopan dan pintar, pasti banyak cowok yang mengincar.”
“Astaga ...! Anak Ibu sudah mem-bucin rupanya. Mm! Ibu dengar, Celine sedang ada di Bali sekarang, kalian bersama, bukan?”
“Celine di Bali?”
“Iya. Sudah sejak tiga hari yang lalu, kalau enggak salah, Sayang. Sama sahabat dan adiknya.”
__ADS_1
Reksa membulatkan matanya. “Sudah kuduga,” ucapnya. “Ibu, Reksa pamit dulu!”
”Eh, Celine ada sama ka—”
Klik! Reksa mematikan panggilan tersebut, sehingga ucapan ibunya terpotong begitu saja. Detik berikutnya, ia lantas mencari nomor ponsel milik sang istri. Namun, ... sebelum menekan tombol panggil, benak Reksa justru terganggu oleh sesuatu hal.
Jangan! Pikir Reksa. Jika ia menghubungi Celine, bukannya Kenny, mungkin istrinya itu akan tetap berbohong. Apalagi setelah membuat keributan di pantai tadi. Demi mencari aman, Celine bisa saja enggan untuk mengaku bahwa dirinya sedang berada di Bali. Ya, Reksa seharusnya kembali ke rencana awalnya untuk terhubung dengan Kenny.
“Baiklah, aku yang akan menghukummu, Celine,” gumam Reksa sembari tersenyum lebar, sementara jantungnya lebih berdebar-debar.
Reksa merasa sangat senang saat Celine datang, tetapi sebelum melampiaskan kebahagiaannya itu, ia harus mengerjai istrinya terlebih dahulu. Beruntungnya, saat di Pantai beberapa saat lalu, instingnya begitu tajam. Alih-alih setuju untuk menuntut pihak Kenny seperti yang Ailen inginkan, Reksa memutuskan untuk bertanggung jawab. Tampaknya, hatinya sudah sangat menyadari bahwa istrinya memang berada di sana.
“Halo, Kenny. Katakan padaku kamu di mana. Aku sudah tahu semuanya,” ucap Reksa pada Kenny sesaat setelah teleponnya diterima oleh adik iparnya tersebut.
”Bang Reksa menyadari itu kami, beneran?” sahut Kenny mempertanyakan.
Reksa tetap mengangguk meskipun Kenny tidak bisa menatap tindakannya tersebut. “Ya. Sangat tahu. Tampaknya aku sudah sedekat itu dengan kalian. Apalagi kamu yang memiliki gigi unik serta lubang pipi, khas banget kalau dua tanda itu adalah milikmu, Ken! Sudahlah! Segera katakan kalian ada di mana?”
”Baik. Tapi, aku harap Abang enggak terlalu keras sama Celine.”
Dahi Reksa mengernyit. “Jadi, memang benar cewek yang mengamuk tadi si Celine?”
“Benar. Dia cemburu buta. Entah, aku pun baru tahu kebodohannya itu. Tapi, meski begitu, dia gelisah dan galau saat sudah di hotel ini. Dia takut orang-orang Abang mengenalinya, dan berpotensi membuat nama Bang Reksa menjadi buruk.”
“Enggak, nggak ada yang tahu,” sahut Reksa. “Ya sudah, jangan cerewet. Cepat katakan di mana kalian berada!”
Kenny terdengar menghela napas, kesal karena diperintah secara kasar seperti itu. Untungnya, ia bukan orang yang memiliki tipikal mudah terbawa perasaan. Lantas, ia mengatakan alamat hotel di mana dirinya menginap bersama Celine dan Keira. Dan tempat inap itu memang sangat dekat dengan tempat penginapan Reksa.
__ADS_1
Setelah mendapatkan alamat, Reksa langsung mematikan panggilan tersebut. Dengan menggunakan jasa sopir khususnya, ia berangkat menuju hotel yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun, namanya juga sultan. Jalan lima meter pun biasanya harus memakai mobil super mahal!
***