Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 83-Keingintahuan


__ADS_3

Ali sudah bertemu dengan Reksa pada siang hari ini. Lagi pula, ia memang sudah terbebas dari istri agak tidak jelas dari atasannya itu. Namun, bukan berarti potensi berbahaya yang menimpa Ali langsung tiada. Justru Reksa-lah sosok yang paling menakutkan.


Makan siang menjadi serba tidak enak, saat Reksa beberapa kali menghela napas dalam. Mungkin karena jawaban Celine tadi malam masih ambigu dan sulit diartikan. Bukan masalah uang, sungguh, sekali lagi Reksa menekankan akan hal itu. Namun, ketidakmampuannya dalam menjabarkan sikap beda istrinya sangat-sangat menganggu.


“Ali!” ucap Reksa tiba-tiba dengan intonasi yang cukup lantang, sampai membuat Ali tersentak bahkan tersedak daging yang baru ia lahap.


“I-iya, Tuan. Uhuk!” Ali menjawab, meski diiringi oleh batuk. “Ada yang perlu saya kerjakan, Tuan?”


Reksa menggertakkan gigi. Agak resah, tetapi juga kasihan. Tak seharusnya orang sedang makan terkena gangguan. Kalau dirinya berada di posisi Ali mungkin akan marah besar. Bedanya, Ali adalah bawahannya dan mungkin merupakan salah satu orang yang takut padanya.


Lantas, Reksa menggelengkan kepala. Ia memutuskan untuk menunda interogasinya, supaya Ali bisa makan siang dengan nyaman sebelum mendapatkan banyak pertanyaan. Lagi pula, setelah jam makan siang, tidak ada agenda apa pun.


“Tuan Reksa?” Ali yang resah karena Reksa justru diam, mencoba mencari kepastian. Gelengan kepala yang Reksa berikan tidak mampu membuat hatinya berangsur tenang. “Ada apa, ya?”


“Nggak ada apa-apa, tidak, tapi nanti saja. Lanjutkan makanmu terlebih dahulu,” sahut Reksa lalu tersenyum kaku, sehingga wajahnya nyaris seperti Joker, alih-alih pria tampan pemilik senyum manis.


Tentu saja sikap tak biasa yang Reksa lakukan, bahkan sampai memberikan senyum mengerikan, membuat Ali kian tidak tenang. Ia jamin pasti hal yang hendak Reksa katakan lalu mendadak dibatalkan masih berkaitan dengan Celine. Lantas, apa yang hendak Ali katakan jika dugaannya berakhir menjadi benar? Akankah ia menjelaskan aktivitas Celine kemarin siang sampai sore, terutama di kamar hotel Ailen?


“Aaaargh! Wanita itu sama sekali enggak tahu malu, tahu nggak, Pak! Kalau saja enggak mengingat Reksa, atau keamananku sendiri dari ancaman jerat kasus penganiayaan, aku sudah menghancurkan wajahnya itu!” Demikianlah yang Celine katakan pasca keluar dari kamar hotel Ailen yang Ali ingat dengan baik. “Aku sudah memberikan ancaman untuknya, bahkan aku sudah melempar vas bunga tepat di sampingnya, berharap sih kena wajahnya. Tapi, lagi-lagi aku harus jaga sikap. Lihat saja kalau dia masih main-main dengan aku dan Reksa lagi, aku benar-benar akan membuat kakinya pincang! Aaarrrgh! Geram kali lho aku!”

__ADS_1


Ali bergidik membayangkan. Apalagi wajah Celine begitu aneh membuatnya kerap menelan saliva pada saat itu. Kejadian di dalam kamar Ailen tidak sepenuhnya ia ketahui, tetapi menurut perkataan Celine sepertinya memang ada kejadian buruk yang terjadi.


Kini, Ali-lah yang akan menjadi sasaran empuk bagi Reksa. Jika dugaannya benar, maka belasan pertanyaan akan Reksa ajukan padanya. Astaga! Dan hal tersebut berpotensi membuatnya kena marah, apalagi dirinya adalah pelaku pemberi nomor ponsel Reksa pada Ailen. Sebagai seorang sekretaris, Ali sudah membuat kesalahan paling fatal!


“Tu-tuan Reksa tidak makan terlebih dahulu?” tanya Ali ketika mendapati Reks justru termenung dan diam.


Reksa memberikan tatapan yang masih tajam seperti biasanya. “Kenapa memangnya?”


Ali menelan saliva. “Ti-tidak, hanya ... Tuan Reksa tidak boleh melewatkan makan siang.”


“Lebih baik diam dan tenanglah.”


Ali pun diam kembali. Lalu, berusaha menikmati sisa makan siangnya. Meski sungguh rasanya tidak enak, apalagi Reksa justru tidak menyantap apa pun. Bukankah kurang ajar jika Ali yang hanya seorang sekretaris malah menikmati makanan sendirian? Satu meja dengan atasannya lagi!


Sekitar lima menit setelah Ali memutuskan untuk menyudahi aktivitasnya, Reksa baru mengubah sikap. CEO sekaligus pewaris Gold Pandega Innovation tersebut lantas menatap Ali. Sudah ada beberapa pertanyaan yang tersemat di dalam otaknya. Ia harus mencari tahu perihal aktivitas Celine di hari kemarin.


“Soal Celine,” kata Reksa memulai ucapannya. ”Apa yang dia lakukan kemarin? Kamu tahu nggak alasan kenapa dia belanja banyak? Bukan, bukan maksudku perhitungan. Garis bawahi soal itu. Aku punya banyak uang dan kaya, jadi enggak masalah. Hanya saja, alasannya apa? Alasan mengapa istriku tiba-tiba belanja itu apa?” selidik Reksa.


Mampus! Pikir Ali, ketika dugaannya benar-benar terjadi, bahkan presentasi ketepatannya mencapai 100%. Ia yakin setelah ini ia kena damprat Reksa.

__ADS_1


“A-anu, soal Nona Celine, itu, mm. Beliau ingin tampil lebih elegan,” jawab Ali yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk berkilah. “Seperti yang sudah saya katakan pada Tuan Reksa kemarin, beliau memang benar-benar menginginkan banyak barang mewah. Tapi, saya rasa bukan untuk bersenang-senang.”


“Aku tahu, dia itu enggak matre. Makanya aku bingung, kenapa dia tiba-tiba kayak gitu, Ali! Cukup jawab yang itu saja!” sahut Reksa.


Ali menenangkan dirinya terlebih dahulu, setelah itu berkata. “I-itu, berkaitan dengan Nona Ailen, Tuan.”


“Apa?” Dahi Reksa mengernyit. “Ailen? Kenapa dia sampai berkaitan dengan Ailen?”


“Saya tidak tahu pasti soal itu, yang pasti Nona Celine kelihatan kesal sekali. Beliau bahkan melabrak Nona Ailen dan membuat sedikit kegaduhan. Menurut pengakuan Nona Celine sendiri, beliau sudah mengancam hendak membuat kaki Nona Ailen pincang kalau masih berani macam-macam. Dan Nona Celine mengaku telah memecahkan sebuah vas bunga di dalam kamar itu. Sepertinya memang ada hal serius yang dilakukan oleh Nona Ailen sampai membuat Nona Celine benar-benar marah.”


“Celine ...?” Reksa mencoba mengingat-ingat apa pun mengenai tindakan Ailen belakangan ini. Bahkan, seingatnya ia sudah memblokir nomor Ailen, dan jika Ailen berbuat tindakan keterlaluan, Celine tahu dari mana mengenai hal itu?


Ali menggigit bibirnya, gelisah. Namun, ia sudah membulatkan tekat untuk membuat pengakuan. “Tuan Reksa. Sepertinya masalah Nona Ailen berkaitan dengan saya. Ka-karena saya yang memberikan nomor ponsel Anda pada beliau.”


“Aku tahu,” jawab Reksa sembari melirik tajam. ”Memangnya siapa lagi kalau bukan kamu, Ali! Tapi, ... mau bagaimanapun aku mencoba mengerti. Wanita itu memang merepotkan. Kamu enggak akan terlepas darinya sebelum memberikan nomor ponselku padanya. Makanya aku memutuskan buat enggak marah sama kamu. Mungkin ... memang benar, soal pemecatan, aku harus mempertimbangkannya. Kalau dia sampai membuat Celine geram, sepertinya tindakannya sudah sangat keterlaluan. Meskipun aku harus menyelidiki soal ini dulu. Nggak mungkin aku langsung memecatnya begitu saja.”


Ali tertegun, juga takjub. Pasalnya, ketika dirinya sudah bersiap-siap tentang kemungkinan Reksa akan marah besar, atasannya itu justru bersikap lunak. Entah. Yang pasti, Reksa bisa mengerti. Atau mungkin sosok Celine-lah yang membuat Reksa berubah. Rasanya, semakin hari pun Reksa semakin berbeda. Aura Reksa jauh lebih cerah. Kalau memang begitu, berarti sosok Celine yang super unik itu telah memberikan pengaruh luar biasa.


Satu pelajaran yang dapat Ali ambil adalah jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Siapa tahu orang yang dianggap konyol dan bodoh justru memiliki segudang kebaikan, termasuk Celine—istri kesayangan Reksa Wirya Pandega.

__ADS_1


***


__ADS_2