
“Celine?” ucap Reksa sebelum Celine menyelinap masuk ke dalam kamar.
Celine mengurungkan niatnya. Meski sudah memegang handel pintu, ia tetap memutar kepala. Matanya berangsur menatap Reksa yang belum pergi dari sisinya. Celine tersenyum. Kemudian, ia segera melepaskan tangannya dari benda yang ia pegang. Badannya pun turut memutar dan akhirnya ia benar-benar sudah menghadap pada Reksa, alias suaminya sendiri.
“Ya? Kenapa?” selidik Celine. “Mm ... terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan. Meskipun belum sepenuhnya lupa, aku sudah berangsur baik-baik saja.”
Reksa menelan saliva sembari mengusap tengkuk bagian belakangnya. “Bukan masalah,” jawabnya. “Lagian, aku hanya enggak mau melihatmu seperti orang paling menyedihkan sedunia. Lebih baik, aku merelakan sedikit waktuku dan terutama untuk mencari bukti yang bisa ditunjukkan pada orang tua kita.”
“Hmm ....” Celine melipat kedua tangannya, sementara bibirnya mulai melengkung ke atas, hingga barisan giginya yang putih berangsur terlihat. “Reksa, tahukah kamu?”
Reksa berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. “Tentu saja enggak tahu.”
“Kamu memang selalu menggunakan alasan itu-itu saja, tapi, tanpa kamu sadari kamu justru selalu ada buat aku. Oh, aku tahu kamu enggak bakalan mengakui akan hal ini, termasuk kekhawatiranmu padaku. Tapi, tetap saja, aku harus berterima kasih padamu, Reksa. Ya, terima kasih, karena kamu sudah berusaha untuk selalu menjagaku ketika kita sedang terjebak di dalam perjalanan ini, Tuan Muda Wirya Pandega.”
Mata Reksa mengerjap, dan entah mengapa tiba-tiba saja seluruh tubuhnya terasa hangat. Ia ingin menyembunyikan perasaan aneh yang mendadak muncul, tetapi gerak tubuhnya tampaknya tidak bisa menutup kenyataan tersebut. Ucapan terima kasih yang sebenarnya tidak penting dari Celine, membuat Reksa agak canggung dan bingung.
Reksa akui bahwa malam ini Celine jauh lebih enak diajak bicara. Meski tetap saja, ketengilan dan gaya bahasa yang kurang sopan masih kerap menjadi gaya Celine, tetapi sejak melalui perjalanan tadi wanita muda itu sudah cukup pantas untuk dinilai sebagai wanita sejati.
Satu hal yang sampai saat ini membuat Reksa terkesan adalah ketika Celine memiliki pemikiran cukup dewasa. Kendati bisa dikatakan hanya akan menyiksa diri, raut Celine justru tak menampakkan rasa keberatan sama sekali. Celine bersedia berkorban jika semua yang ia korbankan bisa membuat kedua orang tuanya bahagia. Dan Reksa ... sebenarnya ia memiliki prinsip yang sama.
__ADS_1
“Mm ... mau nonton?” tawar Reksa yang mendadak memiliki ide gila.
“Hah?” Rahang Celine melebar seiring dengan matanya yang kian terbuka. “Nonton?”
Reksa mengerjapkan mata saat kesadarannya mulai kembali. “No-nonton di kamar kamu sendiri maksudnya! Ja-jangan salah paham, aku enggak pernah mengajakmu!” tukasnya. Apa-apaan aku? Kenapa mendadak mengajaknya berbuat hal konyol? Pikirnya setelah itu.
“Cih! Siapa juga yang salah paham. Dan aku enggak mengira kamu sedang mengajakku kok!”
“Ya, seharusnya memang begitu, Cel! Kalau mau nonton, usahakan jangan sampai bergadang. Nanti kalau kamu sakit, aku yang repot. Lagian, kamu masih mau mengunjungi tempat lain sesuai yang diagendakan, ‘kan? Maksudku demi mendapatkan bukti untuk ibuku.”
Celine tersenyum-senyum. Tanpa sungkan, ia mengerlingkan matanya pada Reksa. “Iya, iya. Enggak perlu khawatir, Sa. Besok aku usahakan bangun pagi, biar kamu bisa mengajak aku jalan-jalan lagi.”
Reksa mendengkus, setelah akhirnya memutuskan untuk benar-benar pergi dari hadapan Celine. Ia berjalan dengan angkuh seperti biasanya. Namun, sikap arogannya tersebut hanya terlihat dari tampak belakang. Sementara dari arah depan, parasnya menunjukkan gurat malu, bahkan kedua pipinya begitu memerah. Bagaimana tidak, beberapa menit yang lalu ia nyaris mengajak Celine untuk menonton film di kamarnya. Hal yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan, barang sekali saja.
Aku sudah benar-benar gila! Bisa-bisanya aku hendak berbaik hati pada wanita rendahan itu. Oh, Tuhan! Bukankah mengajaknya jalan-jalan sudah sangat cukup? Pikir Reksa yang sudah geram pada dirinya sendiri. Ia segera melesak ke dalam elevator untuk bergegas menuju kamarnya presidential-nya.
“Reksa, Reksa. Ternyata umurnya saja yang sudah tua, tapi, lihat! Semua sikapnya masih sama kayak bocah!” ucap Celine sesaat setelah masuk ke dalam kamarnya sendiri. “Tapi, ... dia cukup baik juga, meskipun serba gengsi dan memiliki karakter angkuh seperti itu. Kalau enggak memikirkanku, mungkin dia akan benar-benar mengabaikanku. Melihatku terpuruk setelah kejadian di malam itu, sepertinya dia juga merasa bersalah. Baguslah ... seenggaknya, masih ada harapan untuk tetap mempertahankan pernikahan ini.”
Celine bergegas menuju toilet dengan rencana ingin membersihkan dirinya. Malam ini sepertinya, ia bisa tidur dengan nyenyak. Meski Reksa tidak meminta maaf secara jelas, tetapi, semua tindakan yang Reksa lakukan untuknya sudah cukup dalam mewakili kata-kata itu. Lagi pula, tidak baik jika terus-terusan mendendam pada suaminya sendiri.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan segala ritual di dalam kamar mandi, Celine bergerak menuju ranjangnya yang masih berada di satu ruangan. Sangat tidak adil memang, ketika ia dipindahkan di kamar yang lebih ekonomis, sementara Reksa begitu nyaman menginap di kamar kelas atas. Namun, Celine tidak boleh terlalu mengeluh. Lagi pula, Reksa juga sudah membantunya untuk mengganti rugi atas kekacauan yang ia buat beberapa hari lalu.
“Haaah ... nyamannya. Di mana pun berada, kasur memang menjadi tempat ternyaman, setelah bahu Ayah,” gumam Celine sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk milik tempat itu. Sesaat matanya terpejam, tetapi ketika mengingat akan getaran ponsel yang belum sempat ia periksa, mata bulatnya itu langsung terbuka.
Cepat, Celine membangkitkan dirinya lagi. Ia mencari tas selempangnya yang tergeletak di atas long sofa. Setelah mendapatkan ponselnya dari tas tersebut, Celine kembali menghampiri ranjangnya.
“Ah?” Dahi Celine mengernyit dan perasaan heran lantas menyerang hatinya. “Danu? Kenapa tiba-tiba telepon? Ini pas aku ngobrol sama Reksa di taman tadi, ya? Oh, ada pesan darinya juga.”
Menyadari ada dua buah pesan masuk dari rekan kerja alias sang pemuja, Celine segera menekan tombol ‘read’ pada ponselnya tersebut.
Danurdara: Hai, Cel? Sibuk ya? Teleponku enggak dijawab nih. Sorry, mengganggu perjalanan kamu. Umm ... bagaimana keadaanmu di sana, Cel? masih ceriwis-kah dirimu? Sungguh, aku rindu sama semua kebawelanmu, Cel.
Danurdara: Celine, aku juga ada kabar berita buat kamu. Soal Pak Bos. Meskipun memang sangat menyebalkan, beliau masih berharap kamu bisa kembali ke kantor setelah pulang dari Moskow. Belum ada anak baru, Cel, dan aku yang menangani pekerjaanmu sekarang. Kalau kamu enggak tega sama aku, kamu balik ya?
Celine tersenyum. Danu memang baik, lembut, dan ramah. Tipikal pria super perhatian yang kontras jika dibandingkan dengan Reksa. Namun, Danu cukup lamban dan malu jika masalah yang menimpanya berkaitan dengan perasaan cinta. Mengingat tentang alasan di balik kelambanan Danu seperti yang Keira katakan, hati Celine terenyak. Iba dan merasa bersalah. Oh, seandainya Danu bisa lebih cepat jujur atau Celine yang bisa memberikan serangan awal, mungkin pernikahan semacam ini tidak akan terjadi.
“Ah ... enggak ada gunanya menyesal. Lagian, aku sudah memiliki rencana baru untuk hidup aku. Reksa juga mulai jinak, meski belum sepenuhnya. Dan ... lihat, si Bos Culun masih memberiku kesempatan untuk balik ke kantor. Dengan kata lain, aku enggak perlu kesulitan cari kerja lagi buat mengganti uang Reksa,” ucap Celine, lalu ia menghela napas serta mencoba untuk tetap tersenyum.
***
__ADS_1