
Syuting tampaknya digelar dengan baik dan tanpa kendala. Menurut penglihatan jarak jauh Keira, tidak terlalu banyak pengulangan untuk mengambil pose-pose Ailen. Ya, ia akui selebgram itu memang lihai kalau soal kamera. Meskipun bukan artis layar kaca, tetap saja Ailen memiliki tingkat kepercayaan diri yang pas untuk membuatnya menjadi salah satu selebriti media sosial yang menjanjikan. Apalagi keseksiannya tersebut mampu menarik minat para netizen dunia maya.
Keira menghela napas, setelah itu menoleh untuk menatap Celine yang berada di sampingnya, sementara mereka sedang menyamar sebagai turis dengan gaya super nyentrik. Kedua wanita itu kompak memakai kacamata besar yang norak dan topi pantai berukuran lebar. Mereka berada di sekitar seratus meter dari lokasi syuting tersebut.
“Enggak ada yang aneh kok, Cel, kayaknya,” ucap Keira pada sahabatnya tersebut.
“Belum!” sahut Celine keras dan tegas. “Mereka kan masih proses syuting, Ra, enggak mungkin dong si Alien menggoda-goda suamiku.”
“Hmm? Tumben pinter kamu?” ucap Keira sarkastik.
“Bukan masalah pinter, tapi kalau aku di posisi Ailen juga enggak akan berani merusak pekerjaan yang baru berlangsung.”
“Jadi, masih mau lanjut nih?”
Celine mengangguk. “Sampai mereka kelar, aku mau lihat terus. Suamiku kan juga ada di sana, tuh lihat sudah kayak raja saja.”
“Ya, dia memang rajanya, Cel. Dan kamu ratunya.”
“Ratu?” Celine tercenung. Namun, tak lama kemudian, ia lantas tertawa. “Ada-ada saja kamu, Ra! Aku pelayan berkedok ratu deh tepatnya.”
“Enggaklah!” tukas Keira. “Buktinya si Reksa mau senyum sama kamu doang. Dia kan terkenal killer banget, wajahnya enggak ada ekspresi selain kesal dan marah. Sorry ya, bukan maksud mau menjelekkan nama suami kamu, tapi itulah kenyataannya, Cel. Makanya orang-orang pada kaget pas kamu datang dan dia bersikap begitu manis, sampai-sampai enggak sungkan buat suapin kamu. Cieelah!”
Celine hanya tertawa kaku, sementara benaknya langsung terbayang momen saat dirinya pertama kali memasuki perusahaan Reksa dengan membawa makanan buatan ibunya. Pada saat itu, ia begitu terburu-buru dan terlambat beberapa menit. Namun, setibanya di tempat kerja suaminya tersebut, ia justru bertemu dengan sosok Ailen untuk pertama kalinya. Kala, Celine sedang mengomel tanpa segera menyantap makanan, di situlah Reksa berinisiatif menyuapinya.
Ah, Reksa memang selalu manis. Tidak hanya tindakan menyuapi, ketika di Moskow pun pria itu kerap memberikan perhatian, meskipun masih terbalut rasa gengsi dan sedikit kebencian. Lalu, saat Celine tak segera menghapus make-upnya, lagi-lagi Reksa bergerak untuk membersihkan wajahnya dari segala macam riasan tersebut.
__ADS_1
“Ra,” ucap Celine sembari memandangi lokasi syuting di mana suaminya pun tampak sedang mengawasi.
“Ya, Cel. Kenapa?” sahut Keira.
Celine menghela napas, sementara matanya mengerjap sampai beberapa kali. Kemudian, sembari mengusap-usapkan telapak tangannya satu sama lain, ia berkata, “Kayaknya aku kalah sama rencanaku sendiri deh.”
Dahi Keira mengernyit dan hatinya mulai dibuat penasaran oleh perkataan Celine barusan. “Maksud kamu?”
“Aku ... kayaknya sudah jatuh cinta sama Reksa.” Celine menunduk, malu sekali. “Pernikahan itu bukan lagi ajang petualangan dan selain ingin menjaga perasaan kedua orang tua kami, kini aku sudah menginginkan masa depan. Aku ingin pernikahan itu menjadi pernikahan yang harmonis dan penuh dengan kasih sayang.”
Keira menghela napas. “Baguslah,” katanya. “Setelah tahu kebersamaan kalian, aku memang sudah mengira kamu dan Reksa sudah jauh lebih baik. Awalnya aku sangat khawatir, takut kalau orang sebaik kamu harus hidup dengan pria super kejam sepertinya. Jadi, aku minta tolong pada Danu. Maafkan aku soal itu, Celine, tapi buat sekarang aku bahagia kalau kamu sudah mencintai suami kamu sendiri.”
“Terima kasih, Ra. Tapi, ... bagaimana dengannya? Dia sering bilang kalau aku ini berharga, dia juga bilang kalau rencanaku untuknya sudah berhasil, kami pun sudah melewati rumah tangga seperti pada umumnya.”
“Ya, dia pasti sudah menyukai dirimu, Celine.” Keira menatap Reksa di kejauhan sana yang masih duduk di atas kursi pantai dengan payung yang sengat lebar. Atasannya itu tampak memakai kacamata hitam dan setelan kasual. “Aku enggak pernah salah soal firasat dan analisa, Cel, aku yakin Reksa juga sudah jatuh cinta sama kamu. Lagian, kan, seperti yang aku bilang dia cuma kasih senyumannya buat kamu doang. Selain itu, semua hal tentangnya yang kamu katakan tadi, sudah sangat akurat buat memastikan perasaannya padamu.”
Kalau Keira di posisi Celine, mungkin dirinya akan merasakan hal yang sama. Lagi pula, sebagian besar wanita di dunia ini membutuhkan yang namanya kepastian. Semanis apa pun sikap para lelaki, kalau tidak dijabarkan secara gamblang, Keira rasa semua wanita akan tetap mempertanyakan perasaan pria-pria itu. Jadi, untuk saat ini ia tidak bisa menyalahkan Celine, meskipun memang dirinya tak mungkin bisa memberikan saran. Sebab, jawaban paling tepat hanya Celine sendiri yang dapat mencarinya.
“Eh!” pekik Celine tiba-tiba. “Sudah kelar tuh!”
Keira langsung menatap lagi lokasi syuting tersebut, setelah sebelumnya sibuk mengamati ekspresi sahabatnya. “Eh! Ailen menghampiri Reksa tuh!”
“Eh, pegang tangan! Eh! Kok Reksa dipeluk-peluk?! Apaan?!” Celine yang terkejut saat menyadari sikap Ailen pada suaminya, langsung bangkit tanpa aba-aba. “Iiih! Apaan sih?!”
Segera setelah itu, Celine mengambil langkah begitu cepat untuk menyusuri pasir pantai dan menuju lokasi suaminya. Melihat sikap dadakan Celine tersebut, Keira tercengang dan menjadi kelabakan. Lantas, ia turut bangkit dan mengejar Celine dengan cepat.
__ADS_1
“Celine! Kamu mau ngapain?!” tanya Keira sembari menarik lengan sahabatnya.
“Mau labrak dia, Ra!” sahut Celine cepat dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Keira di lengan.
“Hei, Cel! Kamu bodoh apa bagaimana?” Tiba-tiba saja suara tak asing menyahut perbincangan mereka, melainkan Kenny yang sejak tadi berada tak jauh dari Celine dan Keira. Entah, ia memang tidak berniat membantu permainan detektif-detektifan itu, tetapi hatinya kecilnya merasa tidak tenang saat mengingat betapa cerobohnya Celine yang berpotensi membuat Keira kerepotan. Apalagi urusan yang kakaknya itu incar adalah seorang wanita lain yang menurut kabar sedang mencoba menggoda Reksa. Bisa fatal jadinya jika Celine main jambak rambut wanita tersebut.
“Kenny?” ucap Keira dengan mata terbuka lebar.
Kenny mengangguk malu-malu, lalu berangsur menatap Celine. “Jangan permalukan dirimu. Kamu tuh jarang jatuh cinta, tapi sekalinya jatuh cinta kenapa bodoh banget sih?! Cemburu boleh, tapi jangan gila!”
“Lihat, Ken! Kakak iparmu sedang digoda, dia dikasih sesuatu lho! Si Ular itu kasih pelukan lhoooo! Itunya dia yang super gede nempel di tubuh Reksa, Kennyyy! Geliii! Kalau menimbulkan rumor bagaimana, haaah?!” Celine yang sudah termakan api cemburu nyaris kehilangan akal sehatnya.
Kenny menghela napas, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. “Iya, aku tahu. Tapi, kamu jangan tiba-tiba nyelonong begitu saja, Kakak! Tenang, lalu datang dengan elegan!”
“Nggak mau!”
Celine tetap menolak, segera setelah itu ia melemparkan tangan Keira dan mengambil sikap lari. Hingga adegan kejar-kejaran pun akhirnya terjadi! Kenny yang biasanya tampil santai dan cenderung malas repot pun terpaksa mengikuti kegiatan tersebut. Memalukan memang, apalagi saat Celine berteriak-teriak tidak jelas. Namun, apa boleh buat, keadaan akan runyam jika Celine sampai mengamuk tidak jelas.
“Alien! Woo wanita gila! Gatel! Ular! Genit! Wanita permak! Woeee!” Begitulah kurang lebihnya ucapan Celine yang terus terdengar. Sayangnya, debur ombak dan suara para pengunjung membuat ucapan itu tak sampai ke lokasi syuting di mana Reksa berada.
Lalu, di tempat syuting agak jauh dari para wisata lain tersebut, orang-orang yang berada di sana, termasuk Reksa tentunya langsung melemparkan pandang ke arah ketiga orang yang sedang kejar-kejaran bagai anak TK. Entah apa yang mereka katakan, tetapi terlihat sangat lucu saja.
“Cih ... anak-anak muda enggak berfaedah,” gumam Reksa yang tidak mengenali istrinya sendiri.
Sebab, penampilan Celine memang sangat berbeda dari biasanya dan nyaris seluruh wajahnya tertutup oleh kacamata nyentrik dan besar serta topi yang berukuran lebar. Pun pada Keira. Sementara Kenny hanya menggunakan kacamata hitam, kaos singlet, serta celana pendek.
__ADS_1
***