Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 108-Iya, Bantu Aku


__ADS_3

Celine berkali-kali berjingkrak sembari kegirangan sendiri. Tidak peduli bahwa malam ini sudah semakin larut, bahkan Reksa sampai mengantuk dalam menunggunya lebih tenang dan mau diajak melakukan sebuah permainan. Sayangnya, permintaan Reksa belum juga kesampaian, karena Celine justru menghindar. Entah disengaja atau tidak, yang pastu mala mini Celine sangat menyebalkan.


Tidak ada kekhawatiran sedikit pun di hati Celine, jika hubungan Keira dan Kenny memang lebih dari sebatas teman. Ia justru berharap mereka akan menjadi pasangan kekasih setelah hari ini, oh, atau mungkin memang sudah? Entah. Intinya Celine menginginkan mereka jadian, dan ia lantas menjadi kakak ipar dari sahabatnya sendiri. Aneh sih, tetapi tidak ada salahnya, bukan?


“Aku dukung banget kalau mereka bersama, lucu, tahu! Terus aku dipanggil kakak sama Keira hahaha. Lucu, lucu, lucu,” ucap Celine masih belum menghentikan gerakan kakinya yang sejak tadi berjalan ke sana kemari. “Pokoknya harus jadi!”


“Sebegitu pentingkah mereka buat kamu, Cel? Sampai kamu kegirangan dan kepikiran seperti itu? Apa kamu lupa tanggung jawab kamu sebagai seorang istri yaitu melayani aku?” sahut Reksa dengan wajah yang masam.


Celine menghentikan langkah kaki detik itu juga. “Mm? Aku enggak lupa tanggung jawab aku kok, aku kan terus berusaha menghormati kamu.”


“Maksudku tugas kamu malam ini, di sini!” tegas Reksa sembari menunjuk ranjang yang sudah ia duduki. “Masa iya aku harus ngomong secara jelas sih, Cel?!”


“Ih, marah? Jangan marah-marah kayak gitu dong, Sa! Aku paham kok, tapi, masa lagi sih? Kan kemarin sudah!”


“Terus enggak mau lagi begitu, maksud kamu, Celine?”


“Bukan begitu, kasih aku jeda dong, Sayang. Lagian besok kita harus berangkat pagi, mampir ke rumah ayah mertua, buat sarapan bareng, terus masing-masing ke kantor. Kita sudah lama enggak ke sana lho, dan kata kamu mereka sibuk. Kalau pagi enggak sibuk, ‘kan?”


Kali ini Reksa tertegun. Dahinya mengernyit. “Kamu memikirkan hal itu, Cel? Maksudku soal besok pagi mau mampir ke Ayah Wirya?”


Celine mengangguk. “Iya, sebenarnya aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Tapi karena otak aku lemot, aku baru kepikiran belakangan ini hehehe.”


“Aku pikir kamu cuma kepikiran Keira dan Kenny doing, Cel.”

__ADS_1


“Ya ampun, enggaklah, walaupun kepikiran pasti juga enggak akan lama kok. Cuma merasa gemas sama mereka saja, Sayang, enggak mau ikut campur. Lagian aku kan memang suka iseng, waktu mau iseng sama mereka, kamu justru angkat badan aku. Malu banget tahu, kalau diingat!”


“Lagian kamu enggak peka banget sih, Cel. Mereka butuh waktu buat kencan dengan nyaman, kalau mau iseng nanti setelah kencan mereka selesai. Aku jamin setelah bertemu dengan kamu, pasti mereka canggung banget, dan kencan jadi berakhir.”


Dahi Celine mengernyit. “Se-separah itukah dampak keberadaanku, Sa?” Ia berjalan menuju ranjang, lalu naik ke atas tempat itu untuk mendekati suaminya. “Apa aku juga bakal bikin mereka gagal jadian?”


“Ya, kalau kamu semakin parah menggodanya. Kalau Keira malu, dipastikan dia enggak akan jadi sama Kenny, gara-gara kamu, Cel.”


“Duh! Masa sih? Bohong ya, kamu?” kata Celine cemas. “Ih, jangan gitu dong! Masa iya gara-gara begitu doang, mereka enggak jadi bersatu?”


“Makanya kamu jangan bawel!”


“Uh …!”


“Ayo tidur, besok ke rumah ayah dulu, 'kan?" Reksa berucap.


Namun, Celine tidak menjawab. Wanita itu masih diam penuh kecemasan. Membuat Reksa lantas merasa bersalah. Lagi pula, sudah tahu istrinya tidak langsung mengerti tentang maksudnya, tetapi dirinya tetap nekad membuat istrinya itu kepikiran. Dan akhirnya, Reksa merasa bersalah. Mungkin sebaiknya ia meminta maaf saja, lebih baik melihat Celine banyak bicara, daripada semurung itu.


“Maafkan aku yang telah bikin kamu gelisah, Celine. Tapi, ucapanku barusan belum tentu benar kok. Tenang saja, kalau mereka memang saling menyukai, enggak lama lagi mereka pasti bersama. Entah kamu menggoda atau enggak, pada akhirnya keputusan bersatu ada di tangan mereka, Sayang. Jadi jangan mendadak murung hanya karena dugaanku," ucap Reksa.


Celine menghela napas. “Tapi, kan kamu pintar, Reksa, dan jarang meleset kalau menduga segala sesuatu. Bisa saja ucapan kamu nantinya akan benar-benar terjadi,” jawabnya setelah itu.


“Aku bukan Tuhan, Cel. Masih banyak dugaanku yang salah dan enggak terbukti. Sudah aku katakan tadi, bahwa keputusan untuk bersama berada di tangan mereka. Jangan khawatir, dan tunggu hasilnya saja.”

__ADS_1


“Iya sih kamu benar. Sebenarnya aku cuma enggak mau kalau mereka terluka, itu saja sih. Apalagi Kenny, baru kali ini dia mengakui perasaannya terhadap seorang wanita di hadapanku. Pun pada Keira yang setelah putus dengan cowok kurang ajar, jarang mengenal cowok lagi. Memang ada sosok yang dia sukai, tapi aku khawatir. Dan aku rasa, Keira juga enggak akan melanjutkan perasaannya untuk cowok itu. Ada beberapa resiko yang harus Keira ambil kalau tetap nekad berpacaran dengan cowok itu. Aku lebih senang Keira dan Kenny saja. Aku mengenal mereka berdua, mereka cocok dan memiliki banyak persamaan.”


“Ya sudah, tapi, kita hanya sebatas saksi dan penonton, Cel. Semoga saja mereka memang berjodoh.”


“Aamiin.”


Celine masuk ke dalam dekapan Reksa yang hangat. Pelukan dari pria itu memang kerap membuat Celine merasa lebih nyaman, apalagi dalam keadaan gelisah seperti sekarang. Di kehidupan Celine saat ini, suami merupakan bagian terpenting di dalam hidupnya. Seandainya ia tidak menikah dengan Reksa, ia tidak tahu pria seperti apa yang bersedia untuk berdamping dengannya. Mengingat dirinya kelewat bodoh dan serba blak-blakan. Mungkim Danu? Entah. Celine pernah menyukai Danu, tetapi hanya karena Danu sangat ramah dan penuh perhatian. Sementara perasaannya pada Reksa rasanya lebih berbeda.


“Besok kalau aku berangkat ke luar negeri, kamu beneran jangan nakal ya, Sa. Ingat aku terus, jaga kesetiaanmu, ya. Kayaknya aku enggak bisa kehilangan kamu lagi. Entah mengapa, aku hanya merasa kayak gitu, merasa benar-benar takut kalau kamu marah terus kecewa sama aku, dan setelah itu membuangku begitu saja. Kamu kan kaya raya, kamu tampan dan pintar, pasti banyak cewek yang mau sama kamu. Setiap kali berangkat untuk bekerja di luar Jakarta, perasaanku kacau balau, tahu! Kayak enggak rela pisah, takut kamu bosan, di sisi lain aku belum bisa meninggalkan pekerjaan ini. Mm, aku egois banget ya, Reksa?” ucap Celine.


Reksa menghela napas, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara salah satu jemari yang terhubung dengan pundaknya di mana Celine merebah dengan nyaman, sibuk mengusap-usap rambut istrinya itu. “Enggak akan ganjen kok, Cel. Mana mungkin? Aku cinta mati sama kamu. Aku bisa memberi kamu apa pun, selama kamu juga setia sama aku. Kalau kamu pergi ke daerah luar Jakarta, perasaan aku juga kacau balau. Ingin marah, tapi aku harus mengerti pekerjaan kamu, Cel. Kamu masih sangat muda dan punya mimpi. Aku enggak mau egois, misalnya mengekang pergerakan kamu, Cel.”


“Terima kasih, Reksa Sayang.”


“Sama-sama, Istri Sayang. Tapi, aku punya permintaan buat kamu, Cel. Mm, izinkan aku membantumu mewujudkan impian kamu. Karena sekarang mimpi kamu sudah jadi mimpi aku juga. Ya, please?”


Celine tidak menjawab, melainkan tersenyum, sementara salah satu jemarinya sibuk memainkan salah satu bagian tubuh milik suaminya. Hati kecilnya berkata, bahwa ia memang harus menerima tawaran dari Reksa. Bukan ingin bersikap materialistis, tetapi ucapan Keira waktu itu masih sering terngiang di telinga Celine. Reksa juga butuh diandalkan, agar Reksa tidak merasa kecewa atau merasa tidak diinginkan. Apalagi menjadi seorang istri memang memiliki tugas penting untuk mendengar permintaan sang suami. Dan sudah waktunya bagi Celine untuk mengubah cara pandangnya untuk sekarang.


“Iya, aku setuju kok. Kamu kan bisa diandalkan, bantu aku mewujudkan mimpi itu, karena mimpi itu juga mimpi kamu, Reska.” Celine berucap, lalu disambut dengan sebuah senyum oleh Reksa.


“Terima kasih, Istriku tersayang. Kalau seperti itu kan aku menjadi lebih berguna buat kamu,” sahut Reksa.


Ah, ucapan Keira rupanya benar. Beruntung kali ini Celine tidak menentang, sehingga Reksa bisa merasa lebih lega.

__ADS_1


***


__ADS_2