
Celine begitu lesu hari ini. Kelelahan karena aksi nakal Reksa membuatnya sulit bekerja dengan baik. Sialnya, penyakit lama Safrudin sedang kambuh. Bak tak peduli lagi tentang identitas baru Celine, Safrudin kembali memberikan banyak pekerjaan. Apalagi pagi ini, Celine datang terlambat, yang mana langsung membuat mood Safrudin kian berantakan.
Sudah nyaris sampai di jam makan siang, Celine masih belum menyelesaikan pekerjaannya tersebut. Sepertinya rencananya untuk makan siang bersama Reksa harus gagal total. Padahal, ia sudah meminta tolong pada ibunya untuk membuatkan menu makan siang untuk dirinya dan Reksa, demi menebus kesalahannya kemarin, tetapi si bos culunnya itu justru hampir mengacaukan semuanya.
“Aku enggak mau kalah!” ucap Celine sembari bangkit, lalu berjalan menuju meja kerja sang atasan. ”Pak Bos, saya enggak sanggup bekerja sebanyak itu dengan deadline yang sangat sempit!” protesnya setelah itu.
Safrudin menghela napas. “Harus bisa! Apa susahnya segera selesaikan, potong saja jam makan siang kamu, biar saya hitung sebagai lembur untuk itu. Lagi pula, itu laporan penting, Cel. Harus kamu selesaikan secepat mungkin!” tandasnya.
“Saya menolak lembur, Pak. Lagian kan beberapa laporan bukan pekerjaan saya, kenapa justru diberikan pada saya? Yang adil dong, Pak!”
“Jangan mentang-mentang istri orang kaya. Terus berlagak sombong begitu, Cel. Ingat! Saya tetap atasan kamu! Kok berani-beraninya kamu menentang, bahkan menyebut saya enggak adil?!”
“Siapa yang berlagak? Dan siapa juga yang lupa kalau Bapak ini atasan saya?! Dari dulu pun selalu begitu, selalu saja saya yang disiksa. Kalau begini terus, lebih baik saya resign saja. Saya ini masih manusia, Pak, yang masih punya batas kesabaran. Saya bisa tuntut Bapak yang sudah semena-mena kalau mau lho! Jangan mentang-mentang saya orang miskin dan berpendidikan rendah, terus Bapak bisa seenak jidat sendiri! Saya ini cuma admin biasa lho, bukan staf penting yang harus mengerjakan pekerjaan inti!”
“Cel, Cel, sudah,” ucap Yulia yang sudah berada di samping Celine, mencoba melerai rekan dan atasannya tersebut. “Enggak baik, Cel. Sini bagi sama aku, aku sudah hampir beres.”
Celine melepas lengan Yulia, lalu berkata, “Enggak, Yul, aku sudah muak! Dari sejak sekolah, namanya admin pasti punya pekerjaan sendiri. Dan staf inti juga sendiri, tapi semua pekerjaan yang enggak seharusnya aku tangani, justru harus aku tangani. Yang benar saja! Kalau memang sebenci itu sama aku, kenapa kemarin kasih izin buat aku balik lagi ke sini, coba?!”
”Celine!” tegas Safrudin. “Jaga etikamu, saya ini atasan kamu! Berani-beraninya—”
“Bodo!”
Danu yang awalnya hanya mengawasi, berangsur mengambil sikap. Ia berjalan menuju keberadaan Celine, Safrudin, dan Yulia. Baru kali ini, ia melihat emosi Celine meledak. Mungkin pekerjaan yang Safrudin berikan memang kurang masuk akal. Hanya karena Celine sedikit terlambat-kah, sehingga Safrudin memberikan hukuman seperti itu? Ironis. Padahal, Celine yang sudah menjadi istri orang kaya bersedia kembali datang untuk mengisi posisinya lagi. Namun, sayang, Safrudin sungguh tidak tahu diri.
Danu menarik salah satu lengan Celine. Mengajak wanita pujaannya itu lantas menjauh dan menenangkan diri. Di luar ruang kerja, Danu menghentikan langkah kakinya, pun pada Celine yang masih murung dan marah.
__ADS_1
“Aku bisa membantu pekerjaanmu kok, Cel,” ucap Danu. “Jangan marah-marah begitu.”
Celine menghela napas. “Aku marah, karena aku berhak, Danu. Aku lelah, itu wajar, 'kan? Dan lagi, aku enggak minta bantuan dari kamu, Nu. Bukan berarti aku enggak bisa mengerjakan semua pekerjaan itu. Aku bisa, kamu kan tahu selama ini, meski sangat bodoh, aku tetap bertanggung jawab. Tapi, lama-lama ya muak! Kalau mau pecat, ya sudah pecat saja, enggak perlu menyiksa kayak gitu. Sudah bagus kemarin-kemarin sembuh, eh kumat lagi. Memang dasarnya orang tua biadab! Banyak jin itu di badannya, makanya kayak begitu!”
“Hus!”
“Kenapa? Aku sudah enggak peduli, silakan sajalah kalau mau pecat. Banyak kok pekerjaan lain, mumpung aku masih muda. Jadi pramusaji, buruh pabrik, atau mungkin tukang cuci mobil, aku enggak keberatan. Asal enggak disiksa begini. Bahkan, aku bisa masuk ke perusahaan Reksa dengan mudah, kalau aku enggak peduli sama kritikan orang. Pokoknya aku sudah muak!”
”Cel, sabar dulu—”
“Halah, enggak mau! Aku enggak suka sabar melulu. Sudahlah, Danu, enggak perlu berusaha bikin aku tenang. Enggak lama lagi juga sudah sembuh kok. Tenang saja, Celine bukan orang pendendam.” Celine menghela napas. “Sudahlah, sepuluh menit lagi jam makan siang. Aku mau pergi, nggak mau lembur. Bilang saja sama dia, pecat aku kalau dia marah, tapi kalau nggak mau, ya sudah tunggu aku sampai selesai makan, baru deh dia boleh ngomel panjang lebar.”
Celine bergegas meninggalkan Danu yang masih terdiam. Sementara Danu, sebenarnya tidak hanya diam, tetapi terus mengawasi diri Celine sampai benar-benar menghilang dari pandangan matanya. Entah apa yang membuat emosi Celine seketika meledak. Sepertinya ia harus memeriksa apa saja pekerjaan yang diberikan Safrudin oleh wanita tersebut. Kalau memang benar sangat keterlaluan, maka Danu pun tidak segan untuk membela Celine dan memprotes apa yang Safrudin lakukan.
***
“Tuan, Nona Ailen ingin bertemu,” ucap sekretaris pribadi Reksa yang bernama Ali Arsyid.
Reksa tak melihat ataupun mengubah sikap, selain memberikan kata 'hmm', dan tak lebih dari itu.
Merasa mendapatkan persetujuan, Ali lantas memandu Ailen untuk memasuki ruang kerja yang dihiasi lemari kaca. Sementara di dalam lemari tersebut, berisi produk-produk perusahaan yang tertera brand 'Golden Rose'.
“Selamat siang, Tuan Reksa,” ucap Ailen sesaat setelah menghadap pimpinan Gold Pandega Innovation tersebut.
Tanpa mengubah sikap, Reksa menjawab, “Ya, siang. Ada apa? Sudah dua puluh menit sejak jam makan siang tiba, kenapa Anda masih berada di sini?”
__ADS_1
“Ah itu.” Ailen mengusap tengkuknya. “I-itu, saya ingin mengajak Anda untuk makan siang bersama.”
“Kenapa saya?”
”Mm, soal pembahasan tadi, ada—”
“Kalau masih ada yang belum paham, Anda bisa bertanya langsung ke tim terkait.”
“Tapi, saya ... saya ingin langsung membahasnya dengan Anda selaku pimpinan, Tuan. Dan masalah kontrak kerja juga tentunya.”
“Anda bisa membahasnya dengan Ali. Dia juga sangat pintar, jadi jangan khawatir.”
“Tapi, Tuan. Saya ....”
Reksa menghela napas, lalu mendongak dan menatap Ailen. “Apa Anda tidak mendengar apa yang saya katakan? Nona, saat ini Anda memang aset penting untuk perusahaan saya. Tapi, kalau Anda mengganggu seperti ini, bahkan sejak beberapa hari yang lalu, saya tidak segan untuk memutus kontrak kerja sama dengan Anda.”
Dingin, mata dan suara Reksa benar-benar sedingin musim salju di Rusia. Tidak ada sedikit pun tanda persahabatan yang Reksa tunjukkan untuk Ailen, dan membuat Ailen lantas mati langkah. Reksa memang sulit dihadapi, menakutkan, dan berbahaya. Namun, sisi-sisi itulah yang kerap membuat Ailen dimabuk kepayang. Reksa begitu berbeda.
“Satu kali ini saja, saya benar-benar sangat ingin menyantap makan siang bersama Tuan Reksa. Tuan, saya ini seorang selebgram papan atas, kalau saya merasa kecewa dan mengucapkannya di hadapan penggemar saya, perusahaan Anda pun bisa mengalami kerugian,” ancam Ailen yang telah mendapatkan ide brilian.
Reksa berangsur menghentikan kesibukannya dan lantas menatap wanita itu. “Kamu—”
“Bagaimana, Tuan Reksa?”
***
__ADS_1