
Sebenarnya, Kenny merasa tidak percaya diri. Pasalnya, ia menjemput Keira menggunakan sepeda motor milik temannya. Malam ini setelah ia hendak mengajak Keira untuk menonton film terbaru. Entah bisa dianggap cukup mengherankan atau sangat menguntungkan, Keira memberikan persetujuan atas penawaran yang ia berikan.
“Kaya gini enggak apa-apa memangnya? Ini pun cuma minjam dari teman, Ra. Motor ayahku dipakai, dan butut banget. Tapi, kalau kamu enggak nyaman, kamu boleh bawa mobil kamu sendiri. Terus nanti ketemunya di mal sesuai alamat yang aku berikan, bagaimana?” ucap Kenny pada Keira tepat di hadapan sepeda motor yang ia pinjam sebelum datang.
Keira mengulas senyuman dan lantas berkata,”Ya elah, Ken! Enggak apa-apa kali. Lagian sewaktu masih SMA sampai kuliah aku juga masih pakai motor, dan itu butut. Jadi, enggak masalah. Aku bakalan ikut kamu.”
“Serius nih? Nanti masuk angin lho kalau naik motor.”
“Ih Kenny bawel banget. Ayolah, keburu malam nih, aku kan sudah bilang mau ikut kamu, Ken!”
Kenny tersenyum malu-malu. ”Ya sudah ayok, Ra. Keburu filmnya habis juga.”
Kenny yang tidak mau mengambil resiko berbahaya lantas menyetujui permintann Keira. Detik berikutnya, ia mengambil salah satu helm yang ia bawa. Ia menyerahkan benda pelindung kepala itu pada Keira.
”Jangan khawatir ini baru kok, Ra. Jadi enggak bau kepala orang. Kalau beli helm aku bisa, tapi kalau beli mobil belum bisa,” ucap Kenny lagi sembari memasangkan helm tersebut pada Keira. Dengan kata lain, saat ini wajahnya begitu dekat dengan wajah wanita itu.
Posisi wajah Kenny yang dekat sesaat membuat Keira tidak bisa mengedipkan mata. Apalagi saat Kenny mengulas senyuman yang diiringi munculnya lesung pipi dan gingsul di gigi. Keira serasa ingin mengecup habis wajah pria itu, sungguh! Gemas!
“Sudah, selesai! Meskipun cuma bawa motor aku pastikan kamu aman di belakang, Ra.” Kenny berucap sesaat setelah menarik dirinya dari Keira.
Keira tersenyum. ”Aku percaya sama kamu kok, Ken. Aku pasti aman.”
“Terima kasih, Nona. Silakan naik.”
“Hmm lagak kamu kayak yang lebih tua saja sih, Ken?”
”Karena walaupun aku lebih muda, aku tetap seorang lelaki yang harus menjaga wanita, Keira.”
”Waaah ... luar biasa! Hahaha.”
Kenny memicingkan matanya. “Hmm? Lagi meledek ya?”
Keira mengangguk tanpa ragu. ”Iya, aku meledek hahaha.”
__ADS_1
“Dasar! Cubit nih!”
”Jangan dong! Bahaya!”
Kenny tergelak, lalu berangsur naik ke atas motor gede yang ia bawa serta tersebut. Disusul oleh Keira yang naik di belakangnya. Setelah merasa sudah siap dan nyaman, termasuk juga Keira di belakang, Kenny lantas menyalakan mesin kendaraan roda dua itu. Perjalanan pun mulai diarungi untuk menuju salah satu mal yang menyajikan fasilitas menonton.
Bagi Keira, naik sepeda motor bukanlah hal memalukan. Terasa lebih asyik dan seru. Apalagi jika bersama seseorang seasyik Kenny. Mobil pajero yang mahal pun sepertinya akan kalah dari keayahduan naik motor berduaan.
“Ken?” ucap Keira.
”Ya, Ra?! Kenapa?” sahut Kenny.
“Terima kaaih sudah mengajak jalan aku malam ini.”
“Mm, aku sedang berjuang, Ra!”
“Ha? Apa! Enggak dengar tahu, Ken!”
“Berjuang ... buat mendapatkan diri dan hati kamu, Ra.” Kenny memberikan jawaban dengan suara yang sangat lirih, karena khawatir jika Keira akan medengarnya. Sebab belum tiba waktunya bagi Kenny untuk mengutarakan semuanya.
Di sisa perjalanan itu, akhirnya tidak ada perbincangan apa pun lagi. Keduanya saling diam, meski senyuman tidak pernah pudar di bibir Keira maupun Kenny. Udara malam yang dingin, dan langit mendung gelap tanpa hujan, tidak membuat kedua pemuda itu menguruangkan niat untuk sampai di mal yang sudah Kenny tentukan.
Indah sekali. Soal kasmaran yang sudah terjadi. Bagi Kenny, Keira adalah impian tertingginya dalam hal asmara. Tidak ada satu pun wanita atau mantan kekasihnya yang bisa melebihi level Keira. Dan tinggal sedikit lagi ia bisa memiliki Keira, sampai semua keinginan untuk melupakan Keira sudah lenyap bagai tak tersisa.
Selang beberapa menit kemudian, Kenny dan Keira sudah sampai di mal. Mereka bergegas untuk turun dari sepeda motor yang sudah hendak diparkir di salah satu area khusus kendaraan itu. Kenny langsung berfokus pada Keira dan kembali membantu wanita itu untuk melepas helm.
”Berantakan banget ya, Ken? Rambut aku?” tanya Keira, jujur ia paling malu kalau kondisi wajah dan rambutnya berantakan.
“Sedikit,” jawab Kenny, sementara kedua jemarinya langsung terulur untuk merapikan rambut Keira. “Disisir dulu, kalau kamu takut kusam, Ra. Maafkan aku ya, andai aku punya mobil. Kamu pasti enggak seberantakan ini.”
“Ya ampun dibahas lagi. Ih! Dibilang enggak apa-apa kok! Ya sudah ayo, keburu filmnya mulai nih. Mm, rambut aku halus kok, disisir pakai jari juga sudah rapi.”
“Iya sih, Keira kan berbeda. Berantakan saja tetap cantik kok!”
__ADS_1
“Alah! Mulai jago gombal ya kamu, Ken! Apakah ini bentuk dari perjuangan kamu?”
“Entah. Aku enggak pernah mengatakan omong kosong, jadi yang aku bilang tadi pun apa adanya, Ra.” Kenny tertawa untuk menutupi rasa malunya. “Ya sudah, yuk! Dari tadi ngobrol melulu! Nanti enggak jadi nonton filmnya.”
Pendar lampu-lampu di mal itu langsung memberikan sorotan terhadap Kenny dan Keira, ketika keduanya sudah memasuki kawasan dari tempat tersebut. Mungkin karena bukan akhir minggu, kondisi mal tidak terlalu ramai. Lumayan juga untuk menyegarkan otak dalam kondisi kelelahan. Yang paling penting, jangan sampai pulang terlalu malam.
Langkah mereka berbelok untuk menaiki salah satu eskalator yang menuju lantai lebih atas. Andai saja Kenny kurang waras, mungkin ia sudah meraih jemari Keira dan lantas menggenggamnya di sepanjang perjalanan ke bioskop. Sayangnya, Kenny tidak berani. Beberapa kali ia mencoba meraih jemari Keira, dan hanya berakhir gagal karena sangat malu. Selain itu, Keira bisa saja marah dan menganggapnya kurang ajar.
“Di sebelah sana, yuk, studio berapa?” ucap Keira.
“Delapan,” sahut Kenny. ”Aku beli popcorn dulu.”
“Barengan saja, Ken.”
“Enggak, itu sudah tanggung jawab aku, Ra. Aku yang mengajak kamu.”
“Ya sudah, okee! Lumayan kan aku bisa lebih hemat.”
Kenny tersenyum kemudian bergegas menuju tempat pembelian popcorn. Sementara Keira masih menunggu di belakang. Keira tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya dari dirinya sendiri. Kenny terlalu manis, semua sikap Kenny sangat menyentuh hatinya. Mungkin kepercayaan diri Kenny saja yang perlu ditingkatkan. Keira yakin setelah mendapatkan banyak hasil dari pekerjaan sebagai supervisor, Kenny bisa lebih percaya diri untuk melakukan segala hal.
“Sepertinya, aku memang harus mendampingmu sampai kamu sukses, Kenny. Kamu ... sudah berhasil menyentuh hati aku dan kamu langsung bergegas untuk memperjuangkan aku, ketika aku sudah memberikan lampu hijau untukmu,” gumam Keira. “Kalau takdir memihak, berarti aku benar-benar akan menjadi adik Celine hihi. Lucu sih, malu juga. Tapi, mau bagaimana lagi, cowok kayak kamu tuh seribu satu, Ken.”
“Ra! Ayo!” seru Kenny yang sudah berhasil membeli camilan yang terbuat dari jagung tersebut.
“Sini aku bantu!” sahut Keira sembari berjalan menuju keberadaan Kenny.
“Enggak perlu. Malam ini kamu ratunya, Ra, jangan sampai kesulitan walaupun sekecil biji gandum sedikit pun!”
“Ya ampun, Kenny! Lebay deh!”
”Ayo ....”
Baiklah, Keira tidak akan melakukan apa pun yang tidak diperbolehkan oleh Kenny. Bukan maksudnya ingin bersikap manja, tetapi begitulah caranya menghargai seorang pria. Keira juga ingin memberikan kesempatan bagi Kenny untuk memperjuangkan dirinya. Kalau apa-apa sendiri, nanti Kenny malah merasa tidak berguna. Dan Keira tidak mau jika pria super manis itu sampai merasa seperti itu.
__ADS_1
***