
Keira merasa sangat letih. Banyak yang terjadi hari ini. Ada masalah di kantor yang membuatnya harus lembur sampai malam. Melelahkan sekaligus menyebalkan. Padahal, ia pikir setelah masa liburan, pikirannya akan lebih nyaman untuk kembali melanjutkan rutinitas mencari uang, sayangnya tidak. Keira masih harus berjibaku dan memutar otaknya selama seharian, bahkan tadi siang pun ia hanya menyantap roti kemasan yang ia beli melalui salah satu office boy agar tidak perlu keluar ruang kerja.
“Andaikan ada sandaran setelah lelah begini,” ucap Keira sembari berjalan meninggalkan mobilnya yang sudah terparkir di baseman
Wanita cantik yang bergaya elegan itu menuju salah satu elevator untuk mencapai lantai di atas di mana tempat tinggalnya berada.
Keira selalu sendiri sejak ibunya tiada, sebelumnya ia masih dirawat oleh ayahnya. Namun, semua berubah saat ayahnya menikah lagi. Meskipun Keira sudah ditawari untuk hidup bersama, akhirnya Keira memilih menolak. Ia tidak bisa menerima kenyataan posisi ibunya digantikan oleh wanita lain.
Hubungan Keira dengan ayah dan ibu tirinya sebenarnya tidak ada masalah. Hanya saja, mereka kurang komunikasi. Entah Keira atau sang ayah kerap canggung untuk memulai menghubungi, terutama sang ibu tiri. Tidak ada adegan yang menyajikan bahwa sang ibu tiri begitu jahatnya layaknya di serial Cinderella. Sama sekali tidak. Namun, kembali lagi pada kecanggungan yang diderita mereka, membuat hubungan itu langsung jauh.
Keira menghela napas. “Aku jauh lebih pintar dari Celine, tapi nasibku jauh lebih buruk darinya. Setiap orang memang punya cerita ya?” Ia pun tersenyum kecut setelahnya, kemudian bergegas untuk keluar dari elevator ketika pintu dari alat itu telah terbuka.
Langkah Keira masih pelan, cenderung gontai dan nyaris tanpa semangat. Setidaknya, ada satu rencana setelah ini; tidur dengan pulas! Ia tidak menginginkan makanan apa pun, perutnya mendadak kenyang ketika memikirkan tentang kehidupan. Apalagi saat menyantap makanan sendirian, pasti rasanya akan lebih menyedihkan. Jika dulu ada Celine, kini Keira semakin sendirian, Celine sudah menikmati fase sebagai istri orang, dan tidak mungkin Keira merengak minta ditemani lagi, apalagi hanya untuk sekadar makan malam.
Menikah? Tiba-tiba tebersit pemikiran tersebut setelah teringat bahwa Celine sudah menjadi istri orang. Keira tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, bahkan ia tidak memiliki rencana untuk itu. Hanya saja ... kalau ditelaah kembali, bukankah menikah adalah pilihan paling tepat untuk Keira saat ini? Setelah punya suami, bahkan anak, hidupnya dipastikan tidak akan sepi.
Namun! Kata 'namun' masih saja membayangi. Namun, dengan siapa Keira akan menikah? Namun, pria mana yang pantas Keira jadikan seorang suami? Namun, pria mana juga yang akan menerima Keira yang memiliki latar belakang keluarga yang buruk.
“Ra! Keira!”
“Eh?” Seruan seseorang menyebut namanya, membuat lamunan dalam perjalanan Keira langsung buyar. Pemikiran soal pernikahan pun terhempas dan mendadak hilang. Lantas, Keira mencari sumber suara itu, yang tak jauh di depannya sesosok pria manis tengah berdiri.
__ADS_1
Bukan Danurdara, melainkan Kenny yang tampak berada di depan pintu apartemen Keira. Pria manis itu menenteng sebuah paperbag besar, dan entah apa isinya.
“Kenny? Ngapain di sini?” tanya Keira.
Kenny mengusap tengkuk, agak tertunduk, dan cukup malu sebenarnya. “Nih!” Ia menyodorkan paperbag itu pada Keira. “Ada kiriman makanan dari ayah dan ibuku, buat kamu.”
“Mm? Tapi, kok kamu ada di sini malam ini, kayak tahu kalau aku lembur?”
Kenny mengusap tengkuk lagi. “Ini kedua kalinya aku ke sini. Tadi sore sudah, tapi kamu belum pulang dan dihubungi enggak bisa.”
“Astaga! Maafkan aku, Ken, aku enggak lihat ponsel sama sekali!”
Kenny tersenyum, lalu menggelengkan kepala. “Nggak apa-apa kok. Makanya malam ini aku datang lagi, dengan masakan baru. Kamu kan umm ... tahu sendiri ibuku super bawel, kalau niatnya enggak kesampaian, nggak bakalan tenang. Apalagi pas tahu kamu lembur, takutnya kamu lupa makan.”
“Enggak apa-apa, lagian aku lagi nggak ada kerjaan kok, Ra. Makan saja, jangan dibuang ya! Makanannya enggak berkelas sih, tapi enak kok!”
“Halah! Aku juga sering dapat makanan dari Ibu kali, Ken!”
Keira meraih paperbag berisi beberapa kotak makanan yang disusun begitu rapi. Sepertinya porsi yang diberikan padanya cukup banyak. Bisa disantap sebanyak dua kali. Kalau lauknya kering, bisa dihangatkan esok pagi untuk sarapan, begitu pikir Keira yang tidak pernah mengabaikan pemberian orang, apalagi dari ibu Celine.
Sementara itu, kini tidak ada lagi alasan bagi Kenny untuk berlama-lama di tempat tersebut. Makanan sudah ia serahkan pada Keira, dan selesai! Beberapa hari tidak menatap Keira, rasanya rindu sekali. Ia ingin tinggal lebih lama, tetapi apa boleh buat. Ia tidak berhak, dan justru aneh jika izin ingin mampir ke rumah.
__ADS_1
“Mm, ya sudah, Ra. Aku balik ya. Besok saja soal tempat makannya, aku ambil lagi ke sini,” ucap Kenny berpamitan, sekaligus mencari alasan ingin bertemu lagi. Fatal memang, padahal ia sudah berharap agar tidak bertemu dengan Keria lagi. Namun, kecintaannya terhadap wanita itu semakin menggila ketika bertemu. Dan herannya, ada saja keadaan yang bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan; Deswita memaksanya mengantarkan makanan untuk Keira.
Keira menundukkan kepala, sementara Kenny sudah berhasil melewatinya dengan rencana hendak pergi dari tempat itu. Pikiran Keira berkecamuk hebat, mengingat peristiwa di Bali, saat ia mendengar curhatan hati Kenny pada Celine. Lalu, sebuah keinginan lain mendadak muncul, Keira ingin ditemani menyantap makan malam! Dan bukankah tidak pantas jika ....
”Ken!” seru Keira memilih memotong pemikiran akal sehatnya. Ia sudah menghadap ke arah Kenny yang masih berjalan menuju ke salah satu elevator.
Kenny menghentikan langkah kakinya. Lantas, ia menoleh lalu benar-benar memutar badannya untuk menatap Keira. “Ya?”
“Mm ... ma-mau makan bareng?” tawar Keira. Sial, aku sudah gila! Sementara batinnya berkata seperti itu.
”Hah?” Kenny tercengang, menganggap dirinya sudah berhalusinasi. Namun, suara Keira terlalu nyata, yang artinya ajakan makan bersama pun bukan kehaluan semata.
“Ah ... i-itu, makan bareng ini di taman sekitar sini. Maksudku biar kamu sekalian bawa pulang kotak hidangannya. Ada taman nggak jauh dari sini dan ada bangku di sana. Be-begitu maksudku, Ken, en-enggak ada maksud apa-apa kok!”
Kenny senang. Sebuah senyum menarik kedua sudut bibirnya. Hingga giginya gingsul dan lesung pipitnya benar-benar kelihatan sekian detik kemudian. “Ya, aku mau kok. Biar sekalian bawa kotaknya, 'kan?”
”I-iya.”
Keira mengangguk kaku. Dan ia cukup tertegun menatap Kenny yang semakin mempesona. Bagaimana bisa anak laki-laki yang selalu ia anggap sebagai bocah kemarin sore, berandal sekolah yang masih labil, mendadak jadi pria super mengesankan? Apalagi senyuman Kenny ditambahi gigi gingsul dan lesung pipit, membuat wajah manis itu benar-benar menakjubkan.
Keira tertawa kecil. “Dia sudah benar-benar dewasa rupanya,” lirihnya. Setelah itu, ia berjalan untuk menyusul Kenny. Bersama mereka memasuki elevator yang dilanjutkan perjalanan menuju taman di dekat apartemen.
__ADS_1
***