Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 105-Lho Kok?


__ADS_3

Celine: Reksa, kamu bisa balik cepat, 'kan, hari ini? Aku ingin mengatakan sesuatu. Penting banget! Mm, aku juga sangat rindu. Jadi, cepat-cepat pulang ya, Sayang. Tapi, kalau memang enggak bisa, ya jangan maksa. Aku tetap ingin pengertian kok!


Demikianlah pesan singkat dari Celine yang Reksa terima beberapa saat lalu, setelah berbicara dengan Keira di ruang kerjanya. Dan kini, dirinya telah kembali ke apartemen setelah jam operasional habis. Bahkan, ia memutuskan untuk menunda rapat akhir demi menemui sang istri.


Reksa sudah tahu istrinya akan mendatanginya dengan wajah yang gelisah. Dapat dipastikan bahwa permintaan Catarine cukup membuat Celine bimbang. Sungguh istri yang baik, bukan? Padahal Celine bisa saja bersikap egois, atas nama pekerjaan dan keprofesionalan ia bisa berangkat ke negara-negara itu untuk bekerja. Namun, tampaknya Celine masih merasa bahwa dirinya wajib mengatakan apa pun yang ia gelisahkan, baik dari pekerjaan maupun pertemanan.


Dan seperti yang Reksa pikirkan, Celine sudah menunggunya di dalam kamar dalam keadaan tegang. Parasnya yang cantik menunjukkan sebuah gurat penuh kecemasan. Tentu saja Celine masih memikirkan bagaimana caranya mengatakan tugas yang Catarina berikan untuk dirinya pada sang suami. Celine tahu betapa bencinya seorang Reksa terhadap tugas yang mengharuakannya pergi ke luar kota, pulau, atau sampai luar negeri. Meski selama bekerja, Celine belum pernah mendapatkan job ke luar negeri.


“Ada apa, Cel? Kayaknya lagi ada pikiran ya?” tanya Reksa sesaat setelah berdiri di hadapan Celine, dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam kantong celana.


Celine melirik sepasang kaki yang terbalut sandal rumah. Ia mengigit bibir bagian dalam. “Enggak apa-apa kok, Sa,” jawabnya setelah itu.


“Beneran enggak apa-apa? Kamu tampak gelisah lho, Sayang.”


Celine berangsur menatap Reksa. “Iya, serius aku baik-baik saja kok.”


“Enggak ada yang mau diomongin? Kamu bilang mau ngomong sesuatu sama aku barusan, Cel?”


“Mm ... i-itu ....”


Reksa rasanya ingin tertawa, tetapi rasa iba lebih besar mendera hatinya. Celine yang gelisah dan tampak kebingungan kelihatan memilukan sekali. Membuat Reksa sangat ingin membuka kedok di balik hadiah bulan madu yang ia rancang bersama Catarina. Namun, kalau ia buka detik itu juga, dijamin Cine tidak akan terkejut apalagi terkesan ketika berada di negara-negara itu.


Reksa lantas melepas blazer yang sejak tadi menyelimuti tubuhnya. Cepat, ia meletakkan pakaian panjang itu ke gantungan yang semestinya. Ia tersenyum sebelum menatap Celine dengan sebenar-benarnya. Setelah berusaha menahan rasa geli, Reksa baru kembali menghadapkan diri pada sang istri. Bahkan, ia bergerak untuk menuju keberadaan istrinya itu.


Dibelainya rambut Celine yang terurai dan yang berantakan ke depan. Tak berselang lama, setelah mengambil sikap duduknya, Reksa memberikan kecupan manis di dahi istrinya itu. “Di luar mendung, sepertinya akan hujan sebentar lagi. Aku ingin mengajak kamu kencan, tapi cuacanya sedang enggak bagus. Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa membuat diri kamu jauh lebih tenang, Cel?” katanya setelah itu.


Perlahan dan pasti, Celine berangsur menatap mata hitam legam dan tajam milik sang suami. Mata itu begitu jernih, dan tampak lembut jika sang pemilik berada dalam keadaan tidak arogan. “Aku kan tadi sudah bilang kalau aku itu enggak apa-apa. Kok kamu masih bingung hendak cari cara agar aku lebih tenang. Sekarang pun aku sudah tenang kok, Reksa,” jawabnya setelah itu atas ucapan sang suami yang sempat ia gantung.


“Kamu juga, sejak kapan kamu berbohong kayak begitu, Cel?” Reksa mengusap pucuk hidung Celine dengan lembut. “Biasanya kamu mengeluarkan semua unek-unek kamu, tanpa beban sedikit pun. Tapi, kenapa sekarang juga bilang kalau kamu baik-baik saja? Aku pernah baca di sebuah artikel, katanya kalau cewek ngomong baik-baik saja itu, justru enggak baik-baik saja.”


“Hilih! Ngapain juga sih percaya sama artikel enggak jelas, Sa? Enggak semua cewek kayak gitu kok!”


”Tapi, kali ini kayaknya kamu termasuk cewek yang kayak begitu sih, Cel!”


“Hmm.”


”Ayolah, Cel! Bilang padaku, ada apa? Kenapa kamu minta aku buat pulang lebih cepat, katanya mau bilang sesuatu, makanya bilang sekarang dong, Sayang. Aku tahu kamu, Cel, meski pernikahan kita belum ada satu tahun, tapi kalau soal memahami karakter seseorang aku jagonya. Dan lagi, aku kan sering terlibat dalam wawancara calon karyawan, aku kerap melihat setiap detail, karakter, gestur, sampai cara pikirnya. Sampai aku bisa hafal sama mereka. Nah, apalagi kamu yang setiap hari bersamaku, aku lebih mengenal dirimu daripada dirimu sendiri.”


Ya, dan lagi pula, Celine adalah orang yang mudah dibaca. Celine paling tidak bisa menyembunyikan kondisi hatinya, baik dalam keadaan senang, gelisah, maupun ketakutan. Wajar saja jika Reksa langsung memahaminya meski usia pernikahannya dengan pria itu belum ada satu tahun.


Namun, meski tahu begitu, Celine tetap merasa berat untuk mengatakan isi hati serta masalah yang mengganggunya saat. Terbang ke empat negara sekaligus dalam waktu berturut-turut, bukankah hanya akan membuat Reksa marah. Kalau hanya marah sih, wajar dan Celine bisa mengerti. Akan tetapi, kalau Reksa langsung memintanya berhenti dari pekerjaan bagaimana?

__ADS_1


Benar, Celine tahu suatu saat ia juga akan berhenti. Apalagi kalau sudah punya anak. Namun, untuk saat ini ia belum sedang berada di dalam kondisi seperti itu, bukan? Catarina baru memberikan pujian, dan baru Catarina-lah yang menjadi bos super baik. Rasanya Celine tidak ingin mengecewakan pemilik biro perjalanan bulan madu itu, ia lebih ingin memberikan kemampuannya, setidaknya satu sampai maksimal dua tahun ke depan.


Di sisi lain, Celine juga tidak mungkin menyembunyikan keberangkatannya dari Reksa. Ia bisa menghabiskan waktu sampai beberapa minggu hingga bulan, yang rasanya tidak wajar jika ia menggunakan alasan asal-asalan.


Kalau begitu ....


Celine menghela napas. Sejenak ia berpikir, mencari solusi terbaik. Dan pada akhirnya, keputusan itu mengarah pada pilihan agar dirinya tetap berkata jujur saja. Mau bagaimana lagi, seorang istri memang seperti itu. Istri tidak sebebas suami yang memegang kendali atas ketetapan di dalam rumah tangga, asal masih dalam batas wajar dan memiliki alasan yang masuk akal.


“Begini,” ucap Celine memulai ucapannya. “Sebenarnya, aku ada tugas di kantor, Reksa. Dari Nyonya Catarina atasanku yang juga teman dekat Ibu Mertua, alias ibu kamu.”


“Terus? Tugas apa memangnya, sampai kamu jadi gelisah banget, Istri tersayang?” desak Reksa.


“Pengaturan honeymoon, Reksa. Nyonya Cat meminta aku buat turun ke lapangan langsung.”


Reksa masih bersandiwara, lantas mengernyitkan dahinya. “Lantas? Maksudku bukankah selama ini kamu juga turun ke lapangan, Celine? Terus apa masalahnya? Kamu diminta ke mana lagi sama dia?”


“Kok dia sih? Beliau! Yang sopan dong, Suamiku Sayang! Kamu ih! Paraaah!”


“Iya, iya, beliau maksud aku, Cel.”


“Beliau ingin aku terbang ke empat negara sekaligus,” ucap Celine sembari memejamkan matanya, juga mengepalkan kedua jemarinya demi menahan ketakutannya terhadap respons dari Reksa. “Dan pasti membutuhkan waktu sangat lama, aku juga meninggalkan kamu jadinya.”


Reksa terdiam. Namun, bukan murung. Karena orang yang meminta acara bulan madu ke empat negara sekaligus memanglah dirinya. Yang artinya, ia juga yang membuat Celine terjebak dalam suatu kebingungan seperti sekarang.


Di dalam pelukan Reksa, Celine membelalakkan mata. Ia tertegun sekaligus heran. “Ka-kamu enggak marah? Atau melarang aku?” tanyanya setelah itu.


“Kenapa aku harus marah? Mau bagaimana lagi. Itu kan bagian dari pekerjaan kamu, Cel. Dan belakangan ini aku lihat kamu senang sekali dengan pekerjaan kamu. Jadi, aku enggak mau merusaknya terlebih dahulu. Lagi pula aku kan masih bisa menyusul ke sana kalau sangat kangen dan enggak bisa menahan rasa kangen itu."


“Lho kok?" Celine masih belum bisa percaya, lantas melepaskan diri dari pelukan Reksa. ”Biasanya kamu bakal marah-marah tahu, Sa?! Aku kaget lho ini. Ini empat negara lho! Kok kamu enggak marah sih?”


“Jadi, kamu mau aku marah saja dan melarang kamu, begitu?"


“Y-ya jangan begitu! Aku berterima kasih kok. Sungguh! Haha.”


Celine tertawa kaku, kelihatan sekali kalau tawa itu hanya terpaksa. Bukan tidak bahagia, tetapi respons Reksa benar-benar tidak terduga. Ke pulau-pulau terdekat saja, Reksa kerap uring-uringan, tetapi mengapa Reksa justru tampak ikhlas ketika Celine hendak terbang ke beberapa negara?


“Mencurigakan!” celetuk Celine. “Kamu enggak lagi dekat sama cewek lain, 'kan, Sa? Kepergianku ke negara-negara itu, bukan karena kamu ingin cari kesempatan buat menyeleweng, 'kan?!”


“Astaga ... cewek ini!” keluh Reksa.


“Jawab aku, Reksa!” Celine mencengkeram kuat lengan Reksa yang kekar. “Aku lagi serius!”

__ADS_1


“Enggak, Celine sayang!” tegas Reksa. “Aku cuma habis dikasih wejangan sama ibuku kalau aku enggak boleh terlalu mengekang kamu, apalagi kamu kan masih muda.” Muncul ide klasik yang secara dadakan di otaknya, tetapi sepertinya cukup masuk akal untuk ia jadikan sebagai alasan.


“Ooo ...,” sahut Celine sampai bibirnya mengerucut bulat.


Kalau alasan Reksa seperti itu sih, tentu saja Celine akan merasa lebih tenang. Apalagi kedekatan Reksa dengan sang ibu memang tidak perlu diragukan lagi. Sementara Reksa juga berangsur tenang, saat alasan bodoh itupun mampu membodohi istrinya yang memang sudah sangat bodoh.


Lantas, Celine memberikan pelukan untuk Reksa. Tak lupa ia haturkan ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya. Karena berkat Reksa, impiannya untuk bekerja di biro perjalanan milik Catarina lebih lama lagi bisa tercapai.


“Tapi, kalau kita sudah punya anak, kamu benar-benar harus keluar dari pekerjaan itu ya, Cel.” Reksa memberikan peringatan.


Celine menarik diri, lalu mengangguk-angguk. “Iya, aku janji kok! Serius! Kecuali ....”


“Kecuali apa nih?”


“Enggak, enggak apa-apa kok.”


“Hmm ....” Reksa menekan kedua sisi kening Celine. “Jangan ada ide konyol di otak kamu ya, Sayang. Aku enggak mau, kamu bikin ulah atau keputusan yang bikin kita bertengkar terus pokoknya!”


“Iya, iya, kamu juga begitu ya, Sayang. Mm, kencan yuk! Nonton ke bioskop! Ada film bagus tahu, Sa!”


“Mau hujan lho, kencannya di ranjang saja, bagaimana?”


Celine memicingkan matanya. ”Enggak deh!”


“Hmm ... kok begitu?”


“Aku mau nonton pokoknya!” rengek Celine. “Terus makan berondong sama kamu.”


“Popcorn kali, Cel! Astaga ... berondong? Sudah punya suami tampan juga, masih mikirin berondong.”


“Berondong popcorn maksudnya, Reksa Sayang! Istigiii ... lagian suami aku kan sudah tampan, baik, kaya, buat apa aku cari berondong lagi? Memangnya si Keira.”


Dahi Reksa mengernyit. “Keira?”


“Iya. Kayaknya dia ada apa-apa sama Kenny.”


“Waaah! Takdir begini banget ya, Cel.”


“Entah. Tapi, aku setuju saja sih. Keira kan cantik, baik, pintar, dan pengertian. Tinggal Kenny saja nih yang perlu diasah, biar enggak seenaknya saja kayak aku hahaha.”


“Ya sudahlah, itu kan urusan mereka. Jangan malah gibah kayak gini. Siap-siap dulu, katanya mau nonton?"

__ADS_1


Celine mengangguk-angguk. Ia bangkit diri duduknya, sekilas memberikan kecupan di pipi Reksa. Lalu, ia benar-benar beranjak untuk mempersiapkan diri demi kencan malam ini. Pun pada Reksa yang juga tidak sabar ingin berjalan-jalan dengan istrinya.


***


__ADS_2