
Danu ingin sekali menyantap minuman apa pun yang dapat membuatnya tidak sadar. Mungkin wiski, sampanye, atau bir. Namun, sudah sejak dua tahun yang lalu, ia memutuskan untuk menghindar dari segala jenis santapan itu. Kini, ia terpaksa mendatangi sebuah kadai, alih-alih klub malam dan hanya menyesap kopi hitam beraroma vanilla.
Ada satu perasaan yang membuat Danu merasa tidak tenang. Kejadian tadi siang, sungguh menyisakan luka yang mendalam di hatinya. Tidak seperti ucapan Keira, antara Celine dan Reksa justru diisi banyak keakraban dan canda tawa. Padahal belum lama ini, Danu sudah membuat rencana. Ia akan terus mendekati Celine, bahkan akan setia mendampingi wanita pujaannya itu ke mana pun pergi.
Soal kegiatan pengadaan barang, sebenarnya Danu tidak perlu mengikuti Celine. Danu memutuskan untuk menawarkan diri sebagai teman, hanyalah salah satu bentuk dari siasatnya. Sayang sekali, baru saja melakukan langkah pertama, Reksa justru datang dan mengacaukan semuanya. Fatalnya, kebencian Reksa terhadap Celine sepertinya sudah berangsur mereda.
Danu menghela napas. “Celine? Aku sungguh menyukai dirimu,” gumamnya. “Benar-benar menyukaimu, sejak dulu.”
“Uh!” Danu menekan kepalanya yang mendadak merasa pening. Setiap kali memiliki beban pikiran, ia memang kerap menderita pusing. Apalagi satu hari penuh ia melakukan banyak hal di dalam kantornya. Lelah dan letih menyerang tubuhnya, tetapi Danu mencoba untuk tidak peduli. Di rumahnya, ia hanya sendiri. Lebih baik berada di tempat umum yang masih banyak suara-suara berisik.
Teringat tentang Keira, Danu lantas meraih ponsel genggamnya. Seingatnya, apartemen Keira tidak jauh dari kedai kopi tempatnya berada. Mungkin, Keira bisa datang dan menjadi kawan, daripada hanya sendiri seperti orang bodoh yang terluka karena memikirkan istri orang.
Danu menelepon Keira, berharap Keira dapat menerima panggilan darinya atau bahkan berkenan untuk hadir di kedai tersebut. Beruntung, hanya terhitung lima detik saja, suara Keira langsung terdengar di telinga Danu yang sudah ditempeli sang telepon genggam.
“Halo, Ra? Sibuk?” tanya Danu.
“Enggak, Nu, habis mandi ini. Kenapa?” balas Keira dari kejauhan.
“Mm ... aku di sekitar apartemen kamu. Kedai kopi sebelah toko roti.”
“Oh. Ada masalah, Nu?”
“Ada. Bisa enggak, kamu datang? Aku yang traktir deh.”
“Okeee! Lagian, aku enggak ada acara apa pun hari ini. Celine mungkin lagi kena masalah juga.”
Danu menelan saliva. “Well, aku tunggu.”
Danu mematikan panggilan tersebut tanpa menunggu jawaban lain dari Keira. Nama Celine yang diucapkan oleh Keira, lagi-lagi sukses membuat hatinya terenyak. Namun, tak dapat disangkal bahwasanya mereka berdua adalah sepasang sahabat yang nyaris tidak terpisahkan. Mungkin situasi mereka pada saat ini mulai menunjukkan sebuah perubahan, tentunya setelah Celine memutuskan untuk menikah lebih awal daripada Keira.
Mata Danu berangsur menatap ke arah jalan raya yang masih terlihat jelas dari posisinya di dekat dinding transparan tempat itu. Di waktu-waktu seperti ini, tepatnya jam tujuh malam, jalanan ibukota masih terlihat ramai dan berisik. Danu sendiri tidak mengerti, mengapa jalan raya nyaris tidak pernah lengang, seolah-olah kota tersebut adalah kota 24 jam yang penduduknya kerap sibuk dari pagi hingga malam.
__ADS_1
“Danu!” Terdengar suara seorang wanita yang sebenarnya masih berada sekitar lima meter dari posisi Danu berada.
Tentu saja Keira, wanita yang mendadak mendapat undangan traktiran kopi di malam ini. Ia terlihat melanjutkan perjalanannya, ketika Danu sudah memberikan balasan berupa seulas senyum dan lambaian tangan. Kali ini ia hanya mengenakan celana sepanjang lutut, kaos, dan jaket ber-hoodie. Sebuah penampilan yang sangat berbeda dengan image elegan seorang Keira ketika sedang bekerja.
“Sudah lama di sini?” tanya Keira pada Danu, sesaat setelah mengambil sikap duduk tepat di hadapan pria itu.
Danu mengangguk. “Lumayan, Ra, setengah jam mungkin. Lihat kopiku sudah nyaris tandas,” jawabnya sembari memperlihatkan isi cangkirnya yang tinggal satu sesapan lagi.
“Kenapa enggak panggil aku dari tadi?”
“Ah ... aku baru kepikiran sekarang, Ra. Maaf.”
“Kenapa meminta maaf? Enggak ada yang salah kok, Danurdara.”
Danu tersenyum. “By the way, mau pesan apa?”
“Cappucino. Boleh?”
Danu memanggil salah satu pramusaji dan lantas mengatakan apa yang Keira inginkan. Sementara sang pramusaji berlalu untuk melakukan tugasnya, Danu kembali bermuram durja. Ia tidak sengaja melakukan hal itu. Hanya saja ketika teringat Celine yang sangat menyukai acara traktiran, hati Danu kembali dibuat tidak baik-baik saja.
“Hei? Ada masalah?” selidik Keira yang menyadari kekalutan begitu terpancar di wajah pria tampan di hadapannya tersebut. “Mm, apa ini soal siang tadi?”
Danu menghela napas. Tanpa menatap Keira, ia menjawab, “Mungkin, Ra. Jahat ya, aku segalau ini karena istri orang lain.”
“Enggak, Nu, yang namanya perasaan enggak ada yang salah. Apalagi kamu yang enggak sempat mengatakan perasaan itu pada Celine, pasti kamu masih belum bisa lega dan masih merasa terbebani. Aku bukan ingin menyalahkan keputusanmu di masa lalu, tapi itulah kenyataannya Danu. Perasaan yang terlalu lama disimpan, itu lebih menyakitkan daripada waktu cinta kamu ditolak.”
“Ya, kamu benar, Ra. Kalau saja aku enggak lamban dan berpikir naif pada saat itu. Dan sekarang, aku sudah terlambat, Keira. Mungkin seumur hidup aku akan menyimpan perasaan ini, tentu saja saat aku benar-benar enggak sanggup buat melupakan dia.”
Keira prihatin. Sepertinya kejadian tadi siang telah membuat Danu merasa pesimis dan minder. Kalau Danu memiliki dugaan seperti Keira, bahwa di antara Celine dan Reksa sudah tak ada kebencian, maka wajar saja jika Danu begitu galau dan tampak lesu. Keira sendiri belum tahu secara pasti, karena belakangan ini Celine tidak menceritakan apa pun padanya, selain kota Moskow dan negara Rusia. Entah karena tidak ada masalah apa pun, atau Celine yang sengaja untuk tidak mengungkapkan mengenai pernikahannya.
Saat Keira hendak mengucapkan sesuatu, seorang pramusaji datang dan membatalkan sejenak rencananya itu. Secangkir cappucino bergambar hati sudah disuguhkan di hadapan Keira, dan ia lantas mengucapkan terima kasih. Sang pramusaji mengangguk sopan dan meminta Keira menikmati hidangan, setelah akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi.
__ADS_1
“Danu ...?” lirih Keira. Ia menyesap minuman itu untuk mengambil jeda. “Soal rencana itu—“
“Jadi kayak kakek-kakek kamu, Ra,” potong Danu sembari mengusap noda busa cappucino yang berlepotan di sekitar bibir Keira.
Mendapatkan perhatian sekecil itu dari Danu, membuat Keira begitu tercenung. Perkataan yang seharusnya ia lanjutnya justru terlupakan. Ia menatap Danu dengan ekspresi bingung dan mata yang melebar.
“Ra? Tadi kamu mau ngomong apa?” ucap Danu.
“Ah, i-itu ....” Keira yang tersadar lantas mengerjap-ngerjapkan matanya dan merasa salah tingkah. “Itu ... soal rencana kita buat menyelamatkan hidup Celine. Bagaimana?” Beruntung, ia mampu mengendalikan emosinya dengan cepat.
Danu menghela napas dan memasang wajah memelas. “Aku merasa sudah enggak perlu lagi, Ra. Mereka tampak akrab kok. Mungkin perjalanan mereka ke Rusia memang sudah memberikan waktu untuk pengenalan sekaligus pendekatan.”
“Masa iya sih? Jujur, aku sendiri juga merasa ada yang berbeda di antara mereka berdua. Enggak seperti pertama kali menikah, Celine kerap mengeluh soal Reksa yang angkuh. Biasanya Celine enggak melewatkan cerita apa pun, tapi belakangan ini dia cenderung diam dan tenang. Dia juga berkilah dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Keadaan Celine yang seperti itu, justru membuat hatiku sangat resah.”
“Bisa saja Celine sudah jauh lebih dewasa setelah menikah dan berpikir kalau kehidupan pernikahannya enggak boleh diumbar ke mana-mana.”
“Enggak mungkin, Danu! Aku tahu siapa Celine, dia paling enggak bisa menyimpan beban pikiran. Dia akan mencari aku, sebagai pelampiasan isi hatinya. Dan rasanya enggak mungkin, dia berubah begitu saja. Aku agak khawatir, sebab selain mengenal siapa Celine, aku juga tahu siapa Reksa. Dia adalah atasanku, semua orang tahu betapa buruknya karakter Reksa, bahkan dia enggak akan segan-segan menghukum orang yang berani membuat masalah dengannya. Aku memang belum terlalu lama bekerja di perusahaan Reksa, tapi aku yakin aku enggak salah dalam menilainya.”
Danu menatap Keira, mengetahui betapa wanira itu masih sangat mencemaskan kehidupan Celine yang kini menjadi misterius. Seulas senyum, Danu sunggingkan. “Aku punya rencana lain, Ra.”
“Rencana lain?”
“Mm, rencana lain. Rencana yang mungkin akan menguntungkan bagi kita semua. Konsepnya sama seperti sebelumnya, tapi kali ini tujuannya berbeda. Aku juga ingin melihat hidup Celine bahagia.” Danu menghela napas. “Nanti kalau aku sudah siap dan lega, aku baru akan mengatakannya padamu.”
“O-oke.”
Sebenarnya, Keira sudah sangat penasaran dengan apa yang Danu rencanakan. Pria selembut dan seperhatian itu mungkinkah bisa berbuat sesuatu yang membahayakan? Apa yang akan Danu lakukan? Mengapa harus menunggu benar-benar? Dan lantas, seberapa lama Danu akan merasa siap?
Namun, segala macam pertanyaan hanya dibiarkan mengambang di benak Keira. Sebab, ia sendiri bukanlah tipikal wanita pemaksa. Ia harus bersabar, jika Danu memutuskan untuk menjelaskan setiap detail rencana ketika memang sudah siap dan tidak lagi terluka.
***
__ADS_1