
Karena sudah diberikan izin untuk melakukan perjalanan di beberapa negara, Celine berencana untuk mentraktir tiket Reksa untuk acara menonton malam ini. Memang benar, bahwa suaminya sudah sangat kaya. Ibarat kata uang yang Celine hasilkan sendiri hanya seujung kuku Reksa, alias tidak ada apa-apanya.
Namun, tetap saja, Celine ingin sekali-sekali membelikan sesuatu untuk suaminya. Meskipun pada akhirnya, ia diberi lebih banyak dari uang yang ia keluarkan. Memang sangat susah, sebagai seorang istri yang ingin memberikan sesuatu maupun kejutan. Karena uang yang digunakan pasti dari suaminya sendiri alias pihak yang ingin ia beri.
“Ini memang terdengar konyol sih, Sa. Tapi, aku tetap pengin traktir kamu tiket nonton. Kan aku habis gajian,” ucap Celine di sela-sela kesibukannya dalam berjalan menuju bioskop di mal tersebut.
Reksa menatap istrinya, lalu tersenyum. “Mm, memangnya kapan sih, Cel, kamu enggak berbuat konyol? Rasanya setiap hari ada saja tingkah laku unik bin aneh yang kamu lakukan,” sahutnya setelah itu.
“Ya, iya sih. Namanya juga Celine.”
”Kalau bukan Celine, aku enggak mungkin cinta.”
Celine mendesis. “Tuan Reksa Wirya Pandega tampaknya makin lihai saja ya kasih gombalannya? Mm, menggemaskan!”
“Iyakah? Berarti aku bukan monster lagi dong?”
“Buat aku sih bukan, enggak tahu deh kalau buat orang lain. Tapi, aku harap kamu tetap seperti itu hahaha. Biar enggak ada Ailen baru yang berpotensi bikin aku naik darah!”
“Hmm ... masih saja ya, sudah lama lho dan dia enggak ganggu lagi, kok masih teringat mulu sih, Cel? Enggak baik tahu buat kesehatan!”
“Aku enggak bakalan lupa, Reksa. Sampai kapan pun, dan aku akan terus mengawasi kamu pokoknya!”
Reksa tertawa kecil, sembari menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir. Kata beberapa orang, wanita memang mudah memaafkan, tetapi jarang melupakan sebuah kejadian yang benar-benar bikin marah besar. Dan saat ini, Reksa telah membuktikan hal itu sendiri, meskipun di pemikiran prianya, sikap seperti itu tidak bisa dibenarkan. Namun, ia mencoba untuk memahami saja.
Langkah mereka lantas berbelok ke arah bioskop setelah beberapa kali menaiki eskalator. Kali ini, Celine yang berinisiatif membeli camilan yang ia sebut sebagai berondong, serta dua botol cola.
Setelah selesai memesan dua hidangan yang identik dengan bioskop tersebut, Celine mengajak Reksa untuk segera masuk ke dalam studio delapan. Film yang hendak mereka saksikan kali ini adalah film holywood terbaru bergenre fantasi. Cukup santai dan pas untuk pasangan layaknya Celine dengan suaminya.
“Kamu suka film fantasi, 'kan, Sa?” tanya Celine tetap memastikan meskipun dirinya dan suaminya sudah berada di dalam studio.
Reksa mengangguk. ”Suka kok. Lagian, kalau enggak suka, aku bisa keluar dari sini? Sudah terlanjur juga, 'kan?” sahutnya.
”Iya, sih. Tapi, aku enggak enak kalau kamu cuma menuruti keinginanku saja, Pak Reksa. Kalau kamu enggak suka kan kita bisa skip dan nonton yang lain begitu lho!”
__ADS_1
“Enggak usah, ribet! Aku suka kok genre itu, tapi lebih suka sama kamu.”
“Aih! Geli tahu!”
“Jawab so sweet kek, Cel!”
“Nggak mau, geli!”
“Hahaha!”
Celine menyerahkan dua tiket pada seorang penjaga studio. Lantas, ia melesak masuk ke dalam bersama Reksa setelah penjaga itu mempersilakan dirinya. Gelap menyambut kedatangan Celine dan Reksa, suara dari layar besar langsung menyerang telinga mereka. Ternyata, film sudah dimulai sejak dua menit yang lalu. Tidak terlalu telat sih, tetapi tetap ketinggalan.
Reksa memandu istrinya dan berjalan lebih awal. Tidak penuh pengunjung yang datang, tetapi nyaris separuh dari jumlah kursi sebenarnya telah terisi. Di bagian tengah di baris kedua dari atas, Reksa dan Celine mengambil sikap duduk di sana. Tentunya, telah mereka sesuaikan dengan nomor yang tercantum di tiket masuk.
Acara untuk menyaksikan film pun telah dimulai. Tidak ada perbincangan lagi di antara keduanya, selain hanya bisik-bisik tipis.
***
Wajah pasangan itu terasa familier. Membuat Celine cukup penasaran. Rasanya, ia sudah pernah melihat mereka sebelumnya, bahkan mungkin setiap hari. Menyadari bahwa memang benar pasangan itu merupakan orang terdekatnya, Celine langsung melepas genggaman jemari Reksa dari jemarinya sendiri.
“Kenny! Keira!” seru Celine tidak peduli pada sekitarnya, ia berkata sembari menghadang langkah pasangan yang notabene adalah Kenny dan Keira. “Ahahaha! Kepergok kan kalian berdua! Hahaha. Ketahuan juga kan! Hahaha, ngakunya sih enggak ada apa-apa. Padahal ... ops!”
Keira begitu terkesiap dengan kehadiran sang sahabat yang ternyata juga datang untuk menonton film yang sama. Kacau sudah semuanya! Tidak hanya ketahuan, kencan pertama bersama Kenny menjadi berantakan. Apalagi perjuangan Kenny untuk ini luar biasa sekali, sampai harus menahan malu demi meminjam sepede motor milik temannya.
Beruntung, Reksa langsung sigap. Setelah keluar dari studip itu, ia segera menarik lengan Celine. Menurut dirinya, meskipun mengenal Kenny dan juga Keira, urusan mereka bukan urusannya dan Celine. Apalagi Reksa paling tidak suka jika ada yang mengganggu kebersamaannya dengan Celine. Mungkin mereka juga seperti itu. Sayangnya Celine terlalu tidak peka.
”Ayo, kita punya agenda lain, Cel!” ucap Reksa pada istrinya.
Celine menahan langkah Reksa. “Sebentar dulu!” sahutnya, karena masih ingin berbincang dengan Kenny dan Keira.
“Celine!" tegas Reksa.
”Selamar malam, Tuan Reksa.” Keira merundukkan badannya di hadapan Reksa, karena tidak mau membuat atasannya itu salah paham mengenai dirinya sebagai karyawan yang tidak sopan.
__ADS_1
”Ya, ya,” jawab Reksa untuk Keira. “Nikmati waktu kalian, aku akan membawa cewek aneh satu ini!”
”Uh! Aduuuh!” pekik Celine, saat Reksa mendadak menggendong dirinya. “Turunin aku! Malu, tahu! Reksa! Reksaaa!”
”Tolong ya, Bang!” seru Kenny berharap besar, agar Reksa mengamankan Celine, sementara dirinya ingin melanjutkan kencan pertama bersama wanita pujaan.
Selepas Reksa dan Celine pergi, barulah Kenny merasa tengsin sendiri. Ia bisa menahan malu saat membawa sepeda motor teman, demi kenyamanan Keira. Namun, saat Celine nyaris mempermalukan dirinya dan Keira, sungguh sangat keterlaluan!
“Maafkan aku, Ra. Gara-gara aku kamu jadi dipermalukan seperti itu.” Kenny berucap dengan ekspresi wajah yang memelas.
Keira menghela napas. “Berhenti meminta maaf, Ken, bukan salah kamu kok. Aku pun tahu kalau Celine memang kayak gitu. Haha. Menyebalkan sih, tapi mau bagaimana lagi? Dia adalah Celine, Ken, bukan Keira!” jawabnya mencoba mengerti.
“Tetap saja, dia adalah kakakku dan nyaris bikin kamu kepalang malu. Mungkin setelah ini kamu bakalan menghadapi banyak pertanyaan bodoh darinya, Ra."
“Ih, Kenny! Ya ampun, jadi gemes deh aku! Dia itu Celine, bukan kamu! Sudahlah yuk, sulang!”
“Iya sih. Kalau gitu aku minta maaf atas nama Celine, Ra. Mm, enggak mau makan dulu gitu? Sekalian kan sudah di luar, nanti kalau udah di apartemen pasti malas masak dan juga makan kamu, Ra.”
Keira tercenung sebentar. Matanya terbuka lebar. “Boleh deh. Tapi, kali ini aku yang traktir ya?”
“No, aku saja. Aku habis gajian, dan saat ini kamu adalah tanggung jawabku, Ra!”
“Tapi, kan—”
“Please, Ra.”
“Iya deh iya. Yuk!"
Kesepakatan pun telah dibuat. Dan keputusan terakhir tetap membuat Kenny sebagai penanggung jawab atas kencan tersebut. Ah, entah bisa dikatakan sebagai kencan atau hanya keluar bersama, karena sama-sama kesepian.
***
Mau ditamatin hari ini juga ya!
__ADS_1