
Selepas Celine keluar dari ruangannya, Catarina lantas meraih ponsel mahalnya yang berada tidak jauh dari jangkauan tangannya. Ia tersenyum simpul ketika membayangkan sesuatu. Dan setelah itu, ia lantas mencari nomor kontak milik seseorang yang cukup penting di dunia perbisnisan.
Cukup lama bagi orang itu menerima telepon dari Catarina. Ketika panggilan nyaris Catarina matikan, justru ada sahutan dari kejauhan sana. Melainkan Reksa Wirya Pandega, orang yang Catarina hubungi saat ini.
“Halo, Nak Reksa, selamat siang,” sapa Catarina.
“Hai, Tante. Ini Reksa. Bagaimana? Soal rencana itu?” sahut Reksa yang tanpa basa-basi lagi.
“Aduh, aduh, kok enggak sabaran kayak begitu sih?”
”Ah ... haha, maaf, Tante. Reksa memang seperti ini yang selalu ingin mendengar segala sesuatu tanpa banyak basa-basi.”
Catarina tersenyum. ”Hmm ... dan kamu sangat sombong sekali, Nak Reksa. Tante sampai enggak percaya, kalau kamu bisa sebucin itu sama Celine.”
“Ya, namanya sudah dapat jalannya, Tante. Ketemu sama cewek kurang jelas, tapi punya ciri khas. Dia baik dan cantik. Hari-hari Reksa jadi penuh warna karenanya.”
“Aduuuh ya ampun. Reksa si Cool ini benar-benar menggemaskan ya ternyata.” Catarina kegirangan sendiri. Andai saja Reksa berada di sisinya sekarang, ia pasti sudah mendaratkan beberapa cubitan saking gemasnya.
Apalagi Reksa bukanlah laki-laki yang memiliki image ramah, baik, atau penuh perhatian. Reksa adalah pria yang benar-benar galak, angkuh, dan banyak yang bilang dirinya menyebalkan. Namun, bagi Catarina, saat ini Reksa justru memberikan kesan bahwa pria manis tidak harus genit. Justru yang dingin-dingin, tetapi manis, lebih bikin membuat terkesan.
”Jujur, sejujur-jujurnya, kalau Celine memang sangat andal dalam bidang ini, Nak Reksa. Mungkin karena sudah sangat hobi soal perjalanan, makanya dia pandai mencari celah untuk mendapatkan informasi-informasi bagus. Berkat Celine, biro perjalanan milik Tante mulai memiliki ciri khas,” ucap Catarina dengan tulus.
“Apakah ide Celine memang sebagus itu, Tante? Enggak absurd, 'kan? Dia kan enggak terlalu pintar,” sahut Reksa.
Catarina tergelak. “Ya ampun, Reksa. Kenapa kamu ngomong kayak begitu buat istri kamu sendiri? Astaga. Lagi pula, Tante kasih tahu ya, tidak ada orang bodoh di dunia ini. Semua orang terlahir dengan bakatnya masing-masing. Misal Celine yang enggak terlalu pintar dalam hal intelektual, atau hal-hal yang berbau matematika, nyatanya justru lihai menyusun rancangan bulan madu untuk klien kami. Dia begitu bekerja keras dalam mencari destinasi terbaik, lalu mempergunakan tempat yang tidak terlalu spesial menjadi sangat berkesan. Itulah bakat dia, jangan paksa dia untuk mengerti tentang pekerjaan kamu atau pekerjaan orang lain, karena di sinilah, di biro milik Tante-lah, Celine menjadi sosok yang pintar sesuai kemampuannya.”
Dari kantornya sana, Reksa manggut-manggut dan tersenyum bangga. “Dia sendiri juga sangat spesial, Tante. Jadi, tolong bantu Reksa untuk memberikan bulan madu terbaik untuknya. Buat dia layaknya karyawan yang sedang melayani klien, padahal klien tersebut adalah dirinya sendiri beserta suaminya.”
“Baik, Nak Reksa. Tante akan mengatakannya nanti saat meeting lagi, konsep honeymoon kali ini diserahkan oleh para tim dari biro, terutama Celine yang akan mengurus soal makan malam dan suasana yang menurutnya sangat romantis.”
”Well, terima kasih, Tante Catarina. Jika ide itu berhasil, Reksa akan melamarnya dengan sesungguhnya. Dia harus mendapatkan lamaran yang jauh lebih berkesan tentunya.”
“Benar, Reksa! Kalau kamu bisa memperlakukan istri kamu dengan baik, Tante jamin rezekimu, keluarga, dan perusahaan kamu akan lancar selancar-lancarnya. Ingat ya, Nak, jangan pernah sia-siakan wanita. Itu pesan Tante untukmu. Dan honeymoon nanti, jadikan sebagai pengingat terbaik, di saat ada masalah di dalam rumah tangga kalian.”
__ADS_1
“Baik, Tante. Terima kasih nasihatnya. Kini Reksa juga bisa berubah karena dia.”
“Baguslah kalau begitu. Wanita yang bisa mengubahmu menjadi lebih baik, pertahankan dia terus! Ya sudah, Tante tutup ya!”
”Iya, Tante.”
Panggilan itupun dimatikan oleh Catarina. Ia puas setelah memberikan wejangan pada pria sombong yang selama ini selalu bicara tanpa pikir panjang. Bahkan, Reksa pernah menghina salah satu pelayanan yang diberikan oleh biro perjalanan Catarina ketika hendak bertanda ke suatu tempat, sebagai liburan pasca mengambil cuti dari perusahaan sebelum pria itu menjabat sebagai seorang CEO.
Jika Catarina tidak mengenal Sanny dengan baik, sekaligus tidak mendengar keluhan-keluhan Sanny perihal Reksa yang benar-benar kejam, mungkin Catarina tidak akan mengerti. Ia bisa saja menghardik Reksa pada saat itu, dan mendaftarhitamkan nama Reksa dari calon klien biro perjalananannya. Lagi pula, siapa sih yang mau berurusan dengan orang yang arogan dan serba komplain seperti Reksa?
Oleh sebab itu, Catarina merasa terkejut saat Reksa menghubunginya untuk menyusun rencana honeymoon kedua bersama Celine. Awalnya, ia memang hendak memberikan bonus liburan untuk Celine yang sudah membantu meningkatkan kinerja perusahaannya. Rencana Catarina menjadi lebih sukses saat Reksa melakukan penawaran padanya, yang berkaitan dengan rencana kejutan untuk Celine.
***
Reksa berjalan ke sana kemari di ruang kerjanya, sembari tersenyum-senyum sendiri. Pasalnya, Catarina sudah berhasil membujuk Celine untuk berangkat ke empat negara sekaligus demi mewujudkan honeymoon sesungguhnya. Dan Reksa sengaja tidak memberikan konsep apa pun untuk honeymoon itu, karena ia percaya Celine bisa mengatasi semuanya. Lagi pula, Celine pasti akan mengerahkan segala kemampuannya jika didesak untuk menyempurnakan honeymoon klien, yang sebenarnya adalah Reksa dan untuk Celine sendiri.
“Dia enggak akan kecewa dengan konsep honeymoon yang bakalan dia rancang sendiri. Lalu, empat negara, aku bisa membantunya untuk mewujudkan impiannya keliling dunia,” gumam Reksa bangga. ”Celine, secinta ini lho aku sama kamu. Mengeluarkan banyak uang jika itu buat kamu, rasanya enggak masalah. Bahkan, aku malah enggak peduli. Semua demi kamu.”
Rencana untuk membuat honeymoon dan lamaran kejutan sebenarnya sudah Reksa rancang sejak lama. Namun, ia belum mendapatkan waktu yang pas. Ia ingin mengulang acara lamaran, dengan kesan lebih manis dan romantis. Ketika di Bali, ia memang sudah mengungkapkan perasaannya pada Celine, bahkan sudah berjanji untuk selalu berada di sisi wanita itu. Namun, masa lalu ketika lamaran dan juga pernikahan benar-benar sangat buruk.
Pada saat itu, Reksa sombong sekali. Dan sekarang tidak sama sekali kalau pada istrinya sendiri. Sembari mengenang masa lalu suram, tentu saja Reksa juga ingin menyulam yang tidak benar. Yah, semoga saja, usaha Reksa direspons dengan baik oleh istrinya.
Tiba-tiba, terdengar ketukan dari arah pintu ruangan Reksa. Tak berselang lama muncul Ali, yang membawa serta seorang wanita. Melainkan Keira Santika yang sudah Reksa panggil beberapa saat lalu agar wanita itu menghadap dirinya.
Reksa menghela napas untuk menyembunyikan kegembiraannya terlebih dahulu. Detik berikutnya, ia mempersilakan Keira untuk duduk di salah satu sofa yang berada di ruang kerjanya tersebut.
“Selamat siang, Tuan Reksa.” Keira memberikan sapaan sebelum mengambil sikap duduk di salah satu sofa. Ia juga merundukkan badan demi menghormati Reksa sebagai atasan tertinggi di perusahaan di mana ia bekerja.
“Ya. Silakan duduk.” Reksa bergerak lebih awal untuk duduk di kursi sofa bagian kepala. ”Bagaimana nasib belanjaan istri saya kemarin, Keira?”
Keira mengernyitkan dahi. ”Ah itu. Mm, masih saya simpan kok. Nanti bisa saya antar kalau Tuan ingin—”
“Tidak, tidak. Ambil saja juga tidak masalah,” potong Reksa. “Maksud saya memanggil kamu datang kemari bukan untuk membahas soal belanjaan.”
__ADS_1
“Oh ... la-lantas?” Tegang, Keira khawatir jika kinerjanya membuat Reksa kecewa. Sebenci apa pun dirinya pada Reksa, tetap ada ketakutan yang tidak bisa sembunyikan. ”Apakah saya telah membuat masalah, Tuan Reksa? Baik di dalam pekerjaan atau di luar itu?”
“Bukan, kamu tidak membuat masalah apa pun. Hanya membuat Celine lupa waktu saja.”
“Ah ... ma-maafkan saya, Tuan Reksa, saya tidak bermaksud mengajak Celine bermain-main di luar.”
Reksa menghela napas. Mengamati Keira dengan seksama. Tak masalah jika ia hendak meminta wanita itu untuk ikut menyusul di negara pertama yang hendak ia kunjungi bersama Celine. Mengingat Celine bermimpi untuk bisa keliling dunia bersama Keira.
“Kamu mau keliling dunia, 'kan, Keira? Kamu mau kan kalau saya beri tugas untuk menjelajahi empat negara?” tanya Reksa tanpa basa-basi.
“Hah?! Apa?” Keira melongo. “Maaf maksud saya bagaimana maksud Tuan Reksa?”
“Kata Celine kamu adalah wanita pintar, tapi kenapa malah tidak paham-paham?”
“Uh ... i-itu, saya agak kaget saja tentang tugas yang Tuan Reksa berikan pada saya.”
“Ini perintah, Keira. Saya tugaskan kamu untuk menemani istri saya menjelajahi empat negara, bahkan bersama saya. Tapi, saya tidak akan egois. Ada beberapa waktu di mana saya tetap harus bekerja meski di negara orang, di saat itu kamu boleh bermain dengan Celine. Anggap saja ini adalah kesempatan untuk menggapai cita-cita kalian berdua. Masalah uang, saya yang akan menanggung.”
“Tapi, Tuan,” sahut Keira. “Bukankah ini berlebihan? Hanya karena saya adalah sahabat Celine, diberikan liburan sampai ke empat negara itu rasanya tidak wajar. Bagaimana kalau karyawan lain merasa iri dan membenci Tuan Reksa karena pilih kasih.”
“Saya tidak mengasihimu,” sahut Reksa cepat.
Keira menelan saliva. Malu. “Be-benar, tapi hubungan persahabatan saya dengan Celine sudah membuat saya mendapatkan banyak keuntungan.”
“Saya atasan kamu, Keira, orang yang jelas-jelas memberikan pekerjaan sekaligus mata pencaharian dalam kurun waktu yang lama. Saya sendiri yang memilih kamu, dan juga menaikkan jabatan kamu. Jadi, kalau kamu tidak menuruti perintah dariku, lantas pada siapa? Sesama karyawan yang jelas-jelas hanya bawahan?”
Keira terdiam, tidak bisa berkilah, tetapi serba salah. Memang benar bahwasanya penawaran yang diberikan oleh Reksa sangat menggiurkan, tetapi rasanya tetap berlebihan. Lagi pula, impian keliling dunia itu hendak ia gapai menggunakan hasil jerih payah sendiri, ia sudah bersepakat soal ini dengan Celine.
Tak memedulikan kegelisahan Keira, Reksa justru mulai menceritakan rencananya. Sebuah pemikiran cukup mengejutkan bagi sesosok pria kejam dan arogan. Reksa memiliki segudang ide cemerlang untuk membuat hati Celine berdebar kencang. Dan niat Reksa untuk memberikan lamaran yang lebih berkesan, membuat Keira perlahan paham. Ya, mungkin Keira dapat membantu Reksa. Anggap saja sebagai salah satu tugasnya untuk membuat sang atasan merasa lega dan sahabatnya menjadi lebih bahagia.
Kalau alasannya memang demi Celine, rasanya tidak salah. Keira paham. “Baiklah, Tuan, saya setuju. Demi Celine,” katanya setelah itu kemudian mengulas senyuman selebar mungkin.
***
__ADS_1