Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 97-Penyebab Kerenggangan Itu


__ADS_3

Celine dan Keira sudah berpindah tempat. Hasil belanjaan mereka telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil Keira. Sementara saat ini, keduanya berada di sebuah tempat makan. Bukan lagi kafe yang seperti Celine rencanakan sebelumnya, pasalnya ia sangat lapar sekali. Sekalian saja, mencari makanan meski masih sore hari.


”Katakan padaku, Ra, kamu mau cerita apa? Kok sampai terlibat obrolan lama dengan adik tercintahku?” selidik Celine yang sudah tidak kuasa dalam membendung keingintahuannya. “Memang ada apa-apa, 'kan?! Jawab jujur!"


Keira menghela napas. Belum ingin memberikan jawaban, ia justru melahap sesendok nasi padang ke dalam mulutnya.


“Keira! Ih!” keluh Celine sembari mencubit lengan sahabatnya itu. “Buruan kenapa! Biar aku enggak terus-terusan salah paham, gitu lhooo, Dek!”


Keira menelan makanannya dengan segera, lalu menatap Celine. “Ayahku datang, Cel. Secara tiba-tiba, pagi hari. Waktu aku olahraga di weekend kemarin, sama Danu.”


”Apa?” Celine tertegun. “Bukankah hal itu adalah hal yang bagus, Keira? Om Anwar kan sudah lama enggak mampir.”


Dan Celine merasa sedikit kecewa. Bukan cemburu, karena bekas pemujanya ternyata masih berhubungan dengan Keira, bahkan mungkin sudah lebih dekat. Toh, hal tersebut bukan urusannya. Hanya saja, Kenny, adiknya itu ternyata memang belum ada kemajuan signifikan dalam mendekati Keira. Jika ternyata Keira masih menyukai Danu, bukankah Kenny akan berakhir gagal dan hanya menerima harapan palsu?


Celine ingin membuat perhitungan perihal Kenny pada Keira. Hanya saja, wajah Keira yang sendu membuat Celine memilih untuk menunda rencananya terlebih dahulu. Lagi pula, ia tidak ingin merusak suasana hati Keira yang baru bertemu dengan sang ayah. Nanti saja, jika waktunya sudah tepat. Celine tidak hanya akan bertanya, melainkan juga menggertak Keira, jika sahabatnya itu terbukti sedang mempermainkan adiknya.


"Aku enggak senang, sama sekali enggak bahagia,” ungkap Keira mengenai perasaannya saat ini.


Dahi Celine berkerut. “Lho?! Kenapa kayak gitu, Ra? Enggak boleh tahu! Dosaaa!” sahutnya setelah itu untuk memberikan peringatan.


”Pasalnya, kedatangan Ayah diikuti suatu maksud yang sebenarnya cukup mudah aku berikan. Bahkan, aku malah sudah memberikannya.”

__ADS_1


“Tunggu deh! Maksud apa nih? Yang jelas dong, Ra, jangan banyak basa-basi, aku sama sekali enggak mengerti. Kamu kan tahu otakku minus.”


“Kamu juga tunggu dong, Cel! Aku kan belum kelar ngomongnya, jangan langsung nyerobot begitu!”


“Hehehe ... kirain apa yang ingin kamu ceritakan sudah terkandung di dalam perkataan kamu barusan, ternyata belum toh!”


“Celine, Celine, ....”


Memang Celine adalah orang yang gemblung. Dan entah Keira yang aneh atau bagaimana, karena memilih menceritakan kesusahannya pada wanita unik itu. Namun, meskipun tulalit, kalau soal kehidupan, biasanya Celine justru memiliki segudang saran brilian. Mungkin karena dirinya terbiasa berbaur dengan orang banyak dengan segala nasib masing-masing.


Makanan sudah habis, tinggal dua gelas es teh manis, yang masih tersisa. Sudah waktunya bagi Keira benar-benar mengungkapkan segalanya secara jelas, agar Celine dapat lebih mengerti. Selain itu, waktunya bersama Celine juga tidak banyak. Kalau sebentar lagi Reksa pulang, maka mau tidak mau Keira harus melepaskan Celine.


“Ayah datang minta uang, buat pengobatan istrinya. Dan aku marah, karena datang tak diundang, tanpa kabar-kabar, lalu minta duit lagi. Anak mana yang enggak sakit hati coba, Cel? Aku geram sama terluka. Aku menangis, nah, terus Kenny kirim pesan bikin aku gemas!” ungkap Keira, nyaris semuanya.


“Entah. Aku enggak tanya, jadi nggak tahu dan enggak mau tahu, Cel. Bukan urusanku juga. Lagi pula, Ayah juga enggak pernah mengurus aku juga, 'kan?”


“Hmm ... kamu tuh ya. Dari dulu keras kepala. Sekali-kali kamu yang tanya, Ra. Ada apa dan kenapa ayah kamu kayak begitu? Kalian tuh cuma sama-sama gengsi, alhasil jarak itupun tercipta. Sejak ayah kamu menikah kan kamu juga mulai uring-uringan sendiri dan menutup hati dari ibu baru kamu.”


“Celine ih! Kok malah belain ayah aku sih?”


Celine menggeleng pelan. “Enggak, Ra. Bukan membela, kan tadi aku sudah bilang kalau kalian itu sama-sama gengsi. Yang artinya kamu sama ayah kamu juga sama-sama salah. Kamu merasa diabaikan, 'kan? Tapi, pernah enggak sih kamu tanya? Atau sekadar nimbrung waktu ayah kamu ngumpul sama ibu baru kamu, termasuk juga adik tiri kamu? Ayolah, Ra, kamu biasanya pintar lho. Kamu pasti tahu maksud aku, 'kan?”

__ADS_1


Keira terdiam, mencoba mencerna apa pun yang Celine katakan. Sama-sama gengsi? Tunggu sebentar, Keira mencoba mengingat sejak kapan kiranya ia tidak menyukai ayahnya. Ya, sejak ayahnya menikah lagi. Pada saat itu, sikap Keira juga berubah. Keira tidak pernah menerima kehadiran Dwi, selalu menghindar, lalu berakhir cemburu dan pergi. Bukankah kalau dipikir-pikir, ucapan Celine ada benarnya?


Namun, Keira sudah membuat doktrin pada dirinya sendiri. Ia beranggapan jika Anwar mengabaikannya, tanpa sekaligus melihat dirinya yang mendadak benci hanya karena tidak bisa menerima posisi ibunya digantikan oleh wanita lain. Baik, Keira sudah mulai menyadari kesalahannya, tetapi ....


“Kamu tuh enggak tahu rasanya jadi aku, Cel!” kata Keira masih memegang keteguhan hati yang sebenarnya salah. “Pokoknya, Ayah aku enggak peduli. Dan itu yang bikin aku kesal.”


Celine menghela napas. Jujur saja, ia mulai bingung. Keira terlalu keras kepala jika membicarakan soal ayahnya. Sebenarnya Celine memiliki segudang perkataan, tetapi ia takut mengatakannya, apalagi jika Keira sampai merasa sakit hati.


”Terus mau kamu kayak apa lagi, Ra?” Akhirnya Celine mulai bertanya mengenai keinginan Keira. “Sampai kapan kamu mau mendendam kayak begitu? Apa mau sampai kamu tua hingga bapak kamu enggak ada?!”


Jleb! Mulut Celine yang pedas mulai aktif, sampai perkataannya sukses membuat hati dan jantung Keira seperti ditusuk. “Bu-bukan kayak gitu, Cel. Kamu tuh mulutnya minta dicabai yaa!”


“Nanti makin pedas, makin enggak jelas omongannya buat kamu, Ra.” Celine menghela napas. “Lagian, kamu seorang anak, Keira. Kamu yang seharusnya datang dan meminta maaf, walaupun bukan kesalahanmu. Sampai kapan pun orang tua itu bakal menganggap kita sebagai anak, enggak mungkin enggak. Dan tugas anak kan berbakti, 'kan? Mau orang tua kamu sejahat apa pun, seburuk apa pun, kamu harus tetap baik. Kalau sulit, minta sama Tuhan, Keira. Minta pada-Nya supaya kejengkelan kamu dihilangkan. Aku jamin terkabul kok. Tapi, kamu juga harus berusaha buat menerima keadaan seperti itu.”


“Tapi, Cel—”


“Jangan tapi-tapi, jangan buat alasan. Ada Tuhan yang bakalan bantu kamu mengikhlaskan semuanya. Dan kalau kamu sudah siap, aku bisa temani kamu menjenguk ayah dan ibu sambungmu, Keira. Sudah saatnya kamu stop hubungan enggak baik itu. Walaupun prosesnya bakalan panjang, tapi seenggaknya harus ada yang memulai. Posisi kamu sebagai anak, nah, kamu sudah seharusnya memulai semuanya.”


“Cel!”


“Dengerin dulu, Ra!” tegas Celine. ”Nih ya, aku bakalan dampingi kamu terus kok! Reksa juga enggak bakalan melarang, kalau aku perginya sama kamu. Dan asal kamu tahu ya, Ra, setiap ketemu sama aku, Om Anwar selalu minta tolong sama aku buat bantu jagain kamu. Nah, dari situlah aku tahu kalau kalian tuh cuma sama-sama gengsi doang! Lagian Tante Dwi juga bukan ibu tirinya Cinderella kok!”

__ADS_1


Sudah tidak ada sanggahan yang bisa Keira katakan. Ucapan Celine terlalu benar. Pada dasarnya, seorang anak memang harus berbakti. Apalagi saat Keira mulai menyadari bahwa kerenggangan hubungan antara dirinya dan Anwar dimulai sejak sikapnya berubah, gara-gara kehadiran Dwi. Dan Keira juga tidak pernah berbicara empat mata dengan ibu sambungnya itu sejak pernikahan tersebut digelar.


***


__ADS_2