CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 13


__ADS_3

"apa yang kau lakukan di dalam sana, apakah karena uang hingga kau rela diperlakukan seperti ini?" Tiba-tiba kata-kata yang pedas itu keluar dari bibir Agam, sebenarnya Agam tak bermaksud berkata seperti itu tetapi itu spontanitas dari kekesalan nya saja karena melihat Tania berada di rumah tantenya.


Tania hanya terdiam bungkam dirinya pula tak mungkin membeberkan identitas mengenai statusnya ini sebagai istri dari Leon, ingin menjelaskan namun takut apa yang Tania katakan nanti malah membongkar pernikahannya sendiri.


"kalau tidak ingin berbicara tidak apa-apa, ini semua salahku karena terlalu memojokkan mu untuk bercerita semuanya aku juga tadi mengatakannya spontan" Tania tersenyum tipis, air matanya mulai menetes entah nasibnya bagaimana jika saja Agam tidak datang tepat waktu.


Yang masih Tania tidak menyangka kemana perginya Leon hingga tega meninggalkan nya bersama dengan orang yang tak dikenalnya, Tania tahu bahwa suaminya itu memiliki dendam yang sulit untuk dilupakan, tapi apakah bagus jika meninggalkan istrinya bersama dengan orang-orang dewasa di sana.


"aku tidak tahu di mana rumahmu sekarang, jadi di mana aku harus mengantarkan mu pulang" seketika Tania membuyarkan lamunan nya, kalau dipikir-pikir tidak mungkin Tania mengarahkan mobil Agam ke perumahan mewah yang saat ini Tania tinggali, Tania mencoba berpikir lagi kira-kira di mana tempat yang aman untuk nya turun.


"turunkan saja aku di gang melati" Agam mengangguk sembari mengemudikan mobilnya dengan perlahan-lahan, jika dilihat dari gerak-gerik Tania sepertinya Tania tengah menyembunyikan masalah besar yang tidak ingin diceritakan kepada siapapun.


Apa yang dialami Tania saat ini pula tengah dirasakan oleh Agam sendiri, Agam saat ini mencoba menguak akan kebohongan yang kedua orang tuanya sembunyikan darinya.


Kesana kemari mencari bukti namun hasilnya nihil mereka berkata bahwa tidak ada yang mencurigakan dari kedua orang tua Agam, apakah masalahnya sampai se serius ini sehingga tidak ingin terbuka dengan putranya sendiri.


"apakah Mona mencariku?" Tania mengangguk karena memang Mona sebelum Tania berangkat ke pesta mengirimkan pesan melalui fb bahwasanya Mona sudah mencari dimana tempat Agam nongkrong jika sedang ada masalah tapi hasilnya nihil tak sama sekali ditemukan pria satu ini " ya dia mencarimu bahkan sampai menangis karenamu, sebaiknya kau pulang dan katakan padanya kau ke rumah tante mu agar Mona tidak khawatir" jelas Tania, jujur saja dulu Tania sempat menyukai Agam karena perhatiannya dan juga keberanian nya dalam membela wanita jika tertindas.


Tapi terkadang Tania merasa iri pada Mona yang selalu diperhatikan dan diprioritaskan, selalu diutamakan bahkan mereka berdua tak pernah jauh, hingga pada akhirnya Tania sadar mereka berdua sebenarnya saling mencintai dan Tania tak sepantasnya menyukai Agam.


Kecemburuan Tania tak hanya di situ saja, dulu waktu SMP Tania dan Mona mengalami kecelakaan motor, Mona diselamatkan terlebih dahulu sedangkan Tania masih terkapar hingga beberapa warga mulai menolongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat yang sama dengan rumah sakit di mana Mona dirawat.


Paling sakit lagi Tania dituduh bahwa ia adalah biang masalah yang membuat Mona kecelakaan, tapi tak apalah itu semua masa lalu dalam persahabatan pasti ada yang selalu disalahkan ada yang selalu ingin menang sendiri dan terkadang akan bersatu jika mereka semua memiliki masalah yang sama.


"sudah sampai, hati-hati di jalan aku tidak bisa mengantarkan ke rumahmu langsung" Tania tersenyum tipis lalu mobil itu pun melesat pergi meninggalkan Tania di bawah gerimis nya hujan, jaket yang masih Tania kenakan, Tania genggam erat erat andaikan saja ada pria yang mencintainya dengan tulus memeluknya dalam kehangatan serta memperhatikan nya pasti akan lebih membantu di situasi seperti ini.


Tapi Tania cukup sadar dengan semua itu dirinya tak pantas mendapatkan hal yang sangat tak mungkin diraihnya, selama ini Tania sama sekali tak pernah memiliki pacar ataupun mantan pacar yang ada saat ini langsung menikah dan memiliki suami yang begitu kasar.

__ADS_1


Terhitung saat ini sudah 1 bulan pernikahan, dalam pernikahan hanya ada cacian dan makian dari pria arogan itu, sesampainya di gerbang mewah nan besar Tania memandang rumah berlantai tiga itu dengan hatinya yang miris dan sakit.


Berkali-kali Tania menekan bel rumah namun tak ada orang yang membukakan pintu, Tania menghela nafasnya perlahan dirinya mulai duduk meringkuk di bawah guyuran air hujan yang semakin deras membasahi tubuhnya ini.


Tetangga di kompleks perumahan mewah ini kesehariannya sama sekali tak pernah berbaur dengan yang lain, mereka benar-benar sibuk dengan urusannya masing-masing terdengar dari cerita pembantu rumah tangga di sini jika ada hari-hari besar mereka akan pergi meninggalkan rumah ini dan kosong.


Karena itu jika Tania menangis di setiap malam tak ada yang mendengarkannya padahal kamarnya bersebelahan dengan rumah di sebelahnya yang terhalang dengan tembok besar nan tinggi, seharusnya penghuni yang ada di sebelah rumah ini mendengar karena hampir setiap malam juga Tania mendengar seseorang yang tengah bernyanyi berteriak-teriak memanggil nama seseorang.


 


"hahaha tak kusangka pria itu menyetujui akan uang yang kita janjikan itu hahaha'' Levin tertawa terbahak-bahak karena permainan pun di mulai, Leon dan levine sengaja mendatangi rumah paman Tania dan berkata bahwa akan menikahi Tania setelah lulus sekolah nanti, yang membuat Levine tertawa geli bisa-bisanya seorang keluarga ini mata duitan.


Paman Tania meminta sejumlah uang untuk melepaskan keponakannya itu kepada Leon, Leon bertanya berapa jumlah untuk seorang gadis yang kini bukan perawan lagi, lebih miris nya paman tania meminta uang sebesar 875 juta di mana uang itu tak seberapa di bandingkan harga gaun-gaun yang baru saja Leon belikan untuk Tania.


"hahaha aku sedari tadi tidak berhentinya tertawa karena menjual wanita se murah itu hahaha, tapi masuk akal juga karena yang mereka tahu Tania sudah tidak perawan lagi hahaha" leon menggelengkan kepalanya dirinya pun mulai puas dengan begitu perlahan demi perlahan pasti perusahaan dari paman Tania ingin masuk dan bekerjasama dengan perusahaannya.


Berhubung jalan yang sepi dan sunyi karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.25 malam Leon sengaja mengemudikan mobilnya kebut-kebutan, mungkin hanya terlihat beberapa motor saja dimana seorang anak muda yang baru saja pulang dari nongkrongnya.


Di depan rumah Diandra terlihat sudah tidak ada lagi mobil yang ter parkir di sana menandakan semua para tamu undangan sudah pulang, Leon bergegas berlarian masuk rumah Diandra ingin melihat kondisi Tania bagaimana jangan sampai Tania nantinya malah merepotkan dirinya.


"di mana gadis itu?" Tanya Leon dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlarian "untuk apa kau mencari wanita murahan itu" Diandra melipat kedua tangannya di dada keangkuhan nya membuat Leon jengah, saat ini keadaan Tania lebih penting daripada Diandra yang tengah bersikap sok angkuh "aku tidak sedang bermain-main dengan perkataanku Diandra! Sekarang katakan di mana dia jangan sampai membuatku marah dan menghancurkan rumahmu ini" ucap Leon dengan suara penuh penekanan.


"iya iya Tania tadi sudah pulang dengan keponakanku" ucap Diandra gugup, Leon langsung pergi begitu saja tanpa berkata apapun lagi padahal Diandra baru saja ingin mengatakan terima kasih karena Leon sudah memberikannya kado spesial.


Leon mengemudikan mobilnya secara kebut-kebutan dirinya tak perduli akan keselamatan dirinya sendiri yang terpenting dirinya menemukan Tania dan akan melampiaskan segala ke emosian nya malam ini, bisa-bisanya wanita itu pulang tanpa dirinya dan pulang bersama pria lain yang tak leon kenali.


"sialan bisa-bisanya dia pulang bersama pria lain! Lihat saja akan ku cekik lehernya hingga akan meregang nyawa!" Setibanya di kompleks perumahan mewah Leon melihat tubuh Tania yang tengah meringkuk di depan gerbang dengan jaket yang membalut tubuhnya.

__ADS_1


Berkali-kali Leon membunyikan klakson mobil nya namun tak ada tanggapan dari Tania, pikiran Leon Tania masih pura-pura tidur agar tidak dimarahi oleh nya lalu Leon mulai turun dan menjambak rambut Tania.


Wajah Tania terlihat sangat pucat, tubuhnya bahkan sangat dingin Leon bingung apakah dia sudah mati, Leon langsung memeriksa denyut nadi nya beruntungnya Tania masih hidup, Leon langsung membuka pintu gerbang lalu mulai menggotong tubuh Tania terlebih dahulu sebelum memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


Setelah membawa Tania masuk dan menidurkan nya di ruang tamu Leon kembali ke luar dan memasukkan mobilnya ke dalam garasi setelah itu menutup pintu gerbang rapat-rapat.


Leon menyesal mengapa iya memindahkan semua pembantunya ke rumah utama, tahu begitu penjaga gerbang saja yang iya tinggal benar-benar merepotkan apa-apa dilakukan sendiri.


"bangun siapa yang menyuruh mu tidur!" Leon menepuk-nepuk pipi Tania namun sama sekali tidak ada respon darinya, tubuh Tania pula benar-benar dingin apalagi di ujung-ujung jari nya seperti es yang ada di dalam kulkas.


Leon segera mengeluarkan ponselnya lalu menelpon dokter pribadi untuk meminta saran, tak mungkin Leon menyuruh dokter untuk datang ke rumahnya ini bisa bisa Leon mati kutu karena seorang gadis disiksa oleh nya tanpa henti.


Drrt drrt drrt drrt


Drrt drrt drrt drrt


"halo selamat malam tuan muda Leon ada yang bisa saya bantu di malam menjelang pagi ini?" Jawab dokter Nanda yang dulu memang sahabat akrab Leon.


"sudahlah tak perlu basa-basi, jadi begini pembantu ku tiba-tiba setelah kehujanan tak sadarkan diri, tubuhnya pula dingin kira-kira kenapa?" Tanya Leon yang masih memegang tangan Tania dahinya serta lehernya untuk memastikan di bagian mana yang benar-benar dingin.


"suruh pembantu yang lain untuk melepaskan pakaiannya lalu ganti dengan pakaian yang cukup hangat, pembantu mu sepertinya terkena hipotermia" Leon yang paham langsung mematikan teleponnya tanpa sadar di balik telepon sana dokter Nanda sudah ber celoteh kesal dengan kebiasaan atasannya ini.


"Leon, Leon, untung saja kau atasan ku kalau bukan mungkin malam ini aku tak akan menjawab teleponmu dan mengabaikan nya saja, bisa tidak sih pria satu ini menghilangkan kebiasaannya dalam menutup telepon" Nanda melemparkan ponselnya keranjang lalu dirinya mulai tidur karena sudah sangat mengantuk.


Sedangkan Leon mulai membopong tubuh Tania kembali dan membawanya menuju kamar "menyusahkan! Jika saja kau sadar mungkin aku sudah membuatmu tersiksa!" Di dalam kamar Tania cukup hangat dan hanya ada ventilasi dari jendela.


Leon melepaskan pakaian Tania satu persatu, berhubung semua sudah terlepas terbesit keinginan Leon saat melihat di hadapannya ini sudah ada hidangan malam yang sulit untuk di skip.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2