CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 35


__ADS_3

di tempat lain di kontrakan sederhana Anya dan keluarganya bertengkar memikirkan perekonomian mereka yang kini sedang krisis dan bahkan bisa dibilang sama sekali tak memegang sepeserpun uang setelah lengser dari rumah mewah mereka.


walaupun itu bukan rumah mewah milik mereka tapi tetap saja rumah mereka yang dulu dijual sudah tidak ada harapan uangnya pula sudah mereka gunakan untuk foya-foya jadi tidak ada yang bisa diperbuat.


''Ayah ini bagaimana sih seharusnya ayah mencari kerja sana sudah tahu Anya lapar, Anya hari ini tidak sekolah karena malu ayah jadi tolong jangan bisanya marah-marah saja kepada nenek kepada ibu'' marah Anya kepada ayahnya yang memang sedang emosian mengingat harta bendanya sudah hangus kecuali barang pakaian saja yang tersisa.


''kamu jangan banyak berbicara Anya, Ayah mau cari kerja ke mana kamu kan tahu sendiri nama ayah jelek dan reputasi Ayah juga jelek dan bahkan ayah bisa terancam di penjara Jika saja Pak Leon itu memiliki bukti-bukti kuat mengenai Leo'' tak Ada Yang bisa diperbuat oleh keluarga ini mereka hanya terdiam termenung di lantai ruang keluarga yang sama sekali tidak memiliki sofa.


kontrakan ini sama sekali tidak bisa menampung orang yang cukup banyak ''terus kita mau makan apa Ayah?'' Anya bertanya sembari memegangi perutnya yang sudah terasa lapar karena waktu sudah siang dan mereka belum menyantap apapun pagi ini dan bahkan mereka sama sekali tidak minum karena tidak ada air minum.


''permisi!" seru seseorang di luar kontrakan dan mengetuk-ngetuk pintu ''siapa itu Ayah jangan-jangan polisi lagi?'' Ibu Anya panik dan takut jika suaminya ini diambil oleh polisi Bagaimana kehidupan mereka nanti jika suaminya diambil dan siapa yang akan menghidupi mereka lagi ''Anya Coba kamu buka pintunya'' minta Ayah Anya ''Ayah ini apa-apaan sih tidak mau buka saja sendiri'' akhirnya nenek Anya mengalah dan berjalan perlahan menuju pintu dan ingin membukanya.


setelah pintu terbuka terlihat ada dua bodyguard dengan badannya yang tegap dan berseragam berwarna hitam ''kami diutus dari nyonya Tania untuk memberikan makanan ini kepada kalian'' Anya yang mengintip sontak kaget Bagaimana bisa Tania menjadi nyonya.


''hahaha tak kusangka keponakanku itu yang kaya kini masih memperhatikan kita masuk saja dan letakkan di sini'' dengan muka tebalnya Ayah Anya menyuruh kedua bodyguard itu untuk masuk dan meletakkan banyak sekali makanan itu di ruang keluarga yang hanya beralaskan karpet.

__ADS_1


''oh iya jangan lupa katakan kepada keponakanku nanti ya setelah kalian sampai di rumahnya, katakan bahwa pamannya ini membutuhkan bantuan dan kalau bisa berikan sejumlah uang saja untuk kebutuhan sehari-hari'' kedua bodyguard itu hanya mengangguk walaupun dalam hati mereka sama sekali tak ingin menyampaikan kata-kata yang termasuk memeras ini.


sebenarnya kedua bodyguard ini sama sekali tidak ingin mengantarkan makanan tapi mau bagaimana lagi namanya saja perintah pasti harus dilaksanakan ''kami permisi silakan dinikmati makanan kalian karena jarang-jarang nona Tania ingin berbaik hati dan membagi makanan kepada seseorang yang sudah menjualnya'' bodyguard itu tersenyum mengerikan dan keluar dari rumah yang kecil itu.


nenek Tania terlihat prihatin dan bahkan sangat ingin sekali menemui cucunya itu, cucu yang benar-benar ia sayangi dan sudah hampir 3 bulan ini tidak pernah bertemu ''Halah nenek ini apa-apaan sih sudah tidak perlu dipikirkan Tania memang bukan cucu yang berbakti kepada nenek sampai-sampai tidak mau memberikan uang kepada kami'' nenek Tania menghela nafasnya perlahan bukan itu maksudnya tapi karena kejahatan dari wiromo membuat nenek merasa malu ingin menemui Tania.


''Mas apa sebaiknya ibumu tidak disuruh bekerja saja ya dari pada di rumah hanya menganggur dan menghabiskan makanan saja?'' wiromo melirik sekilas ke arah ibunya dan ada benarnya selama beberapa tahun ini ibunya memang hanya berada di rumah makan tidur dan tidak ada kegiatan lain lagi ''Iya juga, tapi kira-kira pekerjaan apa ya yang bagus untuk nenek'' perasaan nenek Tania mulai tak karuan saat melihat menantunya tengah berbisik-bisik kepada anaknya.


apalagi neneknya ini sangat paham sekali bagaimana perlakuan wiromo jika sudah terkena hasutan oleh menantunya ini pasti akan melakukan apa saja ''Bu, nanti ibu akan bekerja wiromo akan antarkan Ibu setelah makan, ya sudah ibu makan yang banyak ya'' nenek hanya mengangguk dan setelah itu menyantap makanannya yang benar-benar enak.


''ibu duduk di sini ini kalengnya minta-minta sana kepada orang-orang, Ibu jangan pulang ya sebelum mendapatkan uang'' seketika air mata nenek Tania langsung turun dan bibirnya bergetar sudah tua renta seperti ini dirinya malah disuruh mengemis ''kamu tega sekali nak dengan ibu, seharusnya kamu yang bekerja mencari uang bukannya malah menyuruh ibu untuk menjadi pengemis seperti ini, ini tidak baik'' ucap nenek Tania yang tangisannya sudah benar-benar deras.


bahkan nenek Tania tak menyangka putranya akan sekeji ini kepada dirinya ''Halah udah deh Ibu jangan banyak omong sekarang cepat mengemis, wiromo juga akan bekerja intinya wiromo ingatkan sekali lagi jangan pulang sebelum Ibu memperoleh uang, awas aja ya kalau sampai tidak memperoleh uang wiromo akan usir Ibu dari kontrakan'' akhirnya mau tak mau nenek Tania berkeliling di sepanjang lampu merah meminta-minta.


pengendara motor sama sekali tak ada yang merasa iba karena tak hanya nenek Tania saja yang mengemis-ngemis di sana tapi masih banyak lagi nenek-nenek tua renta yang mengemis bahkan ada pula pria lumpuh.

__ADS_1


entahlah hujan turun deras sampai malam dan sama sekali kaleng yang dibawa oleh nenek Tania tidak terisi apapun hanya ada air yang mengisinya, kulit keriput itu kini menjadi dingin rambut yang disanggul itu kini basah beserta baju dan juga kain jarik yang basah.


nenek Tania menggigil di bawah guyuran air hujan yang deras turun ''Pak sumbangannya Pak saya malam ini belum makan Pak'' ucap nenek Tania dengan tangan yang bergetar dan memohon belas kasihan kepada pengendara mobil dan motor yang melintas ''heh nek, kalau mau uang ya kerja nek jangan mengemis seperti ini, memangnya anaknya ke mana sih sudah tua begini masih saja berkeliaran kalau tertabrak Bagaimana coba, merepotkan tahu'' sudah bukan satu atau dua orang yang berkata seperti ini, sedih rasanya tak mungkin nenek Tania tegar agar mendapatkan uang berapapun itu.


sedangkan mobil mewah yang berada di deretan paling tengah kini tengah membahas masalah wiromo di mana Tania merasa tidak terima jika pamannya itu dilengserkan bukan karena pamannya tapi karena ada neneknya yang ikut tinggal bersama pamannya itu.


''kenapa? sudah tahu kamu dijual oleh keluargamu sendiri lalu kamu masih membelanya?'' kata Leon sembari melihat kaca spion di mana mobil yang tepat ada di belakangnya meng klakson mobilnya ''bukan begitu nenek Tania ikut bersama dengan paman kalau terjadi sesuatu kepada nenek Tania bagaimana?'' tanya Tania ''Coba lihat wajah saya sekarang, apakah saya terlihat peduli dengan nenekmu itu? Apa bedanya pamanmu dan juga nenekmu'' kata Leon dan itu membuat Tania kesal dan pandangannya kini terfokus kepada nenek tua yang tengah menangis di pinggir jalan.


wajah itu benar-benar familiar Tania langsung meminta untuk diturunkan juga di tengah jalan yang macet ini karena lampu merah ''Mas turunkan Tania di sini'' minta Tania yang mulai membuka sabuk pengaman yang melekat di dadanya ''kamu gila! Saya tidak mungkin menurunkan kamu di kondisi hujan deras seperti ini'' Tania tetap memaksa dan mencoba membuka pintu yang sama sekali tak terbuka.


''di luar sana ada nenek Tania tolong buka dulu mas, kumohon buka pintunya hiks hiks hiks hiks hiks hiks" Leon melirik ke arah kanan kirinya di mana ada nenek-nenek ''nenek-nenek Yang mana banyak sekali nenek-nenek yang mengemis di sini'' Tania langsung menunjuk ke arah tiang lampu merah.


Leon langsung membuka pintu mobilnya ''kamu tunggu di sini'' Tania mengangguk dan melihat Leon turun untuk menghampiri nenek Tania dengan payung yang ia kenakan dan membawanya nenek Tania masuk ke dalam mobil mewah ini, Tania langsung mengambil tissue dan menangis karena melihat neneknya menjadi pengemis jalanan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2