
3 bulan lamanya
hari ini adalah hari di mana keluarga besar Wilson arganta tengah menunggu kepulangan calon pewaris.
di dalam pesawat sebenarnya Tania sedikit cemas, takut kedua putranya ini rewel ditambah lagi dengan suara kebisingan.
Untung saja pramugari langsung memberikan penutup telinga agar bayi tidak merasa terganggu saat tertidur dengan suara-suara kebisingan pesawat.
''apa mereka benar-benar menunggu di rumah? jangan-jangan mereka langsung ke bandara menunggu kita'' kata Leo yang mulai cemas.
''tidak perlu khawatir mereka tidak tahu kok jadwal kepulangan kita, yang mereka tahu kita akan pulang hari ini'' kata Leon menenangkan adiknya.
Leon tentunya tahu bagaimana perasaan adiknya ditambah lagi ia sudah bertahun-tahun tidak pulang ke rumah.
''baguslah kalau begitu, takutnya nanti ada paparazzi di bandara yang malah menyebarkan berita yang tidak-tidak'' Leon mengagukkan kepalanya memang itulah yang membuat keluarga mereka cemas di mana paparazzi akan mengupload foto tanpa tahu detail kebenarannya bagaimana.
cukup lama mereka di atas pesawat sampai membuat pinggang Tania sedikit sakit.
''suster tolong jaga Reyhan dulu, saya akan ke kamar mandi sebentar'' ucap Tania yang menitipkan bayinya kepada baby sister ''baik nona'' jawab suster itu dengan nada suara yang begitu ramah dan lembut.
Leon sebenarnya tidak ingin pulang, status adik nya ini waktunya belum tepat untuk disiarkan di depan publik.
apalagi sudah pulang ke Indonesia ditambah lagi dengan berita menikah dengan cucu rival abadi kakeknya.
''kurasa kakek tidak akan menerima istriku'' kata Leo dengan ada yang begitu pasrah sedangkan Margaretha yang belum fasih dan mengerti bahasa Indonesia hanya bisa diam ''jangan terlalu pesimis, kakek pasti akan menerimanya, buktinya Tania? kakek dulu sangatlah membenci Tania tapi saat Tania hamil Ia membuka tangannya lebar-lebar, ya walaupun tidak sepenuhnya karena kakek masih menganggap keluarga Tania adalah pembunuh'' Leo mengusap wajahnya kasar.
Di balik semua tragedi ini banyak sekali hikmah yang didapat.
walaupun di posisi ini Tania lah sosok yang dirugikan.
__ADS_1
''setibanya kita nanti di bandara, kita akan langsung pergi menuju rumah utama, kita akan masuk ke dalam rumah itu secara bersama-sama, untuk istrimu biarkan istriku yang mendampinginya, kita harus segera menghadap kakek dan juga kedua orang tua kita'' Leon mencoba memberikan arahan kepada adiknya ini agar mau diajak kerjasama.
jika mereka tidak menghadapi secara bersama-sama maka Di saat memasuki rumah utama nanti keluarga besar tentunya akan merasa bahagia dan terharu karena kedatangan dari Leo, tapi di sisi lain juga Leon ingin mengantisipasi jikalau nanti kedatangan istri Leo tidak diakui dan Tidak dianggap.
kalaupun tidak diakui itu masih ringan, tapi kalau ditolak mentah-mentah lagi dimaki-maki itulah yang membuat Leo dan Leon was-was.
Leo sebenarnya sudah berdamai dengan kakek Margaretha, tapi kakeknya ini sama sekali belum berdamai jadi bagaimana bisa pulang dengan membawa seorang gadis cucu dari musuh kakeknya sendiri tanpa ke emosian dari keluarganya yang meletup-letup.
sekretaris Levin kini sedang menunggu kedatangan kedua atasannya itu, tak hanya Levine melainkan Felix.
Felix dan juga Levine tidak jauh berbeda keduanya sama-sama pendiam dan juga memiliki wajah yang datar.
bahkan mereka di bandara menuju kedatangan kedua atasannya sama sekali tidak bertegur sapa.
hanya saling melirik satu sama lain lalu terfokuskan dengan ponselnya masing-masing.
'lihatlah matanya itu saat melihatku, bukankah seharusnya dia menyapaku, basa-basi atau bagaimana kek? memang ya tidak Pak Leon dan tidak asisten pribadinya sama-sama bersikap angkuh' batin Felix Yang menggaruk lehernya yang tidak gatal.
''Apa kalian sudah lama menunggu?" keduanya langsung beranjak dari duduknya saat Leon menyapa ''ah tidak lama menunggu kok, Ya sudah kalau begitu biar saya yang membawakan barang-barangnya'' Levin langsung mengambil alih koper yang sedang dibawa oleh atasannya begitu pula Felix kepada atasannya ini.
kini Levin terdiam saat melihat Tania tengah menggendong seorang bayi yang wajahnya tengah ditutupi.
lalu setelah melihat bayi yang sedang digendong oleh Tania asisten Levine pula melirik kepada seorang baby sister yang juga menggendong seorang bayi.
''kalian benar-benar tertutup sekali sampai-sampai aku tidak diizinkan untuk melihat wajah bayi kalian berdua, sudahlah kita harus buru-buru pulang karena tadi Tasya sudah ribut ingin menjemput kalian dan nyonya Kirana setuju kalau 1 jam lamanya tidak kunjung datang maka akan segera dijemput'' jelas asisten Levine kepada semuanya.
''maaf tuan apa kita akan ikut dengan Pak Leon?'' Leo menganggukkan kepalanya lalu memandang Margaretha yang sedang hamil 6 bulan bergandengan tangan dengan Leo.
''Kau tidak perlu menatap istriku seperti itu, sekarang cepat bawa semua barang-barangku, kita ikuti mobilnya'' akhirnya mereka pun pergi bersama-sama dengan kelima mobil yang beriringan.
__ADS_1
mobil pertama ditempati oleh Leon dan juga Tania, sedangkan mobil kedua di sana ada Leo dan juga Margaretha.
sedangkan di deretan 3 mobil terakhir itu adalah beberapa bodyguard yang membawa barang-barang milik kedua atasannya itu.
''are you sick honey? (apa kamu sakit sayang?)'' tanya Leo saat menyadari istrinya ini sedikit pucat.
"it seems so dear, I feel my body is not feeling well (sepertinya begitu sayang, aku merasa badan ku tidak enak)" kata Margaretha, Leo yang memeriksa suhu tubuh istrinya itu sedikit hangat langsung memeluknya.
"All right, after arriving at mom and dad's house, you have to rest, after that I'll call the doctor to check you dear (baiklah, setelah sampai di rumah mama dan papa, kamu harus beristirahat, setelah itu aku akan memanggil dokter untuk memeriksa mu sayang )" kata Leo dengan penuh kasih sayang.
sedangkan Felix yang sedang mengemudikan mobil pun hanya bisa curi-curi pandang melalui kaca mobil yang ada di atas.
setibanya di rumah utama keluarga besar pun sudah menyambut di depan rumah mewah itu, Leon dan juga Tania turun bersamaan pula dengan turunnya Leo dan juga Margaretha.
mereka berempat pergi berjalan bersamaan namun didahului oleh Leo dan juga Leon.
sedangkan Tania sembari menggendong bayinya dia menggenggam tangan Margaretha untuk berjalan bersamaan.
suasana benar-benar hening keluarga yang sudah tahu siapa yang berada di samping Leon hanya bisa tercengang dengan wajah yang begitu takjub.
''ini kamu Leo?" kata Kirana sembari memegang pipi Leo ''Iya mah, ini Leo" kata Leo dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air matanya, air mata kerinduan keluarga yang selama ini tidak pernah ia jumpai.
Kirana langsung memeluknya, di susul Riko dan juga yang lainnya.
sedangkan Tania yang sudah mendekat itu pun langsung dicium habis-habisan oleh Tasya.
"ya ampun kakak ipar ku!!, tidak tahu ya adik ipar mu ini sudah sangat rindu berat" mendengar perkataan Tasya, Tania pun tertawa "iya-iya deh Tasya iya, aku sedang menggendong bayi, nanti lagi kita kangen-kangenan nya, oh iya perkenalkan ini adalah kakak ipar mu juga, namanya kak Margaretha" dengan cepat Tasya langsung mengulurkan tangannya ingin berkenalan langsung dengan wanita cantik yang ada di hadapannya.
Bersambung...
__ADS_1