CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 15


__ADS_3

"udah, pake bajunya gih" Agam membantu Mona mengenakan pakaiannya sembari mencium pipinya "yaudah aku langsung balik ya" Agam mengangguk, rasanya ingin berlama-lama dengan Mona tapi Agam sadar di rumah Mona pasti tengah ada yang menunggunya.


 


"Siapa yang menyuruhmu berdiri, cepat makan" Tania mengernyitkan dahinya ini kali pertamanya dirinya di ajak makan satu meja oleh majikannya "tapi tuan saya sudah biasa makan setelah tuan menyelesaikan sarapan tuan" jawab Tania dengan nada lirih "dengar tidak? Saya tidak ingin kamu merepotkan saya kedepannya karena kamu sakit" Tania mengangguk dan akhirnya duduk berhadapan dengan Leon.


Rasanya benar-benar canggung yang biasanya menatap Leon yang tengah menikmati sarapannya kini malah ikut sarapan dengannya, biasanya ikut sarapan pun jika ada Tasya di sini dan Tania akan berakting makan bersama di meja makan.


Ketika sedang menikmati sarapan berdua tiba-tiba kedua mertua Tania datang dengan adik ipar nya "selamat pagi!" Sapa tasya dengan begitu gembira nya untungnya Tania sudah duduk jadi mereka tak akan mencurigai jika Tania di sini berperan sebagai pembantu saja.


Mungkin ini yang membuat Leon memintanya untuk segera duduk dan ikut sarapan bersama "kalian sarapan dulu setelah sarapan nanti temui mama dan papa di ruang keluarga ya, Tasya suruh mbok siti masuk" pinta mama kirana dan Tania memandang pria yang ada di hadapannya ini.


Mbok siti biasanya sering mengantar barang belanjaan kemari tak disangka iya ikut datang ''jangan sampai keceplosan sesuatu, katakan saja seolah-olah kamu diperlakukan baik disini" bisik Leon, Tania hanya mengangguk mengerti sebenarnya dirinya takut akan apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang terjadi seperti keseharian Leon di luar sana yang tania tak ketahui.


Atau mungkin yang Tania khawatir kenapa yang Leon bicarakan nanti tak sesuai dengan apa yang Tania bicarakan seperti berbeda alur ''saya akan mencuci piring terlebih dahulu sebaiknya tuan langsung saja ke ruang keluarga" Leon menarik tangan Tania bisa-bisanya Tania meminta izin untuk mencuci piring di hari dimana ayah dan ibunya datang.


" jangan melakukan sesuatu apapun selama kedua orang tua saya masih di sini, setelah mereka pergi baru kamu bisa melakukan apa saja yang seharusnya kamu kerjakan" Tania mengangguk dan sedikit merintih kesakitan karena cengkraman tangan Leon "i-iya tuan" jawab Tania ketakutan "panggil saya mas di hadapan kedua orang tua saya!" Tegas leon, rasanya Tania ingin sekali kabur dari rumah ini tak ada mertuanya ataupun ada sepertinya sikap jelek yang sering memarahi istrinya ini tidak bisa dihilangkan.


"Mbok Siti pindah barang-barang Tania secara perlahan-lahan ke kamar saya" bisik Leon lalu membawa Tania ke ruang keluarga, sedikit aneh memang tidak seperti biasanya ibunya dan ayahnya datang secara mendadak tanpa mengabarkan terlebih dahulu.


Setelah Tania dan juga Leon datang mereka berdua menatap dengan begitu misterius seperti penuh teka-teki, di sana pula terlihat tidak ada Tasya mungkin perbincangan ini cukup serius hingga Tasya tak berada di sini.

__ADS_1


" semalam setelah pesta ulang tahun Diandra, Agatha datang menemui mama dan papa" Rico membuka pembicaraan sembari menghisap sebatang rokok sama seperti Leon yang juga menghisap rokok "lalu" tanya Leon heran untuk apa Agatha mendatangi rumah utama.


" ya nanti akan papa katakan setelah Levine datang" perasaan Tania tak enak sepertinya tatapan mereka tak suka pada Tania apakah mereka semua sudah mengetahui akan identitas Tania yang dicap sebagai pembunuh dari Leo.


Lama menunggu akhirnya Levine datang " Tania keluarlah, ada yang ingin kami bicarakan penting sebagai orang luar saya tidak bisa memberi tahu masalah ini" Tania mengangguk sopan lalu keluar dengan wajah bingung ada apa sebenarnya.


" tidak perlu berlama-lama sebenarnya ada apa tumben sekali se pagi ini kalian datang bersama-sama" Rico membuang puntung rokok nya dan menatap Leon dengan tatapan penuh emosi " untuk apa kau menikahi keluarga pembunuh itu, lalu untuk apa malam-malam mendatangi rumah pembunuh itu, apa kau tidak mengerti jika keluarga pembunuh tidak pantas menjadi bagian keluarga kita" Levin yang paham atas kesalahpahaman ini langsung menjelaskannya agar Leon tidak perlu repot-repot menjelaskan ke sana kemari yang takutnya dibantah dan tidak dimengerti oleh ayahnya sendiri.


" jadi begini Om, justru Leon menikahi Tania untuk balas dendam bukan untuk dijadikan istri kesungguhan, dalam keseharian Leon sering menyiksa Tania jadi kalian tidak perlu berfikir bahwa kami menganggapnya sebagai ratu, kedatangan kami malam-malam ke rumah keluarga Tania untuk mengajaknya kerjasama dan membuat perusahaan itu hancur serta mempermalukan keluarga itu, siapapun pastinya tidak ingin berkeluarga dengan keluarga pembunuh bukankah begitu?" Rico mengangguk memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh Levine.


Tapi tidak dengan kirana, kirana malah merasa kasihan dan iba, baginya Tania adalah seorang anak yang tidak mengerti apa apa seperti Tasya, seharusnya Tania memiliki waktu bermain yang cukup bukan malah menerima dendam keluarganya sendiri.


Rupanya pernikahan ini hanyalah balas dendam semata " mama keluar dulu kalian lanjutkan saja pembicaraannya" kirana sama sekali tak kuat mendengar pembahasan mereka yang tidak manusiawi yang membuat kirana buru-buru pergi saat Leon berkata " Leon akan membunuh Tania dengan tangan leon sendiri jadi papa tak perlu ikut campur" hanya itu kata-kata yang teringat sampai sekarang ini setelah keluar dari ruang keluarga.


Di taman terlihat Tania dan juga Tasya tengah tertawa gembira entah apa yang sedang mereka ceritakan sepertinya sangat seru, dilihatnya Tania tengah memetik bunga dan menyelipkannya di telinga Tasya.


"Tania tunggu di sini sebentar ya aku akan ke kamar mandi" Tania mengangguk kecil seraya tersenyum manis, setelah Tasya pergi Kirana langsung menghampiri Tania yang tengah membuat untaian bunga "memangnya tidak panas duduk di sini" Tania langsung melihat ke sumber suara di mana Kirana ibu mertuanya mulai menghampiri "eh tidak kok ma, mama sudah selesai ngobrolnya?" Kirana mengangguk lalu mengelus rambut halus nan lembut yang Tania miliki.


Sudah lama tak pernah merasakan belaian kasih sayang dari ibu rasanya ingin menangis saat dibelai seperti ini "kenapa menangis?" tanya Kirana sembari menyampirkan rambut yang menghalangi wajah cantik yang dimiliki Tania.


"ahh Tidak apa-apa kok mah, Tania memang begini anaknya cengeng dan ciwek'' Tania tertawa seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa pada dirinya, yang Tania butuhkan sebenarnya saat ini adalah sebuah perhatian bukannya malah siksaan yang terus-menerus.

__ADS_1


Kirana yang melihat wajah Tania penuh dengan kerisauan tentunya merasa bersalah karena dirinya tak bisa menghalau rencana suaminya dan juga anaknya sendiri.


"sudah sudah jangan menangis setelah lulus sekolah nanti Tania akan melanjutkan kuliah di mana?" jangankan menjawab rasanya ingin berkata melanjutkan di universitas manapun sulit karena bagi Tania tak mungkin dirinya menginjak jenjang per guruan tinggi di kondisi yang tidak memiliki apa-apa.


walaupun mendapatkan beasiswa itu semua tak melulu mengenai gratis, untuk biaya transportasi ke sana kemari tentunya membutuhkan uang, jangankan biaya transportasi untuk makan pun Tania masih menumpang dan belum tentu Tania diberikan izin untuk kuliah.


karena tak bisa menjawab Tania hanya meneteskan air matanya dan menggelengkan kepalanya seolah-olah pertanyaan dari mertuanya cukup dijawab dengan air mata yang bisa mewakilkan perasaan Tania saat ini.


sebagai seorang wanita dan sebagai seorang ibu tentunya Kirana mengerti, ujian yang menimpa Tania sangat sulit dan tidak mudah untuk dijelaskan, apalagi Kirana sangat paham akan putranya yang sangat keras kepala bahkan adiknya sendiri sering dibentak-bentak jika sedang marah.


"Ya sudah jangan menangis lagi, lanjutkan bermainnya dengan Tasya ya Mama akan masuk ke dalam'' ucap Kirana yang akan beranjak dari duduknya setelah melihat putrinya yang sedang berlari-larian kecil menuju ke arahnya "ihh Mama ini bagaimana sih baru saja Tasya datang Mama sudah akan pergi lagi, sini dong kita cerita-cerita dulu'' ajak Tasya dengan merangkul tangan mamanya.


dengan perlahan Kirana melepaskan rangkulan tangan dari putrinya ''sudah kalian main berdua saja Mama di dalam masih ada urusan dengan papa dan yang lain'' dengan perlahan Kirana menolak ajakan putrinya agar putrinya ini tidak tersinggung dengan kata-katanya.


sebagai anak perempuan satu-satunya dan anak perempuan terakhir tentunya Kirana sangat menjaga perasaan Tasya, tak hanya Kirana saja bahkan Riko sering memanjakan putrinya satu ini tapi tidak dengan Leon yang terus saja memarahi adiknya agar hidup mandiri dan tidak ketergantungan dengan orang lain.


memang adiknya ini seorang wanita tapi setidaknya Tasya harus bisa berkontribusi dan bekerja untuk menghasilkan uang untuk antisipasi Jika saja suaminya kelak mengalami kebangkrutan dan Tasya takutnya tidak bisa menyesuaikan diri dengan pola hidup yang berubah drastis.


tak terasa siang sudah menjelang, Kirana dan keluarganya sudah pulang meninggalkan rumah Leon, Tania kembali menempati posisinya seorang diri tanpa kehadiran pembantu yang ikut pergi bersama kedua majikannya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2