
"wah boneka itu lucu sekali'' Tania menggigit jari telunjuknya dan merangkul tangan Leon mengajaknya menuju tempat di mana seseorang yang bisa merobohkan semua kaleng akan mendapatkan boneka besar ''boleh tidak Mas Leon memainkan permainan ini untuk Tania?'' Leon melipat kedua tangannya di dada dan menggelengkan kepalanya menurutnya permainan seperti ini tidaklah berkelas dan terkesan kampungan.
terlihat di sekitar Leon banyak sekali anak kecil yang berlarian dan berteriak-teriak ya bisa dimaklumi namanya saja pasar pasti ramai ''ayolah demi bayi kita'' Tania mengelus-elus perutnya dan Leon mau tak mau menurutinya, sekali lemparan saja semua kaleng yang tertata itu roboh.
''Iyeeeeyyyy akhirnya boneka lucu ini menjadi milikku, sekarang kita main lukisan yuk?'' Leon sebenarnya tidak ingin bergerak sama sekali tapi Tania selalu saja memaksa Leon untuk bergerak dan tidak berdiam diri.
Leon langsung banyak yang mengerumuninya karena paham dengan siapa Leon, tubuh Tania terdesak-desak oleh padatnya ibu-ibu dan juga anak muda anak muda yang antusias dan bersemangat ingin berswafoto bersama Leon.
sebisa mungkin Leon tidak melepaskan genggaman tangannya bersama Tania dan melindungi tubuh Tania dari apitan ibu-ibu yang benar-benar sangat ganas dalam mendorong mereka apalagi posisinya tidak ada yang melindungi mereka hingga tiba-tiba pasukan Leon yang memang berjaga-jaga dari kejauhan langsung mengambil alih dengan suara yang menggelegar.
''tolong minggir! jika kalian tidak ingin minggir saya akan mendorong kalian secara kasar karena telah menyakiti atasan kami'' setelah memberikan perlindungan dengan mereka yang membuat lingkaran dengan topangan tubuh mereka Tania dan juga Leon langsung digiring menuju mobil.
yang semulanya Tania bahagia kini jadi mengaduh merasakan sakit, Leon langsung memeriksa lengan Tania yang di sana terdapat lebam berwarna biru ''kamu bisa hati-hati tidak sih!" marah Leon karena melihat lengan kaki dan juga bahu Tania yang tak jauh dari lehernya itu memar.
''Bagaimana tidak bisa hati-hati tadi banyak sekali yang mendorong!" marah Tania kembali karena merasa tidak terima jika dirinyalah yang dimarahi saja padahal bukan salahnya melainkan Salah ibu-ibu yang mendorongnya dengan kuat tadi ''tahu begitu kenapa malah mengajak pergi ke pasar malam sudah tahu banyak orang kampungan di sana'' Leon memencet tombol sekat di mana sekat itu akan memisahkan antara sopir dan juga penumpang agar Pak sopir tidak melihat apa yang akan Leon lakukan.
__ADS_1
semua tirai Leon tutup dengan hanya menekan tombol ''aduhhh sakit hiks hiks hiks hiks hiks" dengan sangat perlahan blazer yang menyelimuti seragam dilepas oleh Leon, dilihatnya luka memar itu ''ck kenapa bisa sampai seperti ini sih!" decak Leon kesal "sakitnya tiba-tiba pindah ke sini'' Tania memegangi perutnya Leon langsung memegang perutnya yang mulai membuncit itu.
''Pak kita langsung ke rumah sakit saja'' seru Leon yang masih mengelus-elus perut Tania ''Tania tidak mau ke rumah sakit kita pulang saja, Tania takut disuntik'' digenggamnya erat-erat tangan Leon karena memang Tania memiliki trauma mendalam mengenai jarum suntik di mana dulu adiknya disuntik menangis tiada henti.
tapi di saat itu memang adiknya masih kecil mungkin rasa sakitnya memang benar-benar-benar sakit jadi sampai menangis seperti itu, sampai saat ini Tania menjadi trauma mengenai jarum suntik padahal banyak orang yang meyakini Tania bahwasanya disuntik itu sama seperti digigit semut.
''tidak melulu mendatangi rumah sakit itu akan disuntik jadi jangan seperti anak kecil'' kata Leon dengan posisi yang sama dengan tangan yang masih berkutik membelai perut yang kini semakin berisi ''ya kalau Tania tidak mau ya tidak mau jangan dipaksa'' Leon masih tetap bersih Teguh dengan pendiriannya di mana ia akan membawa Tania ke rumah sakit.
setibanya di rumah sakit pihak rumah sakit benar-benar gemetaran karena yang datang adalah pemilik rumah sakit ini sendiri ''periksa keadaannya'' pinta Leon pada dokter yang mendampingi saat menjemput Tania yang akan diturunkan dari mobil ''baik Pak saya akan memeriksanya dengan teliti'' ucap dokter yang bisa dibilang senior di rumah sakit ini.
Ting!
''ini sudah jam berapa kakak dan juga Tania belum juga pulang, Tasya malas di rumah berdua bersama nenek lampir jadi cepat-cepatlah pulang'' pesan yang dikirimkan Tasya langsung dibaca oleh Leon memang ini keteledoran Leon meninggalkan Tasya dan juga Agatha berduaan yang ada mereka akan cekcok dan yang lebih ditakutkannya lagi agar tak akan membuka semua cerita yang seharusnya ditutupi.
__ADS_1
''Tania sedang masuk ke rumah sakit tak lama lagi Kak Leon akan pulang jangan keluar-keluar kamar apalagi sampai bertemu dengan Agatha'' setelah pesan itu terkirim, Levin datang sembari menyodorkan iPad di tangannya ''sepertinya anak buah dari perusahaan corporation kurang kerjaan sampai tahu-menahu detail tentang keseharian gadis itu'' Leon membuka email yang dikirimkan dari perusahaan corporation di sana tertulis tentang ejekan yang mengejek bahwa Leon tidak bisa melindungi Tania.
''percuma saja perusahaanmu besar dan memiliki banyak sekali anak buah tapi untuk melindungi satu orang tak bisa dan tidak mampu, miris aku melihatnya kalau memang benar-benar tidak mampu untuk menampung gadis itu maka kembalikanlah padaku" email itu langsung Leon balas dengan nada penuh kekesalan, entah pemikiran CEO saingannya ini bagaimana bisa-bisanya melampirkan pesan di waktu yang tidak tepat.
kalau saja Leon sudah tidak memikirkan situasi saat ini mungkin Leon akan mencari dimana keberadaan CEO yang identitasnya tidak di ketahui.
"sungguh benar-benar CEO yang tidak berpendidikan berbicara tanpa melihat situasi, jangan hanya bisa mengancam saja aku sama sekali tidak takut dengan ancaman mu, aku melakukan ini dan melindungi gadis ini karena dia tengah mengandung anak ku jadi jangan terlalu mengintimidasi ku!" balas Leon dan tak lama ia mendapatkan balasan kembali melalui email yang seharusnya untuk performa pekerjaan kini menjadi ajang berbalas pesan dengan sengit.
"wow, benarkah? kalau begitu bagaimana jika kita bertemu, kau sangat penasaran dengan ku bukan?" Leon melirik sekilas ke arah Levin yang masih duduk termenung sembari melipat kedua tangannya di dada "aku titip Tania, tetap disini aku akan menemui CEO brengsek ini" Leon menyodorkan iPad kepada levin kembali "hah? yang benar saja kau akan menemui CEO segleng itu? seorang diri?" Leon mengangguk tak mungkin Leon membawa banyak rombongan padahal ini hanya pertemuan biasa.
untuk jaga-jaga Leon memang membawa beberapa orang untuk memantaunya dari kejauhan jika sampai terjadi sesuatu nanti "aku tidak sendiri, aku akan membawa beberapa anak buah untuk berjaga-jaga jika di butuhkan" Leon langsung beranjak dari duduknya dan keluar dengan penuh ke emosian.
mungkin jika saja nanti emosi tidak terkontrol dengan perkataan CEO itu Leon akan menghajarnya habis-habisan sampai tak berdaya "jangan terburu-buru seperti itu, langsung saja ke alamat yang ku kirim nanti akan ada anak buah yang akan menjemput mu, semoga kedatangan pertama mu ini akan berkesan" Leon berdesis, sepertinya CEO dari perusahaan corporation amatiran sampai-sampai sudah menyiasati kedatangannya.
sesampainya di tempat tujuan Leon mulai berfikir dua kali, jika dirinya masuk kedalam kediaman pria ini bisa-bisa Leon pulang hanya tinggal jasad saja, di tambah lagi dengan anak buahnya yang tidak bisa memasuki perumahan ini, Leon memang masih memegang budak pion yang akan menjadi langkah kemenangannya, tapi tetap saja Leon sedikit was-was.
__ADS_1
pintu gerbang sudah terbuka lebar, namun sama sekali tak ada niatan Leon untuk memasuki rumah itu, sampai sebuah kain berwarna putih terurai dari lantai 2, layar proyektor langsung menyala dan Leon di perlihatkan oleh foto-foto Tania saat masih kecil dengan penuh canda tawa dalam keluarga kecilnya.
Bersambung...