CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 29


__ADS_3

tiba-tiba Leon mendengar pengeras suara dimana suara itu adalah suara CEO corporation yang di Samarkan menjadi suara yang benar-benar berat dan berbobot "selamat datang di rumah ku wahai CEO Leon Wilson arganta, ada sedikit pemberitahuan untuk mu mengenai gadis yang ada bersamamu itu, dia adalah gadis yang malang, sudah malang harus di timpa dengan siksaan siksaan darimu yang tak mendasar, dimana hati nurani mu CEO Leon Wilson arganta yang di dengar oleh masyarakat sangat baik, tampan, berwibawa walaupun bersikap dingin? apakah itu pantas untuk menjuluki mu sebagai CEO yang benar-benar kejam sampai berani menguliti orang tak bersalah dan menguburnya hidup-hidup di hutan belantara?" seketika Leon teringat akan Roki pria yang ia siksa dulu karena membuat pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi saksi kematian adiknya namun tidak ada keterangan yang jelas.


dimana saat Roki memberikan keterangan selalu saja berubah-ubah dan berbeda-beda dari pernyataan pertamanya "lalu apa urusannya dengan mu?" kata Leon yang membuka kaca mobilnya agar suaranya dapat terdengar oleh pria yang tak terlihat batang hidungnya.


"bukankah itu sangat keji?, kau sama saja seperti kakek mu yang kejam dan sangat keras, pantas saja kau sampai menyiksa Tania tidak tanggung-tanggung, tapi sampai aku melihat kau menyiksa Tania siap-siap saja perusahaan mu akan rata dengan tanah" di pandangannya layar proyektor itu yang terdapat Tania dan juga Leo berlarian dan tertawa ceria di sebuah kebun teh.


beberapa potret saat Tania menangis dan juga saat Tania beranjak dewasa, dimana Tania semakin bertambah cantik "sebenarnya siapa kau, apa urusan mu dengan Tania!" tiba-tiba CEO itu tertawa terbahak-bahak "hahaha kau tak perlu mengenal ku siapa, di saat anak mu lahir nanti aku akan mendatangi rumah mu langsung tanpa harus mengumpat seperti ini" waktu menunjukkan pukul 23.46 malam, Leon langsung beranjak pergi karena memang dirinya sudah sangat lelah dan butuh waktu untuk istirahat.


namun pikiran Leon kini malah tertuju pada Tania yang berada di rumah sakit bersama dengan Levin, Leon langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit medical center of Wilson arganta.


sebenarnya Leon tidak ingin berhenti di rumah sakit dan ingin langsung pulang, namun apa boleh buat Leon masih memiliki tanggungan "bagaimana dengan kondisi Tania?" tanya Leon yang langsung duduk di sofa bersebelahan dengan Levin "kondisinya sudah setabil, namun tidak boleh terlalu lelah karena berpengaruh pada janinnya" Leon menaikan satu alisnya.


"kau tidur disini atau pulang?" tanya Leon saat melihat Levin sibuk dengan ponselnya "aku pulang, karena ayahku tengah berdebat dengan ibuku, aku sebisa mungkin harus menutup-nutupi kebusukan ayahku" saat Levin pergi Leon melihat Tania yang sayup-sayup terbangun dari tidurnya dengan memegangi perutnya "kenapa?" tanya Leon dingin "lapar mas" Leon langsung menghubungi kepala pelayan Yang ada di rumah utama, karena selama di rumahnya Tania dan ibunya lah yang menghandle bagian dapur dan segalanya.


"Tania ingin makan tumis kangkung, ayam goreng, dan juga tempe dan tahu goreng" syukurlah Tania tidak meminta masakan yang aneh-aneh jadi Leon tak akan menunggu masakan yang di sajikan entah lama ataupun sebentar itu, sebenarnya di rumah sakit ini Leon bisa langsung menuju dapurnya dan meminta koki untuk menyiapkan makanan namun sedari dulu prinsip Leon tidak akan pernah memakan masakan rumah sakit yang terasa hambar.


di sisi lain Agam dan juga Mona tengah berbincang-bincang di balkon, mereka tengah membahas persoalan Tania yang semakin tertutup dengan masalahnya sendiri.

__ADS_1


Agam pula yang di tanya mulai tidak merespon mungkin karena sudah malam jadi respon Agam terlalu lambat "Agam!" seru Mona "hmm?" tanya Agam kaget "kamu kenapa sih tiba-tiba jadi aneh seperti ini, aku tuh sedang bertanya!" protes Mona "kita lanjut besok saja ya, ini sudah malam besok kita harus sekolah, aku juga sudah mulai mengantuk" Mona mengangguk memang terlihat wajah Agam yang lelah dan letih, entah apa yang sedang di pikirkan oleh Agam sampai seperti ini.


saat Agam masuk kedalam kamarnya, Agam langsung membaringkan tubuhnya menatap atap-atap langit rumahnya "ayah sebenarnya kemana sih!!!" triak Agam dengan suara kencang, Agam memang sudah sedikit frustasi mencari kesana kemari namun tidak ada titik terang dari keluarganya sendiri.


semua terkesan menutup-nutupi masalah ini "aku harus hubungi Tania, mungkin hanya dia yang bisa menjadi teman curhatku" Agam langsung mencari kontak Tania di ponselnya setelah ketemu langsung di telfonnya Tania.


drrt drrt drrt drrt


drrt drrt drrt drrt


"iya hallo Agam?" jawab Tania dengan lesu.


"aku sedang di rumah sakit" seketika niat Agam yang akan bertemu Tania langsung di urungkan nya, sepertinya Tania kini tengah sakit dan sedang tidak baik-baik saja.


"kalau begitu besok saja aku akan menemui mu, karena ada sesuatu hal yang ingin ku bicarakan" Tania tak menyia-nyiakan kesempatan ini, sepertinya Agam memang membutuhkan teman curhat sampai di tengah malam seperti ini ingin menemuinya.


"datang saja kerumah sakit medical center of Wilson arganta, ku tunggu di lantai 8 kamar nomor 201" tepat setelah mengatakan itu ponsel Tania langsung mati, biasa handphone lama dan sudah harus di ganti.

__ADS_1


"berani sekali kamu menyuruh seorang pria untuk datang ke sini" seketika Tania terlupa akan pria yang memang ada di sini untuk menemani nya "emm dia sahabat kecil Tania yang sudah menyelamatkan Tania saat di pesta ulang tahun Tante Diandra, Dia sedang tidak baik-baik saja boleh kan bila Tania menjadi teman curhatnya?" sebenarnya Leon sama sekali tidak ingin mengizinkannya tapi di sisi lain juga Leon sedikit merasa bersalah karena meninggalkan Tania cukup lama dan Tania pun dilecehkan.


jadi dengan sangat terpaksa Leon memberikan izin Tania untuk di jenguk oleh pria yang tak Leon kenal "Baiklah asalkan jangan terlalu lama'' dan setelah Leon selesai makan malam bersama Tania tibalah pria yang di tunggu-tunggu Tania.


Leon memilih tidak mengganggu dengan masuk ke dalam ruangan kamar, di kamar VVIP ini memang terdapat kamar yang di dalamnya nya sudah ada kamar mandi dengan perlengkapan yang mempuni "sakit apa?" tanya Agam dengan membawakan Tania martabak dan juga buah-buahan.


"sedikit kecapekan saja, malam-malam begini dimana ada yang menjual martabak dan juga buah-buahan?" ledek Tania "sebelum kesini tadi aku minta pembantu rumah untuk membuat martabak kesukaan mu, dan buah yang ada di kulkas ku bawa semua untuk mu agar cepat sehat" Tania tertawa karena memang Agam selalu memiliki 1001 cara untuk membuat temannya bahagia walaupun sebenarnya Agam tidak tahu caranya membuat dirinya bahagia.


''iya-iya deh, sebenarnya ada apa sampai-sampai datang kemari?" seketika raut wajah Agam berbeda, Agam memegang tangan Tania, entah ada apa tiba-tiba air mata Agam menetes, mungkin bagi Agam Tania bisa di jadikan rumah singgah untuk meredam segala kekesalannya kepada kedua orangtuanya.


Tania bisa mengerti, ini adalah kali pertama Tania melihat Agam menangis apa lagi menangis sampai sedalam dan sepertinya memiliki luka yang mendalam di hatinya "aku harus bagaimana Tania hiks hiks hiks hiks" Agam menangis dan langsung memeluk Tania.


sedikit aneh memang jika mereka harus berpelukan seperti ini apa lagi di ruangan ini terdapat Leon, yang Tania takutkan jika Leon melihatnya bisa-bisa habis Tania "coba ceritakan dulu agar aku bisa memberikan solusi padamu?" Agam akhirnya mau bercerita mengenai kondisi keluarganya yang kini benar-benar renggang dan juga senggang karena jarak yang memisahkan.


''aku bingung Tania, ayah dan ibu ku menyembunyikan masalah mereka dengan rapat sampai aku tidak mengetahuinya, bahkan keluarga pun menyembunyikannya dari ku, ayah ku sedang tidak baik-baik saja Tania hiks hiks hiks hiks" Tania memegang pipi Agam dan meyakinkan Agam bahwa semua akan baik-baik saja.


"sekarang banyak-banyaklah berdoa, jangan bersedih lagi oke, ayah dan ibu mu menyembunyikan semua ini mungkin demi kebaikan mu, aku tahu perasaan mu sangat kesal dan marah jika selama ini selalu di bohongi, tapi ada baiknya jika kita mendoakan mereka agar baik-baik saja" Agam mengangguk dan setelah hampir 1 jam bercerita pada saat Agam akan berpamitan pulang Tania menyerahkan surat izinnya kepada Agam karena besok tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya.

__ADS_1


Agam pulang dengan hati yang sedikit plong dan tak ada yang mengganjal sampai membuat dadanya sesak dan sedikit sulit untuk bernafas.


Bersambung...


__ADS_2