CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 8


__ADS_3

"lo udah malam-malam gini ngapain ngajak adik gue belajar segala'' Agam menghela nafas lalu mulai beranjak dari duduknya "gue nggak ngajak adik lo belajar kita cuman lagi nulis-nulis aja'' Agam mulai membereskan barang-barangnya karena memang angin malam tak baik di tubuh.


sedangkan Mona sama sekali tak menghiraukan kedatangan kakaknya ini ia masih terus menulis dan menulis kata-kata yang cukup panjang "lo bawa tuh adek lo masuk gue juga udah ngantuk besok sekolah'' Agam masuk ke dalam kamarnya sedangkan Mona masih menulis bak penulis handal "heh udah kali nulisnya ini udah malam'' Mona berdecak kesal dirinya sudah tidak bisa diganggu gugat jika sedang serius seperti ini yang ada kata-kata yang ada di otaknya nanti buyar.


Mona masih diam dan tak menggubris perkataan kakaknya lalu tak lama Alvin menjewer kuping Mona "lo punya kuping tuh untuk dengerin bukannya malah jadi patung!'' Mona mulai berdiri dan membanting bukunya karena kesal dan emosi.


"bisa tidak sih kakak di luar saja tidak perlu pulang ke rumah sudah tahu di sini lagi menulis bisa tunggu sebentar tidak!!'' mata Mona berkaca-kaca entah apa yang tengah Mona fikirkan di dalam hatinya hingga menulis saja sampai dibawa perasaan seperti ini yang membuat Alvin syok.


adiknya selama ini tak pernah marah yang ada mungkin ia akan kembali meledek dan memilih pergi dan menghindari kakaknya ini tidak seperti ini "ya kamu itu kenapa kakak tuh sedang bertanya sama kamu bukannya dijawab kenapa diam saja, hanya karena sebuah tulisan kamu marah kakak bisa membeli tulisan kamu'' Mona kembali berderaian air mata lalu mendorong tubuh kakaknya kasar.


"dasar sombong! uang kakak tidak akan bisa membeli persahabatan kami sudah sana keluar dari kamarku!!'' bentak Mona dengan nada kuat kencang lalu Mona mulai menaiki ranjangnya dan menarik selimutnya tinggi-tinggi.


Mona menangis menjerit di dalam selimutnya dan itu membuat Alvin sebagai kakaknya yang selama ini hidup bertahun-tahun dengannya benar-benar heran dan tak tahu lagi ada apa dengan adiknya itu.


selama ini pun Alvin tak pernah mengusik persahabatan adiknya lalu ada apa dengan tulisannya mengapa sampai Semarah itu, Alvin langsung mengambil buku yang sempat Mona lemparkan tadi ia membaca kata-kata yang cukup terenyuh di dalam hati kecilnya.


sebenarnya Alvin menyukai Tania tapi selama ini Alvin sembunyikan, Tania adalah gadis yang baik, ramah dan juga murah senyum, selain itu juga Tania pintar memasak, masakannya yang enak membuat Alvin sangat merindukan kedatangan Tania.

__ADS_1


...''Aku tahu aku salah Tania, mungkin aku terlalu gabah untuk memutuskan persahabatan kita dan berkata-kata kasar padamu, Aku bahkan sama sekali tak memberikan kesempatanmu untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, padahal dulu pun aku pernah difitnah dan kau lebih percaya kata-kataku daripada orang yang memfitnahku, maafkan aku ya karena aku tidak mempercayaimu, aku dan Agam tidak bermaksud marah besar setelah mengatakan kata-kata itu aku dan Agam sangat merasa bersalah dan bahkan tidak menyangka bisa mengatakan kata-kata itu, selama ini aku dan Agam mencari tahu kau tidur di mana padahal baru dua hari kita tidak bersama tapi rasanya seperti sudah lama sekali, kurasa dengan surat ini bisa mewakilkan isi hatiku akan kerinduanku padamu Tania, sahabat akan menerima kekurangan sahabatnya dan saling melengkapi bukan malah sepertiku ini kumohon maafkan aku, aku akan memperbaiki semua kesalahanku, dari sahabatmu Mona Ratuliu''...


membaca surat yang dituliskan oleh adiknya Alvin langsung menghampiri Mona yang menangis sesenggukan di dalam selimut.


ditariknya perlahan selimut itu lalu dipeluknya Mona dengan lembut "maaf ya bukan maksud kakak seperti itu ini bukunya, sudah sekarang tidur besok kamu harus bangun pagi karena kamu sekolah'' Mona masih menangis Alvin langsung mengusap air mata yang terus menetes itu.


"hiks hiks hiks hiks, tapi seharusnya kakak menghargaiku bukannya malah memarahiku seperti tadi dan menjewerku, sudahlah kakak keluar sana'' usir Mona "Iya Iya deh kakak keluar ya udah jangan cengeng besok matanya sembab loh jadi jelek mau?" ledek Alvin yang berlalu keluar dari kamar adiknya.


Alvin sebenarnya menyayangi adiknya tapi rasa sayangnya ia utarakan dengan ledekan-ledekan kecil agar di antara keduanya bisa saling ceria, Alvin adalah salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan Wilson arganta dirinya di perusahaan itu belajar cukup banyak.


sebelum ayahnya pensiun Alvin harus memiliki banyak pengalaman di berbagai perusahaan namun tidak semua perusahaan ia coba hanya perusahaan arganta saja karena memang sebelumnya ayah Alvin sudah merekomendasikan terlebih dahulu dirinya pada perusahaan itu.


''jadi maksud papa Alvin tidak perlu melarang-larang Mona bermain dengan Agam? tapi bukankah Alvin tidak pernah melarang keduanya bermain bahkan sampai pernah tidur bersama bertiga dengan Alvin juga'' Tomi menghela nafasnya rupanya putranya ini belum mengerti 100% apa yang ia katakan.


karena kesal dengan putranya yang tidak maksud dengan apa yang dikatakannya Ibu Alvin Ratna langsung memperjelasnya ''setelah lulus sekolah ini papa dan Mama akan menikahkan adikmu, maksud kami berdua yang lebih jelasnya lagi cepat-cepatlah kamu cari pasangan setelah itu papa akan pensiun dari jabatannya sedangkan Mona nanti akan ikut bersama dengan Agam di rumahnya'' Alvin seketika pusing berat.


di kepalanya seolah-olah banyak sekali beban yang tengah menimpa, cari pasangan dari mana menikah bukanlah hal yang mudah apalagi banyak sekali rintangan-rintangan walaupun finansial stabil pasti masih banyak masalah-masalah lagi yang menerpa yang belum siap Alvin lalui.

__ADS_1


"kenapa papa tiba-tiba ingin pensiun??'' tanya Alvin penasaran sembari mengalihkan perhatian kedua orang tuanya "kamu bilang kenapa lagi, papa ini sudah tua sudah seharusnya menimang cucu umurmu ini sudah 25 tahun seharusnya kamu memiliki anak bukan malah bekerja terus menerus kekayaan papa masih sanggup kok untuk mencukupi tujuh turunan nanti'' Alvin mulai beranjak dari duduknya sepertinya pertanyaan selanjutnya akan semakin mendesak yang membuat Alvin nantinya semakin tercekik oleh desakan itu.


"Ya ya nanti akan Alvin carikan di shopee siapa tahu ada'' Ratna mengelus-elus bahu suaminya agar sabar menghadapi putra satu-satunya yang memang sudah kodratnya dijadikan tumpuan pewaris "cari di shopee kamu kira ingin belanja barang kebutuhan keluarga'' Alvin yang menaiki anak tangga pun tertawa karena ucapan dari ayahnya yang sedang kesal.


mungkin jika Mona tahu, Mona akan menjadi orang pertama yang tertawa tiada henti, keluarga Mona cukup harmonis bahkan bisa dibilang cukup sempurna walaupun kejahilan-kejahilan antara kedua anak dari Tommy membuat kepala Ratna dan juga dirinya hampir meledak.


 


di meja belajar Agam tengah menulis kata-kata untuk Tania, ayahnya malam ini belum pulang jadi Agam masih terus menulis sampai nanti ayahnya pulang bahkan tulisannya sudah tidak terhitung lagi oleh kata-katanya yang cukup banyak.


"ini sudah malam Gam, sebaiknya kamu tidur Besok kan kamu harus sekolah'' melihat ibunya datang Agam kembali cuek, Agam berperilaku seperti ini agar ibunya mau jujur apa yang sebenarnya disembunyikan.


Agam sudah merasa curiga karena sudah beberapa bulan terakhir ini ayahnya sering pulang telat dan bisa pukul 04.00 pagi ayahnya pulang "Agam belum mengantuk kalau Ibu sudah mengantuk, Ibu tidur saja terlebih dahulu tidak perlu menunggu Agam tidur'' Lily menghela nafasnya perlahan tak mudah memang menyembunyikan kebohongan yang sudah cukup lama ini.


sepandai-pandainya rahasia disembunyikan masalah pasti akan tercium dan terkuak baunya, Lily mengecup kening putranya disusul dengan pipinya "istirahat ya jangan sampai sakit, besok ayah dan ibu akan pergi selama beberapa minggu kamu baik-baik ya di rumah'' Agam langsung memutar kursi duduknya dan memandang ibunya heran.


hampir setiap hari Agam diberikan kejutan bundanya ingin pergi entah ke mana bersama ayahnya, Jika ditanya pasti tentang perusahaan dan perusahaan.

__ADS_1


''kalau begitu Agam ikut bagaimana?'' Lily tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya ''kamu di rumah saja, kamu kan sekolah jangan membantah ya Ibu tidak pernah mengajarkan Agam untuk membantah kepada perintah kedua orang tua bukan?'' ucap Lily dengan suara lembut dan sedikit lelah.


Bersambung...


__ADS_2