CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 57


__ADS_3

di ruangan inkubator dengan seksama Leo memperhatikan bayi kembar Tania dan juga Leon yang sangat mirip, mereka tengah tertidur lelap setelah menangis berkepanjangan.


''apakah setelah ini anda akan membongkar identitas anda di depan keluarga anda bahwa anda masih hidup Pak Leo?'' Leo menggelengkan kepalanya dirinya masih belum ada persiapan apalagi setelah kakaknya ini bertemu dengan Tania pasti akan ada keributan entah besar atau pun kecil yang akan dihadapi oleh Leo.


''sesuai dengan perkataan dokter kemungkinan 3 bulan ini saya masih akan tetap menyembunyikan identitas saya sampai nanti pulang ke Indonesia bersama dengan dua bayi ini'' dokter Erna tersenyum senang sikap Leon dan juga Leo berbeda jika Leon terkesan sangat dingin dan juga berwajah datar dan Leo ia terkesan pendiam namun juga bisa humoris sesuai dengan keadaan saja.


walaupun lebih banyak diam tapi diamnya Leo adalah sebuah pertanda bahwa Leo sedang memiliki masalah ''saya akan mendukung apapun yang Pak Leo lakukan, dan saya juga akan tetap di sini sampai kondisi Nona Tania benar-benar stabil baru saya akan pulang ke Indonesia'' kata dokter Erna yang sama ikut memandangi kedua bayi Tania di mana bayi pertama diberikan gelang berwarna biru dan yang kedua diberikan gelang berwarna merah.


gelang itu terbuat dari kain lembut jadi tak mungkin akan melukai lengan bayi dan justru itu akan menjadi pertanda sementara untuk membedakan keduanya mana Yang Kakak dan mana yang adik.


di tempat yang lain Levin kini tengah berusaha menutup-nutupi kepergian Leon Ia hanya berkata bahwa Leon akan mencari Tania seorang diri ke penjuru negara tanpa menyebutkan negara-negara mana saja yang akan disinggahi oleh Leon.


keluarga pula nampak risau di mana seharusnya mereka menyambut kedatangan bayi kini malah mencari Di mana keberadaan ibu bayi tersebut, Levine sebenarnya baru saja dikirimkan foto kedua bayi itu oleh dokter Erna karena dokter Erna langsung menghubungi Levin setelah Leon membisikkannya tadi sebelum keluar dari ruangan di mana Tania melahirkan.


''kita tidak punya cara lain selain menunggu kedatangan Leon, tidak mungkin juga kita menunggu terlalu lama walaupun berbicara ke mana saja dan tidak ada hasil lebih baik kita menunggu kejelasan saja dari Leon'' kata nenek Dahlia menjadi penengah di antara mereka yang sedang rapat mengenai Tania dan juga Leon.


sedangkan Laura kini menjadi kesal Leon sangat sulit dihubungi bahkan nomornya sama sekali tidak aktif pesannya sama sekali tidak dibalas, sikapnya benar-benar cuek bahkan menjawab telepon pun tidak pernah kecuali jika Laura menghampiri langsung rumah Leon dan meminta bantuannya baru Leon akan membantunya entah dengan sukarela ataupun dengan sangat terpaksa.

__ADS_1


Leon baru mengetahui perasaannya kepada Tania pada saat Leon menyudutkannya di sisi di mana Leon merasa serba salah ''Apa yang sedang kau cari di sini?'' Tasya bertanya sembari melipat kedua tangannya di dada ''saya ini calon kakak ipar kamu jadi jaga sikap kamu terhadap kakak ya, oh iya Di mana keberadaan Leon?'' entahlah Tasya hanya ingin berlama-lama di rumah Leon padahal keluarga besarnya semua kumpul di rumah utama.


''kakak ipar? siapa yang mau menjadi Kakak iparmu? sebaiknya anda jangan terlalu banyak berharap lihat saja respon kakak saya akhir-akhir ini berbeda dengan anda dengan begitu Anda bisa menyimpulkan bukan bahwa kakak saya lebih mencintai istrinya daripada pelakor murahan dan juga rendahan seperti anda'' Tasya sengaja memancing ke emosian Laura.


tapi Laura yang tadinya ingin menyerang Tasya jadi berpikir beribu-ribu kali mengingat kejadian Agatha waktu itu dan tak mungkin akan terjadi padanya ''begini saja jika kakak kamu kembali ke dalam pelukan saya maka kamu harus siap-siap keluar dari kartu keluarga Wilson arganta'' Tasya menganggukkan kepalanya seolah-olah anggukan kepala itu menyanggupi tantangan dari Laura sendiri.


''tapi jika Anda kalah sebaiknya anda kembali ke negara Anda sendiri tanpa mengikut campuri masalah kakak saya jika itu terjadi maka saya tidak akan tinggal diam'' Laura menyeringai dan langsung pergi setelah menatap sinis ke arah Tasya.


'sialan bocah satu itu mengapa sangat menyebalkan sekali jika bertemu denganku, Leon pula kenapa sih susah sekali dihubungi sebenarnya dia ini ke mana?'' hampir semua sosial media Leon dikunjungi oleh Laura tapi tidak ada titik-titik keberadaan Leon di statusnya biasanya mungkin jika orang berpergian akan update status atau penemu sistem sesuatu yang sedang dicarinya atau bagaimanalah itu tapi sama sekali tidak ada bukti-bukti yang mengarah bahwasanya Leon sedang pergi atau sedang berada di rumah utama.


Laura tak berani jika harus ke rumah utama yang ada ia akan menjadi bulan-bulanan keluarga Leon yang tengah pusing memikirkan Tania.


setelah memasuki apartemennya Laura masuk ke dalam kamarnya sembari menghentak-hentakan kakinya, di dalam kamar terdapat Justin yang tengah berduduk santai sembari berkutat dengan laptopnya.


''Ada apa sih marah-marah begini bukankah kamu sudah bertemu dengan Leon?'' tanya Justin tanpa menengok ke arah Laura yang mulai membaringkan tubuhnya di ranjang ''dia tidak ada di rumah dihubungi pun sangat sulit yang ada di rumahnya malah adiknya yang rese itu jadi ya aku mau tak mau pulang karena aku sudah tidak memiliki arah dan tujuan lagi'' Justin tak bergeming, Justin adalah sepupu dari Laura mereka berdua sepakat untuk bekerja sama di negara ini.


walaupun Justin awalnya merasa tidak memungkinkan bahwasanya untuk membuka usaha di negara orang tapi nyatanya semua fine-fine saja bahkan ada perusahaan besar dan sangat besar dan berpengaruh ingin bekerja sama dengan perusahaan swasta yang tak besar ini.

__ADS_1


''sepertinya kau tidak boleh terlalu dekat-dekat dengan Leon Karena dia sudah memiliki istri bukan ditambah lagi keluarganya kini tengah puncak memikirkan Tania dan satu yang ku minta darimu jangan pernah membocorkan masalah ini ke media massa ini akan berpengaruh buruk bagi keluarga kita dan juga perusahaan yang sedang kita bangun ini dari nol'' dengan sangat hati-hati Justin mulai memperingati sepupunya ini entah mau didengar ataupun tidak setidaknya Justin sudah memberikan lampu merah untuk Laura tidak melangkah lagi maju ke depan.


''Iya aku tahu tapi kan aku sudah mulai mencintainya Justin, aku yakin Leon masih mencintaiku dia yang berkata sendiri tidak mencintai Tania jadi biarkan aku untuk maju dan kau akan merasakan hasilnya nanti di saat perusahaan kita sudah berkembang dan sama-sama besar juga dengan perusahaan Wilson arganta'' Justin memutar kursinya menatap ke arah Laura yang ekspektasinya benar-benar terlalu tinggi.


Laura terlalu sering menatap pandangannya lurus tanpa menengok ke arah belakang sana Di mana masalah yang di belakang tidak bisa ditinggal dan harus didahulukan terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalah selanjutnya bukannya malah kabur dari masalah satu dan meninggalkannya lalu membuat masalah lagi.


''sepertinya jika kau tidak kompeten dalam bekerja sama dengan perusahaan yang kita rintis sepertinya aku akan mengundurkan diri dan meminta aset-aset ku'' ucapan Justin ini memang terkesan mengancam tetapi bukan benar-benar mengancam melainkan masih dengan nada memperingatkan tapi jika memang sulit untuk diperingatkan maka mau tak mau Justin harus menarik aset-asetnya dari Laura.


dirinya tidak ingin dirugikan dengan cara Laura yang ingin sukses secara instan tanpa ingin berusaha dengan cara bertahap ''sudah deh kau ini sudah besar jadi pemikirannya jangan seperti anak kecil, semua masalah ini serahkan saja padaku, aku akan menjamin semua akan baik-baik saja'' Justin sama sekali tidak percaya dengan perkataan Laura percaya dengan seseorang yang selalu memandang lurus itu tidak benar Justin bahkan waktu Laura mulai menjalin hubungan dengan Leon secara diam-diam sudah memperingatkan hal fatal yang akan diterimanya tapi dengan entengnya Laura menggampangkan semua itu dan berkata bahwa Leon sangat mencintainya dan tak akan meninggalkannya.


walaupun Justin sudah memberikan contoh Agatha tapi tetap saja Laura tak perduli dan tak menganggap itu semua serius.


''bukankah kebalik? pemikiranmu bahkan lebih dari anak kecil yang baru saja mengenal dunia perbisnisan, ku tekankan sekali lagi ya jangan dekati Leon lagi atau perusahaan kita akan hengkang dari negara ini dan tidak akan maju di negara kita sendiri'' Laura mengibaskan tangannya seolah-olah dirinya sedang tidak peduli dengan apa yang tengah dikatakan oleh sepupunya ini.


Justin benar-benar tidak menyukai sikap Laura yang terlalu egois tapi mau bagaimana lagi rencana mengenai perusahaan sudah mereka rencanakan dari jauh-jauh hari sebelum datang ke Indonesia.


rugi rasanya jika tidak membuahkan hasil tetapi modal yang mereka keluarkan juga fantastis ''baiklah jika kau tidak mau maka besok kita akan hitung-hitungan aku akan mengambil beberapa persen aset di perusahaan!'' seru Justin dan pergi meninggalkan Laura seorang diri di apartemennya.

__ADS_1


tinggalkan like Kakak, butuh banget nih dukungan dari kalian biar tambah semangat lagi membuat novelnya.


Bersambung...


__ADS_2