CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 9


__ADS_3

"terserah ibu'' Agam langsung membereskan alat tulisnya karena Agam akan bergegas tidur waktu sudah menunjukkan pukul 01.25 malam, ini sudah bukan malam lagi melainkan pagi.


tiba-tiba Agam menahan tangan ibunya yang akan pergi keluar dari kamarnya "Ibu temani Agam tidur ya, Agam tidak bisa tertidur'' Lily tersenyum dan mengangguk rupanya dalam lubuk hati kecil putranya ini masih menyayanginya dan menganggapnya sebagai seorang ibu.


padahal Lily sudah mengerti dan sudah tahu bahwa putranya ini mengetahui kebohongannya yang belum terbongkar selama ini.


'entahlah Agam, sampai kapan kita akan hidup bersama lagi, Ibu tidak bisa hidup tanpa ayahmu, jika sampai sesuatu terjadi pada ayahmu mungkin ibu akan menyusul ayahmu' sembari memeluk Agam yang akan tertidur Lily menangis dan mengusap air matanya, Agam adalah putra satu-satunya mereka, putra yang dibesarkan dalam kasih sayang kedua orang tua.


Lily tidak bisa membayangkan Bagaimana nasib putranya nanti setelah mengetahui ayahnya dan dirinya tiada Jika sesuatu yang benar-benar dibayangkan oleh Lily akan terjadi.


pagi menjelang lagi-lagi baru saja terbangun dari tidurnya Agam sudah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya, di meja makan tertulis surat yang sudah sangat biasa sekali Agam baca.


"Bi, semalam Ayah pulang tidak?'' bibi menggelengkan kepalanya dan tersenyum ramah "sebenarnya mereka berdua kenapa sih, apa harus begini menyembunyikan sesuatu sampai anaknya dibuat penasaran setengah mati'' Agam membuka ponselnya sembari memakan roti yang ada di hadapannya.


namun telepon itu tak diangkat oleh pemiliknya saat Agam berusaha menghubungi Mona, dengan kesal Agam langsung menaiki kamarnya menuju balkonnya dan melangkahkan kakinya melangkahi meja yang semalam untuk duduk mereka berdua.


tok tok tok tok tok


"eh Agam! kamu itu punya sopan santun tidak sih kan bisa lewat bawah dan memencet bel rumah tanpa perlu menggedor kaca balkonku'' Agam memutar bola matanya ke atas sebenarnya pagi-pagi ini dirinya tidak ingin bertengkar dengan Mona yang ada ia ingin memperjelas masalah permintaan maaf pada sahabat mereka berdua.


"bisa tidak sih jangan marah-marah di pagi hari seperti ini, aku ke sini akan mengajakmu langsung ke tempat Tania di pagi-pagi hari seperti ini agar kita bisa berangkat bertiga dan memberikan ini bersama-sama'' ucap Agam sembari mengeluarkan kotak kecil yang entah ada apa isi di dalamnya itu ''tapi berhubung kamu marah-marah aku akan berangkat sendiri'' Agam mulai kembali lagi ke balkonnya Mona segera menyusulnya dan berlarian.


tak ingin kalah dengan kejaran Mona Agam mengambil langkah kaki seribu dan menuruni anak tangganya hingga menuju dapur "bi, Agam berangkat ya karena makanannya tidak habis bibi habiskan saja bersama yang lain'' seru Agam "Agam tunggu!!" tahan Mona sembari menarik tangan Agam yang akan menaiki mobilnya ''apa sih sudah sana'' usir Agam.

__ADS_1


berhubung karena Mona yang kesal Mona langsung mencubit pipi Agam kuat-kuat yang membuat Agam merintih kesakitan karena cubitan dari Mona yang cukup kuat " tunggu sebentar bisa tidak sih aku hanya memasang dasi saja dan memakai rompi lalu kita berangkat awas sampai kau meninggalkanku aku akan merobohkan rumahmu dan seisinya'' ancam Mona.


''silakan saja hancurkan rumahku, bila perlu kau bakar semua isinya'' entah ada apa Tidak seperti biasanya sikap Agam seperti ini, biasanya ia akan pura-pura takut karena candaan ini namun kali ini ia membawanya serius yang membuat Mona khawatir akan terjadi sesuatu pada Agam yang tidak dibicarakan.


selama ini jika Agam memiliki masalah Agam tidak pernah bercerita kepada siapapun berbeda dengan Mona dan juga Tania yang akan blak-blakan membuka masalahnya pribadi.


Agam melajukan mobilnya meninggalkan Mona yang masih melamun karena kaget atas apa yang dikatakan oleh Agam ''Agam kenapa sih Tidak seperti biasanya dia berperilaku seperti itu, kebiasaan deh kalau ada masalah apa-apa tidak pernah mau bilang'' Mona menghentak-hentakkan kakinya ke tanah karena kesal ditinggal oleh Agam.


biasanya mereka akan berangkat bersama tapi kini Mona berangkat bersama kakaknya sekalian kakaknya pergi berangkat ke kantor ''kenapa adek tiba-tiba masuk rumah kok cemberut begitu?'' Ratna mulai bertanya kepada putrinya sembari menuangkan segelas susu ''tau tuh Agam tiba-tiba berangkat duluan tanpa mengajak Mona, terus marah-marah bilang suruh robohkan saja dan bakar seisi rumahnya, Mona harus bagaimana sih Agam itu ya pah, mah kalau ada masalah tidak pernah bilang-bilang jadi Mona mana tahu kalau Agam sedang ada masalah apa'' Mona menyantap makanannya dengan kasar bercampur emosi sedangkan ayah Mona hanya diam cukup lama sembari mengunyah makanannya yang ada di dalam mulut.


mungkin Agam tengah marah dan kesal karena rahasia yang disembunyikan ini, maka dari itu ayah dan ibu Agam meminta keluarga Mona untuk membiarkan Mona mengalihkan perhatian Agam sementara.


"Coba nanti kamu bujuk Agam dan kamu jangan mengulik masalahnya kamu alihkan saja perhatiannya, tidak baik Jika kita ingin mengetahui privasi orang lain sebaiknya kamu ajak dia jalan-jalan kamu ajak dia berbicara hal yang menyenangkan'' usul Ayah Mona dan Mona pun menyetujuinya "Baiklah Mona sudah selesai makan ayo Kak kita berangkat'' Mona mengelap bibirnya sedangkan Alvin masih menyantap makanannya dengan santai.


"his kakak ini kenapa sih malah melamun di meja makan, ayo berangkat'' ajak Mona memaksa "adek kakak lagi makan, nanti setelah makan ya kamu baru ajak kakak berangkat'' nasehat Ratna pada putrinya.


sedangkan di jalan Agam yang tengah mengemudikan mobilnya melihat Tania yang berjalan terburu-buru, Agam langsung menepikan mobilnya dan hendak mengajak Tania untuk masuk ke dalam mobilnya.


jika dihitung-hitung dan diperkirakan jarak dari tempat Tania berjalan saat ini sampai ke sekolah cukuplah panjang dan bahkan memakan waktu hampir satu jam.


"Tania ayo naik'' ajak Agam yang membuat Tania terdiam terpaku dan tak bergerak seperti patung manekin yang ada di toko-toko "sudahlah tidak perlu bengong seperti itu cepatlah masuk'' Tania menelan salivanya lalu mulai membuka pintu dengan perlahan "emm benar tidak apa-apa jika kita berangkat bersama-sama? bukannya kamu masih marah ya?'' tanya Tania dengan sangat hati-hati.


terpancar memang wajah kesal dari Agam "sudah cepat naik dari pada nanti kamu berangkat ke sekolah telat'' Tania mengangguk lalu mulai menaiki mobil mewah milik Agam "Mona ke mana ya emm biasanya kan kalian berangkat berdua tapi...'' tanya Tania dengan sangat hati-hati dan lirih namun langsung dipotong oleh perkataan Agam.

__ADS_1


''aku sedang ingin berangkat ke sekolah sendiri, lalu aku melihatmu jadi aku mengajakmu berangkat bersama'' Tania merasa tidak masuk akal dengan alasan ini walau pun Agam tidak ingin berangkat dengan Mona setidaknya mereka akan membawa mobil berbeda dan masing-masing.


karena tidak ingin terlalu ikut campur takutnya nanti malah memperkeruh suasana Tania memilih diam dan tak berbicara apapun hingga mereka berdua pun sampai di sekolah.


di sekolah kini tengah gempar perihal masalah Leon Wilson arganta widiantara Pramana yang sudah mengumumkan statusnya di muka publik di mana sekolahan ini adalah sekolahan yang dirintis oleh perusahaan Wilson arganta juga.


termasuk Tasya yang kini sedang menjadi perbincangan sekolah mengenai statusnya sebagai adik Leon, Tania yang mengetahui itu justru merasa terpuruk karena teringat akan sosok Leo kakak angkatnya yang selama ini men-supportnya dalam pendidikan.


''Tania sepertinya pekerjaanmu hanya pulang sekolah nanti kalau saat berangkat sampah sudah tidak ada'' Tania tersenyum senang akhirnya dirinya merasa tak sia-sia mengerjakan semuanya sendiri kemarin ''Iya Pak pagi-pagi begini kan tidak ada murid-murid jajan mungkin adanya nanti waktu istirahat'' Tania berbincang-bincang kepada Pak satpam yang sudah sangat Tania kenal sekali.


satpam penjaga sekolahan ini adalah tetangganya dulu namanya mang Ujang, dulu mang Ujang penjual bakso sekarang mang Ujang merangkap menjadi penjaga sekolah di siang hari sedangkan malamnya ia akan berdagang bakso di alun-alun.


mang Ujang juga menyetok bakso di kantin jadi penghasilan mang Ujang selama sebulan sudah sangat lumayan "oh iya tumben sekali tidak bersama-sama lagi dengan nona Mona dan juga tuan muda Agam?'' Tania tersenyum lalu menunduk ''Saya lagi ada kesalahpahaman sedikit Pak doakan saja ya semoga cepat membaik tidak enak juga lama-lama berdiaman seperti ini'' ungkap Tania.


"Iya memang tidak baik berdiaman seperti ini terlalu lama apalagi jika tidak ada kepastian dan hanya menanti, terkadang sebagai laki-laki mang Ujang juga merasa bahwa memiliki perempuan itu sangatlah sulit jadi kita tidak perlu menanti kita harus maju kita harus buktikan dengan perjuangan kita sendiri'' Tania menepuk jidatnya, Tania hampir melupakan bahwa mang Ujang ini adalah pelawak jadi apa saja yang Tania katakan bisa dijadikan bahan untuk tertawaan.


''hmm mang Ujang mulai kumat nih, kan neng Siti masih jomblo tuh kenapa tidak mang Ujang dekati saja?'' mang Ujang meletakkan tangannya di dagu seolah-olah tengah berpikir padahal menurut Tania mang Ujang tidak benar-benar berpikir ''jadi begini Tania, neng Siti kan jomblo niat mang Ujang mau mendekati neng Siti, tapi mang Ujang insecure'' Tania tertawa terbahak-bahak ada-ada saja mang Ujang ini.


padahal anak zaman sekarang memikirkan insecure karena merasa dirinya kurang dari yang lain padahal setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.


''hahaha mang Ujang ini seperti anak zaman sekarang saja ya sudah tahu insecure'' mang Ujang ikut tertawa ''Iya soalnya mang Ujang kan sering liat Tik tok tuh tentang anak-anak di sekolah yang bermain circle circle lan, terus insecure karena wajahnya nggak glowing, terus ada lagi tuh cewek-cewek anak sekolahan yang adu pargoy'' Tania bertambah tertawa rupanya mang Ujang tidak ketinggalan zaman.


tidak seperti Tania yang tidak memikirkan aplikasi-aplikasi semacam itu mungkin yang ada hanya WhatsApp saja di ponselnya untuk saling berkomunikasi dengan yang lain.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2