CEO TAMPAN SEDINGIN ES

CEO TAMPAN SEDINGIN ES
Episode 48


__ADS_3

''Tidak seperti biasanya kamu menegur wanita centil itu'' Agam lirik sekilas ke arah Mona lalu kembali terfokuskan kepada buku yang sedang ia pelajari ''aku ini sedang bertanya loh kenapa tidak dijawab?'' sambung Mona lagi menanti jawaban dari Agam.


tiba-tiba Agam membawa bukunya pergi menjauh dari Mona yang masih penasaran sebenarnya ada apa dengan Agam, sikap Agam yang berubah 180 derajat membuat Mona bingung dibuatnya.


segera Mona beranjak dari duduknya mengejar Agam yang berjalan semakin menjauh, anehnya Agam tadi saat akan beranjak pergi tidak berpamitan dan tidak mengatakan ingin ke mana seharusnya kan ia memberitahu bahwa sedang merajuk atau bagaimana bukannya malah tidak ada apa-apa malah mendiamkan Mona seperti ini bahkan meninggalkan Mona.


''kamu kenapa sih Gam? kalau ada apa-apa kan bisa dibicarakan baik-baik tidak seperti ini caranya'' tahan Mona saat Agam masih terus berjalan pergi meninggalkannya ''sudah berhenti dulu langkah kakinya'' minta Mona kembali ''ini sudah jam berapa sebentar lagi kita akan masuk dan mengerjakan ulangan lagi jadi tolong fokus dulu kepada pelajaran jangan kepada masalah pribadi kita, Aku sedang butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri'' Mona terdiam mematung sebenarnya ada apa sih dengan Agam sampai-sampai berkata seperti itu dan bahkan meminta Mona untuk berfokus kepada ujian.


'kenapa sih tiba-tiba menjawab seperti itu memangnya ada yang salah ya?' Mona menatap punggung Agam yang semakin menjauh bahkan sampai sudah tidak terlihat lagi karena memasuki sebuah ruangan, Mona langsung segera menyusulnya Karena memang waktunya mepet dan sebentar lagi ulangan akan segera dimulai.


di kantor Levine tengah disibukkan dengan pekerjaannya sedangkan Yura kali ini tak berangkat ke kantor karena mengaku tengah sakit, Levine mengerjakan pekerjaannya jadi tidak tenang dan tidak fokus mengingat kejadian semalam ialah yang memaksa Yura.


''Ada apa denganmu mengapa tiba-tiba menjadi pendiam dan tidak menegurku saat aku berangkat tadi'' tanya Leon yang merasa ada yang janggal dari asisten pribadinya sekaligus sahabat kecilnya ''tidak ada apa-apa sebenarnya, aku bingung saja kalau kita membuat kesalahan Apa yang harus kita lakukan, kalau dengan kata maaf tidak bisa lalu harus dengan kata apa'' Leon semakin tidak maksud dengan apa yang dibicarakan oleh Levin.


sebenarnya siapa yang tengah ia bahas pekerjaannya pun sempat sedikit terbengkalai karena setidak fokusan Levine hari ini ''aku dan Yura sudah melakukan hal yang seharusnya tidak di lakukan" Leon tertawa namun tawaannya ini bukan tertawa seperti lepas terbahak-bahak melainkan tertawa setengah ditahan seperti sedang meledek ''kau kan laki-laki itu harusnya kau tahu apa yang harus dilakukan'' kata-kata yang menggantung itu menjadi PR bagi Levine.


bukan Levine namanya kalau tidak penasaran setengah mati dengan kata-kata yang menggantung itu ''ayolah cepat katakan aku sangat penasaran dengan apa yang ingin kau katakan'' Leon langsung menyodorkan foto pernikahan ''seharusnya kau maksud bukan dengan foto pernikahan seperti ini?'' Levin mengangguk dan langsung meminta izin untuk bergegas pulang dan menghampiri rumah kontrakan Yura.


di rumah kontrakan Yura terdapat Yura yang sedang berkemas-kemas, Levin yang melihat pun langsung menahan tangan Yura yang sedang membereskan barang-barangnya ''saya kan sudah meminta maaf, kamu mau kemana?" tanya Levin namun tak di jawab ia masih menangis.


''saya akan menikahi kamu, tolong jangan pulang ke kampung sebelum saya mengerjakan proyek pembangunan sampai selesai, saya akan menemui kedua orang tua kamu" mohon Levin dengan sangat-sangat ''Saya...'' suara Yura tertahan karena menahan air matanya yang akan pecah "kenapa coba katakan?" pinta Levine ''saya sudah di jodohkan di kampung, saya akan pulang sekarang" Levin mencegahnya.

__ADS_1


apakah masih jaman perjodohan-perjodohan seperti ini, sampai-sampai Yura sangat menuruti perjodohan dari kedua orang tuanya ''tapi saya yang akan menikahi mu, saya sudah merenggut kesucian kamu, jadi biarkan saya bertanggung jawab'' Yura menggelengkan kepalanya.


ia kembali berkemas walaupun Dadanya sesak dan sakit menerima kenyataan bahwasanya dirinya sudah tidak Suci lagi karena ulah atasannya ''tolong dengarkan saya katakan saja siapa yang dijodohkan denganmu aku lebih baik dari pria yang dijodohkan denganmu mungkin?'' Yura tak bergeming Iya masih mengemasi pakaiannya dengan wajahnya yang sendu.


akankah dirinya kembali ke kota ini atau masih akan kembali karena permintaan dari Leon sendiri yang tidak ingin sekertarisnya ini pergi meninggalkan kantor ''lihat saja nanti pak jika surat pengunduran diri saya ditolak oleh Pak Leon maka saya akan kembali lagi ke sini dengan suami saya'' kata-kata suami seolah-olah memperingatkan Levin bahwasanya tidak ada secuil pun untuk dirinya berharap kepada Yura.


''Saya akan ikut denganmu ke kampung'' Yura langsung menengok ke arah Levine yang bersih Teguh ingin ikut dengannya ke kampung, entah apa yang akan terjadi pada Levine jika berada di kampung nanti, orang tuanya sangatlah galak dan bahkan memiliki hutang banyak kepada juragan Ilyas ''maaf pak anda tidak bisa mengikuti saya ke kampung, saya hanya sebentar saja kok, nanti saya akan kembali lagi kesini" Levin menggelengkan kepalanya.


prinsip Levin adalah wanita yang benar-benar sudah ia jadikan tujuan bersandar tidak ada siapapun yang boleh menyentuhnya selain dirinya sendiri ''saya akan ikut dengan kamu, mau bagaimana pun itu saya akan tetap kesana dan menemui kedua orang tua mu" Yura kini bingung.


ingin meneruskan kembali pulang ke kampung atau menahan diri sampai pria satu ini benar-benar pergi dari rumahnya.


tapi di kampung pastinya sudah menunggu kepulangannya.


dirinya tak ingin di amuk habis-habisan oleh ayahnya jika tak kunjung kembali, padahal tadi Yura berkata di telfon akan menuju terminal bus.


''siapapun calon jodohmu itu saya akan menghadapinya, ayolah belajar mencintai saya'' hati Yura benar-benar kacau kali ini, semua bukan prihal cinta melainkan prihal rasa hormatnya kepada Kedua orang tuanya.


apa lagi ayahnya sendiri yang memaksa Yura untuk cepat-cepat menikah dengan pilihannya.


''saya tidak jadi pergi pak, saya akan berangkat ke kantor" tetap saja Levine tak percaya dengan perkataan Yura.

__ADS_1


di balik perkataan Yura ini pasti ada kebohongan yang tersembunyi.


''mari kita ke kampung kamu bersama-sama'' ucap Levine.


Degg!!


jantung Yura langsung berdegup kencang pandangan Levine yang seperti ini tidak bisa di remehkan berarti ia sedang berkata serius.


''saya kan tidak jadi ke kampung pak, jadi mari kita berangkat bersama-sama ke kantor" Levin seolah-olah tak perduli dengan basa-basi Yura yang mengalihkan perhatiannya.


ia langsung mengangkat koper yang berisikan pakaian Yura ke dalam mobilnya ''cepat masuk dan katakan saja di mana daerah kampung mu itu" Yura mau tak mau masuk ke dalam mobil, tak di pungkiri dirinya tidak ingin menikah dengan pria tua.


pria yang seharusnya menjadi ayahnya bukan menjadi suaminya ''apa pak Levine yakin dengan keputusan bapak? apa pak Levine siap menghadapi masalah besar di kampung" Levin menaikan satu alisnya, jangankan masalah di kampung Yura, masalah perusahaan besar pun bisa ia atasi.


tak hanya masalah kantor tapi masalah internal dan eksternal dalam negeri pun sudah ia jadikan sebagai pengalaman yang biasa-biasa saja tidak ada yang mengarah ke masalah besar, justru masalah besar bagi Levine sendiri adalah atasannya yang selalu berubah-ubah pikiran.


''mau sebesar apapun masalah itu saya akan tetap menghadapinya yang terpenting kamu berada di pihak saya'' Yura menganggukkan kepalanya yakin dengan begitu dirinya bisa terbebas dari lilitan hutang yang menjerat kedua orang tuanya.


seharusnya hutang itu sudah lunas tetapi dari pihak menagih selalu saja berkata kurang dan memaksakan agar Yura menikah dengan juragan dan akan memberikan sebagian kekayaannya untuk keluarga Yura.


Terimakasih buat yang udah mampir💝

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2