
sebenarnya Levine sudah lama mengincar Yura, tapi apa boleh buat jika Yura didekati dengan sangat sopan ia akan menjauh dan berkata bahwasanya masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
tak mungkin Levine mengejarnya secara berlebihan semuanya memiliki tahapan tersendiri ''selamat pagi tuan muda Leon dan Tuan muda Levin" sapa Yura dengan sangat begitu sopan "pagi'' jawab Leon dan juga Levine secara bersamaan ya walaupun mereka sedikit merasa aneh biasanya hanya Levine lah yang menjawab sapaan dari Yura tapi kali ini Leon turut ikut membalasnya.
'Pak Leon tidak sedang sakit kan hari ini? bisa-bisanya dia menjawab sapaan ku?' batin Yura yang masih merasa kaget karena balasan sapaan tadi, terhitung Leon saat ke kantor sama sekali tidak pernah menjawab sapaan hanya dengan anggukan kepala saja.
''ehem sibuk tidak?'' tanya Levine yang sebenarnya ingin mengajak Yura untuk sarapan pagi ''Maaf Tuan sepertinya anda sudah mengetahui bahwasanya saya memiliki banyak pekerjaan di meja saya'' Levine menggeser beberapa tumpukan berkas ''urusan ini nanti saja, sekarang kamu temani saya sarapan pagi'' Yura kini kalang kabut dan bingung apalagi tangannya sudah dicekal seperti ini.
ingin menariknya kembali pun susah cengkramannya cukup kuat yang membuat Yura sudah tidak bisa berkutik dan tidak bisa menolak ajakan itu lagi ''Baiklah saya akan menemani tuan muda Levin makan selama 15 menit setelah itu saya akan kembali bekerja'' kata Yura sembari mulai berjalan mengikuti langkah Levin pergi.
entah sudah ada niatan atau bagaimana Levine mengeluarkan bekal di dalam tasnya dan di sana terdapat dua sendok untuknya dan juga Yura makan bersama, Levine sedikit demi sedikit mengulik mengenai kehidupan Yura di mana Yura adalah wanita yang sangat tidak menyukai makanan luar dan lebih memilih untuk membawa bekal sendiri dari rumah.
''temani aku makan ya, kita makan bersama-sama'' Yura terdiam cukup lama ingin menolaknya cukup sulit terlebih lagi dirinya tidak bisa berbohong kalau belum sarapan di pagi hari ini ''Maaf saya nanti bisa sarapan sendiri di meja saya'' dengan sangat perlahan Levin meraih tangan Yura dan memberikannya sendok.
tangan Yura yang menggenggam itu dan tidak ingin menerimanya kini sedikit dipaksa sampai akhirnya ia memegang sendok itu ''kita tidak pernah bukan makan bersama seperti ini jadi ini adalah kesempatan pertamamu makan bersama pria tampan sepertiku'' dengan wajahnya yang sok kegantengan Levine berkata.
__ADS_1
''Maaf ya Pak bukankah tidak baik Jika terlalu kepedean seperti ini?'' Levine dengan entengnya menggelengkan kepalanya ''Ya sudah cepat makanlah, apakah kamu menunggu saya menyuapi?'' dengan cepat Yura menggelengkan kepalanya bisa-bisanya dirinya berhadapan dengan pria yang sangat kepedean seperti ini.
''saya bisa kok makan sendiri'' dengan santainya mereka makan berdua dan Leon kini tengah sibuk mencari keberadaan sekretarisnya yang entah di mana, padahal masih banyak berkas yang belum ditandatangani.
Yura pun sama sekali belum menyerahkan berkas-berkas itu, sebenarnya dimana keberadaan mereka sampai-sampai keduanya susah di hubungi di waktu yang bersamaan ''levin!" seru Leon dan saat pintu Levin terbuka Leon malah melihat sekertarisnya dan juga asisten pribadinya makan bersama.
entah hal apa yang harus Leon lakukan di posisi canggung seperti ini, ingin melanjutkan perkataannya atau justru memarahi mereka? tapi Leon tadi di lift baru saja memberikan nasehat untuk Levin maju dan mengejar Yura "lanjutkan, setelah selesai makan langsung ke ruangan saya kamu Yura" makanan yang ada di dalam mulut Yura sama sekali belum di kunyah, Yura melirik ke arah Levin apakah dirinya akan di marahi di waktu kerja seperti ini bukannya kerja malah asik makan berdua.
''tidak perlu risau, jika nanti kamu masuk ke dalam ruangannya dan di marahi segera menghadapku" Yura dengan polosnya hanya mengangguk dan melanjutkan sarapan pagi mereka tak dipungkiri Yura juga merasa takut jika memang nanti terjadi dirinya dimarahi oleh atasannya.
selama ini Yura tidak pernah dimarahi Karena pekerjaannya begitu kompeten dan sebelum disuruh pun Yura sudah melakukan pekerjaan yang akan Leon berikan jadi Leon selalu memberikan tip. dan ancungan jempol karena pekerjaan Yura yang selalu beres.
Levine sedikit merasa prihatin rupanya kehidupan Yura yang sederhana ini dibaliknya ada rasa empati yang begitu tinggi kepada keluarganya tanpa memikirkan kehidupannya sekarang di kota, padahal gaji Yura cukup besar perbulan tapi masih saja hidup mengontrak dan bahkan apartemen yang diberikan oleh Leon ditolak mentah-mentah.
''kapan-kapan Apa boleh saya berkunjung ke kampung kamu untuk melihat keluarga kamu?'' Yura mengangguk senang ''tentunya sangat boleh'' kata Yura sembari mengunyah makanannya ''kalau besok kita pergi ke kampung kamu bagaimana?'' saat Levin berkata seperti itu Yura langsung terbatuk-batuk karena kaget dengan apa yang dikatakan oleh Levine ''uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk'' Levin langsung mengambil air putih yang tadi ia minum dan memberikannya kepada Yura.
__ADS_1
Levin juga merasa tidak enak karena mengatakan kata-kata itu terlalu mendadak ''ada yang salah ya sampai kamu kaget dan tersedak seperti ini?'' Yura menggelengkan kepalanya lalu mengambil tisu untuk mengelap bibirnya yang basah karena habis meminum air.
''Saya sudah kenyang, terima kasih atas sarapan paginya kalau begitu saya pamit untuk ke ruangan pak Leon'' saat Yura akan berpamitan pergi Levine langsung menahannya dan mengatakan perkataannya yang tadi sempat menggantung mengenai ingin berkunjung ke kampung Yura ''Bagaimana bisa kan kalau besok kita ke kampungmu?'' Yura tak bergeming dan memilih untuk melepaskan genggaman tangan Levin dari tangannya.
setelah genggaman tangan itu terlepas Levine masih sangat penasaran dengan kriteria Yura yang sebenarnya, wanita yang pendiam tapi penuh dengan teka-teki.
sudah 5 tahun lamanya bekerja di perusahaan ini tapi Yura tidak pernah berpacaran jangankan berpacaran untuk sekedar berjabat tangan dengan klient laki-laki hanya mengatupkan kedua tangannya pertanda bahwa tidak ingin bersalaman secara langsung melainkan secara jarak jauh saja.
dan bukan hanya dengan klien laki-laki saja bahkan dengan Levin pun selalu menghindar 'aku harus mendapatkan dia adalah wanita limited edition yang sangat sulit untuk didapatkan, sangat langka wanita seperti Yura yang sangat menjaga kehormatannya sendiri' batin Levine yang memperkuat keyakinannya mengenai ingin mengejar sekretaris dari atasannya ini.
sedangkan di kontrakan kecil, Anya jarang sekali masuk ke sekolah dan bahkan terhitung ada dua surat panggilan di mana jika di rumah Anya berpamitan berangkat ke sekolah tetapi tidak sampai ke sekolah melainkan entah main ke mana.
''dasar anak tidak tahu diri, selama ini Ayah membesarkanmu dan juga mencari nafkah untuk biaya sekolah tapi bisa-bisanya kamu malah bermain bukannya sekolah'' marah wiromo dengan nada yang benar-benar mencekam ''nafkah apa? bahkan selama ini Anya yang bekerja memberikan keluarga ini makan, kerjaan Ayah hanya mengeluh dan marah-marah saja'' bentak Anya yang emosi mengingat dirinya memberikan nafkah uang kepada keluarganya dengan jerih payahnya sendiri sampai merelakan harga dirinya.
tapi balasan dari keluarganya malah menyakitkan dan memarahinya habis-habisan mereka kan masih bisa berkata dengan nada lembut ''hahaha baru uang segitu saja kamu perhitungan dengan keluarga Bagaimana jika kamu sudah kaya seperti Tania, yang ada kamu akan besar kepala sepertinya dan melupakan keluarga ini'' wiromo tertawa mengerikan ''sudah jelas pasti Anya tidak akan kembali ke rumah ini ke rumah neraka yang di dalamnya ada iblis yang jahat, pantas saja Tania tidak ingin menjenguk kalian dan hanya membawakan makanan saja'' kata-kata itu seolah-olah membuat wiromo tertampar kuat dan memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit.
__ADS_1
sontak istri wiromo yang melihat itu pun langsung memapah tubuh suaminya yang akan terjatuh ke lantai ''sudah sudah jangan dilanjutkan ingat dengan penyakit jantung mu'' istri wiromo mencoba mengingatkan sembari membawa suaminya duduk di tikar.
Bersambung...