
"bagaimana dengan keadaan Tania mah, dia baik-baik saja kan?'' tanya Tasya sembari meminum segelas susu ''dia kelelahan mungkin karena tadi membantu Agatha membereskan barang-barangnya yang banyak'' perkataan ini sengaja Kirana lontarkan agar Agatha merasa tersinggung dan merasa tidak enak hati.
syukur-syukur Leon yang mendengarnya akan memarahi Agatha karena berperilaku tidak sopan menyuruh-nyuruh Tania yang statusnya di sini sebagai nyonya Leon Wilson arganta.
dan benar saja Leon langsung melirik ke arah Agatha seakan-akan matanya itu berkata untuk apa Agatha menyuruh istrinya yang khusus hanya Leon seorang lah yang bisa memerintahnya sesuka hati.
''Iya mah sepertinya wanita itu tidak sopan ya menyuruh-nyuruh orang seperti tidak punya tangan dan kaki saja, mama lihat tidak channel YouTube yang pernah kita lihat orang pinggiran itu loh dimana Dia tidak punya sebelah tangan dan kaki masih bisa melakukan kegiatan dan bekerja, tapi anehnya orang ini kok tidak ya'' merasa sudah tersudutkan Agatha langsung membuka percakapan di meja makan ini jika tidak membuka percakapan yang ada Agatha akan makin mati kutu dan diusir oleh Leon.
''bukan begitu Tante tadi kaki Agatha sakit jadi Agatha meminta Tania untuk membawakan barang-barang Agatha masuk ke dalam kamar, toh Tania tidak merasa keberatan'' saat Agatha berbicara Tasya mulutnya berkomat-kamit seolah-olah tengah meledek Agatha yang tengah berbicara 'dasar gadis satu ini kalau saja tidak ada ibumu mungkin aku sudah memitas mu seperti kutu' batin Agatha yang masih melihat mulut Tasya yang berkomat-kamit seperti mbah dukun yang sedang membaca mantra.
Leon yang melihat tingkah adiknya itu pun sebenarnya ingin tertawa bersama ibunya tapi sebisa mungkin ia tahan tidak mungkin kan di meja makan tertawa karena hanya sebatas ledekan adiknya.
"kuharap kau bisa mengerti posisimu di sini Agatha, jangan karena hanya ayahku yang menyuruhmu jadi kau seenaknya di sini menyuruh-nyuruh istriku, mulai besok lakukan pekerjaanmu sendiri, Leon sudah selesai makan kalian lanjutkan'' Leon mulai beranjak dari duduknya dan berjalan menaiki anak tangga sembari melihat pintu kamarnya yang tertutup rapat.
saat membuka pintu Leon melihat Tania yang menatap langit-langit rumah sesekali Tania memanyunkan bibirnya dan menghela nafasnya "pengen rujak" Tania mulai beranjak dari duduknya dan saat membalikkan tubuhnya ia melihat Leon yang berdiri di depan pintu ''mau ke mana?'' tanya Leon dingin ''Mas aku mau rujak'' Leon mengernyitkan dahinya jika ingin rujak tentunya Tania bisa membuat sendiri di dapur mengapa meminta kepadaNya.
''turun sana buat sendiri'' wajah Tania terlihat kecewa dan sedih, Leon yang melihat wajah Tania menjadi kasihan selama menikahi ini memang Leon tidak pernah menuruti apa yang Tania inginkan sampai ponsel pun tidak Leon ganti sama sekali.
seringkali Leon memarahi Tania karena saat sedang berbicara melalui telepon tiba-tiba Tania mematikannya tak disangka memang ponsel Tania sering mati sendiri tanpa sebab bahkan sering ngeblank.
entahlah keberanian dari mana yang Tania punya tiba-tiba Tania memeluk Leon dan memohon ''please belikan ya Tania ingin sekali'' jantung Leon berdegup kencang saat gadis cilik ini memeluknya baru kali ini jantung Leon tak terkontrol Leon langsung menjauhkan tubuh Tania dari tubuhnya agar Tania tak mendengar deguban jantung yang terus berdetak.
__ADS_1
''tidak lihat kah ini sudah malam jangan mengada-ngada Tania ingin meminta rujak, kamu kan bisa membelinya besok saat pulang sekolah'' Leon mulai menaiki ranjang sedangkan Tania masih berdiri di depan pintu.
tingkah Tania bak anak kecil yang ingin menangis karena tidak dibelikan sesuatu oleh orang tuanya "tapi Tania ingin malam ini mas!" seru Tania seakan-akan menuntut agar malam ini Leon ingin membelikan rujak untuknya ''ingat statusmu di rumah ini berani sekali kamu menyuruh saya untuk membeli rujak'' sikap Tania kini berubah 180° yang tadinya jika mendengar kata-kata yang menyakitkan akan menangis dan akan sadar diri kini Tania malah melawan seakan-akan memiliki keberanian.
"posisi Tania adalah istri memangnya salah ya jika istri meminta sesuatu kepada suami?" Leon yang tadinya akan tidur langsung menuruni ranjang dan menghampiri Tania, tepat di dekat pintu di atas kulkas Leon mengambil kunci mobil ''baiklah ini adalah kesempatan terakhirmu meminta sesuatu padaku'' Tania langsung merangkul lengan Leon dan bergelayut manja.
Leon sama sekali tidak merasa risih digelayuti oleh Tania biasanya ia akan merasa risih jika Tania selalu berada di sampingnya "Leon mau ke mana Apa aku boleh ikut?" seru Agatha yang berlarian menuju Leon dan juga Tania.
wajah Tania yang semulanya ceria kini berubah ''boleh'' jawab Leon singkat ''Tania tidak jadi ikut malas!" Leon menaikkan satu alisnya karena Tania tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk membeli rujak memang benar-benar wanita yang plin-plan.
''mau kamu apa! tadi kamu bilang mau rujak sekarang tidak mau yang kamu mau apa!" Leon memarahi Tania dan itu dilihat oleh Tasya dan juga Kirana dari kejauhan ''mau Tania yang membeli rujak hanya kita berdua saja kenapa harus mengajak Mbak Agatha, Coba saja semisalkan di rumah ini ada penjaga gerbang tampan lalu Mas Leon mengajak Tania untuk keluar dan Tania mengajak penjaga gerbang yang tampan itu untuk ikut bersama kita apa Mas Leon mau?'' semakin kemari perkataan Tania semakin berani.
itu membuat Leon kewalahan ''tidak keberatan kenapa keberatan?'' ucap Leon seolah-olah mempermainkan perkataan Tania ''oh ya sudah kalau tidak keberatan kenapa besok tidak mempekerjakan satpam saja, biar Tania tidak perlu repot-repot membukakan gerbang menutup gerbang'' Leon menghela nafasnya ingin sekali rasanya mencubit pipi Tania kuat-kuat agar Tania sadar waktu Leon untuk istirahat sangatlah terbatas.
'baguslah sepertinya karena bawaan bayi Tania jadi lebih berani melawan Leon' batin Kirana saat melihat Tania, Leon dan juga Agatha berjalan semakin menjauh.
dalam perjalanan malam ini Tania dikecewakan oleh pedagang rujak yang sudah tutup entah harus mencari kemana lagi ''kamu tuh apa-apaan sih bisa tidak jangan menangis! ini hanya perihal rujak!'' marah Leon karena Tania terus menangis di sepanjang perjalanan sedangkan Agatha yang duduk di belakang melipat kedua tangannya di dada merasa risih dengan percintaan keduanya.
''ayo cari lagi mass, intinya malam ini harus dapat'' melihat wajah Tania yang terus mengemis dan memelas membuat Leon tidak bisa menolaknya toh ini sudah di luar jadi tidak bisa untuk mundur lagi.
tak lama di sebuah pasar malam terdapat penjual rujak yang sedang ramai sekali pembeli, Leon mengernyitkan dahinya Bagaimana bisa wanita satu ini mengajaknya ke pasar malam yang tidak pernah Leon kunjungi seumur hidupnya.
__ADS_1
''mang rujaknya ya tiga'' seru Tania di dalam mobil "siapa yang menyuruhmu memesankanku, Aku tidak suka rujak'' ketus Agatha yang duduk di belakang ''jangan kepedean ya mbak saya itu ingin memakan dua rujak kalau Mas Leon tidak mau rujak pun saya makan tiga-tiganya'' Agatha mengeraskan rahangnya tahu begitu dirinya tidak ingin ikut Leon bila wanita ini semakin kuat jika berada di sisi Leon.
"Mbak lagi ngidam ya'' tanya mbak-mbak yang sedang mengantri ''tidak juga Mbak sepertinya malam-malam begini memakan rujak segar'' Leon yang sempat mendengar kata-kata ngidam merasa curiga apa jangan-jangan Tania kebobolan?.
sikap Tania juga akhir-akhir ini aneh, kadang menjadi penurut dan kadang menjadi pembangkang, setelah rujak jadi Leon menolak rujak yang tadi Tania pesankan jadi Tania memakannya sendiri.
bukan apa-apa yang Tania makan adalah mangga muda yang terlihat sangat kecut dan asam, Leon sampai menyipitkan matanya bisa-bisanya Tania mengatakan manis ''heran ya pak, maklum kalau orang hamil apa-apa itu dianggapnya enak kalau sudah mengidam'' penjual rujak itu sibuk menjual dagangannya sembari berkata kepada Leon yang masih terheran-heran, penjual rujak itupun sama sekali tidak mengenali Leon karena Leon menggunakan masker.
''kamu hamil?" tanya Leon penuh selidik ''uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk engga kok'' jawab Tania berbohong ''katakan!" Tania menggelengkan kepalanya sembari mengambil botol minum yang tak jauh dari nya ''kalau Tania bilang tidak ya tidak'' gelagat Tania rupanya terbaca oleh Leon.
Leon langsung membayar rujak itu dan langsung mengemudikan mobilnya untuk pulang, dalam perjalanan tak ada percakapan sama sekali sedangkan Agatha tersenyum penuh arti.
Leon sama sekali tidak pernah berminat untuk memiliki anak walaupun hanya untuk keturunan saja, berminat pun berminat namun dengan wanita yang benar-benar ia cintai.
sesampainya di rumah Leon berjalan terlebih dahulu menuju kamarnya dan disusul dengan Tania, Agatha tersenyum penuh arti benar-benar penuh arti 'sepertinya malam ini akan ada pertengkaran yang menarik' Agatha berjalan mengikuti Tania kebetulan kamar mereka bersebelahan.
walaupun bersebelahan kamar Leon yang kedap suara tak akan terdengar jika sedang memarahi atau pun tengah terjadi sesuatu di dalam sana ''katakan Yang sejujurnya Tania, daripada saya akan membunuhmu bersama janin itu'' Tania duduk bersimpuh dan menangis ''hiks hiks hiks hiks iya Tania hamil'' Leon menghela nafasnya dan menghampiri Tania ''bukankah saya sudah sering mengatakan dan sudah sering memperingatkan untuk tidak telat meminum obatnya bukan?" Tania mengangguk ''gugurkan kandungan itu'' Tania menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.
''gugurkan atau Aku akan membunuhmu Tania!" bentak Leon yang mencengkram dagu Tania ''hiks hiks hiks tidak mau, bayi ini tidak berdosa hiks hiks hiks Tania akan tetap melahirkannya'' Tania menepis tangan Leon dan memeluk Leon seakan-akan Tania ingin meredam emosi Leon.
''Tania tahu Mas Leon ingin membunuh Tania kan, bunuhlah Tania setelah Tania melahirkan bayi ini'' Tania menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Leon, Leon menghela nafasnya panjang tanpa diberitahu Tania sudah mengerti akan nasibnya nanti.
__ADS_1
Bersambung...