
"Mama juga sangat merasa kehilangan pa, Mama yang melahirkan Mama yang mengandung dan mama yang merawat Leo dari kecil tentu sangat merasa kehilangan, tapi mama tidak pernah merasa dendam apalagi kematian itu adalah takdir dan kehendak Tuhan kita tidak perlu membalaskan dendam Tuhan pasti akan membalaskan dengan kita membalas semua perbuatan orang-orang yang keji" tutur Kirana perkataan Kirana memang sedikit menyentuh tapi tidak berlaku bagi Riko yang memiliki sikap keras kepala.
Riko tetap Teguh dengan pendiriannya ingin menyingkirkan Tania selama-lamanya dari kehidupan putranya "Mama terlalu menganggap ini semua enteng dan ingin menyerah begitu saja, selagi anak pembunuh itu ada di hadapan kita, kita tidak boleh membiarkannya begitu saja kita harus memberikan pelajaran setimpal dengan Apa yang dirasakan oleh putra kita'' Kirana sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
sulit memang berbicara dengan pria yang keras kepala dan Teguh dengan pendiriannya sekalipun dan berkali-kali pun berbicara tetap tidak akan ada artinya, dalam diam Kirana selalu berdoa akan kebahagiaan Tania karena Tania tidak bersalah apa-apa.
"terserah papa saja tapi papa harus ingat kita memiliki Putri memiliki anak perempuan seharusnya papa memiliki rasa kasihan perempuan yang bernama Tania itu'' Riko mengabaikan apa yang dikatakan oleh Kirana ia masih sibuk bermain ponsel tengah berbalas pesan dengan seseorang.
andaikan saja Kirana seorang pria mungkin Kirana akan menjunjung tinggi akan rasa kemanusiaan, bukankah sudah cukup jika kedua orang tua Tania sudah meninggal mengapa harus anaknya juga yang menjadi sasaran.
"halo Mama dan papaku sayang" sapa Tasya yang langsung memeluk ibunya ''halo nak sudah selesai bernyanyinya?'' tanya Riko yang membelai lembut rambut Putri kesayangannya dan putri satu-satunya yang ia punya ''sudah cuacanya mendung jadi Tasya takut jika ada petir'' Kirana tersenyum tipis lagi-lagi teringat oleh Tania Bagaimana kondisi wanita satu itu gadis Malang yang selalu disiksa.
"mama Tasya sebentar lagi akan mengadakan persiapan untuk ujian kira-kira 3 bulan lagi kalau sampai Tasya lulus Mama dan papa ingin mengado apa?'' tanya Tasya.
sudah bukan rahasia kecil lagi dengan gadis satu ini Tasya selalu menginginkan kado jika meraih sesuatu seperti lomba menyanyi contohnya jika mendapatkan juara 1 pasti akan meminta sesuatu dari ibunya bahkan hadiah kemenangannya tidak sebanding dengan hadiah dari kedua orang tuanya.
''Mama nanti malam akan ke rumah kakakmu Tasya mau ikut? mengenai kado itu rahasia yang terpenting Tasya lulus terlebih dahulu dan banyak-banyak belajar di sekolah baru sebelum kembali lagi ke sekolah lama'' Tasya membuat sikap hormat dengan tangan kanannya berada di keningnya ''siap bos malam ini Tasya mau ikut ke rumah kakak sekalian melihat kakak ipar'' Kirana tersenyum manis dengan begitu dirinya memiliki peluang dan kesempatan yang banyak untuk bisa keluar dari rumah ini dan tidak mendapatkan kekangan dari suaminya karena keluar malam-malam.
malam sudah menjelang Tania tak berhenti dengan barang-barang Agatha yang tidak ada habisnya berdatangan dengan mobil-mobil truk ''Mbak apa tidak kebanyakan ya barang-barang sebanyak ini bahkan barang-barang saya hanya beberapa ransel saja'' ucapkan Tania yang sudah merasa lelah karena terus-terusan menaiki anak tangga dan menuruni anak tangga untuk membawa koper dan juga peralatan-peralatan yang entah berguna atau tidaknya.
__ADS_1
''sudah ya kamu jangan banyak tanya tugas kamu hanya membawakan barang-barang saya ke kamar dan menatanya di sana bisa-bisanya kamu banyak pertanyaan seperti ini'' Tania menghela nafasnya dan mengangguk rupanya wanita satu ini tak jauh berbeda dengan Leon sama-sama pria yang tak ingin tahu menahu mengenai pekerjaan.
masih beberapa bagian lagi yang belum tertata Tania duduk sebentar di teras sembari memegangi perutnya yang keram ''memangnya sehari itu berapa kali sih ganti baju perasaan pakaiannya banyak sekali, kalau begini caranya bisa-bisa aku encok jika harus mengurus pakaian Tuan Putri satu ini'' gumam Tania sembari melihat barang-barang yang masih berserakan di latar rumah yang sangat luas.
''Hei sudah sana cepat kerjakan jangan diam-diam saja seperti ini kalau kamu diam-diam saja seperti ini bagaimana bisa pekerjaanmu kelar!" Tania memanjangkan bibirnya rasanya benar-benar kesal dan ingin sekali marah dan menjambak rambut wanita satu ini.
''aduh mbak bisa nggak sih mbak ini jangan banyak ngomong saya juga tahu bahwa barang-barang ini harus dimasukkan ke dalam rumah, mbak pikir saya ini robot apa harus mengerjakan semuanya secara bersamaan kalau ingin cepat selesai bantu dong jangan cuma bisanya menyuruh-nyuruh saja kalau begitu Tania juga bisa kali'' keberanian dari mana tiba-tiba Tania mengatakan kata-kata ini.
Tania yang tidak memiliki apa-apa dan orang biasa-biasa saja cenderung lebih merasa takut jika mengatakan nada yang cukup tinggi dan terkesan songong tapi ini dengan leluasa ia mengatakan kata-kata yang tak sepantasnya ia katakan dengan orang yang terbilang berpunya.
''Hei apa yang kamu katakan hah! kau ini di sini pembantu jadi kerjakan apa yang harusnya kau kerjakan bukannya malah menceramahiku dasar pembantu tak berguna!!'' Agatha pergi sembari menghentak-hentakkan kakinya masuk ke dalam rumah sedangkan Tania menghela nafasnya ada saja orang seperti Agatha.
sedangkan di kejauhan sana terdapat Kirana dan juga Tasya yang tengah memperhatikan Tania yang baru saja dimarah-marahi oleh Agatha ''Mama apa-apaan sih wanita itu bisa-bisanya memarah-marahi Tania memangnya dia itu siapa?'' kesal Tasya yang akan turun ''jaga sikap kamu ya nak, dia adalah teman Kak Leon jadi jangan menyinggung perasaannya oh iya Mama akan membeli barang belanjaan terlebih dahulu kamu bantu-bantu Tania gih sana'' Tasya mengacungkan jempolnya lalu mulai menuruni mobil.
"hahaha kamu ini apa-apaan sih Tasya jangan panggil begitu dong aku jadi malu tahu'' ucap Tania sembari mengambil beberapa barang untuk ia angkat "loh memangnya salah ya Jika Aku memanggilmu kakak ipar bukannya memang kau kakak iparku jadi tidak salah dong Jika Aku memanggilmu kakak ipar'' Tania mengangguk-anggukkan kepalanya memang benar tapi rasanya canggung jika wanita seumuran menjadi adik kakak karena Tania menikah dengan kakak Tasya.
"iya iya deh ya udah kamu duduk dulu sana aku masih banyak pekerjaan nanti setelah selesai kita lanjut lagi mengobrolnya ya'' Tasya menggelengkan kepalanya lalu membantu Tania untuk membawa barang-barang yang menurut Tasya sampah.
saat Tania dan juga Tasya selesai menyusun barang, Agata keluar dari kamar mandi dengan suara lembut dan manis kepada Tasya "eh Tasya sudah sedari tadi ya di sini Maaf ya tadi Kak Agatha sedang mandi" Tasya memicingkan matanya bisa-bisanya wanita satu ini setelah memarah-marahi Tania bersikap manis di depannya.
''jangan sok akrab deh kita kan nggak kenal, ayo Tania kita turun sepertinya Mama sudah menunggu kita di bawah'' Tasya menarik tangan Tania lalu mereka berdua berjalan menuruni anak tangga.
__ADS_1
di bawah sana tepatnya di arah dapur Kirana tersenyum mengembang kedua gadis yang berstatus anaknya sangat riang gembira seperti tidak memiliki beban padahal kenyataannya Tania sepertinya sangat tersiksa jika harus hidup di lingkungan yang sebenarnya bukan lingkungannya.
''Mama ini kebiasaan deh sering melamun'' tegur Tasya sembari mengelus pundak mamanya ''Iya nih kita malam ini membuat sup saja ya'' Tania mengangguk setuju sup adalah makanan kesukaannya dan juga Leon di saat pagi hari saat mereka tengah sarapan ''oke bagaimana kalau Tania yang memasak mama dan juga Tasya yang menjadi juri'' usul Tania.
Tasya langsung setuju namun tidak dengan Kirana Iya tentunya merasa direpotkan jika menantunya ini selepas membereskan barang-barang harus memasak ''kita masak bersama-sama saja ya kalau Tania masak sendiri tentunya capek'' Tasya kembali mengurungkan kata setujunya itu memang ada benarnya Tasya yang baru saja mengangkat beberapa barang saja sudah sangat merasa kelelahan Bagaimana dengan Tania yang sedari tadi sore.
akhirnya kesepakatan pun tiba di mana mereka akan masak bersama-sama tugas Tasya dan juga Kirana memotong dan mencuci sayuran sedangkan Tania memasak dan memasukkan bumbu-bumbu "kamu sepertinya sudah jago sekali memasak?'' Tania tertawa dan tersenyum baginya memasak adalah hobi tersendiri jika sedang jenuh, dulu sebelum menjadi konten kreator Tania memang hobi memasak dan sering mengikuti perlombaan memasak plus dalam seni bermake-up.
"tapi sebaiknya kita tunda untuk beberapa hari ini tidak mungkin kita langsung mengeksekusi tanpa melihat keadaan bukan'' usul Levin sembari berjalan memasuki ruang tamu menuju ruang keluarga dan dapur "Iya itulah yang kuharapkan aku tidak bisa mengambil keputusan secara gegabah'' pandangan Levin dan juga Leon terhenti saat melihat ketiga orang wanita tengah asik memasak.
pandangan Leon tertuju pada Tania yang tersenyum manis dengan rambut yang terjedai rapi, kulit putihnya yang terpancar di bawah sinar lampu membuat Leon merasa ada yang berbeda dari Tania.
Apa karena Leon tak pernah memperhatikan Tania dengan seksama hingga merasa kaget dengan kesempurnaan tubuh Tania "selamat malam'' sapa Leon yang langsung menaiki anak tangga Tania yang melihatnya langsung mempercepat memasukkan sup ke dalam mangkuk setelah itu menyajikannya dan menyusul suaminya itu.
Tania langsung membuka lemari dan mengambil beberapa baju santai "sejak kapan Mama datang?" tanya Leon Sembari melepas kemejanya "tadi saat barang-barang terakhir Mbak Agatha datang'' setelah mengambil pakaian Leon, Tania bergegas menuju kamar mandi untuk menyediakan air hangat.
"kenapa Agatha tidak turun dan membantu?" tanya Leon ''mungkin mbak Agatha kelelahan, Ya sudah semuanya sudah siap ada yang bisa Tania bantu lagi?" Leon berkacak pinggang dan memikirkan apa yang harus dikerjakan gadis satu ini apa yang dikerjakan gadis satu ini benar-benar perfect dan semuanya beres jadi tidak ada alasan lagi untuk menyuruhnya.
Leon memiliki ide agar Tania melepaskan sepatunya "lepaskan sepatu saya'' Tania mengangguk dan menunduk untuk melepaskan kedua sepatu itu, pandangan Leon tertuju pada kedua buah dada yang terlihat belahannya, benar-benar menggoda dan seakan-akan menarik Leon untuk mencobanya.
''sudah sudah sana sebaiknya kamu membantu mama dan juga Tasya saja di bawah'' usir Leon agar nafsunya tidak semakin menjadi-jadi, jika kebanyakan orang kelelahan bekerja tentunya jika berada di rumah akan beristirahat namun tidak dengan Leon yang merasa lelah lemah dan letih karena belum mendapatkan asupan dari istri kecilnya ini.
__ADS_1
Bersambung...